
"Ikut aku."
Dari nada bicaranya sepertinya Reno kurang senang. Terpaksa Ara mengikuti perintah sopir pribadi Vano karena ia masih memiliki hutang.
"Nyonya Besar, saya permisi." Sebelum pergi, Ara membungkuk untuk memberi hormat.
Nirmala menahan senyumnya. "Hati-hati, Ara. Siapa yang tahu dia--"
"Maafkan saya Nyonya Besar." Reno menyela ucapan Nirmala dengan kata maaf. Itu artinya ia meminta Nirmala untuk tidak berbicara yang tidak-tidak dan berhenti bercanda.
Nirmala cemberut. "Kau sama sekali tidak berubah. Vano saja sudah mau berbicara panjang. Sedangkan kau, mungkin jika kau berbicara panjang harus ada pesta tujuh hari tujuh malam."
Tidak menanggapi nyonya besarnya yang sedang merajuk, Reno memilih untuk segera pergi ketika Ara sudah menghampirinya.
"Permisi Nyonya." Kemudian ia berbalik dan berjalan meninggalkan kamar Nirmala.
Setelah meninggal kamar Nirmala, Ara mengikuti langkah Reno yang lebih lebar dari langkahnya.
Selama turun dari tangga dengan Reno, Ara menyadari bahwa banyak pelayan yang sembunyi-sembunyi memperhatikan dirinya dan juga Reno. Dan di antara sekian banyak pelayan, ada dua pelayan muda yang terlihat cukup cantik.
"Nasibku lumayan bagus dari pada dua gadis itu. Mereka hanya bisa menjadi pelayan di rumah ini." Ara sedikit bangga dengan statusnya yang sekarang sudah menjadi pengawal pribadi Nirmala.
"Hei, ada dua pelayan gadis yang melihat ke arahmu terus. Apakah kau tidak tertarik?" tanya Ara setelah mereka sudah berada di ruang tamu.
Reno tidak menjawab, ia tetap mengunci mulut dan terus berjalan ke arah luar rumah.
"Hei, apakah kau tidak mendengar ku? Apakah kau mengabaikan aku? Hmh! Dasar laki-laki sok cool." Ara melipat tangannya sambil membuang muka, akan tetapi kakinya tetap melangkah mengikuti Reno.
Sesampainya mereka di depan mobil, dua orang pekerja pembuka pintu menghampiri mereka. Seperti biasanya, Reno sama sekali tidak menganggap dua orang itu ada. Ia tidak membutuhkan dua pekerja itu selama tangannya masih bisa membuka pintu mobil sendiri.
"Hai, aku dengar kau adalah pengawal pribadi untuk nyonya besar Nirmala. Apakah itu benar?" tanya salah satu dari pekerja sambil membuka pintu untuk Ara.
"Ya," jawab Ara sedikit galak.
Dua pekerja itu tertawa kecil. "Wah, cantik-cantik jangan galak dong. Nanti cantiknya hilang."
"Ekhm!"
Reno berdeham dari dalam mobil. Sepertinya ia tidak suka membuang waktu dengan menunggu Ara yang sibuk digoda oleh dua pekerja itu.
Tanpa basa-basi, Ara langsung masuk ke dalam mobil. Dua pekerja itu juga langsung menutup pintu mobil untuk Ara.
"Hati-hati di jalan ya manis." Dua penjaga itu melambaikan tangan.
__ADS_1
Ya mereka hanya berani seperti itu ketika tidak ada tuan besar Vano yang memperhatikan. Jika Vano tahu bahwa ia memiliki pekerja yang genit, maka urat leher mereka sudah pasti akan putus.
Dalam perjalanan, Reno diam membisu tanpa berbicara sepatah kata pun. Hal ini menjadi sangat membosankan bagi Ara. Apalagi perjalanan ke rumah Ara cukup jauh dari kediaman keluarga Ravaldi.
Karena tidak tahan dalam keheningan, akhirnya Ara memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Hei, kapan aku mulai bekerja?" tanya Ara.
"Besok," jawab Reno singkat.
"Seperti apa pekerjaanku? Aku tidak tahu dan tidak mengerti sama sekali. Kau maupun tuan besar Vano tidak memberitahu aku peraturan pekerjaanku dan--"
"Semuanya akan diatur oleh pak Farhan," potong Reno.
Ara menyandarkan kepalanya di jok mobil. "Pak Farhan? Yang mana pak Farhan itu?" Ara memasang wajah berpikir.
"Kau akan tahu besok. Sekarang dia sedang berada di kantor," jawab Reno secukupnya.
Ara memutar bola matanya. Ia sungguh kesal dengan nada bicara Reno. Berbeda dengan Vano. Walaupun Vano sedikit berbicara dan dingin, akan tetapi nada bicaranya tidak semenyebalkan Reno. Wajar saja jika tadi Nirmala terlihat kesal juga pada sopir pribadi Vano satu ini.
"Hmm ... oke. Jika dia dingin dan sedikit berbicara, maka aku akan mengubahnya. Baiklah, aku yang akan memulai permainan ini." Ara tersenyum-senyum sendiri saat memikirkan rencananya.
"Oh ya. Aku belum tahu namamu. Siapa namamu? Jika kau masih tidak mau memberitahu aku, maka aku akan membuka paksa topimu itu."
Sepertinya Ara sudah memiliki rencana untuk memaksa Reno berbicara.
Ara kembali menegakkan badannya. "Rare?" Ara menanyakan nama panggilan.
"Reno," jawab Reno singkat. "Tapi kau harus merahasiakan namaku pada semua orang," ucap Reno tegas.
Ara menghela nafas. "Oke-oke, kau memang memiliki latar belakang yang rumit. Aku tidak ingin ikut campur sedikitpun."
Ara kembali menyandarkan kepalanya. "Umurmu berapa?" tanya Ara.
Reno melirik ke arah kaca spion depan. "Jangan banyak bertanya," ucap Reno dingin.
Ara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. "Aku perlu tahu agar aku tahu aku harus memanggil kau apa. Kakak, adik, paman, atau kakek. Jika kau tidak menjawab, aku akan membuka topimu dengan paksa."
Ara berbicara dengan nada santai, tapi ia juga mengancam.
"Kau pikir kau bisa membuka topiku?" Reno masih dengan nada yang sama.
"Tentu bisa. Dan itu akan mudah untuk dilakukan saat kau sedang menyetir mobil. Apakah kau mau menjawab pertanyaanku tadi?" tanya Ara lagi.
__ADS_1
"21 tahun," jawab Reno dengan terpaksa.
"Wah... ternyata kau cukup muda juga ya. Aku jadi penasaran, seperti apa rupamu. Aku rasa kau akan cepat tua karena kau tidak pernah tersenyum," ucap Ara.
Reno hanya diam. Baginya ejekkan Ara tidak mempengaruhi dirinya sama sekali. Kenyataan terbesar yang ia yakini adalah wajahnya sangat tampan. Dan mereka pun berhenti berbicara sampai mereka tiba di depan rumah Ara.
* * * *
Pintu utama rumah terbuka. Pria tua menoleh ke belakang, tepatnya ke arah pintu masuk. Pria itu tersenyum menampakkan jendela gigi yang tercipta akibat gugurnya satu gigi dari medan 'perkunyahan'.
"Kau sudah kembali?" tanya pria tua itu memecahkan keheningan.
Reno menghela nafas kemudian duduk di sofa besar. "Hari ini tuan besar Vano tidak berangkat ke kantor, dan pak Farhan berangkat ke kantor menggunakan mobil pribadi, maka dari itu aku bisa pulang awal."
Pak tua itu tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaannya di meja sudut ruangan.
"Wajahmu terlihat gundah, ada apa?" tanya pak tua itu.
Reno menyandarkan kepalanya, menengadah, kemudian memejamkan mata. "Aku merasa tidak tenang saat ada orang lain mengetahui identitasku," jawab Reno setelah menarik nafas.
"Apakah identitasmu sudah ada yang mengetahui?" tanya pak tua tanpa berbalik pada Reno sehingga hanya badan belakangnya saja yang terlihat.
"Semua ini gara-gara gadis itu. Dia sudah mulai belajar mengancam ku," jawab Reno.
Pria tua itu memasukkan cairan berwarna biru ke dalam botol kecil lalu menutupnya dengan kepala semprotan. Ia berjalan ke arah Reno. Semakin ia mendekat ke arah sofa, cahaya semakin menyorot nya, dan semakin jelas pula wajah hancurnya.
"Sampai kapan kau akan menghindari lingkungan sosial? Tinggal di rumah tersembunyi, dan bertemankan komputer dan alat-alat itu. Tuan Muda, semuanya sudah berlalu, semuanya sudah baik-baik saja," ucap pria tua itu.
Reno tersenyum miring. "Dunia ini tidak sepolos yang terlihat. Banyak orang yang terlibat sangat baik, tapi ternyata ia bisa membunuh saudaranya sendiri."
Reno menegakkan kepalanya kembali. "Pak Tua, kau adalah satu-satunya orang yang sangat aku percaya. Jika dulu kau tidak menyelamatkan aku, maka aku tidak akan ada di dunia ini."
Pak tua itu tersenyum. "Seharusnya kau mengatakan itu pada kakakmu. Dia lah yang mati-matian mencariku dan memintaku mengoperasi ibumu demi menyelamatkan bayi di dalam kandungannya. Lalu akhirnya Reno yang berusia 6 bulan kandungan dipindahkan ke inkubator khusus sampai ia benar-benar berusia 9 bulan."
Reno tidak membalas ucapan pak tua itu. Vano memang orang yang sangat berjasa untuk nya. Pria itu juga adalah kakak kandungnya. Akan tetapi kedekatan mereka tidak sama seperti saudara pada umumnya.
Mereka terbiasa bersikap seperti tidak ada hubungan apa-apa. Maka dari itu mereka sangat kaku jika sudah berbicara hubungan kekeluargaan.
"Aku lelah, Pak Tua. Aku akan istirahat."
Belum sempat Reno meninggalkan ruang tamu, pria tua itu menghentikan Reno.
"Ada apa?" tanya Reno.
__ADS_1
"Cairan yang kau minta sudah siap, Tuan Mudaku." Pria tua itu menyerahkan cairan berwarna biru itu pada Reno.
Reno tersenyum sembari mengambil botol kecil itu. "Hmm, sekarang aku tidak perlu takut lagi pada ancamannya."