Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 42


__ADS_3

Vano dan beberapa pelayan berdiri di teras rumah untuk melihat kepergian Nirmala ke panti asuhan. Nirmala pikir mereka keterlaluan. Hanya berangkat sehari ke panti asuhan saja mereka memperlakukan dirinya seolah pergi haji.


Nirmala melambaikan tangan ketika sudah berada di luar pagar. Ya hari ini ia akan berangkat ke panti asuhan menggunakan taksi. Ia ingin merasakan kehidupan tanpa harta, walaupun hanya sehari, ia tetap ingin merasakannya.


Setelah gerbang di tutup, Nirmala berjalan ke jalan utama. Sesampainya di sana ia langsung mencari taksi untuk ditumpangi.


Di rumah besar keluarga Ravaldi, Farhan baru datang. "Selamat pagi, Tuan Besar." Farhan membungkuk hormat.


Vano mengangguk. "Selamat pagi." Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan langsung diikuti oleh Farhan.


Vano memilih duduk di sofa ruang tamu. Farhan pun ikut duduk. Kini mereka duduk berhadapan.


"Tuan Besar, kapan harus mulai?" tanya Farhan.


Vano mengangkat tangan kiri untuk melihat jam tangan. "Tunggu sepuluh menit lagi."


Farhan mengangguk, Vano sudah merencanakan semuanya jadi ia hanya bisa mengikuti perintah Vano saja.


"Apa urusan gadis itu sudah selesai?" tanya Vano.


Farhan mengangguk. "Sudah Tuan Besar. Tapi gadis itu bukan gadis yang bisa diancam dengan mudah. Dia sangat gigih dan tidak kenal takut. Akan sangat menguntungkan jika dia berada di pihak kita. Kemampuan bela dirinya juga sangat luar biasa. Gadis itu sebanding dengan sepuluh bodyguard biasa kita."


Vano diam, dari matanya sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Farhan menunggu tuan besarnya menanggapi.


"Aku tahu dia sangat ahli bela diri. Tendangannya sangat kuat dan gerakkannya sangat lincah. Aku sempat berpikir waktu itu tidak ada yang bisa mengalahkan dia, akan tetapi sopirku mampu mematahkan pikiranku itu."


Farhan tersenyum. "Sopir Anda sangat luar biasa. Akan tetapi saya sangat tidak suka dengan sikap dinginnya. Jika Anda masih bisa diajak bicara, laki-laki itu sulit sekali."


Vano mengeluarkan ponsel. "Biarkan saja, aku suka dengan sikapnya. Tidak mudah disentuh." Kemudian Vano menghubungi seseorang melalui teleponnya. Setelah selesai, ia memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Ayo berangkat."


Farhan mengerutkan kening ketika melihat mobil merah yang berharga murah sedang parkir di halaman depan. Tidak hanya Farhan saja, para penjaga dan pelayan juga penasaran. Tidak biasanya ada mobil murah datang ke rumah besar Ravaldi.


"Ada apa? Ayo naik." Vano melangkah santai mendekati mobil mereka tersebut.


Farhan ternganga ketika Vano mengajak nya masuk ke dalam mobil yang tidak berkelas. Seumur hidup tuan besarnya, baru kali ini pria itu naik mobil murah. Hari ini harus dicatat dalam buku sejarah. Seorang tuan besar Govano Ravaldi rela naik mobil murah demi memantau istrinya.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, kali ini Vano sendiri yang membuka pintu mobil. Ia merasa tidak bisa mengandalkan pekerjanya yang sedang melongo tanpa berkedip. Setelah Farhan ikut masuk ke dalam mobil, Vano memerintahkan pada sang sopir untuk jalan.


Dalam perjalanan Farhan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Bahkan sopir yang terbiasa mengendarai mobil mewah, kali ini terlihat mahir menggunakan mobil murah.


"Kau bisa mengendarai mobil seperti ini? Aku pikir kau hanya bisa mengendarai mobil mahal saja." Farhan memulai percakapan di mobil yang terbilang kecil.


Sopir itu tersenyum kecil di balik topinya. "Murah atau mahal, semua sama saja," jawab sopir pribadi singkat.


Farhan mendengus kesal. "Lihatlah, Tuan Besar. Dia selalu menjawab ucapan saya dengan sangat singkat. Saya ini orang tua, seharusnya dia bisa menghargai saya sedikit."


Tidak menghiraukan ucapan Farhan, Vano sibuk dengan ponselnya yang menunjukkan keberadaan Nirmala. Ternyata diam-diam Vano menempelkan alat pelacak yang sangat kecil di anting Nirmala yang tadi dikenakan. Dengan begitu ia lebih mudah mengetahui keberadaan Nirmala.


Farhan berdecak dalam hati. Ia menarik nafas dalam dan panjang. "Sudahlah, anggap saja aku sedang berada di dalam mobil kosong yang melaju sendiri."


Satu jam kemudian mobil yang dinaiki Vano berhenti di depan pagar panti asuhan. Dilihatnya Nirmala sedang menyapa ketua panti asuhan dan juga anak-anak yang menyambutnya dengan gembira.


"Jika Nirmala tidak keguguran, mungkin kami akan segera memiliki anak dan bermain-main dengan gembira seperti itu."


Vano tak sadar sedang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan istri cantiknya yang diserbu anak-anak.


Melihat Vano tersenyum sendiri, Farhan memutuskan untuk tidak bertanya dulu. Jarang sekali ia melihat Vano tersenyum seperti itu.


Farhan mengangguk. "Baik, Tuan Besar."


"Siapa namamu?" tanya Nirmala pada gadis kecil berusia 4 tahun.


"Namaku Nina," jawab gadis itu dengan pelafalan yang belum sempurna.


"Dia belum fasih berbicara. Kemungkinan pada usia 8 tahun barulah ia bisa berbicara dengan benar," ucap ibu panti.


"Oh, kasihan sekali." Nirmala mengusap kepala anak tersebut. Nirmala berdiri tegak. "Mari kita makan-makan ke restoran terdekat. Aku yang akan mentraktir kalian semua."


"Hore ...!" Anak-anak berteriak riang.


Di restoran, Nirmala meminta pelayan khusus pada pramusaji. Ia meminta beberapa meja dan bangku di susun rapat menyerupai meja makan besar. Kemudian ia memesan banyak makanan.


Anak-anak makan dengan lahap. Baru kali ini mereka makan di tempat mahal dan baru kali ini memakan makanan yang sangat lezat.

__ADS_1


"Nona, terima kasih banyak. Semoga Allah memberikan rahmat dan ridha nya padamu," ucap ibu panti.


Nirmala tersenyum lebar. "Amiin. Sama-sama, Bu. Saya sangat senang melihat anak-anak bisa sesenang ini."


Selesai makan, seorang pramusaji mendatangi meja Nirmala. Pramusaji tersebut membawa buket bunga mawar serta selembar kertas. Nirmala kebingungan saat pramusaji tersebut memberikan bunga tersebut kepadanya.


"I-i-ini apa?" tanya Nirmala bingung.


"Selamat, Nona. Anda adalah pelanggan ke seribu kami. Hari ini, khusus untuk Anda gratis. Jika Anda ingin memesan makanan lagi, kami akan melayani dengan senang hati."


Nirmala dan ibu panti sama-sama menutup mulut mereka. Nirmala pikir ia akan mengeluarkan uang jutaan untuk membayar puluhan makanan yang satu porsinya seharga 250 ribu rupiah. Sungguh sangat tidak disangka semuanya menjadi gratis.


Nirmala mengangguk sopan. "Terima kasih banyak, terima kasih banyak."


Pramusaji itu tersenyum dan mengatakan akan memberikan makanan bungkus untuk anak-anak. Mendengar itu Nirmala dan ibu panti sangat senang. Setelah pramusaji itu pergi, ibu panti memeluk Nirmala dengan erat.


"Anda membawa keberuntungan."


Nirmala tersenyum sambil membalas pelukan ibu panti. "Ini rezeki, Bu."


Di lain tempat, tepatnya di dalam mobil, Vano sedang memakai earphone. "Ya, jika bukan karena Nirmala, aku tidak akan mengeluarkan uang jutaan untuk membayar makanan dan membeli buket bunga mahal serta membayar pramusaji untuk berkata seperti itu."


Farhan dan sang sopir yang masih setia berada di dalam mobil hanya bisa diam. Sejak tadi mereka hanya memperhatikan Vano yang sedang menguping pembicaraan yang terjadi di dalam restoran.


Vano sudah memasang alat penyadap suara di bawah meja. Yang memasang alat tersebut adalah pramusaji saat menyusun meja.


"Semoga kau senang, Nirmala." Vano tersenyum sendiri.


* * * *


Hari sudah sore, Nirmala sudah pulang dan sudah berada di dalam kamar. Ia tidak menyadari bahwa seharian ini Vano selalu membantunya dan mengawasinya. Selesai mandi dan berpakaian, Nirmala kembali ke kamar. Dilihatnya Vano sudah berada di atas tempat tidur sambil berbaring santai.


Vano menatap Nirmala. "Mana janjimu?" tanya Vano.


Nirmala berjalan ke meja rias. "Janji apa?" tanya Nirmala sambil mengambil sisir.


"Memberikan hakku."

__ADS_1


Gerak tangan Nirmala langsung berhenti dan pipinya bersemu merah.


__ADS_2