Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 14


__ADS_3

Mata Nirmala terbelalak. Ia terdiam bukan karena menikmatinya, tapi karena terkejut. Vano melepaskan Nirmala lalu berbalik badan menghadap ke jendela besar.


Nirlama juga terdiam, tidak bisa digambarkan betapa malu dan canggungnya ia sekarang. "Van--"


"Seminggu lagi aku akan mengumumkan pernikahan kita pada orang-orang."


"Hah?" Nirmala tidak percaya.


"Tadi aku sudah mengurus semuanya. Resepsi juga akan diadakan pada hari Minggu."


Ternyata alasan Vano berangkat pagi-pagi adalah mengurus rencana pengumuman tentang pernikahannya dengan Nirmala. Nirmala tidak begitu percaya, jika pernikahan mereka diumumkan di depan publik, itu artinya Vano benar-benar akan menjadikan dirinya sebagai istri selamanya.


"Vano, apakah ini tidak salah? Apakah kau tidak terburu-buru?" tanya Nirmala.


Vano tidak berbicara. Keputusan Vano seharusnya tidak boleh dipertanyakan. Namun untuk kali ini ia akan memaklumi Nirmala yang belum tahu sifat dari Vano.


"Van--"


"Diam atau aku akan menciummu lagi," ancam Vano dengan suara tegas.


Nirmala langsung terdiam. Ia tahu Vano tidak akan main-main dengan ucapannya. Jika ia berbicara, itu artinya ia memang ingin dicium.


"Dasar dingin. Setelah menciumku dia berbalik dan setelah itu membahas hal lain. Apakah dia tidak merasa jantungnya berdegup? Dan setelah aku mulai melupakan ciumannya, dia kembali mengingatkan aku dengan mengancam?"


Vano berbalik pada Nirmala. Ia menatap istrinya yang sedang melamun. "Jangan terlalu banyak pikiran. Istirahat dan makan yang cukup. Apapun yang kau inginkan, katakan saja padaku."


Setelah itu Vano berjalan menuju kamar mandi.


Nirmala duduk di sofa kamar. Sambil melamun ia mengelus perutnya yang masih rata. Mengingat Vano akan mengadakan resepsi pernikahan mereka, itu artinya ia akan menjadi istri Vano sepenuhnya.


"Apakah keputusanku untuk meninggalkan Rafan sudah tepat?" Ia menyuarakan isi pikirannya dengan berbicara cukup keras.


Di kamar mandi, ada senyum kecil di bibir pria yang baru selesai melepas kemejanya. Di depannya ada layar yang menampilkan seorang wanita tengah mengelus perut rata. Suara lembut wanita itu menggema di kamar mandi.


"Ternyata kau belum yakin juga. Baiklah, aku akan membuat kau yakin akan keputusanmu. Aku tidak suka pada orang yang tidak teguh dengan pendirian."


Vano menyalakan shower lalu membiarkan butiran air dingin mengguyur seluruh badannya.


* * * *


Selesai mandi dan berpakaian, Vano duduk di sofa kamar. Tidak seperti biasanya yang selalu tidak lama berada di kamar, malam itu Vano duduk di sana walaupun tidak ada kegiatan.


Dan Nirmala yang biasanya bebas dan leluasa di kamar, sekarang ia duduk di tepi ranjang sambil terus menunduk. Sangat canggung jika harus berduaan di kamar itu.

__ADS_1


Karena merasa canggung dalam keheningan, Nirmala memutuskan untuk memulai perbicangan.


"Vano, apakah malam ini kau tidak bekerja di ruang kerjamu?"


Vano melirik sekilas pada Nirmala. "Apakah kau tidak suka aku ada di sini?"


Itu adalah kebiasaan Vano, bukannya menjawab, ia malah balas bertanya. Dan setiap pertanyaannya pasti menyudutkan lawan bicara.


Nirmala tertawa canggung. "Ahaha, bukan begitu. Aku hanya bertanya saja."


Setelah suara tawa garing Nirmala menghilang, kamarpun jadi sunyi. Vano sama sekali tidak terpancing untuk tertawa satupun setidaknya tersenyum.


"Dasar manusia balok es, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi untuk menghargai tawaku."


'tok-tok-tok.'


"Masuk," perintah Vano.


Pintu dibuka dan masuklah dua pelayan dengan dua nampan di tangan. Nampan itu berisi banyak makanan. Nirmala tahu sekarang sudah memasuki jam makan malamnya, akan tetapi mengapa para pelayan membawakan dua nampan?


"Ini makan malam yang Tuan Muda pesan." Pelayan itu masih belum melangkah masuk.


"Letakkan di atas meja," perintah Vano.


"Kalian boleh pergi."


Setelah mendengar perintah, barulah dua pelayan itu mengundurkan diri tanpa berbalik. Mereka terus mundur dan baru berbalik ketika sudah cukup jauh dari Vano dan Nirmala.


"Ayo makan," ucap Vano ketika pintu sudah ditutup rapat oleh para pelayan.


Nirmala terhenyak. "Apa dia tidak salah? Dia memintaku makan? Berarti dia mengajakku makan malam bersama?"


Vano menatap Nirmala cukup lama. Itu artinya ia memerintah Nirmala untuk segera bertindak sebelum ia berbicara lagi.


Ditatap seperti itu, tentu saja Nirmala langsung memenuhi ajakkan Vano. Bukan ajakkan, tapi paksaan. Iika ajakan, mana mungkin Vano akan menatapnya seperti tadi.


"Vano aku--"


"Jangan bicara saat sedang makan."


"Huft, berbicara sedikit saja tidak boleh."


Sebenarnya akhir-akhir ini mood Nirmala pun sedang tidak bagus. Hanya saja ia tidak bisa menunjukkannya pada Vano karena pria itu sudah menyelamatkan harga dirinya sebagai manusia. Nirmala sendiri tidak tahu mengapa, mungkin saja efek mood ibu hamil.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Nirmala minum air putih. Tidak seperti biasanya, malam ini ia tidak merasa kesepian karena ada Vano yang menemaninya makan. Ingin ia mengucapkan terima kasih, tapi ia malu untuk berbicara.


Vano melihat jam tangannya. "Jika ingin tidur, jangan lupa minum susu yang ku belikan."


"Ya, terima kasih." Nirmala tersenyum kecil.


Seperti biasanya, untuk memanggil pelayan Vano tidak perlu turun dari kamar, tinggal menekan satu tombol dan berbicara. Ia meminta pelayan untuk merapikan dan membersikan bekas makan dirinya dan Nirmala.


Setelah makan dan membaca buku, Nirmala mulai mengantuk. Ia melirik pada jam dinding, ternyata sudah dua jam berlalu sejak ia makan malam bersama Vano. Beralih pada Vano, pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia yakin Vano bukan hanya sekedar bermain dengan ponsel, melainkan tetap bekerja.


"Vano."


Vano mengangkat wajah dan melihat ke arah Nirmala.


"Aku sudah mengantuk, aku akan tidur duluan."


Mata Vano beralih pada segelas susu yang tadi dibuatkan oleh pelayan. "Minum susunya, duduk lima belas menit, baru boleh tidur."


Nirmala menurut saja, ia memang harus menjadi istri penurut jika ingin membuat Vano senang.


Setelah melakukan apa yang diperintahkan Vano, Nirmala mulai menarik selimut, berbaring, dan mulai memejamkan mata.


Belum larut dalam tidur, ia mendengar suara helaan nafas Vano. Karena posisinya membelakangi Vano, ia tidak tahu apa yang dilakukan Vano di balik punggungnya. Tak lama kemudian lampu utama mati dan hanya menyisakan lampu nakas.


Berselang beberapa detik, ia merasa ada seseorang yang naik ke atas tempat tidur, ia yakin itu adalah Vano. Biasanya ia akan tidur sebelum Vano datang ke kamar, tapi hari ini berbeda, maka dari itu ia merasa canggung. Jantungnya mulai berdebar hingga kantuknya tiba-tiba menghilang.


Entah sudah berapa lama ia berbaring membelakangi Vano tanpa memejamkan mata. Ia pikir Vano sudah tertidur, tapi tak lama kemudian ia dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya.


"Mengapa belum tidur?"


Suara berat Vano terdengar sangat dekat. Ia yakin kepala suaminya tepat berada di belakang kepalanya.


"Da-dari mana kau tahu aku belum tidur?" tanya Nirmala terbata-bata.


"Dari napasmu. Deruan napasmu belum tenang."


Nirmala mematung, ia tidak tahu harus bergerak atau diam saja seperti patung. Jangankan bergerak, bernapas saja sulit untuk ia lakukan.


"A-a-aku tidak bisa tidur," jawab Nirmala menjawab pertanyaan pertama Vano.


"Berbaliklah," perintah Vano.


"A-a-apa?" Jantung Nirmala semakin berdebar.

__ADS_1


__ADS_2