Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 32 (S2)


__ADS_3

Reno tidak beranjak. "Mana mungkin aku bisa mandi sendiri."


Ara menoleh ke arah Reno. "Lalu?"


"Mandikan."


'Deg'


"Jangan melantur." Ara kembali memeriksa kotak P3K.


"Apakah kau pikir aku sedang bercanda? Atau kau pikir aku akan mengambil kesempatan ketika aku benar-benar kesakitan?" tanya Reno dengan nada serius.


Ara menatap ke depan saat berpikir. "Benar juga. Sekarang tidak ada yang bisa membantunya selain aku. Tuan Vano mana mungkin mau memandikan adiknya. Sejak datang kemari saja tuan besar tidak terlihat peduli sama sekali."


Ara menoleh ke arah Reno. "Tidak, aku tidak mau memandikanmu. Aku tidak berani."


Reno menaikan sebelah alisnya. "Apa yang kau takutkan? Aku tidak makan orang." Tapi tak lama kemudian ia tersenyum sinis. "Jangan-jangan kau mengira aku akan mandi dengan bertelanj*ng bulat? Jangan bermimpi, aku tidak sebodoh itu."


Ara memutar bola matanya. Karena tidak ada pilihan lain, maka ia memutuskan untuk membantu Reno mandi. Toh Reno dalam kondisi sakit, jadi tidak mungkin berbuat macam-macam. "Baiklah."


Ara membantu Reno berjalan ke kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Ara mengangkat meja kecil yang ada di pojok kamar mandi. Ia letakkan di dekat shower tapi tidak tepat di bawah shower.


"Buka bajumu," perintah Ara.


Reno melirik sekilas. "Kau sudah tidak sabar ya?" goda Reno.


Ara mengepalkan tangannya. Di saat jantungnya memang sedang berdetak kencang, Reno malah menggodanya. Sekarang ia benar-benar ingin memukul pria itu, akan tetapi ia tidak tega karena Reno sedang terluka.


"Jangan banyak bicara. Duduk di sini dan buka pakaianmu." Ara menepuk meja yang tadi ia bawa.


Reno menahan senyum saat melihat wajah Ara merona merah. Ia segera duduk di atas meja lalu bersiap membuka kemejanya. Baru satu gerakan, ia berhenti. "Tanganku sakit, bisakah kau membukakan kancing kemejaku?"


Tanpa banyak bicara Ara langsung membuka kancing kemeja Reno. Setelah itu ia membantu Reno meloloskan kemeja dari bahu bidangnya. Sekarang Reno sudah tidak memakai apapun di bagian atas. Dengan begitu Ara dapat melihat banyaknya luka serta memar yang menghiasi kulit putih Reno. Dan tidak sedikit ada yang sampai berdarah.


"Pasti sangat sakit," ucap Ara sambil mengusap lembut memar yang ada di punggung Reno.


"Hmm, sangat sakit. Maka dari itu aku meminta kau membantu ku mandi," jawab Reno.

__ADS_1


"Mengapa bisa seperti ini? Sepertinya ini luka cambukan. Sedangkan di wajahmu luka pukulan." Ara tidak dapat menahan rasa penasarannya.


Reno diam tidak menjawab, sepertinya ia tidak ingin menceritakan apapun. Karena Reno diam saja, Ara pun tidak bertanya lagi.


"Bukakan celanaku," pinta Reno.


Ara membelalakkan matanya, ia mundur satu langkah lalu berkacak pinggang. "Jangan seenaknya kau ini! Tidak, aku tidak akan membuka celanamu!"


Reno berdecak kesal. "Kau ini kenapa? Aku memakai celana pendek di dalam. Apa kau pikir aku ini sudah gila ingin memamerkan 'nya'?"


Pipi Ara benar-benar bersemu merah kali ini. Ingin rasanya ia lari, namun ia tidak tega membiarkan Reno mandi sendiri. Akhirnya. "Baiklah."


Ara maju lagi. Dengan ragu bercampur takut dan canggung, Ara meraih tali pinggang yang Reno kenakan. Tangannya gemetar karena mereka sangat malu dan canggung.


"Hei, hati-hati dengan tangan gemetarmu itu. Nanti kau bisa salah pegang," ucap Reno bercanda.


"Reno diamlah!" teriak Ara karena ia sudah tidak bisa menahan malu dan canggung.


Reno menghela nafas. "Oke-oke, baiklah. Jangan mengamuk seperti itu juga."


Beberapa detik kemudian, akhirnya Ara berhasil melepas celana Reno. Dan benar apa yang dikatakan oleh Reno, pria itu memakai celana pendek yang cukup tebal. Sekarang Ara sudah bisa bernafas lega.


Ara menyetel air ke air hangat kemudian menyalakan shower. Air dari shower tidak langsung terjun mengenai Reno. Ara yang menampung air di telapak tangan lalu ia guyurkan sedikit demi sedikit hingga seluruh tubuh Reno basah.


Ara memandikan Reno dengan sangat hati-hati. Hal itu membuat Reno tidak merasa sakit. Lagi-lagi ia merasa tersentuh. Sekarang ia sadar bahwa sebenarnya Ara adalah gadis yang lembut dan perhatian. Tidak heran jika Nirmala sangat akrab dengan nya.


"Selesai." Ara mengambil handuk yang ada di gantungan. Dengan lembut pula ia mengeringkan kulit Reno.


"Sekarang aku akan pergi keluar. Kau pakailah handuknya." Tanpa menunggu Reno menjawab, ia langsung pergi dan menutup pintu.


Setelah Ara pergi, Reno tersenyum senang. "Haa, ternyata ada untungnya juga aku dipukuli oleh tuan Vano. Aku bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan." Reno melepas celananya. "Ara, jangan pernah berpikir bisa mengakhiri permainan ini."


Beberapa menit kemudian.


"Hei! Bantu aku berjalan!" Reno berteriak dari dalam kamar mandi.


Ara yang sedang menutup jendela kamar menoleh ke arah kamar mandi. Dengan langkah cepat ia berjalan ke kamar mandi. Dibukanya pintu kamar mandi dan ia melihat Reno sudah memakai handuk. Ia pun mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Cepat," ucap Ara singkat.


Tangan mungil Ara digenggam oleh tangan besar Reno. Dengan bantuan itu Reno bisa berjalan dengan aman ke dalam kamar.


Saat memasuki kamar, ia melihat kamarnya sudah rapi. Di atas ranjang ada satu setel pakaian. Dan di samping pakaian itu ada kotak P3K serta perban. Ara membawa nya ke tepi ranjang dan membantu nya duduk.


"Sebelum memakai baju, aku akan mengoleskan salep pada luka yang tidak dalam, dan untuk luka yang parah, aku akan memberikan obat merah."


Reno mengangguk saja. Apapun ritual pengobatan yang akan dilakukan oleh Ara, ia tidak peduli sama sekali. Yang penting lukanya diobati dan ia bisa memanfaatkan waktu dengan gadis mungil ini.


Ara mendorong bahu Reno agar membelakanginya. Reno masih menurut. Sekarang ia merasakan salep yang dingin di punggungnya. Dengan begitu ia bisa duduk rileks. Tapi beberapa detik kemudian ia merasakan perih di luka yang lain.


"Aww, bisakah kau pelan sedikit?" Reno menggerutu karena benar-benar merasa perih.


"Ma-maaf, apakah sangat sakit?" terdengar Ara cemas sekaligus merasa bersalah.


Tanpa Ara ketahui, Reno tersenyum miring. "Sangat sakit. Bahkan lebih sakit sekarang."


Rasa perih ditambah dengan rasa dingin. Ia yakin di belakangnya Ara sedang meniup lukanya. "Cepat lanjutkan. Aku akan menahan rasa perihnya."


Tanpa berbicara, Ara langsung menuruti perintah Reno.


Selesai di punggung, sekarang Ara beralih ke perut Reno. Sekarang Reno bisa melihat wajah orang yang sudah telaten mengobati lukanya. Imut dan cantik, dua kata itu yang bisa Reno pikirkan. Wajah Ara terlihat lebih cantik dan imut saat ia sedang serius mengobati lukanya.


"Ara."


Mendengar Reno memanggil, Ara mengangkat kepalanya dan ....


'Ting' Reno mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis. Sungguh menawan dan menggoda.


'Deg' Pipi Ara langsung merona.


Melihat itu Reno tertawa kecil. "Lihat pipimu. Hanya ku beri kedipan mata saja sudah semerah itu, apalagi jika aku peluk dan aku cium."


Ara cemberut, ia merasa sedang digoda oleh Reno. Tapi ia tidak bisa benar-benar marah karena wajah Reno sungguh tampan. Apalagi saat mengedipkan mata tadi, sungguh menawan dan memesona.


"Aku harus berhati-hati dengan pria satu ini. Dekat-dekat dengannya bisa membuat aku gagal jantung."

__ADS_1


Segitu dulu ya. Makasih banyak atas like dan komentarnya 😘😘😘🥰🥰🥰😍😍😍😍🤗🤗🤗


__ADS_2