Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 31


__ADS_3

"Ma-maaf Tuan Muda. Ta-tapi bagaimana bisa kami memanjat sampai pucuk. Bagian paling bawahnya saja sudah sangat tinggi." Kepala pelayan memberanikan diri untuk mengemukakan keberatan.


Vano menatap tajam pada pelayan tersebut. Dengan tatapan itu pelayan tersebut tahu bahwa ia tidak boleh menolak perintah. Apa boleh buat, ia memang harus mengikuti keinginan nyonya muda dan perintah tuan muda.


Kepala pelayan itu berjalan dengan ragu-ragu. Ia sendiri tidak memiliki keahlian dalam memanjat pohon. Baru akan memegang batang pohon, suara Vano menghentikan gerakannya.


"Jangan lakukan."


Semua pelayan mengangkat wajah dan melihat ke arah Vano serta ke arah kepala pelayan. Nirmala menatap Vano, ia merasa kecewa karena Vano tidak mengindahkan keinginannya.


"Tapi Tuan Mu--"


"Saya yang akan melakukannya."


Semua pelayan terkejut bukan main. Mungkin jika tidak ada tulang rusuk yang menjaga jantungnya, jantung tersebut sudah melompat ke luar. Bagaimana tidak terkejut, seorang tuan muda paling berkarisma yang dingin akan memanjat pohon mangga.


Seumur hidup mereka ini adalah kejadian yang paling bersejarah. Tuan Muda mereka tidak pernah mau melakukan hal yang tidak penting. Pelayan yang paling tua tahu bahwa sejak kecil tuan mudanya tidak pernah main bersama anak-anak lain. Vano begitu dingin sehingga tidak pernah meluangkan waktu untuk hal kecil, termasuk memanjat pohon.


"Vano, apakah kau akan melakukannya?" Nirmala sendiri tidak percaya.


Vano tidak menjawab pertanyaan Nirmala, ia malah fokus pada para pelayan. "Kalian boleh pergi."


Mendengar perintah tuan muda, mereka membungkuk dan mundur. Setelah jaraknya cukup jauh, barulah mereka membalikkan badan dan kembali bekerja dengan tugas masing-masing.


"Vano, mengapa kau mau memanjat pohon untukku? Hal itu bisa menjatuhkan image mu sebagai tuan muda yang paling dingin," ucap Nirmala. Walau bagaimanapun, ia tidak ingin merusak wibawa suaminya.


Vano satu langkah lebih dekat pada Nirmala. "Aku bukan tuan muda dingin. Kau kan sudah merasakan hangatnya pelukanku, itu adalah bukti yang paling mendasar bahwa aku tidak dingin."


Nirmala menunduk malu. Walaupun tadi malam ia tidak jadi melaksanakan kewajibannya, akan tetapi mereka berdua sudah sangat mesra, hal itu membuat ia malu.


"Jangan dibahas lagi."


Vano tersenyum. "Baiklah. Sekarang aku akan mengambilkan mangga yang kau inginkan."


Nirmala tidak sabar melihat keahlian Vano memanjat pohon. Sebenarnya ia tidak yakin Vano bisa melakukannya, akan tetapi ia tahu Vano orang yang sangat gigih.


Dan ya benar saja, walaupun tidak pernah memanjat pohon sekaligus, Vano berhasil naik ke dahan pertama hanya dalam hitungan tiga detik. Kemudian ia lanjut ke dahan-dahan berikutnya hingga akhirnya sampai di dahan yang paling pucuk.


"Hati-hati," ucap Nirmala karena melihat pohon bergoyang.

__ADS_1


Dahan paling pucuk tentu lebih kecil dari dahan lainnya. Berat badan Vano cukup menyulitkan dahan tersebut untuk tetap diam. Vano memetik mangga yang paling pucuk. Setelah berhasil, ia memanggil Nirmala.


"Aku sudah berhasil mendapatkannya." Vano menunjukkan mangga yang ia petik.


Nirmala tersenyum gembira. Hampir saja ia berjingkrak kegirangan jika tidak ingat nantinya akan malu.


"Cepat turun."


Baru kali ini seorang Govano Ravaldi diperintah, dan ia sama sekali tidak marah ataupun keberatan.


Dalam beberapa detik Vano berhasil mendarat di tanah dengan sempurna. Ia berjalan mendekat pada Nirmala.


"Ini yang kau mau?" Vano mengulurkan buah mangga yang masih muda.


Nirmala mengambil buah mangga tersebut dengan gerakan cepat. Setelah itu ia langsung memeluk Vano dengan erat. "Terima kasih, Vano."


Vano tersenyum, akan tetapi tidak membalas pelukan istrinya. Ia membiarkan Nirmala memeluk dirinya sepuasnya.


Nirmala melepaskan pelukannya. "Aku akan masuk ke dalam dan mengusap mangga."


Vano menggeleng. "Jangan mengupas sendiri. Perintahkan pelayan yang mengupaskan, aku khawatir tanganmu terluka."


Nirmala menggeleng. "Tidak Vano, mengupas mangga adalah hal sepele. Aku ingin mengupasnya send--"


Nirmala menarik nafas panjang. "Baiklah-baiklah."


Vano dan Nirmala masuk ke dalam rumah. Tanpa mereka ketahui sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari lantai tiga. Siapa lagi yang suka memperhatikan mereka secara diam-diam selain nyonya besar Raisa.


Raisa mengepalkan tangan. "Kurang ajar, ini sangat berbahaya. Lihatlah, Vano sampai rela memanjat pohon demi si Nirmala itu. Bisa-bisa Nirmala menggantikan posisiku secepatnya."


* * * *


"Aku merasa tuan muda sudah ada perubahan," ucap Farhan pada sang sopir misterius.


Mereka berdua sedang berada dalam perjalanan pulang. Vano memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantar jemput Farhan selama ia tidak masuk ke kantor. Dan kesempatan ini dipakai oleh Farhan untuk menggosipkan tuan muda mereka. Jarang-jarang ia memiliki waktu sendiri tanpa mendampingi tuan muda.


Sang sopir itu hanya tersenyum tipis di balik topi yang menutup sebagian wajahnya. Sejak kemarin, Farhan selalu banyak bicara, sedangkan sang sopir hanya menanggapi dengan senyuman tipis, anggukan, dan kata iya ataupun tidak.


"Kau ini sebenarnya sangat menyebalkan. Kau dan tuan muda sebenarnya lebih dingin lagi dirimu. Tuan muda masih sering berbicara walaupun hanya dengan diriku. Sedangkan kau, kau tidak pernah berbicara banyak. Bahkan aku kadang berpikir bahwa kau ini bisu."

__ADS_1


Lagi-lagi sang sopir itu hanya tersenyum tipis. Farhan yang sudah berbicara panjang lebar di belakang rasanya ingin mencekik anak muda itu.


"Apakah dirimu mendapatkan masa training untuk menjadi pria dingin dari tuan muda?" tanya Farhan. Mungkin dengan bertanya, sopir tersebut akan berbicara.


Sopir itu menggeleng. "Tidak." Lagi-lagi sangat singkat.


Farhan menghela nafas. "Sudahlah kau mati saja. Aku sangat kesal. Aku masih tahan berhadapan dengan sifat dinginnya tuan muda, tapi berhadapan dengan dirimu rasanya aku ingin mencekikmu."


Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang. Sang sopir tidak perlu menyalakan klakson agar dibukakan gerbang. Hanya dengan melihat mobil pribadi tuan muda, para penjaga sudah pasti langsung membukakan pintu.


Mobil hitam parkir sempurna di depan teras. Dia pria berbaju hitam langsung menghampiri pintu belakang dan membuka pintu.


"Selamat sore, Tuan."


Farhan mengangguk, kemudian masuk ke dalam.


Mobil hitam yang baru saja parkir kembali melaju meninggalkan pekarangan rumah besar keluarga Ravaldi.


'Tok-tok-tok'


'Ceklek'


Vano membuka pintu kamarnya. Sepertinya ia baru saja selesai mandi karena rambutnya masih basah. Ia keluar dan menutup pintu.


"Ada apa?" tanya Vano


"Selama sore, Tuan Muda." Farhan menyodorkan sebuah flashdisk. "Silahkan dicek, Tuan Muda. Saya sudah mengerjakan semuanya."


Vano menerima flashdisk tersebut kemudian mengangguk.


Dengan anggukan Vano dan Vano yang tidak berbicara lagi, Farhan tahu bahwa ia sudah bisa pergi. "Saya pamit, Tuan Muda."


"Baik, terima kasih."


Setelah Farhan pergi, Vano membuka pintu dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Baru selesai menutup pintu dari dalam, Vano berbalik dan langsung dikejutkan oleh kehadiran Nirmala.


"Aaa!"


Baru kali ini Vano berteriak. Ya bagaimana ia tidak berteriak begitu melihat penampilan Nirmala yang baru selesai mandi.

__ADS_1


"Ni-Nirmala, penampilan seperti apa ini?"


Vano menatap Nirmala dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia masih terkejut sehingga butuh beberapa saat untuk mengatur nafas.


__ADS_2