
"Asal kau tahu, aku sedang tidak berpura-pura. Lihat mataku." Ara semakin memperdalam tatapannya. Mungkin saat ini tatapannya sudah sampai di depan hati Reno. "Aku sedang tidak berbohong. Bisakah kau tahu itu?"
Reno diam, tidak berbicara maupun bergerak. Entah mengapa otaknya berhenti bekerja untuk sesaat.
"Apakah kau percaya padaku sekarang?" tanya Ara sambil berbisik.
Reno menelan salivanya dan ....
"Kau ingin menciumku?"
...
...
...
Hening ....
Ara langsung menurunkan tangannya dan menjauh dari Reno. "Ekhem." Ara berdeham canggung. "Ti-tidak, tentu saja tidak. Aku hanya ingin agar kau tidak menuduhku berpura-pura. Aku memang tidak tahu apa-apa," ucap Ara. Pipinya bersemu merah.
Reno merapikan kembali kemejanya. Ia menghela nafas sebelum berurusan dengan Ara. "Jika benar-benar kau tidak tahu, mengapa saat aku masuk ke kamar ini kau membuang muka?" tanya Reno ingin Ara mengaku saja. Sungguh ia benar-benar tahu bahwa Ara hanya berakting tidak tahu apa-apa.
Ara menatap Reno sambil berkacak pinggang. "Lalu apakah kau berharap aku langsung menatapmu? Berarti sejak awal kau masuk ke sini, kau memperhatikan aku?"
Sekakmat! Reno tidak bisa menjawab pertanyaan Ara. Ia sendiri tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini ia sering mempedulikan keberadaan Ara. Ia tidak pernah sekalipun bergaul dengan wanita, jadi ia tidak mengerti sama sekali apa yang ia rasakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Nirmala mengambil alih keadaan.
Reno menunduk saat akan berbicara pada Nirmala. Ia masih menunjukkan sikap profesionalisme. "Maafkan saya, Nyonya Besar. Saya hanya merasa terganggu dengan tingkah para pelayan di rumah ini. Mereka berdandan menor, mendekati saya, dan bahkan seperti ingin menyantap saya."
Nirmala mengangkat sebelah alisnya. "Lalu mengapa kau merasa terganggu? Kau kan bisa mengusir mereka dengan caramu," ucap Nirmala dengan serius, seolah-olah bukan dia yang menyebabkan semua masalah di lantai bawah.
"Nyonya Besar, saya anti disentuh oleh orang lain. Jangankan wanita gila seperti mereka, wanita normal saja saya tidak tahu cara menghadapinya. Saat saya menyingkirkan tangan mereka dengan kasar, mereka malah senang. Saat saya bentak, mereka juga sangat senang. Lalu saya harus bagaimana?" Reno yang sudah kesal tidak sadar bahwa sekarang ia terus berbicara.
Ara melipat tangan di depan dada. "Sekarang kau sudah pandai berbicara."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ara, Reno langsung menatap tajam pada wanita itu.
Nirmala berusaha menahan tawanya, ia harus bisa mengambil kondisi yang sepertinya hampir berjalan sesuai yang ia inginkan.
"Sudah, sudah, jangan beradu pandang seperti itu lagi. Nanti kalian jatuh cinta." Nirmala melihat kearah Reno. "Sebaiknya kau beristirahat di kamar lama tuan besar, jika tuan besar sudah pulang, aku akan bicarakan masalah ini dengannya."
Tidak menjawab, Reno malah menggeleng.
"Mengapa menggeleng?" tanya Nirmala.
"Saya harus memeriksa rekaman CCTV sebelum saya memikirkan solusi dari masalah ini."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Reno menatap tajam pada Ara. Sedangkan yang ditatap bersikap acuh tak acuh.
"Baiklah, silahkan." Nirmala menggangguk.
Tidak membuang-buang waktu lagi, Reno langsung berjalan keluar dari kamar Nirmala. Ia menuju ruang kerja Vano.
Sedangkan di dalam kamar, suasana masih hening dan tegang. Tapi beberapa detik kemudian ....
'tos'
"Hahahaha, ternyata mengerjai Reno sangat menyenangkan." Ara tertawa sepuasnya.
Nirmala menepuk sofa di sebelahnya. "Duduklah dulu."
Ara menurut dan duduk di samping Nirmala sambil masih tetap tertawa.
"Ini belum apa-apa, Ra. Nanti kita akan buat dia terlihat lebih konyol dari ini," ucap Nirmala. Tapi tiba-tiba tawa Nirmala terhenti. "Tapi, bagaimana jika dia tahu kebenarannya setelah memeriksa rekaman CCTV?"
Ara meredakan tawanya. "Tenang saja, Nyonya. Saya sudah menghapus bagian saat kita berbicara dengan Lia. Dia hanya akan melihat rekaman saat Lia sibuk menyebarkan tentang Reno yang sudah boleh didekati," jawab Ara santai.
Nirmala mengerutkan keningnya. "Lia itu benar-benar licik. Dia yang menyebarkan informasi tentang siapapun boleh mendekati Reno, itu artinya dia memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekati Reno. Tapi mengapa ketika orang lain mulai beraksi, dia malah menghalangi? Seolah-olah dia melindungi Reno."
"Dia melakukan itu agar terlihat sebagai pahlawan Reno. Agar Reno menganggap hanya dia lah yang memahami kondisi Reno yang tidak ingin didekati siapapun," jawab Ara.
__ADS_1
Nirmala mengangguk. Yang dikatakan Ara masuk akal. Wanita seperti Lia memang memiliki watak yang buruk. Ia sendiri tidak tahu alasan Lia mau bekerja pada keluarga Ravaldi. Padahal jika dilihat dari latar belakangnya, Farhan melaporkan bahwa Lia bukan wanita yang hidup sederhana.
"Jangan terlalu dipikirkan, Nyonya. Yang terpenting dia tidak sepintar kita. Wanita seperti dia memang harus segera ditangani sebelum dia melancarkan aksi-aksi buruk," ucap Ara.
Saat mereka sedang mengobrol, di ruangan lain, Reno sedang memasukkan suatu kode. Ia mengetik menggunakan sepuluh jari dengan sangat cepat. Dan terakhir ia mengklik tombol enter.
Reno memperhatikan layar komputer dengan seksama. Tak lama kemudian ia tersenyum sinis. Tidak ada kata-kata yang keluar, ia hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Layar yang ia lihat menampilkan gambar Nirmala dan Ara yang sedang mengobrol dengan Lia.
Karena CCTV yang digunakan di ruang tengah dan dapur adalah CCTV biasa, jadi suara apa yang ada di sana tidak terekam. Alhasil Reno tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Nirmala dan Lia. Namun ia bisa menyimpulkan bahwa Nirmala mengucapkan sesuatu yang membuat Lia mengambil tindakan.
"Tuan besar, istri Anda ini tidak ada habis-habisnya berusaha mengerjai ku. Apakah nyonya besar memiliki dendam pribadi terhadap ku?"
Reno menggeleng-gelengkan kepalanya. Dimatikannya layar komputer kemudian keluar dari ruang kerja Vano.
"Mungkin aku harus menyalakan penyadap suara yang ada di kamar nyonya besar. Agar aku bisa tahu, apa saja yang diperbincangkan dan direncanakan oleh nyonya besar dan juga si gadis tengik itu."
Mengingat Ara, bayangan saat Ara mengurung nya diantara kedua tangan kembali terlintas. Reno menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, tidak, tidak. Jangan dipikirkan lagi."
Reno berusaha menghapus bayangan wajah cantik Ara. Ya, sekarang dia mengakui bahwa Ara adalah gadis yang cantik. Paling cantik di antara gadis-gadis dan wanita-wanita yang pernah ia lihat.
Reno menggeram kesal saat kembali mengingat wajah cantik Ara. "Pergi dari kepalaku." Reno memijat keningnya, berharap bayangan Ara segera pergi.
Cepat-cepat ia berjalan menuju kamar Nirmala. Ia ingin menghubungkan penyadap suara yang dulu ia pasang dengan earpiece yang ada di telinga.
'Ckelek'
Dua wanita menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Mereka yang tadinya mengobrol dengan asik, kini diam tanpa suara.
Reno tidak masuk ke dalam kamar, ia berdiri di ambang pintu. Kemudian ia menunduk memberi hormat. "Saya permisi."
Reno menutup pintu kamar Nirmala setelah menghubungkan penyadap suara dari jarak jauh. Ia tersenyum di balik topinya.
"Kau masih kurang pintar, Ara."
__ADS_1
Mau hari ini diup 2 Episode, atau besok aja? Kalau hari ini 2 episode, berarti besok 1 aja, begitu pun sebaliknya. Jawab loh ya👍