
Perhatian! Bacanya jangan ada yang diskip ya. Nanti gak tau loh siapa si sopir pribadi ini dan apa aja kegiatan dia dibelakang layar Istri Jaminan Season 1
Sopir pribadi itu tersenyum di balik topinya. "Baiklah. Itu perkara yang mudah. Akan tetapi aku ingin meminta uang tunai 500 juta."
Vano menatap tajam pada sopir pribadi yang merupakan adiknya.
"Kau jangan memeras tuan besar, sopir." Farhan berbicara dengan tegas pada sopir yang masih berdiri tegak. "Memangnya sudah dipastikan bahwa orang yang kau temukan akan bekerja dengan sangat baik hingga kau meminta harga yang begitu tinggi?"
Sang sopir memperbaiki posisi topinya. "Aku tidak memaksa," jawab sopir pribadi itu singkat.
Vano menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. "Terserah kau saja. Uangnya akan kau terima sebelum dua puluh empat jam."
Farhan menoleh pada Vano dengan tatapan tidak percaya. "Tuan Besar--"
"Aku tahu apa yang aku putuskan, Pak Farhan," potong Vano.
Akhirnya Farhan hanya bisa menunduk tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Dengan langkah santai namun lebar, sopir pribadi itu meninggalkan ruang pertemuan.
Sepeninggalan sopir pribadi, Vano dan Farhan berada dalam keheningan. Sepertinya Farhan masih keberatan dengan keputusan yang tuannya putuskan. Akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.
"Tuan Besar, apakah ini tidak akan menjadi masalah? Uang 500 juta bukanlah uang yang sedikit," ucap Farhan setelah sekian lama hening.
Vano berdiri dan merapikan kemejanya. "Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Dia juga belum pernah meminta uang padaku selama ini. Jadi anggap saja uang itu adalah uang saku yang selama ini belum pernah aku berikan padanya."
Sebelum pergi Vano berkata singkat pada Farhan. "Percayakan semuanya pada Reno."
"Baik, Tuan Besar." Farhan mengikuti langkah Vano keluar dari rumah tersebut.
* * * *
__ADS_1
'Kling' Suara pesan teks masuk.
Pria bertopi mengambil ponselnya di samping bangku pengemudi. Cahaya biru dari layar ponsel yang ada di depan wajahnya mampu menyinari senyum tipis di bibir pria bertopi itu. Setelah membaca isi pesan, ia kembali meletakkan ponsel di samping bangkunya.
"Tuan besar Vano memang selalu menepati ucapannya." Kemudian pria itu menyalakan mesin mobil.
Reno mengendarai mobil hitam mewah milik Vano di jalan yang cukup padat pada malam itu. Ke mana lagi tujuannya jika bukan ke rumahnya. Ia harus membawa mobil mewah itu ke rumahnya dan menjaganya seperti menjaga nyawa sendiri.
Dan kemungkinan besok ia akan libur mengingat kakaknya tidak akan mungkin masuk kerja setelah mengetahui istrinya sedang mengandung. Ia yakin kakaknya akan menjaga Nirmala sepanjang waktu tanpa membiarkan Nirmala menginjak lantai seujung kuku pun.
Mengingat kelakuan kakaknya yang sudah 70 persen berubah, Reno tersenyum miring.
"Aku senang tuan besar Vano sudah memiliki kehidupan rumah tangga dan menemukan wanita baik seperti nyonya Nirmala. Akan tetapi dia sangat keterlaluan. Bisakah dia bersikap sewajarnya?"
Reno menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri ketika ia memikirkan kelakuan Vano yang sudah menjadi budak cinta.
Dari jalan besar, mobil hitam mewah belok ke kanan, tepatnya ke jalan yang lebih sepi. Sepanjang jalan hanya ada pohon-pohon besar. Jarang sekali rumah yang terlihat. Beberapa meter dari jalan besar, mobil hitam itu mulai melaju perlahan lalu kembali belok ke kanan.
Reno menginjak pedal gas dan memasukkan mobil ke dalam garasi tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia mematikan mesin mobil lalu keluar dari dalam mobil.
Entah tombol apa yang ia tekan dari kunci mobilnya, tiba-tiba saja ruang garasi dipenuhi oleh keamanan laser yang membentang dari dinding satu ke dinding lainnya. Setelah memastikan keamanan sudah diaktifkan, Reno langsung keluar dari garasi tersebut.
Reno berjalan memasuki rumah yang terlihat kecil dan sederhana. Ia membuka pintu utama dengan gerakan santai. Setelah masuk tidak lupa ia mengunci pintunya kembali.
Ruangan tersebut masih gelap, akan tetapi setelah saklar dinyalakan, ruang tersebut menjadi terang benderang. Yang tampak adalah ruang tamu dengan sofa sederhana. Reno terus melangkah menuju ruang selanjutnya. Dan ruang selanjutnya adalah dapur. Tapi tidak bisa disebut dapur juga karena di sana tidak ada bahan makanan atau perabotan dapur sama sekali.
Reno tidak membuang waktu di sana, ia langsung berjalan menuju kulkas yang merupakan satu-satunya perabotan yang ada di dapur. Begitu sudah berdiri di depan kulkas, Reno meletakkan telapak tangannya di atas kulkas.
'Kling'
"Sistem keamanan aktif, mohon verifikasi sidik jari Anda." Begitulah bunyi dari sistem keamanan yang diaktifkan.
__ADS_1
Bersamaan dengan suara tersebut, bagian atas pintu yang terlihat pintu kulkas itu memperlihatkan kolom untuk meletakkan telapak tangan. Dengan santai Reno meletakkan telapak tangannya di sana.
'Kling'
"Selamat datang, di rumah Anda." Pintu kulkas tersebut bergeser dengan sendirinya.
Ternyata di balik pintu kulkas bukanlah isi kulkas, melainkan sebuah ruangan yang sampai saat ini masih gelap karena lampu masih mati.
Begitu kaki Reno menginjak lantai yang ada di dalam ruangan, semua lampu otomatis menyala. Setelah lampu menyala, barulah terlihat tangga yang turun ke bawah. Dan terlihat pula ruangan yang sangat luas dan mewah. Ya, ternyata rumah Reno yang sebenarnya berada di bawah tanah.
Ruang tamu yang elegan dan luas membuat orang tidak akan menyangka bahwa di balik pintu yang terlihat kulkas ada ruang tamu semegah itu. Sedangkan Reno, ia memasuki rumahnya dengan langkah santai seolah-olah tidak menunjukkan rasa takjub pada rumahnya sendiri.
Tanpa berkata-kata, Reno berjalan menuruni anak tangga, dan secara otomatis pintu rumahnya kembali tertutup.
Di rumah tersebut tidak hanya ada Reno. Terlihat di sudut ruangan ada seorang pria yang duduk membelakangi Reno. Pria tersebut sedang sibuk berkutat di meja tanpa peduli siapa yang masuk ke dalam rumah.
"Hai, Pak tua." Reno berdiri di belakang sofa.
Pria yang dipanggil pak tua itu pun langsung menoleh ke belakang. Siapapun akan merasa ngeri jika melihat wajah pria itu. Pria yang sudah berusia 50 tahun itu memiliki bekas luka yang mengerikan di sebagian wajahnya. Wajah rusaknya semakin tersorot jelas ketika ia menghadap ke arah cahaya.
"Tuan Muda Reno." Pria tersebut tersenyum tipis kemudian kembali menghadap mejanya.
"Mengapa cepat sekali kembali? Biasanya jika tuan besar Vano memanggil, kau akan lama di sana," tanya pria itu tanpa menoleh pada Reno.
Reno memperbaiki posisi topinya. "Tidak banyak yang harus dibicarakan. Dia hanya meminta ku untuk mencarikan pengawal khusus untuk nyonya besar Nirmala."
"Lalu?" tanya pria tua itu lagi.
"Aku sudah menyiapkan semuanya sejak lama." Kemudian tanpa pamit Reno berjalan menuju ke salah satu ruangan meninggalkan pria itu sendirian.
Pria tua yang ditinggal sendirian tersenyum bangga setelah maha karyanya selesai. "Bagus, ini siap untuk digunakan."
__ADS_1
Pria itu mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru.