Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 15 (S2)


__ADS_3

Vano melongo, sedangkan Reno menahan nafasnya. Lalu kedua kakak beradik itu menepuk jidat mereka secara bersamaan.


"Dasar kalian ...." lirih Vano dan Reno secara bersamaan.


"Jadi hanya karena itu kalian sedih seperti ini?" Vano menggeleng kepalanya.


Sebenarnya wajar jika Nirmala mengidolakan artis itu. Ia mengakui bahwa artis itu tampan dan menarik. Namun jika sampai Nirmala menangis hanya karena penyanyi itu akan segera menikah, ia rasa tidak wajar. Tapi ia ingat bahwa Nirmala sedang mengandung, mungkin ia menjadi sensitif karena masih dalam masa mengandung.


"Kau tidak mungkin mengerti bagaimana rasanya menjadi kami. Ak--"


Vano mengusap kepala Nirmala dengan lembut. "Aku tahu. Sudahlah, relakan saja. Lagi pula dia itu manusia, tentu saja dia butuh pendamping hidup. Jangan menjadi penggemar yang egois. Jika semua fans seperti ini, dia akan menjadi tersiksa."


Sebenarnya Vano merasa cukup cemburu, akan tetapi ia berusaha untuk memaklumi perasaan Nirmala sebagai penggemar.


"Sekarang kau istirahat dan tidur. Mungkin setelah tidur pikiranmu bisa lebih tenang." Vano berdiri sambil menggandeng tangan Nirmala.


Saat melewati Reno, Vano melirik ke arah adiknya. "Jagalah Ara. Dia terluka akibat dirimu," ucap Vano lalu berlalu pergi.


Reno diam kemudian melihat ke arah Ara yang masih terlihat sedih.


"Sepertinya tuan besar Vano sudah tahu tentang malam tadi. Sepertinya tuan sudah melihat rekaman CCTV." Reno berbicara sendiri dalam hati.


Ara yang sedang sedih melihat pria menyebalkan masih di kamarnya. Sekarang ia semakin kesal pada Reno.


"Mengapa kau masih di sini? Pergi sana," ucap Ara ketus.


Reno tidak menjawab, ia malah duduk di sofa kamar, kemudian menyilangkan kakinya.


Melihat tingkah Reno, Ara semakin kesal saja. Akan tetapi ia tidak ingin menambah kekesalannya dengan melihat pria itu. Segera ia berbaring lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh sampai ujung rambutnya.


Reno hanya bisa menarik nafas saja. Jika bukan karena perintah dari Vano, mana mau ia membuang waktu hanya untuk menemani Ara. Ya walaupun dalam hati kecil ia merasa bersalah pada Ara, namun entah mengapa ia sulit sekali untuk peduli ataupun hanya sekedar meminta maaf.

__ADS_1


Hari sudah sore, Reno tak sengaja tertidur di sofa kamar tamu. Saking bosannya ia sampai ketiduran di sana. Reno memperbaiki posisi topinya sambil melihat ke arah jam dinding. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 05.30 sore. Sebentar lagi hari akan gelap.


Ia duduk dengan tegak kemudian merapikan kemejanya. Sambil merapikan kemeja hitam yang ia kenakan, ia melihat ke arah tempat tidur. Di sana Ara masih tertidur, akan tetapi selimutnya entah sudah berada di mana akibat tidurnya yang lasak.


"Gadis ini, jangankan sedang bangun, sedang tertidur pun ia tidak bisa anggun." Reno berdiri dan berniat meninggalkan kamar tamu.


'Tok-tok-tok'


Reno melihat ke arah pintu. "Masuk," ucapnya tegas.


Orang yang mengetuk pintu langsung membuka pintu. Winda masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi dua piring nasi dan sayur. Ia tersenyum manis pada Reno. Walaupun ia tahu Reno tidak mungkin membalas senyumannya, setidaknya ia harus terlihat baik dan manis di depan sopir pribadi Vano yang sampai sekarang ia pikir misterius.


"Letakkan," ucap Reno dingin saat melihat Winda terus tersenyum padanya. Sungguh, bukannya merasa terpesona, ia malah merasa jijik.


Winda meletakkan makanan di atas nakas. "Tuan Besar Vano memerintahkan aku membawakan makanan ini untuk Ara dan kau. Jika kau ingin lauk yang lebih bagus, aku akan membawakannya khusus untuk mu. Apak--"


"Keluar," perintah Reno dengan tegas dan dingin.


Winda tersenyum manis. "Baiklah." Kemudian ia pergi dari sana dengan terburu-buru. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu pada seseorang.


Saat masih berbicara dalam hati, ia merasa orang yang berbaring di tempat tidur mulai bergerak. Ia mengalihkan pandangan ke arah tempat tidur. Benar saja, dengan susah payah Ara duduk kemudian mengucek matanya.


"Ha! Mengapa kau masih di sini?" Ara terkejut melihat Reno masih berada di kamarnya.


"Aku hanya diperintahkan oleh tuan besar Vano," jawab Reno datar.


Baru berniat akan pergi dari sana, seseorang langsung masuk karena pintu memang tidak ditutup sejak Winda pergi. Melihat kedatangan Vano, Reno langsung menunduk hormat, menunjukkan sikap formalnya.


"Selamat sore menjelang malam, Tuan Besar," sapa Reno bersamaan dengan Ara.


Vano diam saja, sepertinya ia memang anti menjawab sapaan basa-basi. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tanpa berniat duduk, Vano langsung berbicara sambil berdiri di tengah-tengah ruang kamar.

__ADS_1


"Aku sudah melihat rekaman CCTV. Dan aku harus bertindak adil di sini." Vano menoleh pada Reno. "Kau."


Reno menunduk hormat. "Saya, Tuan Besar."


"Kau dinyatakan bersalah," ucap Vano.


Sebenarnya Reno ingin protes. Menurutnya yang bersalah adalah Ara. Gadis itu yang tiba-tiba menghadang laju mobilnya hingga ia tidak sengaja menabrak Ara. Tapi apalah daya, jika Vano sudah berbicara, maka tidak bisa dilawan lagi.


"Kau seharusnya memberikan tumpangan pulang untuk Ara. Dan kesalahan kedua adalah, kau tidak menolong Ara setelah dia terluka parah. Maka dari itu, aku ingin kau mempertanggung jawabkan kesalahanmu ini," ucap Vano tegas.


Reno mengangguk. "Baiklah, Tuan Besar."


"Sebagai bukti kau telah bertanggung jawab, aku ingin kau menjaga Ara dan memenuhi keinginannya sampai dia benar-benar pulih seperti sedia kala," ucap Vano tegas.


Ara yang sedari tadi hanya menyimak saja kini melongo tak percaya. Entah apa maksud tersembunyi dari perintah Vano ini. Tapi ia bisa merasakannya dengan cukup jelas.


Lain dengan Ara, Reno memang terkejut, akan tetapi ia tetap pada ekspresinya. Lagi pula apa yang diperintahkan Vano lebih baik dari pada ia harus meminta maaf. Ia benar-benar orang yang anti meminta maaf.


"Baiklah, Tuan Besar," jawab Reno sambil mengangguk.


Tanpa berbicara lagi, Vano langsung berbalik dan meninggalkan kamar tamu itu.


Setelah Vano menghilang dari pandangan, Reno menatap tajam pada Ara. "Puas?" Aura dingin keluar dari nada bicara pria itu.


Sedangkan di lain tempat setelah beberapa detik kemudian.


Vano membuka pintu kamarnya. Ia masuk dan kembali menutup pintu. Namun saat berbalik ia langsung dikejutkan oleh keberadaan Nirmala.


"Ya Ampun Sayang, bisa kah kau tidak mengejutkan aku?" Vano mengelus dadanya sendiri.


Nirmala tidak menggubris ucapan Vano. Ia lebih antusias pada apa yang akan ia tanyakan. "Bagaimana? Apakah berjalan lancar?" tanya Nirmala dengan penuh harap.

__ADS_1


Vano tersenyum kemudian mencium kening Nirmala. "Berhasil dong."


Mendengar jawaban Vano, Nirmala langsung berjingkrak senang.


__ADS_2