
Pukul 08.00 pagi, di sofa tengah rumah sedang duduk seorang nyonya besar. Ia tersenyum tiada hentinya. Apa yang menyebabkan dirinya tersenyum? Pagi-pagi ia bertemu dengan Farhan, sekretaris Vano itu mengatakan bahwa hari ini ia akan mengantarkan Nirmala pada suaminya karena Vano akan menyerahkan Nirmala pada suami pertamanya.
Raisa tidak bisa melukiskan betapa ia sangat senang hari ini. Sebenarnya Nirmala memang tidak memiliki salah apa-apa, hanya saja ia takut ada nyonya yang akan menggantikan posisi kekuasaannya.
"Pelayan, kapan mereka akan keluar?" tanya Raisa tidak sabar.
Pelayan menunduk. "Maaf Nyonya Besar, saya tidak tahu."
Sedangkan di kamar Vano, Nirmala baru saja selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Ia menoleh ke jendela besar, di mana Vano sedang berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Sedari tadi Vano memang hanya berdiri di sana tanpa melihatnya sedetikpun.
"Vano, aku sudah selesai," ucap Nirmala.
Vano diam saja, mungkin ia sedang melamun.
"Mengapa dia diam saja? Bukan kah dia yang tadi malam berucap akan mengembalikan ku pada Rafan? Apa dia merasa berat hati?"
Nirmala berjalan mendekati Vano, lalu berdiri di belakang pria jangkung itu. "Mengapa kau tidak mau bicara? Apakah kau berubah pikiran?" tanya Nirmala memberanikan diri.
Hening beberapa saat, kemudian terdengar helaan nafas berat. "Tidak," jawab Vano singkat.
"Lalu, mengapa kau tidak berbicara padaku? Aku cukup tahu diri bahwa aku memang tidak penting bagimu, tapi aku ingin memiliki waktu beberapa menit saja untuk berbicara denganmu sebelum aku pergi," ucap Nirmala yang akhirnya mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
"Aku hanya sedang merenungi diriku sendiri. Mengapa aku jadi seperti pria brengs*k yang mempermainkan wanita? Mengapa aku harus mengoper dirimu ke sana-kemari bagaikan kau ini sebuah barang? Itulah alasan mengapa aku merasa sedikit berat hati, aku tidak ingin memperlakukan mu seperti barang."
Mendengar ucapan Vano yang kali ini cukup panjang, hati Nirmala terenyuh. Rafan saja tidak berpikir ke arah sana, tapi Vano, pria yang tidak begitu ia kenal bisa menghargainya sebagai wanita, tidak ingin menjadikannya seperti barang yang seenaknya dioper sana-sini.
"Vano sangat baik walaupun dia dingin dan terlihat tidak peduli. Bahkan sekarang dia sudah menganggap lunas hutang Rafan dan akan mengembalikan ku pada Rafan. Sedikit pun ia tidak memikirkan uang 50 milyar yang ia keluarkan demi tidak melihatku menangis."
Kembali ia teringat dengan ucapan Vano tadi malam 'Dan untuk apa aku menahan mu di sini jika setiap harinya kau akan menangis?'
Vano melebarkan matanya ketika merasakan Nirmala memeluknya erat. Ia menunduk untuk melihat tangan putih Nirmala melingkar di perutnya. "Nirmala?"
"Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan kembali pada pria yang sudah menganggap ku barang jaminan, bukan menganggap ku istrinya."
Vano mengerutkan keningnya. "Apa yang kau maksud?"
"Aku akan tetap di sini, aku tidak ingin kau menceraikan ku," jawab Nirmala.
__ADS_1
Tangan Vano melepaskan tangan Nirmala, kemudian ia berbalik menghadap lurus pada wanita berparas cantik itu.
"Untuk apa kau bertahan di sini? Dengar, aku menerimamu sebagai jaminan hanya karena aku membantu Rafan, aku tidak pernah menginginkanmu menjadi istriku atau dengan kata lain ingin merebut mu dari Rafan," ucap Vano, lagi-lagi kali ini berbicara dengan panjang.
Nirmala mengangguk. "Aku tahu itu, tapi biarkan aku menjadi jaminan Rafan atas uang 50 milyar. Jika sudah lunas, kau boleh menceraikan ku. Aku tidak ingin merasa berhutang budi padamu selamanya."
"Jika hutang Rafan sudah lunas, apakah aku akan kembali padanya?" tanya Vano.
Nirmala terdiam. Ia memang mencintai Rafan, tapi jika dipikir, hatinya sudah Rafan hancurkan. Hening terus berlangsung, hingga akhirnya ucapan Vano mengakhiri keheningan itu.
"Baiklah, jika itu membuatmu tidak merasa berhutang budi."
Kembali ke ruang tengah, Raisa semakin tidak sabar melihat Nirmala enyah dari rumah besar Ravaldi. Dan kebetulan sekali Farhan datang dan bisa ia tanyai.
"Pak Farhan," panggil Raisa.
Farhan langsung datang menghampiri. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Besar?" tanya Farhan.
"Kapan Nirmala akan pergi? Mengapa sampai sekarang dia belum turun juga?" tanya Raisa.
Setelah undur diri, Farhan langsung naik ke lantai dua untuk menanyakan kapan keberangkatan Nirmala. Tak butuh waktu lama, Farhan kembali lagi dengan membawa jawaban untuk Raisa.
"Bagaimana?" tanya Raisa antusias sampai ia berdiri dari sofa.
Farhan tersenyum. "Tuan muda Vano tidak jadi mengantarkan nyonya muda ke mantan suaminya. Tuan muda akan tetap bersama nyonya muda sampai hutang dari temannya lunas."
Mendengar jawaban Farhan, Raisa mendengus kesal. "Apa yang menyebabkan Vano berubah pikiran?" tanya Raisa, sebenarnya ia berbicara pada dirinya sendiri, namun karena terucapkan, maka Farhan pikir itu ditujukan untuk nya.
"Saya tidak tahu pasti, Nyonya Besar. Karena nyonya muda tidak jadi pergi, saya undur diri pergi ke kantor."
* * * *
Siang hari, Vano sudah berangkat ke kantor, dan Nirmala kini sedang duduk di taman belakang. Duduk dibawah pohon rindang memang sangat menyenangkan. Hembusan angin menerbangkan rambut-rambutnya yang ringan.
Saat ketenangan mulai menyelimuti hati, ada saja pengganggu nya.
"Nirmala." Suara itu terdengar marah.
__ADS_1
Nirmala menoleh dan didapatinya sang ibu mertua sedang berjalan cepat ke arahnya. Untuk menyambut, Nirmala berdiri dan membungkuk sedikit.
"Ibu a--"
"Panggil aku nyonya besar," tegas Raisa.
Nirmala menelan ludahnya, sepertinya Raisa akan marah lagi padanya. "Nyonya Besar, apakah saya ada salah?" tanya Nirmala lembut.
Tanpa ada lembutnya, Raisa menunjuk wajah Nirmala dengan jari telunjuknya. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di kepala otakmu itu?"
Ucapan Raisa sangat tajam membuat Nirmala terkejut. Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun pada ibu mertuanya itu.
"Maksud Nyonya Besar apa?" tanya Nirmala tidak mengerti.
"Kau itu sengaja memohon pada putraku agar tidak jadi menceraikan dirimu, kan? Dasar wanita murahan. Kau pikir bisa hidup seenaknya di rumah ini? Pasti kau ingin menguasai harta keluarga Ravaldi, kan?"
Hinaan dan tuduhan bertubi-tubi Nirmala dapatkan. Sampai-sampai tercucur air matanya karena baru kali ini mendapatkan hinaan demikian.
"Nyonya Besar, tidak seperti itu. Saya hanya ingin menjadi jaminan sebagaimana mestinya agar saya tidak merasa berhutang budi pada Vano," jawab Nirmala jujur.
"Bohong, wanita yang suaminya sudah jatuh miskin pasti akan mengincar pria kaya seperti putraku. Kau wanita murahan tidak pantas berada di samping putraku. Kau hanya akan menjadi beban baginya. Mana mungkin putraku sudi memiliki istri bekas orang lain. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja padanya. Karena sebenarnya dia merasa jijik dengan istri orang."
Nirmala menghapus air matanya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan ibu mertua yang memiliki lidah tajam. "Saya tidak berbohong. Dan saya yakin Vano tidak berpikir seperti itu."
Wajah Raisa memerah. Ini lah yang ditakutkan oleh nya. Nirmala memiliki potensi sebagai nyonya yang tangguh. Buktinya saja, Nirmala masih bisa menghapus air matanya walaupun sudah dihina. Yang ia inginkan adalah Nirmala menangis tersedu-sedu lalu masuk ke kamar dan akhirnya pergi dari rumah begitu saja.
"Dasar wanita murahan!"
Baru saja mengangkat tangan yang telapak tangannya terbuka lebar, sebuah tangan kekar mencekal tanyanya sebelum telapak tangan itu mengenai pipi putih Nirmala.
Nirmala sudah memejamkan mata, tapi tak lama kemudian ia membuka nya lagi.
"Pak Farhan, apa-apaan ini?" Raisa terlihat marah karena tangannya di tahan.
"Nyonya yang apa-apaan? Saya diperintahkan oleh tuan muda Vano menjaga nyonya muda di rumah. Dan tuan muda juga memberikan saya kuasa untuk melawan Nyonya Besar jika itu dirasa diperlukan."
"Apa? Vano melindungi ku dari ibunya?"
__ADS_1