
"Tapi ini ada batasnya. Jangan terlalu banyak menyemprotkannya. Jika terlalu banyak, orang yang terkena akan langsung pingsan dan demam selama 1 jam," ucap pak tua menjelaskan.
Reno menatap cairan itu dengan seksama. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu di dalam otaknya.
"Tapi Pak Tua, bagaimana jika angin mengubah arah embun semprotannya? Pasti akan menjadi senjata makan tuan untuk ku."
Pak tua terkekeh. Ia membayangkan kalau-kalau yang terkena efeknya adalah Reno sendiri.
"Kau tenang saja, Tuan Muda Reno. Aku membuat cairan itu selama satu bulan. Aku sudah menyesuaikannya. Dia tidak akan bekerja pada orang yang bergolongan darah O Rhesus negatif," jawab pak tua itu.
Reno tersenyum dari balik topinya. Ternyata ia tidak sia-sia meminta pak tua ini untuk menciptakan cairan yang jika disemprotkan dan embunnya terhirup atau mengenai kulit wajah, maka akan menyebabkan tubuh menjadi lemas tak bertenaga.
Untuk apa cairan tersebut? Ya tentu saja untuk melumpuhkan gadis lincah bernama Ara. Walaupun ia bisa bertarung, namun ia tidak ingin membuang tenaga dan membuang waktu hanya untuk bertarung dengan Ara. Walaupun dia sudah menyiapkan cairan itu, ia berharap Ara tidak akan melawannya.
"Baiklah, aku akan pergi istirahat." Setelah itu Reno berjalan menuju lantai atas.
Walaupun ia mengatakan akan istirahat, akan tetapi bukan berarti ia istirahat sungguhan. Ada hal yang akan ia lakukan dengan alat-alat di ruang komputer.
* * * *
Keesokan harinya. Di depan meja makan ada Vano yang sedang duduk menunggu sarapannya datang. Ia bukan tipe orang yang suka menunggu, akan tetapi berbeda dengan kali ini. Jikapun ia harus menunggu lima jam, itu tidak akan masalah. Ia rela menunggu makanan yang dimasak oleh sang istri tercinta.
Sambil duduk, Vano tidak henti-hentinya memandang Nirmala yang tengah serius memotong wortel di meja dapur. Tak sadar ia tersenyum-senyum sendiri.
Nirmala diam-diam memperhatikan suaminya. "Mengapa senyum-senyum sendiri?"
Mendengar pertanyaan Nirmala, Vano kembali ke alam sadar. "Ekhm." Vano berdeham untuk menutupi rasa malunya. Ya, baru kali ini ada orang yang bisa membuatnya malu.
"A-a-aku hanya mengagumi kecantikan istriku yang sedang memasak. Apakah salah?" tanya Vano dengan santai. Hmm, Vano memang pandai mengambil kendali keadaan.
Pelayan yang menunggu Nirmala masak hanya bisa tersenyum dalam tunduk. Mereka tidak tahan untuk tidak tersenyum. Dalam hati masing-masing mengkhayalkan berada di posisi Nirmala. Wah ... mereka akan melayang ke langit ketujuh.
Beberapa menit kemudian, Nirmala sudah menyelesaikan kegiatan masaknya. Alhasil terhidanglah masakan lezat di atas meja makan.
"Kemarilah, Sayang." Vano menepuk kursi yang ada di sebelah nya.
Nirmala menurut saja.
Tanpa merasa malu terhadap para pelayan yang tengah membersihkan meja, Vano mencium kedua pipi Nirmala, keningnya, dan terakhir kecupan singkat di bibirnya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Sayang." Vano tersenyum lebar ketika melihat pipi Nirmala merona.
"Vano, kau tidak tahu malu. Bagaimana kalau para pelayan melihat?" bisik Nirmala sambil mencubit pelan lengan Vano.
Vano tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan mulai makan. Sebentar lagi aku harus berangkat ke kantor."
"Hmm." Nirmala mengangguk.
Selesai makan, Nirmala langsung mengambilkan tas kerja Vano di dalam kamar. Ketika menuruni anak tangga, Vano memintanya untuk berhati-hati. Namun sayangnya kaki kanan Nirmala lebih dulu keseleo dari pada peringatan dari Vano.
"Aaa!!"
"Nirmala!"
Belum sempat Vano berlari untuk menyelamatkan Nirmala, Nirmala sudah lebih dulu hilang keseimbangan. Dan ...
Hap, Ara menangkap dan menahan tubuh Nirmala tepat pada waktunya. Para pelayan menghela nafas lega karena Nirmala tidak jadi terjatuh dari tangga yang tinggi.
"Nirmala, syukurlah kau tidak apa-apa." Vano langsung memeluk Nirmala dengan erat. Sepertinya ia masih merasa jantungnya akan copot.
"Maaf Tuan Besar, lebih baik kita turun terlebih dahulu. Berpelukan di atas tangga juga cukup berbahaya," ucap Ara yang seperti obat nyamuk di antara Vano dan Nirmala.
Menyadari mereka sedang berada di atas tangga, Vano pun memapah Nirmala untuk menuruni anak tangga.
Ara berdiri agak jauh dari pasangan suami-istri itu.
"Aku tahu kau tidak apa-apa, tapi hampir saja kenapa-kenapa. Kau tahu, jantungku seakan akan meloncat keluar dari dadaku. Untung saja Ara datang tepat waktu. Jika begini, sebaiknya aku tidak perlu berangkat ke kantor. Aku akan memastikan kau tidak kenapa-kenapa," ucap Vano sedikit panjang karena khawatir.
Nirmala memegang pipi kanan Vano dengan telapak tangannya. "Vano, kantor membutuhkanmu. Aku tidak akan kenapa-kenapa, percayalah. Tadi itu hanya kebetulan saja karena aku juga yang kurang hati-hati. Kau berangkat ke kantor saja. Sekarang 'kan sudah ada Ara."
Nirmala menoleh pada Ara, begitu juga Vano.
"Aku akan berangkat ke kantor, tapi mulai sekarang jangan melakukan aktivitas yang membahayakan lagi. Kau cukup diam di kamar. Tidak perlu melayani keperluanku. Keselamatan dan kesehatanmu adalah segalanya untuk ku, Sayang," ucap Vano lalu mengecup kening Nirmala.
Nirmala langsung cemberut ketika Vano melarang nya melakukan beraktivitas seperti hari ini dan dilarang melayani keperluan Vano.
Nirmala melipat tangan di depan dada. "Ini tidak adil. Aku tidak mau."
Vano menarik bahu Nirmala agar Nirmala mau menghadap ke arah nya. "Sayang, tolong dengarkan aku. Ini demi keselamatanmu."
__ADS_1
Nirmala semakin cemberut. "Aku tidak mau." Nirmala tetap pada posisinya.
Beberapa lama membujuk dan tidak juga berhasil, akhirnya Vano yang mengalah.
"Baiklah-baiklah, kau masih boleh beraktivitas asalkan tidak membahayakan dan juga kau boleh melayani keperluanku." Vano mengakhirinya dengan memeluk Nirmala.
Setelah Vano mengatakan itu, barulah Nirmala tersenyum lebar, kemudian memeluk balas. "Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Sayang," balas Vano.
Ara hanya diam di tempat tanpa suara dan tanpa ingin melihat ke arah Vano dan Nirmala. Ia cukup tersenyum dan tertawa dalam hati.
"Hahahaha, nyonya besar ternyata memiliki jurus ampuh untuk menaklukkan tuan besar. Apakah Reno akan seperti kakaknya jika sudah mengenal cinta?"
Vano melepas pelukannya dan berdiri. "Baiklah Sayang, aku akan berangkat ke kantor. Jaga diri baik-baik." Vano mengecup kedua pipi Nirmala dan keningnya.
"Oke. Dan kau juga hati-hati di jalan, Sayang. Katakan pada sopirmu untuk tidak terlalu laju mengendarai mobilnya." Nirmala mencium punggung tangan suaminya.
Sebelum Vano pergi, ia melihat ke arah Ara. "Kau, jaga nyonya besar dengan baik. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku."
Ara membungkukkan badan. "Baik, Tuan Besar."
* * * *
"Jadi begitu cara kau membuat dia menuruti perkataanmu dan mau bekerja untuk tuan besar?" tanya Farhan pada Reno setelah mendengar cerita Vano barusan.
Reno tidak menjawab dengan ucapan. Ia cukup mengangguk setelah selesai menyeruput secangkir kopi panas.
Vano menyandarkan punggungnya pada sofa. "Kemarin dia menceritakan semuanya. Apakah sekarang kau percaya padaku atas ucapanku setahun yang lalu, Pak Farhan? Aku percaya dia akan melakukan yang terbaik, maka dari itu aku tidak menghukumnya walaupun dia menggagalkan rencana kita waktu itu."
Reno masih saja diam, ia sibuk menikmati kopi di jam istirahat kantor.
Vano mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam tangan. "Sudah waktunya Nirmala makan siang." Ia melirik ke arah Reno. "Kau."
Walaupun Reno tidak melihat Vano menatapnya, ia tahu bahwa yang Vano panggil adalah dirinya. Ia pun mengangkat wajahnya. "Saya, Tuan Besar."
"Pulang ke rumahku dan pastikan nyonya besar sudah makan siang dan tidur siang. Lalu bantu Ara menjaga nyonya besar. Pukul setengah enam sore nanti barulah kau jemput aku kembali," perintah Vano.
Tentu saja Reno tidak dapat menolak. Walaupun kopinya belum habis, ia langsung berdiri dan undur diri.
__ADS_1
"Baik, Tuan Besar. Akan segera saya laksanakan. Saya undur diri."
Reno berjalan keluar dari ruangan Vano. "Hmh, ternyata ini yang menyebabkan aku diajak masuk ke dalam kantor, aku diberi tugas tambahan yang diluar dari tugas seharusnya."