Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 6 (S2)


__ADS_3

Begitu mendengar suara Reno, Ara berhenti berbicara. Ia membuka sebelah matanya. Yang pertama ia lihat adalah kancing kemeja warna hitam. Kemudian ia merasakan pipinya bersandar pada sesuatu yang kotak-kotak.


Akhirnya ia sadar bahwa ia sedang bersandar pada dada bidang Reno dan memeluk pria itu dengan erat.


"Oh?" Ara terkejut kemudian mendorong tubuh Reno dan ia menjauh. "Maaf."


Tidak ada jawaban dari pria itu, akan tetapi Ara yakin bahwa pria itu sedang menatap tajam dan dingin dari balik topinya.


"Jangan salahkan aku. Jika kau tidak mengendarai dengan kecepatan gila, aku juga tidak mungkin sampai memelukmu," ucap Ara lagi karena Reno tidak menjawab sama sekali.


Reno masih tidak menjawab. Ia memilih untuk kembali fokus ke depan lalu menjalankan mobilnya kembali.


Mobil sport hitam sudah kembali bergabung di lalu lintas yang cukup padat pada siang itu. Walaupun suana jalan raya cukup ramai, tetapi suasana di dalam mobil sport hitam sangat sepi mencekam.


"Mengapa pria ini diam saja? Ah, aku baru tahu bahwa pria ini sangat-sangat dingin. Mungkin satu tahun yang lalu aku hanya mengenalnya selewat saja, sehingga tidak menyadari bahwa pria ini sangat dingin."


Ara memperbaiki posisi duduknya. "Mmm, kau sudah menyelamatkan aku dua kali, tapi aku belum tahu namamu. Siapa namamu?" tanya Ara sedikit ragu apakah pertanyaannya akan dijawab.


"Kau tidak perlu tahu," jawab Reno tegas.


"Haih, mengapa sekarang nyaliku menciut setelah tahu betapa dinginnya dia. Bukankah dulu aku sangat galak padanya? Ah benar, aku harus tetap menjaga image sebagai wanita pemberani."


Ara melotot ke arah Reno. "Nada bicaramu arogan sekali. Apa karena kau telah menyelamatkan aku dan kau pikir kau itu hebat?" Ara membuang muka. "Hmm! Aku rasa kau sama saja dengan si Sain itu."


Reno memutar setir ke kanan. "Jika terus berbicara, aku akan mengembalikan kau pada pria itu."


Ara membulatkan matanya. Kemudian ia tertawa garing lalu menepuk bahu Reno. "Hahaha, tidak, aku hanya bercanda. Hahaha, kau adalah pria terbaik di dunia ini."


Mobil sport hitam berhenti di depan sebuah rumah kecil. Rumah tersebut adalah rumah milik Ara. Ia masih tahu jalan ke rumah Ara karena setahun yang lalu ia mengantarkan ibunya Ara ke rumah tersebut.


"Dua puluh juta," ucap Reno.


Tentu saja Ara tidak mengerti dengan ucapan Reno yang tiba-tiba mengatakan nominal uang. "Maksudnya?"


"Di tambah uang yang aku berikan pada penjahat itu. Totalnya menjadi 420 juta," ucap Reno tanpa menoleh pada Ara.


Ara semakin tidak mengerti. "420 juta?" tanya Ara.


"Hutangmu padaku," jawab Reno.


Ara terpekik kaget. "Apa! Jadi kau tidak tulus menolong ku. Kau menjadikan semuanya sebagai hutangku pada mu? Lalu 20 juta lagi hitung-hitungan dari mana?" Ara menjadi sedikit sewot.

__ADS_1


Reno melirik Ara sekilas. "Setiap menyentuhku tanpa izin, maka orang itu harus membayar lima juta. Dan tadi kau memelukku dan menepuk pundakku. Untuk peluk 15 juta," ucap Reno santai namun serius.


"Hah? Kau ini sok sekali ya. Kau menghargai dirimu dengan uang? Sistemnya seperti jala*g." Ara membuang muka sambil memutar bola mata.


Atap mobil terbuka otomatis. "Jangan protes. Kau harus membayar hutangmu padaku. Jika tidak, maka kau dan ibumu akan mendapatkan akibatnya."


Mendengar ibunya ikut-ikutan diancam, Ara menjadi naik darah. Ia melotot ke arah Reno kemudian menunjuk wajah Reno dengan jari telunjuknya.


"Kau tidak berperasaan. Bagaimana aku bisa membayar hutang sebanyak itu?"


Reno menghela nafas kemudian tersenyum miring. "Kau bisa membayarnya dengan ...."


Ara langsung berteriak. "Aku tidak mau! Kau pikir aku wanita murahan! Dasar pria brengs*k!"


Reno menoleh pada Ara. "Apakah kau gila? Berteriak-teriak tidak jelas."


Ara membuka sabuk pengaman dan mulai bersiap untuk turun dari mobil. "Kau ingin aku membayar dengan tubuhku, kan? Hmh! Jangan bermimpi!"


Reno bertepuk tangan seperti seseorang yang sedang mengapresiasi sesuatu. Tentu saja Ara menghentikan gerakannya dan menoleh pada Reno.


"Aku rasa kau terlalu percaya diri. Jangankan pada tubuhmu, pada wajahmu saja aku tidak tertarik sama sekali."


Ara membeku di tempat.


Sungguh malu bukan main. Ara benar-benar sudah tidak memiliki muka lagi. Bagaimana ia bisa berpikir bahwa pria dingin seperti sopir pribadinya Vano adalah pria mesum. Sekarang ia sama sekali tidak bisa berkata-kata.


"Kau bisa membayarnya dengan menjadi anak buah tuan besar Vano. Menjadi pengawal pribadi nyonya besar Nirmala."


Ara menaikkan sebelah alisnya.


* * * *


Suasana di rumah besar keluarga Ravaldi tengah menjadi ramai pada pagi hari. Semua pelayan menunduk ketakutan, sedangkan sang tuan besar sibuk memarahi semua pelayan. Apa penyebabnya? Apalagi jika bukan karena nyonya besar kesayangan tuan besar Vano, Nirmala.


Semua pelayan tidak berani mengangkat wajahnya. Mereka semua gemetar karena takut. Sedangkan Nirmala, ia hanya bisa diam tanpa bersuara di belakang suaminya.


"Apakah kalian ingin gaji kalian aku potong?"


Semua pelayan serentak menjawab, "Tidak, Tuan Besar."


Setelah sekian lama hanya berdiam, akhirnya Nirmala memutuskan untuk angkat bicara. Ia tidak tega melihat para pelayan dimarahi oleh Vano atas kesalahannya.

__ADS_1


"Vano, aku mohon jangan salahkan mereka. Di sini aku yang bersalah. Aku yang meminta pelayan untuk tidak memasak karena aku yang akan memasak makanan," ucap Nirmala sambil menunduk.


Vano berbalik dan menatap Nirmala. Tatapan tegas, dan tidak suka ia tunjukkan pada sang istri. Bagaimanapun juga tidak ada yang boleh melanggar peraturan yang telah ia buat. Termasuk istri tercintanya sekalipun.


"Kau adalah nyonya besar. Peraturan di rumah ini, yang masak adalah pelayan. Semuanya tidak dapat diubah. Mengerti?" Vano berbicara dengan tegas.


Nirmala semakin menunduk dalam. Ia tahu ia salah karena berani melanggar peraturan yang sudah ada sejak keluarga Ravaldi berdiri.


"Maafkan aku, Vano. Aku ... aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu. Selama kita menikah, aku belum pernah menyuguhkan secangkir teh pun padamu. Apakah aku salah jika ingin melayani suami sendiri?"


Setelah Nirmala berbicara, tidak ada suara apapun. Bahkan Vano pun terdiam dan hanya memandangi wajah istrinya yang sedang menunduk merasa bersalah.


Beberapa lama hening, Vano pun mengangkat tangan dan semua pelayan meninggalkan ruang tengah.


Ada hening lagi setelah para pelayan pergi. Vano memandangi Nirmala, sedangkan Nirmala diam sambil menunduk.


"Tidak salah, hanya saja aku tidak ingin kau kelelahan," ucap Vano menjawab pertanyaan Nirmala.


Vano berjalan mendekat pada Nirmala. Setelah berhadapan, Vano menarik Nirmala ke dalam pelukannya. "Maaf aku sudah terlalu keras."


Nirmala membalas pelukan Vano. "Tidak apa, aku tahu kau begitu menyayangiku. Aku juga sangat menyayangimu. Kau telah menunjukkan rasa kasih sayangmu dengan menjadikan aku seperti ratu. Vano, aku juga ingin menunjukkannya dengan cara melayani segala keperluanmu."


Vano terdiam. Alasan ia terdiam adalah ia tidak ingin membuat Nirmala kelelahan, tapi ia juga tidak bisa menolak keinginan istrinya. Maka dari itu, diam adalah yang terbaik.


"Sayang, boleh ya?" tanya Nirmala semakin mempererat pelukannya.


Vano masih diam.


"Dulu saat aku masih menjadi istri Rafan, aku selalu memasak dan menyiapkan segala keperluannya. Apakah sekarang aku tidak boleh melayani keperluan suamiku?"


Mendengar Nirmala menyebutkan 'menjadi istri Rafan' tiba-tiba darah Vano bergejolak. Sebisa mungkin ia menyembunyikan emosi yang mulai muncul.


"Baiklah, apapun asalkan kau bahagia." Akhirnya Vano memilih mengalah.


Nirmala tersenyum dalam pelukan Vano.


Saat suasana mulai damai, seorang pelayan datang menghadap. Pelayan tersebut langsung menunduk.


"Maaf Tuan Besar saya telah lancang mengganggu waktu Anda dengan nyonya besar. Saya ingin menyampaikan bahwa sopir pribadi Anda ingin berbicara dengan Anda. Apakah Anda bisa menemuinya?"


Vano melepaskan pelukannya. "Tumben sekali dia yang meminta bertemu duluan?" Vano berpikir dalam hati.

__ADS_1


Ia mengangguk. "Baiklah."


__ADS_2