
Nirmala sudah bergulung dengan selimut, ia sudah siap untuk tidur. Di sampingnya ada Vano yang baru duduk di ranjang. Suaminya itu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu nakas. Cahaya lampu yang putih dan terang kini berganti oranye dan sedikit redup.
Vano berbaring telentang. Nirmala memperhatikan suaminya secara diam-diam. Buku mata Vano yang tebal membuat ia masih bisa melihat gerakan kedipan mata Vano walaupun lampu tidak begitu terang. Sepertinya suaminya itu sedang memandangi langit-langit kamar.
Vano bergerak untuk berbaring miring menghadap Nirmala. Begitu tahu suaminya akan menghadap ke arahnya, segera Nirmala menutup mata, pura-pura tidur.
Hening cukup lama, kemudian ia merasakan sebuah tangan mengusap pipinya.
"Jangan pernah berpura-pura tidur. Kau tidak bisa menipuku."
Nirmala terpaksa membuka matanya karena sudah ketahuan. Vano memang benar-benar sangat peka terhadap sekitar sehingga tahu mana kebohongan dan mana kejujuran.
"Mengapa belum tidur?" tanya Vano.
Nirmala menatap suaminya yang juga sedang menatapnya. "Sulit sekali untuk memejamkan mata," jawabnya.
"Apakah ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Vano.
Nirmala mengangguk. "Ada."
"Apa itu?"
"Lamaranmu," jawab Nirmala jujur. Ia berpikir untuk berbagi apapun pada suaminya tanpa ada yang ditutupi.
Vano tertawa kecil. Jari tangannya mencubit pipi Nirmala dengan gemas. "Apa-apaan kau ini? Masa hanya dengan lamaran suamimu ini kau tidak bisa tidur? Apakah kau sedang dimabuk cinta?"
Nirmala menepis tangan Vano. Rasanya sangat malu mendapatkan cubitan gemas dari suaminya. "Jangan menggodaku. Aku ingin tidur." Nirmala berbalik badan sehingga kini posisinya membelakangi Vano.
Baru beberapa detik diam, sebuah tangan melingkar di perutnya. Tak lama kemudian hembusan nafas terasa di tengkuknya. Ia tahu Vano sedang memeluknya dengan posisi yang sangat dekat.
"Va-vano--"
"Apakah kau keberatan jika setiap malam aku memelukmu? Kau tahu, aku tidak akan memaksamu."
Mendengar ucapan Vano, ia tahu suaminya ingin, akan tetapi tidak tega untuk memaksakan kehendaknya. Suaminya itu tidak ingin membuat dirinya merasa tidak nyaman.
Segera ia berbalik badan dan langsung membalas pelukan Vano. Karena malu, Nirmala membenamkan wajahnya di dada bidang Vano.
"Aku tidak keberatan. Hanya saja aku masih belum terbiasa sehingga aku terkejut jika kau bertindak tiba-tiba."
Hening lagi. Hal ini yang sangat membuat Nirmala gugup. Pria dingin, seramah apapun ia, sebanyak apapun ia berbicara, tentu saja tidak akan bisa menyamai orang-orang normal. Maka dari itu setelah mereka berbicara sebentar, selalu ada keheningan disela-selanya.
"Nirmala, lihat aku." Perintah Vano memecahkan keheningan.
Nirmala menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin. Aku malu."
__ADS_1
Vano mengusap rambut Nirmala. "Cobalah untuk menatapku dengan jarak dekat. Bagaimana kita bisa menjalani hubungan ini jika kau selalu canggung dan malu."
Yang diucapkan oleh Vano memang benar, ia harus membiasakan diri dan mencoba untuk mengenal Vano lebih dalam. Ia pun mengangkat wajahnya dan ....
'Cup'
"Aih? Menatap dari mana? Bahkan belum sempat aku melihat wajahnya, bibirnya duluan yang mendarat."
Perlakuan Vano sangat lembut dan menyentuh hati. Lama-kelamaan Nirmala lupa bahwa mereka baru saja saling menerima peran masing-masing.
Hampir terjadi, tiba-tiba Nirmala ingat ada buah cintanya dengan Rafan. Nirmala mendorong Vano untuk menjauh. Terdengar Vano mendengus kesal dan kecewa.
"Maafkan aku Vano, aku belum siap."
Hening, tidak ada komentar apapun dari Vano. Ia tahu Vano sangat kecewa, akan tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa jika bayangan masa lalu masih terus melintas ketika ia berduaan dengan Vano.
Vano kembali terlentang, ia masih belum berbicara. Mungkin ia diam untuk meredam kekesalannya.
Nirmala memegang tangan Vano. "Tolong maafkan aku. Aku berjanji akan menunaikan kewajibanku jika aku sudah siap."
Vano bangkit dan diam lagi. Terlihat ia manarik nafas dalam. "Tidak apa," hanya satu kata itu yang terlontar dari mulutnya.
Mengetahui Vano kecewa, kesal, dan kembali dingin, Nirmala merasa tidak enak. Ia bingung harus bagaimana. Ia tersiksa dengan keadaan seperti ini. Entah mengapa tiba-tiba ia tidak bisa membendung air mata.
"Hiks, hiks."
"Kau pasti sangat kecewa padaku, kau pasti kesal. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku juga ingin membuatmu bahagia. Aku ingin memenuhi keinginanmu. Aku sama sekali tidak berguna. Hiks-hiks."
Vano kembali berbaring dan menarik Nirmala ke dalam pelukannya. "Syut, jangan menangis. Aku memang kecewa, tapi aku paham. Aku akan menunggumu."
"Tuh kan, kau benar-benar kecewa. Hiks-hiks." Kali ini Nirmala lebih gencar menangisinya walaupun tidak bersuara.
"Aish, apakah aku salah bicara? Mengapa dia jadi cengeng begini?" Vano mengelus kepala Nirmala. "Bukan begitu, aku bukan kecewa padamu, aku hanya kecewa karena tidak jadi. Sudah ya, jangan menangis lagi."
"Vano," panggil Nirmala.
"Ya?"
"Apakah kau benar-benar akan menunggu diriku?" tanya Nirmala.
Vano mengangguk. "Ya, aku akan menunggu."
"Kau tidak akan memperk*s* ku seperti malam itu, kan?" tanya Nirmala.
"Hei, kau ini berbicara apa?" Vano mencubit pipi Nirmala. "Aku melakukan itu dalam kondisi mabuk, aku tidak sadar. Jika dalam kondisi sadar, aku tidak akan pernah melakukan itu, aku tidak akan menyakiti dirimu."
__ADS_1
"Vano," panggil Nirmala lagi.
"Ada apa?" jawab Vano.
"Apakah benar kau akan mengakui anak ini sebagai anakmu?" tanya Nirmala.
Vano mengangguk. "Tidak perlu ditanya lagi."
"Vano," panggil Nirmala lagi. "Apakah--"
"Sudahlah Nirmala, tidak usah bertanya lagi. Apapun pertanyaanmu, aku akan menjawabnya besok. Sekarang sudah larut malam. Kau perlu istirahat dan aku juga sudah mengantuk. Tidurlah dalam pelukanku."
Nirmala membalas pelukan Vano. "Jangan macam-macam," ancam Nirmala.
"Iya-iya, aku tidak akan macam-macam. Aku janji." Vano mengecup pucuk kepala Nirmala. "Tidur yang nyenyak."
"Kau juga."
* * * *
Vano membuka matanya ketika sinar matahari pagi menyilaukan mata. Setelah kesadarannya sudah terkumpul, ia sadar Nirmala tidak ada di dalam pelukannya. Ia pikir Nirmala sudah bangun lebih dulu.
Ia duduk lalu mengucek matanya. Samar-samar ia mendengar suara Nirmala. Sepertinya suara itu berasal dari halaman samping. Karena penasaran ia berjalan menuju balkon.
"Sedang apa dia di sana?" Vano bertanya-tanya sendiri begitu melihat Nirmala berdiri di hadapan banyak pelayan.
Vano memutuskan untuk turun. Ia ingin memastikan tidak ada kekacauan di bawah sana.
"Ada apa ini?"
Suara Vano membuat suasana langsung hening. Semua pelayan tertunduk dan tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.
Vano berjalan menghampiri Nirmala dan berdiri di sampingnya. Ia berdiri tegak menghadap pelayan dan memandanginya satu-persatu dengan tatapan dingin.
"Jawab," perintah Vano dengan nada bossy nya.
Kepala pelayan memberanikan diri untuk berbicara. "Ampun Tuan Muda, nyonya muda meminta salah satu dari kami memanjat pohon mangga dan mengambilkan mangga yang paling pucuk. Nyonya muda tidak ingin penjaga atau pelayan pria yang mengambil."
Vano mengangkat sebelah alisnya. "Harus mangga yang paling pucuk? Dan pelayan wanita yang harus memanjatnya? Permintaan macam apa itu?" Vano menoleh pada istrinya.
Seperti biasanya, ia menampakkan wajah tanpa ekspresi sehingga Nirmala bingung apa yang dipikirkan oleh Vano.
"Benarkah?" tanya Vano.
Nirmala mengangguk. Anggukannya dan binar matanya sungguh membuat Vano gemas. Akan tetapi ia tidak bisa mengekspresikan kegemasannya di depan pelayan.
__ADS_1
Vano menarik nafas dan kembali menatap para pelayan. "Lakukan."
Para pelayan terkejut, mereka mengangkat kepala dan berpandangan satu sama lain.