Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 16


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, Nirmala mendorong tubuh Vano, dan Vano memundurkan diri. Nirmala mengelap bibirnya.


"Mengapa kau menciumku?" tanya Nirmala, matanya menunjukkan kekesalan.


Vano merapikan kemeja yang ia kenakan. "Jangan salahkan aku, aku tidak meminta dirimu menopang tubuhku."


Vano yang tidak suka berdebat akhirnya keluar dari mobil lebih dulu agar Nirmala tidak banyak berbicara lagi. Setelah Vano keluar, Nirmala menyusul lalu menutup pintu. Melihat Vano berjalan lebih dulu, Nirmala langsung mengikuti.


Tak berselang lama, datang dua mobil hitam dan langsung menghimpit mobil milik Vano. Mereka adalah para bodyguard Vano. Setelah parkir, seluruh bodyguard turun dari mobil, lalu mengetuk kaca mobil Vano.


Kaca mobil turun dan terlihat sopir pribadi milik Vano sedang menatap ke depan tanpa melihat orang yang mengetuk kaca.


"Tuan Muda sudah masuk ke dalam?" tanya salah satu bodyguard.


Sang sopir mengangguk.


Bodyguard tadi kembali berdiri tegak. "Semuanya masuk ke dalam. Tuan muda sudah memerintahkan kita untuk memperketat penjagaan dua kali lipat. Maka dari itu kita harus lebih ketat lagi."


Semua bodyguard mengikuti instruksi dari pria yang berbadan lebih tegap diantara yang lain. Mereka meninggalkan sopir yang masih setia duduk di kursi pengemudi.


Sang sopir pribadi kembali menutup kaca mobil. Ia melirik ke kaca spion kanan dan kiri. Tidak ada yang tahu seperti apa ekspresinya sekarang karena ia selalu memakai topi hingga yang terlihat jelas hanya bibir dan dagunya saja.


Mata sang sopir berfokus pada kaca spion kiri. Kaca spion kiri memperlihatkan mobil silver yang memasuki area parkiran. Jika dilihat dari mobilnya, sang sopir merasa tidak asing.


Mobil silver itu parkir tepat di belakang mobil milik Vano. Tak lama kemudian turunlah sang pengemudi. Orang yang menaiki mobil silver tidak lain adalah Rafan. Sang sopir memang belum pernah bertatap muka dengan Rafan. Setiap kali mengantar Vano, ia hanya diam dia dalam mobil. Tapi ia tahu bahwa Rafan menjalin hubungan baik dengan Vano.


Raran mengetuk kaca mobil, terpaksa sang sopir menurunkan kaca.


"Mana Vano?" tanya Rafan. Terdengar dari nada bicaranya, sepertinya Rafan sedang emosi.


Sang sopir hanya diam, kemudian akan menutup kaca mobil. Tanpa diduga Rafan nekad memasukkan tangannya dan mencengkram kerah kemeja hitam milik sopir itu. Ia menarik sang sopir untuk turun. Terpaksa sang sopir membuka pintu dan turun.


"Katakan di mana tuanmu?" paksa Rafan, emosinya sedang meluap-luap.


Tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun, sang sopir menjawab tajam. "Aku tidak akan pernah memberitahumu."


Rafan tersenyum kecut. "Ternyata kau sama dinginnya dengan Vano. Dan kau sama keras kepalanya dengan dia." Wajah Rafan memerah. "Katakan di mana Vano!" teriak Rafan tepat di wajah sang sopir.


"Tidak akan aku beritahu," tegas sang sopir.

__ADS_1


Sebenarnya Rafan bisa saja langsung masuk ke dalam butik karena kemungkinan besar Vano dan Nirmala ada di sana. Namun ia juga yakin, sebelum bisa bertemu dengan Vano, ia sudah dihadang oleh delapan bodyguard.


'Buk!'


Rafan melayangkan satu pukulan keras tepat di wajah sang sopir. Wajah sang sopir sampai berpaling ke kiri dan earpiese terlepas dari telinganya dan jatuh ke tanah.


"Katakan! Panggil dia untuk keluar menemuiku!"


Di dalam butik, para bodyguard memegang telinganya sambil meringis. Ada suara yang memekakkan telinga. Sepertinya ada salah satu earpiece yang terhubung namun mengalami error.


"Apa kalian mendengar itu?" tanya salah satu bodyguard yang sekarang sedang membuntuti Vano dan Nirmala dari kejauhan.


"Ya, aku dengar," jawab bodyguard lainnya. Ia langsung mengeluarkan ponsel untuk mengecek earpiece siapa yang mengalami kerusakan. Begitu selesai memeriksa, wajah bodyguard itu panik.


"Sang sopir misterius. Aku rasa telah terjadi sesuatu di bawah sana." Ia memasukkan ponsel ke saku celana. "Dua orang tetap kawal tuan muda dan nyonya muda, tiga orang berkeliling butik mengawasi keamanan, dan tiga lainnya ikut aku memeriksa sopir."


"Baik," jawab mereka serentak.


Kembali ke kejadian diparkiran. Setelah dipukul oleh Rafan, tangan sang sopir terkepal kuat. Rasa perih dan bau amis yang berasal dari sudut bibirnya membuat gejolak emosi mulai naik. Sedangkan Rafan masih mencengkram kerahnya.


"Kau salah mencari lawan, Tuan."


"Sial, ternyata sopir ini gak bisa dianggap remeh. Dia bukan sekedar sopir." Rafan memegangi perutnya yang sakit.


Sang sopir menunjuk Rafan dengan telunjuknya ketika ia memberikan satu ancaman. "Jika kau berani mengusik tuan muda dan nyonya muda, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang. Dan jika kau berani memukulku lagi, aku tidak akan menahan diri untuk itu."


Nada ancamannya sama tajamnya dengan nada ancaman Vano. Rafan tidak tahu di mana Vano bisa menemukan sopir seperti pria yang ada di hadapannya ini. Sangat dingin, pemberani, dan misterius.


Baru berdiri, Rafan melihat tiga bodyguard Vano keluar dari pintu utama. "Ini tidak bagus, jika aku tetap bersikeras menemui Vano, yang ada aku hanya membuang waktu dan tenaga."


Rafan menatap tajam pada sopir yang tak terlihat jelas wajahnya. "Katakan pada tuan mudamu itu, aku tidak akan tinggal diam jika dia mengkhianati janjinya."


Ia buru-buru masuk ke dalam mobil, sebelum para bodyguard menghampiri.


"Hei, apa yang terjadi? Siapa dia?" tanya ketua bodyguard.


"Teman tuan muda," jawab sang sopir lalu memungut earpiece nya. Saat kembali tegak, para bodyguard menyadari bahwa sudut bibir sopir itu berdarah.


"Hei, kau terluka. Kali ini kau harus menceritakan apa yang terjadi."

__ADS_1


Sang sopir hanya menghela nafas. Mungkin untuknya apa yang terjadi tadi sama sekali bukan masalah, tapi untuk tuan muda, tentu saja masalah yang cukup besar.


"Baiklah," jawabnya singkat.


Di dalam butik, setelah menemui perancang busana untuk fitting baju pengantin, Nirmala dan Vano melanjutkan belanja baju baru untuk Nirmala. Nirmala sendiri sudah merasa cukup dengan gaun-gaun yang telah dibeli. Harga gaun di sana bukanlah murah, sebab itu ia tidak ingin terlalu banyak membeli gaun.


"Turun ke lantai dua, di sana banyak dress santai. Mungkin akan cocok untuk kau pakai sehari-hari."


Tanpa menunggu persetujuan Nirmala, Vano berjalan menuju eskalator turun.


Sesampainya di lantai dua, Vano dan Nirmala berjalan untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Dan langkah mereka berhenti ketika di hadapan mereka berdua ada sepasang suami istri yang terlihat sangat romantis.


Tapi ada yang cukup aneh dari mereka. Sang istri memakai celana levis bersobek dan dipadukan dengan baju kemeja lengan pendek, sedangkan sang suami terlihat rapi dengan setelan setengah formal.


"Kamu tidak takut?" tanya sang istri.


"Takut apa?" tanya suaminya yang terlihat bingung.


"Takut begitu melihat harganya. Lebih baik kita ke pasar saja. 24 juta aku bisa membeli baju banyak beserta penjualnya."


Suaminya terkekeh. "Sayang, apapun akan aku belikan untuk kamu. Jika kamu suka, ambil saja."


"Tapi Fan, aku tidak ingin kau jadi susah. Jika setelah ini kau bangkrut akibat membelikan aku baju di sini Bagaimana?"


"Apakah masih ada wanita seperti itu di dunia ini? Kebanyakan wanita akan memanfaatkan harta suaminya untuk berhura-hura." Begitulah pikir Vano saat mendengar perbincangan sepasang suami-istri itu.


Tanpa Vano dan Nirmala duga, sang suami berjongkok lalu mengelus perut istrinya. "Baby, lihat ibumu, masa dia mengatakan ayah akan bangkrut jika membelikan ibumu baju di sini. Kan uang ayah banyak. Lagi pula, apa sih yang tidak untuk kalian berdua."


Nirmala tersenyum kecil. "Andaikan Vano bisa seperti itu, aku yakin aku akan langsung jatuh cinta padanya."


Wanita itu tersenyum kemudian tangannya terulur untuk mengusap pipi suaminya. "Terima kasih ya. Kau memang suami termanis yang pernah aku temui."


Nirmala menatap Vano, dan Vano hanya melihat istrinya sekilas. Saat mereka kembali melihat pasangan suami-istri itu, kedua orang itu sudah menyadari kehadiran mereka. Segera sang suami berdiri.


Vano meneruskan langkahnya, lalu Nirmala mengikuti dengan patuh. Vano tersenyum seadanya pada pasangan suami-istri yang sepertinya malu karena sudah diperhatikan, sedangkan Nirmala tersenyum ramah pada mereka.


Setelah melewati kedua pasangan itu, Nirmala berbicara. "Mereka romantis, bukan?"


Vano melirik sekilas, kemudian tanpa menjawab kembali menatap ke depan. "Tidak usah mengomentari hubungan orang, pilihlah pakaian yang kau inginkan."

__ADS_1


(Siapa pasangan romantis itu? Yuk baca novel My Husband Is So Sweet)


__ADS_2