Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 45 (Last episode season 1)


__ADS_3

Ini adalah episode terakhir ya. Kenapa harus tamat? Ya karena Rafan sudah mengalah dan menyesali kesalahannya, Raisa dan suruhannya sudah di singkirkan, Vano dan Nirmala sudah saling mencintai dan sudah mencetak gol😁. Dan terakhir, tanpa ada yang tahu ternyata selama ini ayahnya Vano masih hidup dan kondisi kejiwaannya mulai membaik. Sekarang, ada satu hal lagi yang perlu kalian tahu, ayo baca!


Last Episode


'Triling, triling'


Farhan merogoh saku celananya. "Kau tunggu di sini sampai tuan besar dan nyonya besar keluar. Aku akan mengangkat telepon dulu."


Sang sopir itu diam saja, walaupun demikian ia pasti akan mematuhi perintah dari Rafan.


Setengah jam berlalu, Vano dan Nirmala belum keluar, sedangkan Farhan belum kembali. Sopir pribadi itu memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar. Ia berjalan santai sambil memperbaiki posisi topinya.


Selesai dari toilet, sopir pribadi itu baru ingat bahwa ia melupakan ponsel di dalam mobil. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya dengan segera sebelum kembali lagi ke Vano dan Nirmala. Sampai di parkiran, ia menghentikan langkahnya karena melihat Farhan sedang berbicara dengan seorang pria yang mengenakan masker serta topi.


Jika dilihat dari perawakannya dan penampilannya, sopir itu mengenali pria yang sedang berbicara dengan Farhan. Pria itu adalah bawahan Vano yang bekerja sebagai mata-mata. Samar-samar ia mendengar perbincangan Farhan dan pria itu.


"Lalu bagaimana, Tuan? Sudah tiga minggu kita menyekap gadis itu. Dia sama sekali tidak menyerah, dia tidak ingin menjadi bawahan tuan besar Vano," ucap pria itu.


Sang sopir berjalan perlahan dan bersembunyi di balik mobil boks.


"Bagaimanapun, kita harus membuat dia patuh pada kita. Tuan besar Vano sangat menginginkan gadis itu menjadi anak buahnya." Terdengar Farhan menarik nafas. "Tidak ada cara lain, kita harus menggunakan ibunya sebagai alat untuk mengancam."


"Siapa yang dibicarakan oleh tuan Farhan? Apakah gadis yang waktu itu menjadi anak buah Rafan? Apakah selama ini dia mencari informasi tentang gadis itu?"


"Cepat keluarkan ibunya yang sedang gila itu dari rumah sakit jiwa, bawa ke tempat yang sudah kita tentukan. Setelah itu aku tidak mau tahu bagaimana cara kalian mengancamnya, yang penting dia mau menjadi bawahan tuan besar Vano."


"Baiklah. Saya harus melihat gadis itu terlebih dahulu. Saya harus memeriksa apakah gadis itu sudah diberi makan atau belum."


Setelah menguping pembicaraan antara Farhan dengan pria itu, sang sopir langsung bersembunyi di mobil lain lagi agar Farhan tidak melihat keberadaannya. Beberapa saat kemudian ia melihat Farhan berjalan masuk ke gedung rumah sakit.


"Ternyata tuan Farhan dan tuan besar Vano tidak melepaskan gadis itu dengan mudah." Sopir itu berpikir sejenak.


Setelah berpikir, sopir itu berjalan cepat menghampiri mobilnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin mobil, lalu meninggalkan halaman rumah sakit.


Dengan keahlian yang luar biasa dalam mengendarai mobil, sopir pribadi itu mampu mengikuti pria suruhan Farhan. Tak lama kemudian mobil putih di depannya berbelok ke jalan yang sempit dan sepi. Banyak lubang dan juga tak terawat.


"Aku pernah ke jalan ini. Apa mereka menyandera gadis itu di gudang tua?"


Karena hafal seluk-beluk daerah tersebut, sang sopir itu memilih memutar arah dan menggunakan jalan lain. Ia bukan orang bodoh yang mengikuti mobil di depan dengan terang-terangan. Ia memilih jalan yang bisa membawanya ke belakang gedung gudang tua.


"Makanlah, jika tidak makan, kau bisa mati. Sudah tiga hari kau tidak makan."

__ADS_1


Seorang pria berjaket hitam menyodorkan sesendok nasi dan sayur ke arah mulut gadis sandera.


Walaupun kedua tangan dan kakinya diikat, gadis itu masih saja berani, ia sama sekali tidak takut jika nanti dipukuli.


"Aku tidak mau. Jikapun aku mati, aku lebih bahagia daripada harus mengikuti orang seperti kalian."


Pria itu sudah sangat kesal. Ia melemparkan mangkuk beling ke dinding hingga pecah. "Dasar tidak tahu diri! Kami sudah berbaik hati memberikan kau makan tepat waktu dan memberikan tawaran yang bagus, tapi kau sama sekali tidak tahu berterima kasih."


Setelah mengatakan itu, pria itu mengambil kain dan menutup mulut gadis tersebut. "Jangan berharap kami akan memberimu makan lagi. " Lalu pergi keluar dan mengunci pintu.


Gadis itu tidak terlihat takut. Sama seperti biasanya, ia berusaha untuk membuka tali yang diikat sangat kuat. Sampul mati yang digunakan sungguh tidak mungkin ia membukanya dengan tangan kosong. Ia tidak bisa bergeser sedikitpun karena ia diikat menempel pada pilar besi yang kokoh.


'Drek'


Jendela yang diketahui berada jauh di atas kepala gadis itu berderit. Dan sesekali terdengar seperti jendela yang dibuka paksa menggunakan pengungkit. Gadis itu mendongak. Baru saja mendongak, ia melihat sesosok pria berkemeja hitam terjun ke bawah.


"Hmm!" (Siapa kau?)


Pria itu berbalik dan kini berhadapan dengan gadis mungil pemberani itu.


"Bertopi, tak terlihat wajahnya, dan berkemeja hitam. Dia adalah orang yang berani menotokku!" Gadis itu melotot. "Hhhmmmmm! Hmmm!" (Kau! Apa yang kau lakukan di sini! Awas saja kau!)


Ia berjongkok. "Jika aku lepaskan, jangan bersuara." Kemudian ia melepaskan penutup mulut gadis itu.


Gadis itu menatap tajam pada sang sopir. Untuk kali ini sopir tersebut tidak peduli. Segera ia melepaskan tali yang mengikat gadis itu.


Usaha pertama gagal, usaha kedua gagal, dan terakhir sang sopir mencari sesuatu untuk memotong tali. Melihat pecahan beling, ia langsung mengambil beling mangkuk dan mulai memotong tali. Karena harus memegang erat beling dan mengeluarkan tenaga, tangan sopir pun tergores dan mengeluarkan darah, akan tetapi hal tersebut tidak ia pedulikan.


"Hei, tanganmu berdarah."


Gadis itu akan memegang tangan sopir untuk melihat lukanya, akan tetapi pria itu sudah menatapnya tajam.


"Jangan sentuh kulitku," ucapnya dingin.


Gadis itu memutar bola mata. "Cih."


Tak butuh waktu terlalu lama, tali yang mengikat gadis itu pun berhasil terlepas. Sang gadis tersenyum senang. Akhirnya ia bisa terbebas juga.


"Aku yakin kau bisa memanjat jendela itu." Sopir menunjuk jendela yang tinggi.


Gadis itu mengangguk. Hanya sekali lompatan, tangannya berhasil menggapai jendela. Dengan kekuatan tangan dan kaki, ia menaikkan kedua kakinya lalu melompat keluar. Setelah gadis itu berhasil, kini giliran sang sopir.

__ADS_1


Walaupun tangannya terluka, akan tetapi wajahnya tidak terlihat kesakitan atau meringis menahan perih saat lukanya bergesekan dengan kayu jendela.


"Ikuti aku," perintah sopir pribadi Vano setelah berhasil mendarat ke tanah.


Mereka berdua berlari secepat kilat menuju mobil yang cukup jauh dari keberadaan mereka.


* * * *


Mobil hitam mewah berhenti di sebuah rumah kecil. Rumah kecil diujung gang itu adalah kontrakan yang baru saja sopir pribadi Vano sewa untuk tempat tinggal baru gadis yang ia tolong.


"Turun," perintah sopir itu dingin.


"Aku akan turun, tapi setelah kau menjawab pertanyaanku. Mengapa kau menyelamatkan ku dan menyewakan kontrakan?" tanya gadis itu menyelidik.


"Tidak ada alasan khusus. Sebenarnya aku bukan menyelamatkan dirimu, aku hanya menyelamatkan ibumu," jawab sopir itu tanpa menoleh pada orang yang bertanya.


"Ibuku? Kau tahu apa tentang ibuku?" tanya gadis itu lebih tajam.


"Tuan Farhan ingin mengancam mu menggunakan ibumu. Jika aku melepaskanmu, maka mereka tidak membutuhkan ibumu lagi. Tidak perlu banyak tanya, yang terpenting berikan aku nomor teleponmu. Setelah aku tahu ke mana mereka membawa ibumu, aku akan memberitahumu."


Gadis itu membulatkan matanya. "Apa? Jadi mereka membawa ibuku keluar dari rumah sakit jiwa?" Gadis itu menatap wajah sopir yang tertutup topi. "Kau adalah sopir pribadi tuan Vano. Lalu mengapa kau malah menggagalkan rencananya? Apakah kau tidak takut kepalamu dipenggal?"


Sopir pribadi itu tersenyum miring. "Itu tidak akan pernah terjadi," jawabannya sambil memandang lurus ke depan.


"Apanya yang tidak mungkin, aku dengar dari nyonya Raisa, tuan Vano adalah orang berdarah dingin," ucap gadis itu lagi.


Ia banyak mendengar tentang Vano dari Raisa. Ia tahu Vano sangat dingin, tidak mudah didekati, tegas, berwibawa, serta semuanya harus sesuai dengan keinginannya.


"Tuan besar Vano tidak mungkin memenggal kepalaku apapun kesalahan yang aku baut."


Sopir itu menoleh pada gadis yang masih duduk di sampingnya. "Karena aku adalah adik kandungnya."


TAMAT


Yey, akhirnya tamat juga👏🥳 🥳 🤩 . Jangan sedih dulu karena cerita ini pendek, yuk baca sampai akhir.


Terima kasih banyak untuk kakak semua yang udah baca sampai akhir. Terima kasih atas vote, hadiah, like dan komentarnya. Terima kasih untuk semangat yang diberikan. Terima kasih udah mau baca cerita remahan nasi ini. Semoga kedepannya Sely bisa mempersembahkan cerita yang berkualitas.


Oh ya, rencananya ada season dua loh, tapi masih lama. Maka dari itu jangan hapus dari daftar favorit dulu. Yang minta Nirmala hamil dan Vano bucin, tenang aja, nanti akan sely buat juga kok. Sely harap kakak semua mau nunggu season dua. Oh ya, klik Avatar Sely, silahkan baca novel 'Istri Agresifku' dan 'My Husband Is So Sweet'.


Dan sebentar lagi Sely akan buat novel baru. Sampai jumpa di novel baru selanjutnya. Bye-bye 🤗🤗😍😍😘

__ADS_1


__ADS_2