Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 15


__ADS_3

"A-a-apa?" Jantung Nirmala semakin berdebar.


"Berbalik," ucap Vano sekali lagi, dan kali ini lebih tegas.


Ragu-ragu Nirmala berbalik. Kini wajahnya dengan wajah Vano sudah berhadapan. Dengan jarak yang begitu dekat, ia bisa melihat ketampanan suaminya dengan lebih jelas.


"Kemarilah." Vano membuka tangannya, itu berarti ia meminta Nirmala masuk ke dalam pelukannya. "Jangan buat aku berubah pikiran."


Akhirnya Nirmala menuruti semua ucapan Vano. Begitu kepalanya menempel pada dada Vano, pria itu langsung menutup tangan. Kini ia sudah dipeluk dengan pelukan hangat Vano.


Ya, Vano benar-benar hangat. Mungkin itu karena badannya yang tinggi dan perawakan yang kekar dan tegap. Dengan begitu, Nirmala merasa sangat nyaman dalam pelukan Vano.


"Pejamkanlah matamu."


Seakan terkena sihir, Nirmala langsung memejamkan matanya. Ucapan Vano memang sangat ajaib.


* * * *


Kicauan burung yang bertengger di dahan pohon sekitar rumah mewah menandakan hari sudah pagi dan yang pastinya sinar mentari sudah menghangatkan udara. Seperti biasanya, di lagi hari dari luar rumah mewah itu sudah banyak manusia yang bekerja.


Ada yang menyiram bunga, ada yang menyapu halaman, ada yang mengelap mobil, ada yang membersihkan kolam, ada yang menyapu teras, dan ada beberapa manusia berbadan tegap sedang mengelilingi rumah untuk memastikan kondisi pagi bersih dari ancaman apapun.


Gerbang dibuka oleh penjaga gerbang, masuklah mobil hitam mewah yang selama ini belum dinaiki oleh siapapun kecuali oleh orang kepercayaan pemiliknya. Mobil tersebut parkir tepat di depan teras, siap menjemput tuannya.


Melihat mobil datang, satu pelayan masuk ke dalam dan berlari kecil menuju lantai dua untuk memberikan laporan.


'Tok-tok-tok'


"Tuan Muda, Nyonya Muda."


Vano mengerjapkan matanya. Setelah kesadarannya sudah sempurna, penglihatannya pun menjadi jelas. Dari wajah yang tersorot cahaya mentari yang menembus celah gorden, ada senyum tipis yang menghiasi paginya.


"Dia tidur nyenyak sekali."


'ceklek'


"Ada apa?" Vano membuka pintu dengan tiba-tiba hingga membuat pelayan itu terkejut dan langsung menundukkan kepala.


"Maaf Tuan Muda, saya hanya ingin memberitahu bahwa sopir Anda sudah sampai dan sedang menunggu."


Vano memejamkan matanya dengan ekspresi mengaduh yang tidak terlalu jelas. Sepertinya ia sedang merutuki sesuatu di dalam hatinya.

__ADS_1


"Panggilkan pak Farhan untuku." Tanpa berbicara apapun lagi pada pelayan, Vano langsung menutup pintu.


"Mengapa aku bisa sampai kesiangan?"


Vano menghela nafas kemudian berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Ia mengetik sesuatu lalu meletakkan ponselnya di atas nakas lagi.


Saat akan melangkah keluar kamar, ia melihat ke arah tempat tidur, di mana Nirmala masih terlelap dengan mimpi paginya. "Sejak ada dirimu, entah mengapa aku merasa ada seseorang yang perlu aku lindungi."


Ya, selama ini Vano tidak pernah peduli pada siapapun. Orang yang ia sayangi sudah pergi dari hidupnya. Orang itu adalah sang ibu. Ibu yang selalu menyayanginya di saat sang ayah menikah lagi, yang selalu ada di saat ayahnya tidak ada di sampingnya. Dan orang yang harus bertanggung jawab atas kepergian ibunya adalah sang nyonya besar, wanita simpanan ayahnya yang berhasil naik jabatan menjadi istri kedua.


Saat tangannya mulai mengepal, ia segera menenangkan emosinya. "Tidak, aku tidak boleh bertindak bodoh."


'Tok-tok-tok'


Karena Nirmala masih tertidur, ia memutuskan untuk menemui orang yang mengetuk pintu di luar saja.


"Selamat pagi, Tuan Muda." Farhan membungkuk. Ia sudah mengenakan pakaian rapi seperti biasanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Farhan.


"Ya. Aku rasa hari ini aku tidak bisa berangkat ke kantor. Tolong gantikan aku jika ada rapat," jawab Vano.


Farhan mengangguk, tapi dalam hati ia bertanya-tanya sendiri. "Tidak biasanya tuan muda bangun kesiangan begini. Apa jangan-jangan mereka habis ...."


Suara Vano mengejutkan Farhan yang tengah berbicara sendiri dengan hatinya. Segera Farhan menundukkan kepala dan meminta maaf. "Maafkan saya, Tuan Muda."


"Jika tidak ada lagi yang ingin Anda sampaikan, saya undur diri, Tuan Muda."


Vano mengangguk. "Ya. Katakan pada sopirku, tunggu satu jam lagi. Aku dan Nirmala akan pergi ke luar hari ini."


Farhan mengangguk lagi. "Baik, Tuan Muda."


Setelah Farhan pergi, Vano kembali lagi ke dalam kamar. Melihat Nirmala masih tertidur, ada senyum kecil yang samar di bibir Vano.


"Dia tertidur atau mati? Mengapa belum bangun juga?"


Vano tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya. Ia tahu Nirmala sangat membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Sebab itulah ia memilih untuk mandi terlebih dahulu.


* * * *


Di dalam mobil hitam milik Vano, Nirmala duduk seperti patung. Tidak bergerak maupun berbicara. Vano tidak perlu ditanya lagi, ia memang tidak banyak bicara.

__ADS_1


Sang sopir itu hanya fokus menyetir tanpa berbicara. Di telinganya terpasang earpiece sehingga ia bisa berkomunikasi dengan para bodyguard jika diperlukan.


Setelah terlalu lama menunggu, akhirnya Nirmala mencoba untuk membuka suara. "Vano, sebenarnya kita ini mau ke mana?"


Vano melirik sekilas kemudian kembali melihat ke depan. "Ikuti saja."


Nirmala terdiam lagi. Percuma saja bertanya pada Vano. Kini ia berinisiatif untuk bertanya pada sang sopir yang selalu memakai topi hingga wajahnya tidak terekspos dengan jelas.


"Kau sopir pribadinya tuan muda, bukan? Aku ingin bertanya, ke mana kita akan pergi?" tanya Nirmala.


Vano menoleh pada Nirmala, tidak percaya istrinya akan bertanya pada orang lain ketika tidak mendapat jawaban dari dirinya. Sedangkan sang sopir, ia terlihat terkejut juga, tapi kemudian tersenyum tipis, senyum yang hanya dikeluarkan untuk menghargai nyonya mudanya.


"Maaf, Nyonya Muda. " Hanya itu yang diucapkan oleh sang sopir.


Vano tersenyum miring karena sopirnya bertindak sesuai dengan apa yang ia inginkan. "Kau tidak akan pernah mendapatkan jawaban darinya."


Nirmala melirik Vano dari ujung matanya. Sepertinya sekarang kesabarannya sudah hilang, biarkanlah ia menunjukkan suasana hati yang selama ini ia sembunyikan.


"Kau dan sopirmu sama saja, batu es kutub Selatan. Apakah kau sudah menularkan virus dingin pada sopirmu?" tanya Nirmala dengan dongkol.


"Wow, wow." Vano bertepuk tangan. "Istriku sudah berani memaki suaminya ya?"


Nirmala memutar bola matanya, sekarang mood buruknya semakin buruk. Lebih baik ia bersantai di kamar seperti hari-hari yang lalu. Pergi jalan-jalan dengan Vano sama sekali tidak menyenangkan.


Tak lama kemudian, sang sopir memutar setir mobil ke sebuah butik besar yang ternama. Ban mobil terkendali dengan baik hingga bisa mencari tempat yang sempurna. Setelah berhenti, mesin mobil dimatikan.


Sang sopir hanya diam saja, ia tidak perlu mengatakan 'kita sudah sampai, tuan muda.' karena ia tahu tuannya itu tidak buta, pastilah tahu jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Vano melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Saat akan menutup pintu, ia melihat Nirmala masih belum bisa melepaskan sabuk pengaman. Terpaksa ia kembali masuk ke dalam mobil.


"Mengapa bisa macet begini?" Vano juga kesulitan saat membuka sabuk pengaman yang dipakai Nirmala.


"Aku tidak tahu."


Terpaksa Vano mengeluarkan tenaga untuk membuka paksa sabuk pengaman. Saat sudah terlepas, bersamaan dengan itu gerakan yang kuat membuat Vano kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan. Nirmala yang tahu Vano akan jatuh, ia segera menahan tubuh Vano tapi yang terjadi malah ....


'Cup'


Mata Nirmala dan Vano berfokus pada mata pasangan mereka yang hanya berjarak kurang dari satu centimeter.


Sang sopir menaikkan kaca depan agar tidak melihat keromantisan tuan dan nyonyanya.

__ADS_1


Mohon maaf belum bisa up dua episode, karena sely masih sibuk🙏


__ADS_2