Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 27 (S2)


__ADS_3

Ara berpikir sejenak, kemudian ia mengingat kejadian tadi malam. "Apa jangan-jangan karena obat perangs**g itu?"


Vano menoleh cepat ke arah Ara sambil membulatkan matanya. "Obat perangs**g?"


Ara mengangguk. "Ya Tuan Besar. Tadi malam dia mengusir saya dengan keras. Dia mengatakan ia sedang terkena pengaruh obat itu."


Kembali Vano menatap wajah Reno. "Mengapa dia sampai seperti ini? Apakah dia begitu berusaha keras melawan pengaruh obatnya?"


Ara duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk memeriksa suhu badan Reno. Setelah menempelkan telapak tangan di kening Reno, Ara melihat ke arah Vano.


"Dia demam tinggi, Tuan. Bahkan dia sampai pingsan. Apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?"


Vano menggeleng. "Tidak, aku akan mengurusnya. Kau bantulah menjaganya di sini. Aku akan pergi mengambil ponsel."


* * * *


Semua pelayan berbaris sambil menunduk dalam. Sejak Vano memanggil semua pelayan untuk berkumpul, tidak ada satupun yang berani mengangkat kepala. Apalagi tuan mereka memasang wajah dingin dan suram, sudah pasti tuan mereka sedang marah besar.


Vano menatap para pelayan satu-persatu, ia mencari jawaban dari ekspresi para pelayan sebelum ia benar-benar bertanya. Di belakang Vano ada Nirmala yang sedang duduk di sofa, sedangkan Farhan berdiri di belakang Vano.


Hening cukup lama, hingga tak lama kemudian suara berat Vano terdengar.


"Kau." Vano menunjuk seorang pelayan.


"Lia, maju," ucap Farhan. Ia tahu jika hanya ditunjuk saja, mana ada pelayan yang tahu siapa yang ditunjuk karena mereka semua sedang menunduk.


Lia maju dua langkah dengan langkah yang gemetar. "Saya, Tuan Besar."


Hening ....


Hening ....


'Prang!'


Meja kaca terbalik dan pecah. Lia terlompat kaget, akan tetapi masih tetap menunduk. Begitupun dengan pelayan lainnya.


"Beraninya kau mengganggu sopir pribadiku!" bentak Vano dengan keras.

__ADS_1


Lia sangat ketakutan hingga air matanya hampir menetes. Ia yakin Vano pasti sudah tahu tentang apa yang telah ia lakukan tadi malam. Bahkan bukti bekas cekikan Reno saja masih tercetak jelas di lehernya.


"Ma-ma-mafkan saya, Tuan Besar. Saya mengaku salah," ucap Lia berharap Vano akan mengasihaninya setelah melihat ia menangis.


"Bukan hanya pengakuanmu saja yang aku butuhkan. Bila perlu nyawamu kau buat sebagai gantinya!" Vano menunjuk wajah Lia. Rahang Vano sudah mengeras. "Tidak pernah ada kesempatan untuk pelayan yang berani membuat masalah di rumah ini."


Vano menurunkan tangannya dan menatap keseluruh pelayan. "Kalian menjadi saksi bahwa dia memang bersalah. Kalian juga yang menjadi saksi bahwa aku, Govano Ravaldi, telah memecat wanita tak tau diri ini. Mulai detik ini dan untuk selamanya, jangan biarkan dia menginjakan kaki di rumah ini lagi."


Semua pelayan mengangguk sambil tetap menunduk.


"Tu-Tu-Tuan, jangan pecat Lia." Winda bersimpuh di kaki Vano sambil menangis. "Dia hanya melakukan satu kesalahan. Tolong maafkanlah."


Vano melirik ke arah ketua pelayan.


"Dia adalah adik sepupu Lia, Tuan. Namanya Winda," ucap kepala pelayan sambil menunduk sopan.


"Baguslah, kalau begitu sekalian kau juga ikut pergi bersamanya. Jangan pikir aku tidak tahu bahwa kau dan dia telah bersekongkol." Vano menoleh ke arah penjaga yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berkumpul. "Urusan dua orang ini."


"Baik, Tuan," ucap dua penjaga itu dengan tegas.


Vano berbalik kemudian mendekati Nirmala. Sedangkan Farhan membubarkan semua pelayan.


"Sayang, ayo lihat kondisi nya." Vano menarik tangan Nirmala.


Nirmala mengikuti suaminya, namun bukannya ke kamar Ara, Nirmala malah menarik Vano ke arah tangga. Vano mengerutkan keningnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Vano, tapi tetap mengikuti langkah kaki istrinya.


"Jangan ganggu mereka. Setelah pak tua itu pergi, biarkan Ara yang mengurus Reno," bisik Nirmala.


Vano tersenyum, sekarang ia paham keinginan istrinya. "Hm, baiklah."


Di lain tempat, tepatnya di kamar Ara. Pak Tua sudah mengganti pakaian Reno. Ia juga sudah selesai memeriksa kondisinya. Terakhir, pak Tua memberikan resep obat pada Ara.


"Sebentar lagi dia akan sadar." Setelah itu pak Tua tidak berbicara apa-apa lagi.


Ara menerima resep obat itu lalu membacanya sekilas. Selesai membaca, ia melirik ke arah pak tua sebagian wajahnya rusak.

__ADS_1


"Jadi ini dokter Tio yang diceritakan oleh nyonya besar Nirmala. Wajahnya tegas dan orangnya dingin juga. Mengapa orang-orang keluarga Ravaldi semuanya dingin-dingin. Apakah mereka lahir di kutub Utara? Sungguh menyebalkan."


"Jangan mengomentariku dalam hati." Tiba-tiba pak Tua menyindir Ara.


Ara menyeringai garing. "Hahaha, dari mana Anda tahu? Sepertinya Anda bukan sembarang dokter ya."


Pak Tua menatap Ara dengan lekat. "Apakah kau orang yang sudah mengetahui identitasnya sekaligus orang yang selalu mengusiknya?"


Ara mengangguk ringan.


Pak Tua menghela nafas. "Sebaiknya hentikan aksimu itu. Kau tidak tahu apapun tentang dia. Apa yang kau tahu sekarang, itu hanya secuil informasi tidak berguna. Kau tahu? Perbuatanmu itu sudah mengganggu ketenangannya. Dia sudah banyak menderita sejak kecil, sampai-sampai dia tidak menemukan artinya kebahagiaan hidup. Janganlah kau tambah lagi dengan gangguanmu."


Mendengar ucapan pak Tua, Ara langsung merenung. "Apakah aku sudah keterlaluan?"


Ara menatap Reno yang masih terpejam. "Benar juga. Semua orang tidak ada yang berani mengusik nya, termasuk tuan besar Vano. Dan dia begini karena Lia, tapi sebenarnya Lia nekad begini karena aku. Seandainya aku tidak mengompori nya, mungkin tidak akan sampai seperti ini."


Karena Ara hanya diam saja, akhirnya pak Tua memutuskan untuk pergi menemui Vano. Tanpa banyak bicara, ia meninggalkan kamar Ara.


Setelah pak Tua itu pergi, Ara mengambil kursi rias. Ia duduk di samping ranjang sambil memandangi wajah tampan Reno. Ia melamun.


"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mengusik mu lagi, sopir menyebalkan."


Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Sudah terbiasa menjahili Reno, tiba-tiba harus berhenti, rasanya ia sedikit tidak rela karena mengusik Reno adalah hal yang menyenangkan.


"Ya, aku akan berhenti."


Karena terlalu lama menunggu, Ara merasa dirinya mulai mengantuk. Walaupun demikian ia tetap memaksakan diri menunggu Reno sadar. Sampai pada titik akhir ia pun tertidur dengan kepala dan tangan berada di tepi ranjang.


Saat Ara mulai tertidur, pria yang ia tunggu malah mulai tersadar. Merasa ada seseorang di sampingnya, Reno menoleh ke arah orang tersebut. Dilihatnya Ara sedang tertidur dengan wajah yang polos dan imut.


"Apakah dia menunggu ku sampai tertidur seperti ini?" Reno tidak berbicara, tidak ingin membuat Ara terjaga.


Perlahan Reno bergerak untuk bangun, akan tetapi seluruh tubuhnya sangat lemas, akhirnya ia berbaring lagi dengan pasrah.


"Sepertinya demam ku terlalu tinggi."


Reno menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Matanya beralih pada Ara. Ia menatap gadis itu sangat lama. Entah apa yang ia pikirkan, tapi yang jelas bukan tatapan dingin dan tajam seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2