
Jangan kaget ya, episode ini adalah episode terakhir. Semoga endingnya tidak mengecewakan kakak semua ya. Semoga kakak semua suka😊.
"Halo Kak." Ara menempelkan ponsel di telinganya. "Oh, ini kak Vano. Iya Kak, aku dan Reno berhasil dan selamat. Sain dan Paul sudah dibawa ke kantor polisi ... Tidak apa-apa, perintahkan anak buah Kakak kembali lagi saja. Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit ... Apa? Kakak sedang di rumah sakit?"
Reno yang sudah mulai lemah melirik ke arah istrinya. Begitu juga Yuda yang duduk di kursi depan. Mereka mulai khawatir mendengar Vano berada di rumah sakit.
"Ya Ampun, aku tidak sabar untuk segera sampai di sana ... Baiklah, Kak." Ara langsung menutup telepon.
"Ada apa, Ara?" tanya Yuda, ia sudah panik lebih dulu.
Ara menatap ayah mertuanya lewat kaca spion depan. "Kak Vano bilang, dia sedang menunggu kak Nirmala. Kak Nirmala akan melahirkan. Sekarang mereka sedang berada di rumah sakit Intan."
Reno dan Yuda menahan nafas bersamaan. Rasa bahagia menyelimuti mereka. Mereka pun meminta pak Tua untuk membawa mereka ke rumah sakit Intan.
Tak sampai satu jam, rombongan Reno sudah tiba di rumah sakit Intan. Reno langsung dibawa ke ruang UGD karena kondisinya yang semakin lemah. Awalnya Reno memaksa ingin melihat Nirmala dan juga keponakannya, akan tetapi sang ayah melarang karena Reno penuh luka dan darah.
Sedangkan Ara, awalnya ia ingin menunggu Reno, namun Reno malah memintanya untuk melihat keponakan mereka. Akhirnya ia menuruti permintaan suaminya itu.
"Permisi, saya anggota keluarga tuan Vano. Kami ingin bertanya kamar persalinan atas nama Nirmala Diantri." Ara bertanya pada resepsionis.
Resepsionis memeriksa komputernya. "Oh, Nona Nirmala sudah dipindahkan ke ruang VIP. Apakah Anda anggota keluarga Ralvaldi?" tanya resepsionis itu. Ia tidak yakin bahwa Ara adalah anggota keluarga Ravaldi karena penampilan nya yang acak-acakan.
Yuda menatap tajam pada resepsionis. "Saya Yuda Ravaldi, ayah dari Vano Ravaldi. Dan dia adalah menantuku, istri dari Reno Ravaldi. Apa masih kurang percaya?"
Resepsionis itu menelan ludah dengan susah payah. Keluarga Ravaldi memang sudah terkenal di mana-mana karena bisnisnya yang sangat sukses dan mencakup wilayah luas. Nama Yuda Ravaldi juga sudah tidak asing. Namun yang orang-orang tahu, Yuda Ravaldi sudah meninggal dunia sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Ma-maaf apakah Anda benar, Tuan Yuda Rav--"
"Saya masih hidup. Tidak usah banyak tanya. Cepat beritahu nomor kamarnya," potong Yuda.
Resepsionis itu langsung memberitahukan nomor kamar Nirmala. "Nona Nirmala berada di kamar nomor 20 A. Apakah perlu kami antar?" ucap resepsionis itu dengan ramah.
Yuda menggeleng. "Tidak." Kemudian mengajak menantunya untuk segera jalan. "Ayo Ara."
'Tok-tok-tok'
Vano yang sedang mengusap kepala Nirmala menoleh ke arah pintu, kemudian kembali menoleh pada istrinya. "Apakah itu Ara dan Reno?"
Nirmala yang sedang memeluk anaknya pun melihat ke arah pintu. "Mungkin mereka. Cepat suruh mereka masuk. Aku tidak sabar memperkenalkan keponakan mereka pada Reno dan Ara."
Vano berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Dengan tangan kanan ia memutar gagang pintu lalu menariknya. "Reno kau ...."
Mata Vano membulat sempurna. Pemandangan apa yang ada di depan nya? Ya, pemandangan Ara dan Yuda yang berdiri berdampingan. Ayahnya berdiri tegak di hadapannya sambil tersenyum lebar.
"A-yah ...."
Yuda tidak membiarkan putranya berbicara apa-apa. Ia langsung memeluk putranya dengan erat. "Ayah sangat rindu memelukmu, Vano. Ayah sangat merindukanmu." Yuda kembali menangis lagi.
Vano membalas pelukan ayahnya dengan erat pula. "Ayah sudah sehat? Ba-bagaimana mungkin secepat ini. Dan mengapa Ayah bisa datang bersama Ara?"
__ADS_1
Yuda melepaskan pelukannya. Ia mengajak Vano masuk ke dalam sebelum ia menceritakan semua yang telah terjadi. Tidak lupa ia memeluk menantunya yang baru melahirkan dan juga menyapa cucu pertamanya.
Dengan jelas Yuda menceritakan semua yang terjadi, dari awal hingga akhir. Setelah selesai bercerita, ia kembali memeluk Vano. Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan anak-anaknya walaupun istri tercintanya tak bisa kembali.
"Jadi, apakah kalian sudah menentukan nama untuk pangeran kecil ini?" tanya Yuda pada Nirmala dan Vano.
"Sudah, Ayah. Kami memberi nama Aryaditia Ravaldi," jawab Nirmala.
Yuda mengangguk dan tersenyum. "Nama yang sangat bagus."
Mereka meneruskan obrolan santai mereka sembari menunggu kedatangan Farhan dan pak Tua yang tadi bertemu kemudian pergi entah kemana.
Ara melihat jam dinding. Sudah setengah jam berlalu. Karena sudah merasa cukup puas melihat keponakannya, ia pun pamit pergi melihat Reno. Yuda mempersilahkan Ara. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Ara terhuyung-huyung. Melihat itu Yuda, Vano, dan Nirmala menjadi panik.
"Ara, sepertinya kondisimu semakin melemah. Bagaimanapun juga kau sudah kehilangan banyak darah."
Yuda membawa Ara untuk diperiksa dan dirawat. Sedangkan Vano tetap di kamar Nirmala karena ia harus menjaga istri dan putranya.
* * * *
Ara terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Pakaiannya sudah diganti dengan yang bersih. Dan luka yang dibalut oleh pak Tua tidak diperbaiki karena memang sudah sangat bagus. Bagaimana tidak, pak Tua adalah dokter terbaik yang pernah Vano temui.
Yuda duduk berhadapan dengan dokter. Mereka duduk di meja dokter yang tidak jauh dari ranjang Ara.
"Bagaimana kondisinya, Dok. Apakah menantu saya perlu dirawat inap?" tanya Yuda.
"Tentu harus, Tuan. Luka tembak nona Ara sangat dalam. Lagi pula kondisi nona Ara sangat lemah, kami khawatir ini akan mempengaruhi janinnya, Tuan."
Dokter itu mengangguk. "Ya, Tuan. Apakah Anda dan nona Ara tidak tahu bahwa nona Ara sedang mengandung. Usia kandungannya sudah tiga minggu."
Ara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rasa bahagia menyelimuti dirinya. Ia tidak menyangka bahwa ia sedang mengandung. Beberapa bulan ini ia terlalu fokus pada Sain dan Paul, hingga ia tidak memperhatikan jadwal datang bulannya. Sekarang ia baru ingat, bahwa sudah hampir satu bulan ia belum mendapatkan bulanannya.
"Aku hamil?" Ara memegang perutnya.
Yuda tidak lagi mempedulikan dokter. Ia bangkit lalu menghampiri menantunya. "Ara Sayang, kau sedang mengandung cucuku. Mengandung anak Reno."
Ara mengangguk. Saking bahagianya, air mata mengalir dari sudut matanya. Melihat itu, Yuda langsung menghapusnya dengan lembut. "Aku akan memberitahu Reno dulu."
Yuda meninggalkan Ara bersama dokter. Dokter itu sampai dibuat melongo oleh tingkah pria tua yang sangat bersemangat begitu mendengar menantunya sedang mengandung. Bahkan ia saja belum menyelesaikan penyampaiannya.
Di depan ruang UGD, Reno baru saja akan dipindahkan ke ruang rawat VIP. Pria tampan yang sekarang sudah penuh lebam dan perban itu sedang berbaring di ranjang dorong. Ia mengerutkan dahi karena heran begitu melihat sosok ayahnya berlari kecil menghampiri.
"Tunggu sebentar," ucap Yuda menghentikan perawat yang mendorong Reno.
"Ada apa Ayah? Mengapa Ayah berlari seperti itu?" Reno heran sekaligus menghawatirkan pernapasan ayahnya yang sudah tua.
Butuh waktu beberapa detik untuk Yuda mengatur nafasnya. Setelah cukup tenang, Yuda pun berbicara lagi. "Ara."
Tubuh Reno langsung menegang. Ia pikir telah terjadi sesuatu pada istrinya mengingat istrinya terkena tembakan. "Ada apa dengan Ara, Ayah?" tanya Reno yang sudah panik lebih dulu.
__ADS_1
Yuda menatap mata anaknya. "Selamat Reno, kau akan menjadi ayah. Ara sedang mengandung."
"Apa?" Reno yang tadinya lemah kini tiba-tiba bangkit. Sungguh para perawat terkejut.
"A-ara ...."
Yuda mengangguk. "Ya, Ara sedang mengandung anakmu."
Tidak sampai tiga detik, Reno mencopot selang infus, membuka selimut rumah sakit, turun dari ranjang dorong, kemudian berlari menuju arah datangnya ayahnya tadi. "Ayah beritahu Ara di kamar berapa!" ucap Reno setengah berteriak sambil berlari.
Yuda pun terpaksa berteriak agar anaknya yang sudah mulai jauh bisa mendengar. "Nomor 12 A!" Lalu ia segera menyusul.
Para perawat yang mengurus Reno pun hanya bisa melongo. "Luar biasa."
'Ceklek'
Reno membuka pintu dan langsung masuk ke dalam tanpa permisi. Dilihatnya Ara sedang berbaring sambil mengelus-elus perutnya. "Ara." Reno langsung duduk di samping Ara.
Ara terkejut melihat Reno datang dengan semangat. Bahkan tidak seperti orang sakit walaupun badannya sudah dipenuhi oleh luka, lebam, dan perban. "Reno? Mengapa kau ada di sini? Kau perlu dirawat dan--"
"Syut, aku sedang berbahagia, jangan banyak bicara. Oke." Reno tersenyum lebar kemudian mengecup seluruh wajah Ara tanpa terkecuali. "Terima kasih, kau sudah bersedia menjadi ibu dari anakku."
Ara tersenyum. "Harusnya aku yang berterima kasih, kau sudah memilihku sebagai ibu dari anakmu."
Tangan Reno mengelus perut Ara yang masih rata. "Sebentar lagi perut ini akan seperti perut kak Nirmala. Besar dan bulat. Di dalamnya ada manusia kecil yang hidup di dalam air ketuban. Dan manusia kecil itu adalah buah hati kita."
Tangan Ara menangkup di atas tangan Reno. "Ya, buah hati kita. Kita akan menjaga, merawat, membesarkannya, dan mendidiknya bersama-sama."
"Apakah kak Vano dan kak Nirmala sudah tahu?" tanya Reno.
Ara menggeleng. "Belum, tapi mungkin ayah akan segera memberitahu mereka," jawab Ara.
Reno tersenyum lebar. Rasa sakit di tubuhnya seakan tidak terasa sama sekali. Sekarang yang ia inginkan hanyalah duduk menemani istrinya sampai mereka pulang ke rumah nanti.
Reno mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Ara. "Aku mencintaimu, Ara."
Ara tersenyum juga dan mengusap pipi Reno. "Aku mencintaimu juga, Reno."
Tiba-tiba. "Ekhem-ekhem."
Ara dan Reno menoleh bersamaan. Ternyata di ambang pintu sudah ada pak Tua, Farhan, Yuda, Vano, Hanna, Afid dan terakhir ada dokter yang duduk di depan meja. Dokter itu sudah ada sejak Reno masuk, namun Reno tidak menyadarinya dan tidak mempedulikannya.
Pipi pasangan suami-istri itu pun merona karena malu.
Tamat.
Nah, kali ini bukan prank ya. Alhamdulillah akhirnya tamat juga season 1 dan 2 nya. Makasih banyak buat yang udah baca novel ini. Walaupun tidak berkualitas tinggi, tapi kakak semua mau baca cerita ini. Terima kasih atas likenya, komentarnya, votenya, giftnya, serta semua dukungannya. Sely harap kakak tidak langsung menghapus novel ini dari daftar favorit, karena masih ada bonus episode. Gak banyak-banyak sih, sekalian ngasih informasi aja.
Ada season 3 kah? Yang menceritakan kisah anaknya.
__ADS_1
Sely rasa enggak deh. Soalnya takut terlalu panjang. Lagian jangan sampe isi novel ini jadi gak sesuai sama judul karena banyak season. Season 2 ini sendiri Sely buat karena Sely rasa kisah Ara dan Reno perlu banget untuk dibahas. Toh, konflik season 1 dan 2 masih bersangkutan. Dan awal kisah Ara dan Reno pun berawal dari jaminan, Reno menjamin Ara.
Segitu dulu deh. Sampai jumpa lagi. Love you kakak semua🥰😘😘😘😘