Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 41


__ADS_3

Sesuai yang telah Vano janjikan. Ia akan memenuhi dua syarat yang diajukan oleh Nirmala. Yang pertama akan ia penuhi adalah menemui Raisa demi mengetahui kondisi wanita itu. Pagi itu Vano membawa Nirmala ke rumah sakit. Vano mengatakan bahwa rumah sakit tersebut adalah milik ayahnya dulu.


"Mengapa kita ke sini? Apakah Raisa masuk rumah sakit?" tanya Nirmala.


Vano mengangguk. "Iya."


Nirmala menghentikan langkahnya di tengah-tengah koridor rumah sakit. "Apa? Kau menyiksanya hingga masuk rumah sakit?"


Vano menggeleng. "Bukan aku, tapi bodyguardku." Vano menarik tangan Nirmala untuk melanjutkan langkah.


"Vano, jika pihak rumah sakit tahu bahwa Raisa mengalami kekerasan, pasti kau akan dilaporkan ke polisi." Nirmala berkata sambil berjalan mengikuti langkah Vano.


"Kau pikir akan ada dokter dan perawat yang berani? Jika mereka berani, mereka siap menanggung akibatnya. Lagi pula mereka tahu Raisa seperti apa, jadi mereka tidak mungkin membela wanita itu."


Vano berbicara santai sekali seolah ia tidak takut pada apa pun dan pada siapa pun. Dan itu memang benar. Yang ia takuti hanyalah kehilangan Nirmala.


Mereka berdua berhenti di depan ruangan. Ternyata ruangan tersebut adalah ruang isolasi. Nirmala tidak habis pikir, walaupun Vano membawa Raisa ke rumah sakit, tapi tetap saja suaminya itu bisa menyiksanya.


"Ingat, kita hanya melihat kondisinya saja. Jangan dekat-dekat dengan dia. Tidak ada yang tahu jika dia bisa tiba-tiba bangun dan menusuk dirimu seperti dua minggu lalu." Vano memberikan peringatan sebelum membuka pintu.


Nirmala mengangguk.


Pintu di buka secara perlahan. Nirmala dan Vano masuk ke dalam ruangan itu dan melihat kondisi Raisa. Nirmala menutup mulut dengan telapak tangan ketika melihat kondisi wanita kejam itu.


Wajah pucat, kurus, penuh luka cambuk, dan memar. Nirmala tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang Vano menyiksa Raisa. Hanya dengan melihatnya sekilas saja, ia tahu bahwa Raisa sangat menderita.


"Vano, kau kejam," ucap Nirmala sambil menjatuhkan air mata.


Vano menghela nafas. Jika bukan karena mencintai Nirmala, mungkin wanita yang berdiri di sampingnya itu akan mendapatkan pelajaran karena berani mengatainya kejam. Akan tetapi sekarang ia harus bersabar dan memaklumi istrinya. Hati Nirmala terlalu lembut, tentu saja wanita itu tidak akan tega melihat Raisa.


"Bukan aku yang kejam. Dia memang pantas mendapatkan ini semua."


"Tapi--"

__ADS_1


"Sudah cukup Nirmala, jangan menguji kesabaranku. Aku bukan orang yang sabar seperti dirimu. Kau tahu kan jika aku sudah marah? Jadi diam saja."


Mendengar ucapan Vano, Nirmala kembali sadar bahwa suaminya ini bukan pria hangat seperti kebanyakan orang. Orang yang dingin, walaupun mencintai seorang wanita, sikap dinginnya tidak akan hilang, itulah yang terjadi pada Vano. Walaupun sering memberikan perhatian, tapi terkadang sifat dinginnya akan muncul.


"Baiklah." Nirmala menunduk.


Suara helaan nafas Vano terdengar, tak lama kemudian Nirmala merasakan Vano memeluknya dari belakang. Setelah berkata dingin dan mengancam tajam, sekarang suaminya itu bersikap hangat dan manis.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengancammu. Akan tetapi aku ini memiliki sifat buruk. Aku hanya tidak ingin lepas kendali dan menyakiti dirimu."


Nirmala tersenyum kecil dan mengangguk. "Aku tahu itu. Aku paham."


Vano melepaskan pelukannya kemudian mengajak Nirmala untuk pulang.


"Tapi, jika Raisa sudah sadar, apakah kau akan membiarkannya kembali tinggal di rumah?" tanya Nirmala.


Vano melirik ke arah Raisa yang tidak sadarkan diri. "Dokter bilang, jikapun sudah sadar, dia akan mengalami trauma dan depresi berat."


Vano kembali menatap Nirmala. "Aku hanya tinggal menambahkan sedikit penderitaan lagi agar dia menjadi gila. Jika sudag begitu, aku akan melemparkannya ke rumah sakit jiwa."


Vano menggenggam tangan Nirmala. "Yang dia lakukan pada ayah dan ibuku lebih buruk dari ini. Ini tidak ada apa-apanya. Obat yang rutin diberikan untuk ayahku telah Raisa tukar dengan obat perusak saraf. Maka dari itu kondisi ayahku semakin buruk dan akhirnya lumbuh."


Nirmala menatap mata Vano. Sekarang ia bisa melihat mata Vano menerawang jauh.


"Coba kau bisa bayangkan, orang yang lumpuh dan gila. Sungguh menyedihkan sekali, bukan?"


Nirmala menggenggam tangan Vano erat. Sekarang ia bisa membayangkan betapa selama ini Vano menahan perih di hatinya. Kedua orangtuanya menderita dan akhirnya meninggal dunia dengan cara yang paling menyedihkan.


"Kau pria yang tangguh. Di balik sifatmu, mungkin orang mengira bahwa kau memang memiliki perangai yang tidak baik. Mereka tidak tahu ada bekas luka yang membuat kau seperti ini."


Vano menoleh pada Nirmala. "Apa aku memiliki perangai buruk?" tanya Vano.


Nirmala tergagap. Jika ia mengatakan 'iya', ia merasa takut menyinggung Vano. Jika dibilang tidak, tentu saja itu bohong. "Emm, bukan buruk. Hanya saja kau terlalu dingin."

__ADS_1


Vano menarik tangan Nirmala untuk keluar dari ruangan itu. "Tidak apa-apa, jujur saja. Aku memang sedikit menyadari bahwa aku memiliki perangai yang buruk." Vano menutup dan mengunci pintu kembali. "Akan tetapi kekayaan dan ketampananku mampu menutupi seluruh sifat burukku. Bahkan banyak wanita yang memujiku dan ingin bersanding denganku."


Kembali ia menarik tangan Nirmala untuk ikut jalan bersamanya. "Bahkan sebagian dari mereka menggodaku untuk tidur bersama mereka. Mungkin mereka pikir aku adalah tuan muda dingin dan kejam yang tampan dan kaya, yang memiliki hobi tidur dengan wanita yang berbeda-beda setiap malamnya."


Ia melirik sedikit pada Nirmala. Kelihatannya istrinya itu sudah mulai cemberut.


"Ya tapi nyatanya aku masih perjaka, tidak tergoda oleh satu wanita pun. Dan aku tidak menyangka akan tergoda oleh seorang wanita cantik."


Nirmala langsung menatap tajam pada Vano.


Vano terkekeh. "Seorang wanita cantik yang bernama Nirmala Diantri."


Seketika mata tajam itu berubah menjadi lemah lalu tertunduk malu. Ternyata Vano mulai pandai bermain dengan kata-kata.


"Tapi, kau bukan yang pertama untukku, aku hanya bekas--"


"Syut." Vano meletakkan jari telunjuk di bibir Nirmala. Mereka berhenti berjalan.


"Jangan berkata seperti itu lagi. Aku tidak peduli kau masih murni atau sudah disentuh oleh orang lain. Dan, untuk mantan suamimu kau adalah bekas, tapi bagi diriku, kau selalu jadi yang terbaru dan tidak akan pernah menjadi bekas. Ada hal yang harus kau ingat. Aku mencintaimu bukan karena tubuhmu, tapi karena aku memang mencintaimu dari hati ke hati."


Vano menurunkan tangannya. "Ya walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa aku juga menyukaimu karena parasmu yang sangat cantik." Setelah itu ia tertawa.


Nirmala tersenyum malu. "Kau mulai menggodaku."


Vano dan Nirmala kembali berjalan. "Sudahlah, mari kita pulang," ucap Vano.


* * * *


"Maaf Tuan Besar, tapi hal itu berbahaya untuk nyonya besar jika pergi tanpa pengawalan."


Farhan dan Vano sedang berbicara berdua di ruang kerja Vano. Mereka tengah membahas kepergian Nirmala ke panti asuhan tanpa pengamanan dan tanpa uang serta bantuan dari Vano.


Vano meletakkan pena di atas meja. "Tenang saja aku bukan orang bodoh. Aku sudah memikirkan semua ini dengan matang."

__ADS_1


Farhan menatap Vano. "Apakah Anda sudah memiliki rencana?" tanya Farhan. Ia memang tahu bahwa Vano tidak mungkin gegabah.


Vano tersenyum miring. "Tentu saja."


__ADS_2