
"Mengapa kamu bertanya demikian? Apakah kamu tidak percaya pada janjiku?" tanya Vano dengan nada menusuk tajam.
"Bukan begitu, hanya saja aku khawatir," jawab Rafan mengalah. Jika Vano sudah memasang nada tajam seperti itu, akan lebih baik jika ia mengendurkan suasana.
Terdengar suara dengusan Vano. Siapapun yang mendengarnya pasti tahu bahwa Vano berusaha untuk membuang semua emosi yang mulai datang.
"Aku ke sini ingin membahas kerjasama yang sudah kita rencanakan beberapa bulan lalu."
Rafan meletakkan kertas yang ada di tangannya. "Mari ikut ke ruangan sebelah."
* * * *
Melihat pantulan di cermin, Nirmala melihat dirinya yang pucat. Bukan hanya karena semalam kurang tidur, akan tetapi karena selama tiga bulan terakhir ini ia terlalu banyak pikiran. Dengan tangan kanan ia mengusap pipinya, pipi yang sudah dua tahun selalu diusap dan dikecup oleh Rafan.
"Sakit, sakit sekali. Aku seperti kau buang begitu saja." Dan akhirnya air mata membasahi pipi putih itu.
"Nyonya muda, bolehkah kami masuk?"
Suara dua pelayan terdengar sangat menggema di dalam kamar mandi. Tentu saja Nirmala kebingungan dan mencari asal suara tersebut. Jika pelayan berbicara dengan normal, mana mungkin suaranya bisa sampai ke dalam kamar mandi.
"Benda apa ini?"
Ada layar kecil yang masih berwarna hitam. Tangan kanannya refleks menekan salah satu tombol yang ia yakini sebagai tombol untuk menyalakan layar tersebut.
"Apa-apaan ini?" Dari layar tersebut Nirmala dapat melihat dua pelayan sedang berdiri di depan pintu kamar.
Nirmala melihat tombol berbentuk mic. "Masuk."
Selesai ia mengucapkan kata itu, salah satu pelayan memutar gagang pintu, itu artinya suaranya terdengar sampai keluar kamar. Nirmala menutup mulutnya dengan tangan. "Waw, canggih sekali."
"Nonya muda, pintu dikunci," ucap pelayan itu.
Nirmala melihat ada tombol bertuliskan 'lock', dan ada juga yang bertulisan 'open' dan 'close'. Nirmala menekan tombol lock. Dan saat pelayan itu kembali mencoba, pintu dapat terbuka dengan baik.
"Oh Tuhan, aku sedang tinggal di rumah semewah apa? Ini benar-benar diluar akal. Vano sampai memasang alat ini di dalam kamar mandi?"
"Nyonya muda, apakah Anda sedang berada di dalam kamar mandi?" tanya seorang pelayan.
Nirmala tidak menjawab, ia memilih memakai handuk model kimono lalu membuka pintu kamar mandi. Ia memberikan sedikit senyuman untuk para pelayan yang berada di dalam kamarnya.
"Ada apa?" tanya Nirmala.
__ADS_1
Dua pelayan tersebut menunduk lalu membungkuk. "Kami diperintahkan tuan muda untuk merapikan pakaian tuan muda di ruang walking closet, serta menyusun pakaian nyonya muda di dalam sana juga."
Nirmala mengangguk saja, toh semua peraturan di rumah ini adalah milik suaminya. Jika suaminya sudah memerintah, untuk apa bertanya pendapatnya lagi.
"Nyonya muda, apakah hadiah dari tuan muda belum Anda buka?" tanya pelayan tersebut.
Nirmala menoleh ke arah nakas lalu menggeleng. "Belum. Nanti saja, saya ingin memakai pakaian lebih dulu."
Nirmala mengambil pakaiannya yang ada di dalam koper. Dari kemarin kopernya itu belum dibuka sama sekali karena tadi malam ia memakai pakaian yang diberikan oleh Vano.
Namun ia kebingungan ketika melihat kopernya kosong.
"Ke mana semua pakaian saya?" tanya Nirmala menatap pelayan satu-persatu.
Pelayan itu semakin menunduk. "Maaf Nyonya muda, tuan muda memerintahkan kami untuk membawa pakaian Anda ke gudang. Dan sebagai gantinya, kami membawakan pakaian baru untuk Anda."
Baru selesai berbicara, pintu kembali diketuk. "Itu pelayan yang mengantarkan pakaian Anda." Pelayan tadi berjalan ke arah pintu lalu mengambil sebuah koper.
Pintu kembali ditutup. "Silahkan, Nyonya muda."
Nirmala menerima koper tersebut. Tak ingin membuang waktu, langsung saja ia buka koper tersebut. Isi dari koper itu sendiri adalah beberapa gaun, rok, baju atasan, baju tidur jenis kimono, ****** ***** dan bra.
Mengingat pakaian dalamnya, mengapa mereka tahu ukuran yang pas untuknya? "Pelayan, siapa yang membeli semua pakaian ini?"
"Bagaimana sekretaris tuan muda tahu ukuran pakaian dalam saya?" tanya Nirmala, tapi lebih kepada dirinya sendiri.
"Semua atas perintah tuan muda, Nyonya. Tentang pakaian dalam Anda, tuan muda sendiri yang memberi tahu kepada tuan Farhan."
Pipi Nirmala langsung bersemu merah. Pertanyaan bagaimana bisa Vano tahu terus mengalir dalam pikirannya. "Pukul berapa tuan muda pulang?"
"Saya tidak tahu Nyonya muda, tuan muda pulang tidak menentu," jawab pelayan itu sambil menunduk.
"Mengapa kalian terus menunduk. Saya tidak memarahi kalian." Nirmala merasa kurang nyaman dengan para pelayan yang terus menunduk.
"Kami tidak diperbolehkan menegakkan kepala di depan anggota keluarga, dan dilarang menatap anggota keluarga. Jika dibutuhkan, kami akan mengangkat kepala sesuai situasi," jawab pelayan itu.
Nirmala tersenyum, ternyata peraturan di rumah ini sudah seperti di kerajaan saja. "Kalian boleh menatapku jika tidak ada anggota keluarga yang lain. Aku merasa tidak nyaman jika kalian terus menunduk."
"Tapi Nyonya muda--"
"Tidak ada tapi-tapian, silahkan tegakkan kepala kalian," perintah Nirmala.
__ADS_1
Pelayan tersebut ragu-ragu, tapi pada akhirnya menuruti keinginan Nirmala karena bagaimanapun itu adalah perintah langsung dari nyonya muda mereka.
"Terima kasih, Nyonya muda."
* * * *
Di perjalanan pulang ke kediaman keluarga Ravaldi, tuan muda Vano hanya diam tanpa banyak bicara, begitu pula dengan sang sekretaris. Entah karena kelelahan atau karena suasa hati yang buruk, Vano benar-benar terlihat tidak memiliki mood yang bagus.
"Pak Farhan, apakah pelayan sudah memberikannya?"
Suara Vano memecahkan keheningan. Farhan yang duduk di sampingnya mengangguk.
"Sudah Tuan Muda."
Jika tidak mengerti betul diri Vano, siapa yang akan tahu maksud dari pertanyaan Vano. Farhan adalah pria berusia 45 tahun yang sudah mengabdi pada keluarga Ravaldi tepat setahun sebelum Vano dilahirkan, tepatnya 27 tahun yang lalu.
Selama masa pertumbuhan Vano, Farhan selalu bersama Vano kecil. Ia tahu masa pertumbuhan Vano dari balita hingga dewasa ini. Maka dari itu ia sudah sangat tahu bagaimana diri Vano yang sekarang. Bagaikan satu pikiran, ia sudah tahu apa yang diinginkan oleh Vano sebelum pria itu mengucapkannya dengan jelas.
"Tuan Muda, apakah Anda tidak khawatir jika nyonya besar dan nyonya muda disatukan dalam satu rumah. Saya melihat nyonya besar tidak menyukai nyonya muda," lanjut Farhan.
Vano tidak melirik sedikitpun. "Lalu?"
"Saya mengusulkan untuk memisahkan mereka berdua. Saya khawatir rumah tidak akan damai. Tuan Muda tahu betul bagaimana nyonya besar."
"Bagaimanapun juga dia adalah ibuku, mana mungkin aku mengasingkan nya hanya demi seorang wanita jaminan," jawab Vano tanpa ada nada yang menandakan ia memiliki mood yang bagus.
"Maafkan saya karena telah lancang."
Mereka diam kembali. Membiarkan sopir pribadi mereka fokus pada jalan tanpa boleh mendengarkan perbicangan mereka lebih lama.
Mobil hitam melaju perlahan ketika memasuki pekarangan rumah besar bertingkat tiga setelah penjaga gerbang membukakan pintu.
Begitu mobil tersebut berhenti, sudah ada dia pria berbaju serba hitam yang membukakan pintu mobil.
Dua pria yang hampir sama gagahnya melenggang masuk begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Menurut mereka tidak perlu mengucapkan terima kasih karena itu sudah menjadi tugas dua pria tersebut, cukup gaji tinggi yang mengatakan terimakasih.
Hampir tiga menit kemudian, datang mobil hitam yang juga masuk ke dalam halaman rumah.
Tanpa dibukakan pintu, enam orang yang ada di dalam mobil itu membuka pintu sendiri. Mereka semua yang keluar dari sana memiliki perawakan yang tinggi dan tegap. Mereka juga memakai jas yang rapi, tapi tidak ada yang tahu bahwa dibalik jas mereka tersimpan masing-masing dua pistol, dan ditelinga mereka dipasang Earpiece.
"Bagaimana perjalanan tuan muda?" tanya dua pria yang membukakan pintu tadi.
__ADS_1
"Semua lancar, tidak ada yang mencurigakan."
Ternyata enam orang tersebut adalah bodyguard Vano yang selalu mengawal kemanapun Vano pergi.