
Pagi itu Ara membuka matanya perlahan. Sambil membuka mata, tangannya meraba ke samping. Kepalanya menoleh cepat saat tangannya tidak menyentuh sosok suaminya. Ia mengerutkan kening lalu melirik pada jam dinding.
"Tumben dia bangun lebih awal dari ku."
Ara duduk lalu mengambil baju tidur lengan pendek, dipakainya baju itu dengan gerakan santai.
'Ceklek'
"Sudah bangun?"
Mendengar suara suaminya, Ara menoleh ke arah pintu. Ia pun tersenyum lebar. "Kau bangun lebih dulu, mengapa tidak membangunkan ku?"
Reno duduk di tepi ranjang, lalu menyerahkan nampan berisi susu hangat dan roti selai. "Makan dan minumlah."
Ara menerima pemberian suaminya. Pipinya selalu merona setiap kali suaminya melakukan hal yang manis dan romantis. "Kau selalu perhatian. Seharusnya aku yang melayani mu."
Reno tersenyum kecil, namun malah lebih tampak menawan. "Istri adalah berlian untuk suami. Pemilik berlian harus merawat dan menjaga berliannya, bukan? Dan tugas si berlian adalah menampakkan keindahan untuk pemiliknya. Kau istriku, bukan pelayanku."
Ara tertawa kecil mendengar kata-kata bijak dari suaminya. "Kau belajar dari mana?"
Reno menunjuk dadanya. "Belajar dari hari, dan kakakku juga. Dia suami yang baik untuk kak Nirmala. Maka aku harus mencontohnya agar bisa menjadi suami yang baik untuk mu."
Ara mengecup pipi Reno dengan gemas. "Soooo swwweeeeeett."
Tidak ada kata yang terucap dari Reno. Yang jelas ia sangat bahagia mendapatkan perlakuan menggemaskan dari Ara. Apalagi hadiah ulang tahun yang istrinya berikan.
"Aku akan makan roti ini dan minum susu ini. Setelah itu aku ingin pergi mandi," ucap Ara.
Reno mengangguk. Satu tangannya terangkat dan mengusap kepala istrinya. "Habiskan cepat. Aku menunggumu di ruang kerjaku."
* * * *
Ara melongo tak percaya ketika Reno menjelaskan semuanya. Sekarang ia sudah tahu kisah keluarga Ravaldi, dan sekarang ia sudah tahu Sain itu siapa. Reno menjelaskan sambil berkutat di depan komputer besar.
__ADS_1
Setelah selesai, Reno mematikan layar komputer lalu menatap istrinya. "Apakah kau bersedia membantuku?"
Ara mengangguk mantap. Sudah lama ia tidak menjalankan sebuah misi, maka dari itu sekarang ia langsung semangat. "Tentu saja."
* * * *
Sudah delapan bulan berlalu, persiapan untuk mengalahkan Sain baru akan selesai. Reno, Ara, Farhan, dan Vano membutuhkan waktu dan informasi lengkap untuk melumpuhkan Sain, Paul, dan antek-anteknya.
Pertama-tama mereka menyerang perusahaan-perusahaan kecil milik Paul. Mereka juga mengadu domba aliansi-aliansi yang bekerja sama dengan Paul hingga semuanya terpecah belah dan kemudian bangkrut. Kini tinggal satu yang harus mereka hadapi, yakni keganasan dan kebrutalan pembunuh bayaran yang dimiliki Paul dan Sain.
Sepasang suami istri tengah sibuk dengan komputer masing-masing. Sesekali mereka mendiskusikan sesuatu kemudian kembali fokus pada komputer mereka. Sampai pada akhirnya mereka selesai dan duduk santai di kursi masing-masing.
Ara memejamkan mata dengan kepala yang bersandar pada sandaran kursi putarnya. Sudah tiga jam ia dan Reno menggeluti komputer, sekarang ia merasa lelah.
Reno juga melakukan hal yang sama. Ruangan pun menjadi sangat sepi dan hening. Ia membuka mata dan melirik ke arah istrinya. "Lelah?" tanya nya.
Tanpa membuka mata, Ara mengangguk.
"Sekarang kau istirahatlah dulu. Besok kita harus melancarkan aksi kita," ucap Reno.
Reno menolehkan kepalanya. "Tidak akan gagal. Percayalah."
Ara bangkit dari kursinya lalu memeluk Reno yang masih duduk di kursi. "Aku tidak ingin kehilanganmu." Ara mulai terisak, ternyata Ara sedang menangis.
Reno mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa istrinya malah menangis. Kedua tangannya terangkat lalu membalas pelukan istrinya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah nyaman bersamamu. Aku mencintaimu, Reno."
Reno tersenyum lembut. Tangan kanannya membelai lembut rambut Ara. "Siapa yang akan kehilangan siapa? Aku janji aku akan tetap bersamamu selamanya. Aku juga mencintaimu, Ara. Sudahlah jangan menangis. Harus berapa puluh kali aku mengatakan agar aku tidak suka melihat wanita menangis."
Setelah tangisnya mereda, Ara melepas pelukannya. "Bisakah malam ini kita berdua saja?"
Reno mengerutkan keningnya. "Memang setiap hari dan setiap malam kita hanya berdua saja, kan?"
__ADS_1
Ara cemberut sambil mencubit perut keras Reno. "Dasar suami tidak peka." Ara menghentakkan kakinya ketika berjalan keluar dari ruang kerja Reno.
Melihat istrinya cemberut seperti itu, barulah Reno menyadari apa yang dimaksud oleh istrinya. Ia pun tertawa dan menyusul istrinya. "Hei, Ara. Tunggu aku."
'Tok-tok-tok'
"Ara, buka pintunya." Reno mengetuk pintu yang dikunci dari dalam.
"Malam ini kau tidur di luar!" teriak Ara dari dalam.
Reno berkacak pinggang sebelah tangan, dan tangan satunya lagi menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal. Ia bingung mengapa istrinya jadi sensitif seperti ini. Wajar saja ia tidak peka, ia bukan pria yang ahli dalam bidang wanita.
"Ara, buka pintunya. Bagaimana aku bisa menjelaskan jika kau tidak membuka pintu," Reno mencoba untuk bersabar.
"Tidak perlu ada yang dijelaskan. Kau memang pria kaku yang tidak pernah peka. Pergilah sana!"
Bukannya marah, Reno malah tersenyum. "Baiklah, aku akan pergi. Siapa tahu di luar sana aku bertemu dengan wanita cantik dan bisa diajak ngobrol-ngobrol syantik."
Baru berbalik, ia merasa ada seseorang yang menariknya dari belakang lalu badannya diseret masuk ke dalam kamar. Entah tenaga siapa, yang jelas ia terlempar ke tempat tidur. Belum bisa melihat siapa orangnya, sebuah bantal guling sudah menghantam wajahnya bertubi-tubi.
"Dasar laki-laki! Kau mau mencari wanita di luar sana! Hah? Kau pikir kau bisa mencarinya dengan wajah sempurna seperti ini? Akan aku buat wajahmu berwarna biru dulu baru kau bisa mencari wanita lain!"
Ara terus memukulkan bantal guling ke arah Reno. Sebisa mungkin Reno berlindung di balik tangannya.
"Oke-oke Ara. Aku hanya bercanda. Ampun." Lama-kelamaan Reno tertawa terbahak-bahak berkat ulah istrinya yang sedang mengamuk ini.
"Tidak akan aku ampuni! Pria sejenis ini harus dibasmi!" Ara masih memukulkan bantal guling sampai pada akhirnya Reno menarik tangannya, menghempaskan bantal guling, lalu memeluknya erat.
"Jangan mengamuk lagi. Kau jadi sangat menggemaskan jika cemburu seperti ini," ucap Reno. Ia mengusap kepala Ara dengan lembut. "Maafkan aku yang telat respon dan telat tanggap."
Reno menangkup kedua pipi Ara lalu menatap mata istrinya dengan dalam. "Kita mulai ya."
'Cup'
__ADS_1
* * * *
Oh ya, biar Kakak-kakak semua gak pada kaget nantinya, Sely mau kasih tau nih. Sebentar lagi Istri Jaminan Season 2 juga udah mau tamat. Gak terasakan udah mau tamat aja? Kalau yang baca dari awal Sely nulis pasti terasa banget perjuangan sampe tamat ini. Dan untuk yang baru baca dan langsung bisa baca puluhan episode, pasti gak kerasa, gak nyampe 2 jam udah tamat. Untuk yang dari awal ikut perjuangan Sely, maupun yang baru-baru, pokoknya Sely mau ngucapin terima kasih banyak dan i love you.