
'Ceklek'
Nirmala membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Saat sudah terbuka cukup luas, ia bisa melihat Vano tengah berdiri menghadap ke luar jendela. Ia terkejut melihat isi kamar yang hancur berantakan.
"Mengapa belum pergi?" Vano tiba-tiba bertanya tanpa menoleh.
Nirmala tidak menjawab. Fokusnya malah beralih pada darah yang menetes di lantai. Darah itu menetes dari cermin rias sampai ke arah Vano.
"Vano, tanganmu terluka."
Nirmala membuka masuk dan langsung menghampiri Vano, tangan lembutnya meraih tangan Vano untuk dilihat. Sedangkan Vano, pria itu masih berdiri tegak tanpa menoleh sedikitpun.
"Biar aku obati." Nirmala ingin menarik Vano untuk duduk di tepi ranjang karena sofanya sudah terbalik.
"Tidak perlu." Vano menarik tangannya.
Dari tindakannya, Nirmala tahu bahwa Vano hanya ingin sendiri. Tapi ia teringat dengan ucapan Farhan, ia ingin membuktikan apa yang telah diucapkan oleh sekretaris itu.
"Vano, apakah kau benar-benar ingin mengusir ku?"
Hening sejenak setelah terakhir kali Nirmala bertanya.
"Jawab aku, Vano."
Terdengar suara helaan nafas kasar dari Vano, akan tetapi pria itu tidak menoleh maupun melirik sekalipun. "Aku serahkan semuanya padamu. Jika kau terus menangis, lalu mengapa kau memilih menjadi istriku? Putuskan lah, jangan bimbang. Aku tidak suka pada orang yang plin plan."
"Anda bisa membuat hati bekunya sedikit mencair dengan rasa cinta. Saya yakin, Anda bisa mengubah tuan muda. Saya mohon, bertahanlah di sisinya. Tuan muda sangat mencintai Anda. Dia terluka saat meminta Anda pergi."
Nirmala teringat akan ucapan Farhan.
"Sebenarnya tuan muda ... mencintai Anda, Nyonya Muda."
"Tuan muda hanya ingin Anda bahagia. Rasa yang dia miliki untuk Anda sangat tulus dan baik. Tuan muda tidak egois, walaupun tidak dengan bersamanya, dia ingin Anda berbahagia. Walaupun itu dengan pria lain dan itu bisa membuat dia tersakiti."
Tanpa pikir panjang, Nirmala memeluk Vano dari belakang. Ia yakin pria itu terkejut dengan tindakannya. "Aku tidak ingin pergi."
Vano memalingkan wajahnya ke kanan, namun jangkauan matanya hanya bisa menatap pucuk kepala Nirmala.
"Aku janji, aku tidak akan menangisi Rafan lagi. Aku tidak akan mengingat dia lagi."
Vano meluruskan kepalanya lagi. "Aku tidak butuh kau berjanji."
Nirmala melepaskan pelukannya. "Vano, apakah kau terpaksa menerima diriku?"
Vano tidak menjawab.
__ADS_1
"Vano, apakah kita akan saling mencintai?" tanya Nirmala ingin menyinggung tentang perasaan.
Vano masih diam.
"Vano, apakah kau mencintaiku?"
Akhirnya Nirmala sampai pada pertanyaan yang ia ingin dengar jawabannya.
Vano berbalik, matanya langsung menatap mata Nirmala, menembus sampai ke hatinya. "Bukan itu yang harus kau pertanyakan padaku. Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apakah kau masih mencintai Rafan?"
Nirmala langsung mematung. Pertanyaan dari Vano membuat ia mati kutu. Jujur, sampai sekarang ia masih mencintai Rafan, tapi ia juga merasa sangat nyaman bersama Vano walaupun pria itu sangat dingin.
"A-a-aku--"
"Kau tidak bisa menjawabnya, kan?"
Nirmala menunduk, ia memang tidak akan bisa menjawabnya. Ia ingin mengatakan tidak, dan ia ingin mengatakan bahwa sekarang ia membenci Rafan. Akan tetapi rasa tidak bisa dibohongi. Bahkan di perutnya hidup benih cinta Rafan.
Sudut mata Vano berubah tajam. Ia tahu bahwa jawabannya adalah Nirmala masih mencintai Rafan. Sebelum pergi, ia menendang kaki meja yang sudah pecah. "Sial!"
Nirmala semakin menunduk, air matanya kembali mengalir. "Mengapa aku terjebak dengan perasaan ini."
Mobil hitam melaju membelah jalan raya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Setir mobil terkena bercak darah dari tangan sang pengemudi. Seiring emosi yang meningkat, kaki pun semakin kuat menginjak pedal gas.
Vano menatap tajam ke depan, rahangnya mengeras dan tangannya mencengkram erat setir mobil. Entah kemana ia akan membawa mobil itu. Yang jelas saat ini ia ingin meluapkan segala emosi di hatinya.
Mobil hitam berhenti di pinggir danau hijau yang sangat indah. Vano keluar dari mobil. Matanya sudah memewah, ia berjalan mendekati danau. Lama-kelamaan langkahnya semakin lunglai dan akhirnya ia sersimpuh di depan danau.
Di saat yang bersamaan, air matanya jatuh menuruni pipinya. Di tempat inilah ia bisa menunjukkan sisi lemahnya. Tidak ada satupun orang yang akan melihat betapa rapuhnya ia.
"Mengapa? Mengapa aku serapuh ini?" Air mata Vano terus mengalir.
Yang membuatnya rapuh adalah melawan rasa cinta yang datang. Melawan cinta ibarat menggenggam angin, tidak akan bisa.
"Aku tidak ingin mengenal rasa ini!" Vano berteriak di depan danau hingga suaranya menggema di sekitar danau yang sepi.
"Ibu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin lemah karena cinta. Aku tidak ingin lemah, aku harus kuat untuk Ibu."
"Cinta itu anugrah."
Suara yang sangat ia kenali menyapa pendengarannya. Vano mengangkat wajah. Dilihatnya sosok wanita tercantik di hidupnya tengah berdiri di tengah-tengah danau tanpa tenggelam. Wanita itu tersenyum lembut padanya.
"Kau harus menjaga cinta."
Vano menggeleng, ia merasa apa yang diucapkan oleh wanita itu sangat tidak sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1
"Tidak, Ibu. Cinta itu perusak, cinta itu lemah, cinta itu menghancurkan segalanya. Buktinya kehidupan kalian tidak bahagia sama sekali. Ibu jadi lemah karena cinta, ibu pergi karena cinta."
Wanita itu menggeleng. "Tidak anakku. Cinta itu kebahagiaan. Yang menghancurkan hidup adalah nafsu. Yang menghancurkan hidup adalah ego. Cinta selalu datang bersamaan dengan nafsu dan ego. Maka dari itu, untuk bahagia, kau harus menjaga cinta dari nafsu dan ego. Kau harus bisa mengendalikan nafsu dan egomu."
"Tidak, Ibu berbohong. Ibu memiliki cinta yang tulus, tapi ibu yang terluka, Ibu yang menderita!"
Wanita itu tersenyum dan menggeleng lagi. "Lupakan masa lalu. Hiduplah dengan bahagia. Dan bahagiakan orang yang kau cintai."
Vano mengambil batu kerikil lalu melemparkannya pada wanita itu. "Pergi kau! Kau bukan ibuku! Kau hanya bayangan sialan!"
Bersamaan dengan itu wanita tersebut menghilang.
Entah itu bayangan atau isi pikiran baik yang terekspresikan dari para kepalanya sendiri, yang jelas Vano tidak ingin mendengarkannya. Ia tetap pada pendirian untuk membunuh cinta yang hadir di dalam hatinya. Dengan apapun caranya.
* * * *
Di gedung pernikahan, semua tamu udangan telah pulang dengan membawa gosip tentang kejadian tadi siang. Di koridor lantai dua, Farhan, Raisa, Braksa, Nirmala, sopir pribadi dan seluruh bodyguard tengah berkumpul. Mereka sibuk membahas hilangnya Vano dari gedung itu.
"Ini jelas-jelas salah Nirmala, seharusnya dia tahu ke mana pergi suaminya." Sedari tadi Raisa selalu menyalahkan Nirmala.
Farhan menarik nafas panjang untuk menenangkan emosinya. Ia memang tidak suka pada Raisa. "Nyonya Besar, tolong jangan memperkeruh keadaan dengan terus menyalahkan nyonya muda."
Nirmala hanya menunduk. Ia tidak tahu harus berbicara apa.
"Bagaimana bisa tuan muda mengambil kunci mobil tanpa sepengetahuan dirimu?" tanya Farhan pada sopir pribadi Vano.
Sopir bertopi itu menunduk. "Maaf, Tuan. Saat itu saya sedang berada di kamar mandi."
Nirmala cukup khawatir. Sejak tadi siang sampai malam hari Vano belum juga pulang.
Saat sedang berbicara, terdengar suara langkah kaki yang tidak beraturan. Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Vano berjalan sempoyongan. Terlihat Vano memijat kepalanya agar bisa jalan seimbang.
Farhan langsung berlari menghampiri, begitu juga dengan yang lain.
"Tuan Muda, apa yang terjadi?"
Vano tidak menjawab, cukup bau alkohol yang menjawab.
"Anda mabuk?" Farhan tidak percaya.
"Diam!" Vano melirik tajam pada Nirmala, namun matanya terlihat sayu. "Janda cantik ini harus menemaniku malam ini," ucap Vano sambil menunjuk Nirmala.
Tubuh Vano hampir jatuh, buru-buru Farhan menahannya.
"Buka pintu kamar," perintah Farhan pada bodyguard.
__ADS_1
* * * *
Yeey! Tamat..hahaha😂. Enggak, cuma bercanda. Akhirnya hari ini Sely mau up 2 episode, sesuai dengan janji. Tapi nanti sore ya, dan khusus hari ini aja😁.