Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 17


__ADS_3

Di ruang tengah yang megah, semua bodyguard yang ikut ke butik dikumpulkan. Mereka berdiri tegak namun kepalanya menunduk. Di sofa duduk sang sopir yang tengah diobati oleh salah satu pelayan. Sedangkan tuan muda mereka, berdiri berhadapan dengan delapan bodyguardnya.


Matanya menatap dingin kesemua bodyguard. Sudah sepuluh menit lebih Vano hanya memandangi para bodyguardnya. Walaupun hanya sekedar ditatap, para bodyguard merasa dipukuli dan dihajar habis-habisan, mereka tidak berani berbicara sebelum Vano memerintahkan.


"Siapa yang memerintah kalian untuk masuk semua ke dalam butik?"


Pertanyaan Vano sangat dingin. Sangat dingin hingga mampu membekukan seluruh tubuh pria berbadan tegap.


"Ampun, Tuan Muda. Saya yang memerintah," kata ketua bodyguard mengaku.


Vano maju selangkah, tanpa aba-aba langsung mengarahkan tinjunya ke perut ketua bodyguard itu. Pria berbadan tinggi tegap itu hampir jatuh, tapi ia berhasil menyeimbangkan diri. Satu pukulan Vano setara dengan pukulan lima orang bodyguard.


"Aku tidak pernah memerintah kalian untuk bertindak bodoh. Apa yang dulu pernah aku tekankan dan tegaskan pada kalian?"


Ketua bodyguard itu berdiri tegak kemudian menunduk lagi. "Anda menegaskan pada kami untuk selalu membagi pengamanan," jawab ketua bodyguard.


Vano menatap para bodyguard satu-persatu dengan tajam. "Jika ingat, mengapa melakukan itu? Aku pernah tekankan pada kalian, keamanan sopirku adalah hal penting."


Para bodyguard itu menelan ludah, mereka tidak tahu apa alasan sang sopir muda itu mendapatkan posisi yang tinggi.


"Maafkan kami, Tuan Muda."


Vano berbalik menghadap sopir yang walaupun sedang diobati tidak melepas topinya. Menyadari tuannya akan berbicara padanya, segera sang sopir berdiri tegak.


"Apa yang dia katakan?" tanya Vano tanpa merubah nada dinginnya.


Sang sopir itu menunduk sehingga hanya dagunya saja yang terlihat oleh Vano. "Dia mengatakan, jika Anda mengingkari janji Anda, maka dia tidak akan pernah tinggal diam."


Vano diam tidak berbicara, sepertinya ia sedang memikirkan kalimat yang diucapkan oleh sang sopir. Vano berbalik lagi pada bodyguardnya. "Kalian boleh pergi."


Kemudian ia kembali menghadap sang sopir. "Obati lukamu dengan baik." Setelah itu Vano melangkah menuju tangga.


Sang sopir baru bisa mendongakkan kepalanya setelah Vano menaiki anak tangga. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


Tanpa mengucapkan terima kasih pada sang pelayan yang sudah mengobati lukanya, sang sopir itu pergi begitu saja.


"Aku rasa sopir dan majikan sama-sama dingin." Pelayan itu hanya bisa menggeleng kepala, tapi tak lama kemudian ia tersenyum lebar. "Lumayan, aku bisa mengobati luka sopir pria misterius yang tak tersentuh itu. Dari tampilan rahang dan bibirnya, sepertinya sopir itu sangat tampan."

__ADS_1


Beralih ke kamar Vano, Nirmala berdiri di depan jendela besar. Pandangannya menerawang jauh. Ia menahan rasa penasaran tentang kejadian yang terjadi saat di butik tadi. Saat sedang memilih pakaian, seorang bodyguard datang lalu memberi kode pada Vano untuk menjauh.


Setelah Vano kembali, suaminya itu langsung mengajaknya pergi dari sana. Dan saat di mobil, ia melihat darah dari sudut bibir sang sopir. Ia bertanya pun percuma, Vano dan sopirnya tidak menjawab sama sekali, hanya diam seperti tidak mendengar apapun.


Akhirnya ia menjadi jengkel dan menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak berbicara pada Vano, ia ingin balas dendam walaupun sepertinya itu kekanak-kanakan.


'ceklek'


Walaupun mendengar pintu dibuka, Nirmala tidak berbalik ataupun menoleh. Ia tahu orang yang masuk adalah Vano. Ia malah melipat tangan di depan dada kemudian memasang wajah tanpa ekspresi.


Karena tidak ada yang berbicara, suara helaan nafas Vano pun terdengar jelas. Sepertinya suaminya itu sedang mendapat masalah.


Vano melirik ke arah Nirmala yang hanya diam di depan jendela besar. Biasanya jika mendengar pintu dibuka, istrinya itu akan menoleh dan menyapanya. Tapi ada apa dengan kali ini? Istrinya seperti tidak ingin membalikkan badan.


"Mengapa berdiri di sana?"


Akhirnya Vano yang menyapa lebih dulu. Entah mengapa ia merasa tidak enak jika saling diam dengan Nirmala.


Nirmala tidak menjawab, bahkan seperti orang tuli yang tidak mendengar apapun. Vano menghela nafas panjang, sudahlah kepalanya dipenuhi pikiran kacau, sekarang istrinya ingin membuat ulah.


"Apa kau tuli? Aku sedang berbicara padamu."


Vano membalikkan badan Nirmala secara paksa. Ia memegang kedua bahu Nirmala agar istrinya itu tidak membelakangi nya lagi. Saat sudah berhadapan seperti itu, Nirmala mengalihkan matanya ke samping kanan, tidak ingin menatap wajah suaminya.


Vano tersenyum sinis. "Apa ini? Kau mulai berani padaku?"


Nirmala masih tidak mau menatap Vano.


"Tatap aku," perintah Vano, tapi Nirmala tidak mengindahkan perintahnya.


Vano memejamkan mata untuk meredakan emosinya, tak sampai dua detik ia membuka matanya lagi. "Nirmala, aku sedang dalam suasana hati yang tidak bagus. Jangan buat aku semakin emosi dengan kelakuanmu ini."


Vano menatap mata Nirmala yang belum mau menatapnya. "Tatap aku!" Vano meninggikan nada bicaranya.


Perlahan Nirmala menatap mata Vano, tapi yang didapat oleh Vano adalah tatapan sebal dan marah dari Nirmala. Ini adalah kali pertama Nirmala melakukan itu.


"Jadi kau tidak ingin berbicara padaku?" Tanpa sadar sekarang Vano lah yang lebih banyak bicara.

__ADS_1


Kilatan niat aneh sempat Nirmala tangkap dari tatapan mata Vano. Tapi ia masih bersikeras untuk tidak berbicara.


"Baiklah, aku akan membuatmu berbicara."


Vano menarik kepala Nirmala, lalu mencium Nirmala secara paksa. Tentu saja Nirmala terkejut bukan main. Ia memberontak, namun hal itu malah membuat Vano mendekapnya di dalam pelukan. Tenaga Vano membuat Nirmala tidak dapat berkutik.


Hampir satu menit kemudian, Vano melepaskan Nirmala. Dan hal itu Nirmala jadikan kesempatan untuk mendorong Vano menjauh.


"Apa yang kau lakukan?" Suara Nirmala melengking tinggi.


Vano tersenyum miring. "Memangnya kau pikir apa lagi? Aku menciummu."


Nirmala menatap tak suka pada Vano. Ia mengelap bibirnya dengan lengan baju.


"Aku hanya membuatmu berbicara, itu saja," lanjut Vano.


"Itu tidak adil. Kau berkuasa untuk tidak berbicara dan menjawab pertanyaanku, tapi mengapa saat aku sedang tidak ingin berbicara padamu kau malah melakukan ini? Dasar pria kutub Utara yang egois. Jika bukan karena menghargai dirimu sebagai suami, sudah aku remukkan tulang-tulangmu seperti serpihan kayu. Jangan mentang-mentang kau memiliki kekuasaan di rumah ini lalu kau bisa menciumku sesuka hati mu--"


"Sudah selesai berbicara?"


Vano melipat tangan di depan dada sambil berdiri santai. Ia menatap Nirmala dengan tatapan mengejek. "Sekalinya kau berbicara, gendang telingaku hampir pecah."


Nirmala mengerucutkan bibirnya, melipat tangan lalu berbalik membelakangi Vano.


"Sekarang sudah berani membelakangi aku?"


Nirmala diam tak menjawab.


Vano menghela nafas panjang kemudian duduk di tepi ranjang. "Baiklah. Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


Nirmala masih tetap diam.


"Kau marah karena tidak mendapatkan jawaban atas kejadian di butik tadi?" tanya Vano lagi. "Baiklah aku akan menjawab. Sopirku terluka karena ulah mantan suamimu yang datang dan mengamuk. Sudah puas?"


Mendengar ucapan Vano, Nirmala langsung berbalik. Ia mengekspresikan wajah tak percaya.


"Apakah dia--"

__ADS_1


Vano menarik pergelangan tangan Nirmala lalu ia membaringkan dirinya sendiri. Maka terjadilah Nirmala yang menindih tubuh Vano lalu .... 'Cup'


Nirmala membulatkan matanya.


__ADS_2