
Matahari menyingsing seperti biasanya. Udara segar di pagi hari juga tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Lain dengan halnya dengan yang dirasakan oleh dua insan yang menjadi pengantin baru. Baru membuka mata, mereka sudah melihat pasangan mereka yang kemarin resmi menjadi suami maupun istrinya.
Untuk keluarga mereka juga merasakan sesuatu yang berbeda di hari ini. Pasalnya sejak pagi buta mereka disibukkan dengan kegiatan bersih-bersih sisa pesta meriah kemarin. Tidak hanya pelayan, semua orang juga itu bersih-bersih. Mereka ingin merasakan rasanya mengurusi pesta pernikahan keluarga.
Nirmala sedang menyapu halaman. Sesekali ia melihat kegiatan suaminya yang sedang membantu petugas dekorasi mencopot hiasan bunga. Suaminya yang dulu sangat dingin kini telah berubah 80 persen. Walaupun sudah berubah, namun di hadapan para pelayan, ia masih bersikap sedikit dingin dan keras.
"Sudah satu tahun lebih kalian menikah, apa masih kurang puas memandangi nya?" Tiba-tiba Hanna sudah berdiri di belakangnya.
Nirmala menoleh ke belakang. "Kakak ini mengejutkan ku saja." Nirmala kembali melihat ke arah Vano sambil tersenyum. "Jangankan satu tahun, sampai beribu-ribu tahun pun aku tidak akan puas dan bosan."
Hanna merangkul bahu Nirmala. "Kau sangat hebat. Kau bisa merubah sifat dan sikapnya hanya dalam satu tahun. Aku dan Afid sudah bertahun-tahun mencoba merubah sedikit saja tidak pernah berhasil."
Nirmala menggerakkan tangannya hingga sapu yang ia pegang bergerak sedikit-sedikit. "Semua ini karena Tuhan telah menghendaki dia berubah dengan perantara kekuatan cinta kami."
Hanna memeluk Nirmala dengan gemas. "Aaaa senangnya memiliki cinta manis seperti kalian."
Nirmala hanya tersenyum saja. Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia dan Vano akan saling mencintai dan hidup bahagia seperti sekarang. Padahal pernikahan mereka diawali dengan sebuah perjanjian antara Rafan dan Vano. Dan dulunya ia hanyalah seorang istri jaminan.
Di lain tempat, tepatnya di kamar pengantin, Reno tengah merapikan rambutnya yang basah. Ia sengaja tidak mengeringkannya karena ada suatu alasan. Begitu juga dengan Ara. Ia memerintah istrinya untuk keramas dan melarang nya mengeringkan rambut. Pada awalnya Ara menggerutu, tapi pada akhirnya ia mengikuti perintah Reno.
"Menyisir rambut saja satu tahun. Aku sudah sangat lapar," keluh Ara.
Reno meletakkan sisir di atas meja rias. Matanya melirik Ara dari pantulan cermin. "Kau bisa memesan makanan. Untuk apa ingin pergi ke dapur?"
Terlihat Ara cemberut karena jengkel. Entah mengapa melihat istrinya berekspresi seperti itu, ia malah berpikir bahwa ternyata istrinya imut dan menggemaskan.
"Aku tidak ingin berlama-lama berduaan denganmu," jawab Ara ketus.
Reno berbalik, tangannya sudah ia lipat di depan dada. "Kita sudah menikah. Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan memiliki waktu berdua denganku saja. Apalagi sore ini aku akan membawamu ke rumah pribadiku."
"Aku tidak mau," jawab Ara masih dengan nada ketus.
Reno berjalan menuju pintu. Sambil meraih gagang pintu, ia berkata, "Baiklah, aku akan mencari istri lagi yang bisa aku bawa ke rumahku."
Ara melototi Reno, tapi Reno terlihat tidak takut sama sekali. Pada akhirnya pintu ditutup dari luar. Ara menggeram sambil mengepalkan tangannya. "Dasar laki-laki!"
__ADS_1
"Hei, pengantin baru sudah keluar kamar." Afid langsung memancing kehebohan di ruang tengah ketika melihat Reno keluar.
Semua orang termasuk para pelayan melihat ke arah orang yang datang. Para pelayan terperangah melihat wajah tampan Reno yang sudah dua minggu ini ditunjukkan. Walaupun sudah beberapa kali melihat wajah tampan itu, mereka masih saja terhipnotis.
"Jangan membuat aku marah, Af." Reno berbicara dengan nada dingin seperti biasanya. "Di mana kak Vano dan kak Nirmala?" tanya Reno melanjutkan ucapannya.
Afid yang tengah mengemil makan di atas meja ruang tengah menunjuk ke arah depan. "Di luar. Sedang bersih-bersih," jawab Afid lalu kembali menyuapkan satu bolu pandan ke dalam mulutnya.
Mengetahui kakaknya sedang bersih-bersih, sebenarnya Reno terkejut akan tetapi ia tidak menunjukkan keterkejutan nya lewat ekspresi. Segera ia berjalan luar rumah melewati ruang tamu.
"Kak." Reno memanggil Vano yang baru selesai dengan kegiatannya.
Melihat Reno datang, Vano turun dari tangga lipat. Begitu turun dan kembali melihat adiknya, ia malah fokus pada rambut Reno yang masih basah. Ia tersenyum penuh arti pada adiknya itu.
"Hei, mengapa sudah keluar? Ini masih pagi." Vano berjalan menghampiri adiknya.
Seperti ada sinyal kuat, Reno bisa menangkap maksud dari ucapan Vano dan tahu apa yang sedang kakaknya pikiran kan. "Jangan mulai, Kak."
Vano menepuk bahu Reno setelah mereka berdiri berhadapan. "Aku senang kau bisa memanggilku 'Kakak'. Sekarang aku merasa keluargaku telah sempurna."
"Kak, nanti sore aku ingin pulang ke rumahku."
Nirmala yang sedang lewat tidak sengaja mendengar perbincangan itu langsung menghampiri dua pria yang sedang berbincang. "Mengapa cepat sekali? Kalian bisa tinggal di sini selama seminggu lagi." Nirmala menyipitkan matanya sambil tersenyum lebar. "Aaa ... aku tahu. Kalian tidak ingin diganggu, kan?"
Reno tidak menanggapi, rasanya sangat malas berbicara dengan kakak iparnya jika yang dibahas adalah hal yang tidak penting.
Melihat Reno yang diam saja, Nirmala merasa kesal. "Sayang, lihatlah adik iparku ini. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu dingin dan menyebalkan. Masih untung Ara mau menikah dengannya." Nirmala memalingkan muka, pura-pura tidak ingin melihat Reno.
Vano hanya tertawa kecil, sedangkan Reno masih diam, tidak peduli dengan makian kakak iparnya.
Mata Nirmala menangkap kedatangan Hanna dan juga Ara. Senyum lebarnya kembali mengembang. "Nah, itu dia pengantin baru wanita."
Dua pria yang posisinya membelakangi Hanna dan Ara pun menoleh ke belakang. Reno segera mengalihkan pandangannya ke lain arah, tidak ingin terpesona lagi oleh kecantikan Ara yang kali ini memakai dress selutut.
"Ara, mengapa wajahmu terlihat kusut bergitu? Pengantin baru tidak boleh menekuk wajah begitu," ucap Nirmala karena melihat wajah Ara yang penuh kekesalan saat menatap Reno.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa, Nyony--"
"Eits, aku sudah bilang mulai sekarang kau harus memanggilku kakak. Begitu juga kau memanggil suamiku." Nirmala memotong ucapan Ara.
Ara mengangguk. "Baiklah, maafkan aku, Kak. Aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saja," jawab Ara sambil menatap tajam pada Reno.
Hanna melihat arah mata Ara, kemudian ia menahan senyum. "Wajar saja Nirmala. Kau ini seperti tidak tahu saja bagaimana pasangan pengantin baru."
Reno mulai mencium bau-bau perbincangan tidak berfaedah. Kakak sepupunya ini sama seperti adik sepupunya, sering berbual ke sana kemari.
"Ah iya juga ya. Aku yakin Reno tidak memberikan istirahat padamu, kan?" tanya Nirmala yang tanpa harus diminta kerjasama oleh Hanna sudah bisa mengerti dan mulai mendalami topik pembicaraan mereka.
Telinga Reno mulai memerah, rasanya panas sekali, akan tetapi ia masih berusaha untuk diam.
"Betul sekali, Kak. Maka dari itu sekarang aku sangat kesal padanya. Aku kurang tidur." Ara malah ikut masuk ke dalam permainan kakak-kakaknya.
Reno melirik tajam pada Ara lewat ujung matanya. Tatapan itu seolah-olah berkata 'jangan macam-macam'.
Hanna menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Whoaw, ternyata Reno walaupun dingin tapi ganas juga ya."
Ara mengangguk setuju. "Makanya aku kesal sekali. Lihatlah rambut basahku ini, aku tidak sempat mengeringkannya karena aku langsung keluar kamar menghindarinya sebelum dia menerkam ku lagi."
Mendengar ucapan Ara, semuanya tertawa, terkecuali Reno. Pria itu menatap Ara dengan wajah yang sangat-sangat dingin. Ara masih santai saja, ia tidak memperhatikan bahwa raut wajah Reno benar-benar sudah berubah.
"Satu ronde berapa lama?" tanya Hanna.
"Hmm, aku tidak ingat. Yang pasti sangat lam--"
"Ara." Suara dingin nan dalam itu menembus tulang-tulang ketiga wanita yang asik bercanda.
Ara menoleh ke arah suaminya. Tangannya langsung gemetar melihat tatapan tak wajar yang suaminya berikan padanya.
"Ikut aku." Reno menarik tangan Ara dan kembali masuk ke dalam rumah.
Vano menggeleng-menggelengkan kepalanya. "Kalian ini tidak henti-hentinya menggoda Reno. Sekarang berdoalah agar Ara baik-baik saja," ucap Vano yang langsung diamini oleh Nirmala dan Hanna.
__ADS_1
Mau double up? Tunggu hari Minggu ya 😁