Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 17 (S2)


__ADS_3

Mendengar cerita Vano, Nirmala malah tertawa. Bagaimana mungkin seorang anak berusia 7 tahun bisa mendobrak pintu ruang operasi rumah sakit. Ia tidak menyangka bahwa suaminya ini memang sudah luar biasa sejak kecil.


"Apakah ada yang lucu?" tanya Vano.


Nirmala langsung menghentikan tawanya. Ia sadar bahwa tawanya bisa saja menyinggung perasaan Vano yang sedang berbicara dengan serius.


"Maafkan aku. Silahkan lanjutkan," ucap Nirmala.


Vano menyandarkan punggungnya ke sofa. Raut wajahnya sangat serius dan terlihat sedih saat menceritakan kisah masa lalunya itu.


"Aku memaksa dokter Tio untuk segera melakukan operasi pengeluaran bayi yang ada di dalam rahim ibuku. Untung saja saat itu dokter Tio memang sudah selesai mengoperasi pasiennya. Segera aku membawanya ke rumah sakit tempat jasad ibu di tangani."


Vano menarik nafas panjang. "Operasi berjalan dengan lancar. Namun adikku harus dimasukkan ke inkubator khusus karena dia lahir prematur. Usianya masih 6 bulan masa kandungan."


Kemudian Vano menceritakan kisah selanjutnya.


Dua tahun telah berlalu. Sejak Viana meninggal, Yuda mengalami gangguan mental. Walaupun ia mencintai Raisa, namun sebenarnya rasa cintanya pada Viana lebih besar. Ia merasa sangat terpukul atas kematian istri tercintanya. Apalagi ia tahu bahwa saat itu Viana tengah mengandung.


Adik Vano dititipkan pada dokter Tio. Farhan tahu bahwa Raisa akan melenyapkan seluruh pewaris kekayaan keluarga Ravaldi. Ia percaya bahwa Tio bisa merawat anak kedua Viana dengan baik.


Sampai pada suatu saat, Raisa mencium keberadaan anak kedua Yuda. Dengan bantuan para bodyguard pribadinya, ia bisa mengawasi keberadaan Tio dan anak kedua Viana.


Tio dan istrinya sedang mengajak Reno kecil jalan-jalan. Tidak lupa mereka menjemput Vano untuk ikut menikmati liburan akhir pekan. Setelah menjemput Vano, mereka pun langsung berangkat jalan-jalan keliling kota.


Baru separuh perjalanan, dua mobil hitam menghadang mobil Tio. Mereka adalah orang-orang suruhan Raisa untuk membunuh Vano dan Reno. Melihat itu, Vano, Tio, dan istrinya Tio merasa sangat panik.


"Turun dan lari ke hutan itu. Bersembunyilah sejauh mungkin," perintah Tio pada istrinya dan juga Vano.


Tidak ada yang bisa dilakukan selain menuruti perintah Tio.


Vano dan istri Tio keluar dari mobil sambil membawa Reno kecil. Akan tetapi sudah terlambat, mereka sudah dikepung oleh pria-pria berbadan besar. Diantara mereka ada yang memegang pisau dan ada juga yang menodongkan pistol.


'Dor-dor-dor!'


Tio menembak seluruh penjahat yang memegang pistol. "Cepat lari!" teriak Tio.


Saat Vano dan istri Tio akan lari, seorang penjagat berlari kearah istri Tio yang sedang menggendong Reno. Istri Tio tidak bisa menghindar karena posisi tubuhnya terhimpit oleh mobil. Melihat itu, dengan cepat Vano berlari ke arah istri Tio.

__ADS_1


'Sret.'


Darah mengalir dari bahu Vano dengan derasnya. Serangan yang akan ditujukan pada Reno malah mengenai Vano.


"Vano!" Istri Tio terkejut melihat darah yang begitu banyak.


"Bibi, kita tidak punya waktu. Cepat lari!"


Saat Tio sedang bergulat dengan banyak pria, Vano dan istri Tio berlari ke arah hutan. Melihat target kabur, para penjagat itu segera mengeroyok Tio agar urusan mereka dengan Tio cepat selesai. Tentu saja Tio kewalahan dan akhirnya jatuh ke aspal tanpa memiliki daya lagi. Tidak mungkin ia sanggup untuk melawan lagi, belum lagi ada dua mobil lagi yang datang.


Saat semua penjahat itu akan berlari mengejar Vano dan Reno, Tio mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia menekankan salah satu tombol dan ....


'Booom!'


Mobil Tio meledak hingga semua penjahat menjadi korban. Begitu juga dengan Tio. Semuanya berakhir dengan Vano, Reno dan istrinya Tio yang selamat. Sedangkan Tio, entah bagaimana keadaannya. Entah hidup atau mati, sungguh sulit untuk dipastikan karena ledakkan itu merambat pada mobil-mobil penjahat juga.


"Lalu, dokter Tio mati?" tanya Nirmala di sela-sela cerita Vano.


Vano menggeleng kemudian tersenyum. "Kami semua hidup. Dokter Tio berhasil diselamatkan. Akan tetapi sebagian wajahnya hancur, tidak dapat kembali normal."


Nirmala menyandarkan kepalanya pada bahu Vano. "Siapa nama adikmu? Mengapa kau tidak mempertemukan kami?" tanya Nirmala.


Vano tersenyum. "Namanya Rareno Ravaldi. Panggil saja Reno. Sebenarnya dari dulu kalian sudah sering bertemu."


Nirmala mengangkat kepala dan duduk tegak. "Apa maksudmu?" tanya Nirmala.


Vano menarik nafas panjang kemudian menatap Nirmala. "Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan beritahu siapapun. Dan berpura-pura lah tidak tahu bahkan saat kalian bertemu."


Nirmala mengangguk. Ia sudah sangat penasaran.


"Dia adalah ...." Vano menjeda sejenak. (Biar deg-degan mungkin). "Sopir pribadiku."


...


...


...

__ADS_1


Hening.


"Apa!" Tiba-tiba Nirmala berteriak terkejut. Bukan hanya Nirmala saja, Vano juga ikut terkejut karena teriakkan nya.


"Mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Pantas saja dia itu dingin seperti mu. Bahkan lebih dingin dia dari pada dirimu. Dia juga sama-sama tegas, dan sama-sama memiliki aura yang kuat. Dan pantas saja selama ini kau selalu menegaskan pada semua orang untuk tidak mengusik ketenangan dan mengganggu hidup sopirmu. Ternyata dia adalah adikmu. " Nirmala terus berbicara hampir tanpa jeda.


Vano menggaruk kepala belakangnya. Sungguh ia ingin menghentikan mulut Nirmala yang terus nyerocos tanpa henti. Namun ia berusaha untuk memaklumi karena selama ini menyembunyikannya dari Nirmala.


"Sudah?" tanya Vano.


Nirmala melipat tangan, cemberut, lalu membuang muka. "Kau tega sekali merahasiakan ini. Kalian memang sama-sama menyebalkan."


Vano menarik Nirmala ke dalam pelukannya. "Kau juga menyebalkan. Bisa-bisanya mengidolakan artis begitu berat sampai-sampai saat artis itu menikah, kau menangis untuknya. Padahal jika dilihat dari wajah, jelas lebih tampan aku. Dilihat dari harta, jelas lebih kaya aku. Dan jika dilihat dari kenyataan, lebih nyata aku. Kau dengan nya hanya bisa menghalu saja. Sungguh tidak masuk di akal."


Nirmala mendongak. Ternyata suaminya sudah memasang wajah cemberut juga. "Kau cemburu?"


Vano menunduk untuk melihat wajah istrinya. "Hm," jawabnya singkat.


Nirmala duduk tegak kemudian mencium bibir Vano sekilas. "Ouh cayangku. Telnyata cuamiku ini lagi cembulu ya. Ouw gemassnya iiih!" Nirmala mencubit kedua pipi Vano dengan gemas.


Dengan tingkah Nirmala yang begitu imut, Vano pun tidak jadi marah. Ia malah tertawa dan mencium seluruh wajah istrinya.


Kembali ke masa sekarang, setelah mendengar semua rencananya berjalan lancar. Nirmala langsung memeluk Vano. Dan Vano juga membalas pelukan Nirmala.


"Kau akan mendapatkan julukan baru," ucap Vano saat Nirmala sudah melepas pelukannya.


Nirmala mengernyitkan dahi. "Apa?"


"Ratunya biro jodoh," jawab Vano. "Kau sangat antusias untuk membuat mereka bersama."


Nirmala cemberut kemudian berjalan menuju sofa. "Aku tidak peduli. Yang penting aku ingin hati batu si Reno bisa mencair."


"Tidak semudah itu," ucap Vano sambil masih berdiri di tempatnya.


Nirmala menatap suaminya. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya. Apakah suaminya tidak setuju adiknya bersama Ara? Atau ada maksud yang lain?


Hari ini udah dulu ya🤗

__ADS_1


__ADS_2