Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 36


__ADS_3

"Vano."


Vano mengangkat wajahnya. "Nirmala."


Vano melepaskan pistolnya lalu berlari menghampiri istrinya. Melihat suaminya berlari ke arahnya, Nirmala juga berhambur memeluk suaminya itu. Mereka berpelukan dengan erat.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Vano yang masih memeluk Nirmala.


Nirmala mengangguk. "Aku baik-baik saja."


Beberapa detik kemudian Vano melepaskan pelukannya ketika mengingat Rafan yang belum mendapatkan perhitungan darinya. Ia berbalik dan ternyata Rafan sudah berdiri dengan bantuan dari gadis mungil yang berani melemparkan jarum padanya.


"Kau, urusan kita belum selesai." Kemudian Vano menunjuk gadis yang setia berdiri di samping Rafan. "Dan kau, aku tidak pernah segan-segan menghajar wanita seperti dirimu."


Gadis itu tersenyum. "Silahkan jika Anda mampu." Bukannya takut dengan tatapan Vano, gadis itu malah semakin menantang.


"Berani sekali gadis ini." Farhan sangat penasaran dengan gadis pemberani itu.


Vano mengepalkan tangannya. "Kau ...." Baru maju selangkah, tangannya ditahan oleh Nirmala.


"Vano, jangan sakiti mereka. Mereka tidak berniat buruk sama sekali."


Vano berbalik dan menatap lurus pada Nirmala. Ia memegang kedua bahu istrinya. "Apakah otakmu sudah diracuni? Jelas-jelas Rafan telah menculikmu, bagaimana mungkin mereka tidak memiliki niat buruk?"


Rafan angkat bicara. "Aku memang tidak memiliki niat buruk. Aku tidak berniat memisahkan kalian." Rafan menunduk. "Karena aku tahu, Nirmala sudah mencintaimu."


Vano menoleh pada Rafan.


"Aku menculiknya hanya untuk mendapatkan banyak waktu untuk berbicara. Akan tetapi, jika kau ingin menghajar ku, aku rela. Bagaimanapun aku sudah salah karena menggunakan cara yang tidak baik."


Vano bukanlah orang yang kejam dan keras kepala. Ia sangat menghargai penjelasan orang lain jika ia rasa hal itu perlu demi menghindari kesalahpahaman. Itulah yang ia lakukan sekarang, ia memberikan waktu untuk Rafan menjelaskan semuanya, bagaimanapun juga Rafan adalah temannya.


"Aku melakukan penculikan itu karena merasa ada kesempatan. Pada malam itu ...."


'Ting-tong'

__ADS_1


Rafan membuka matanya. Ia menarik ponsel dari pelukannya, di sana masih ada foto Nirmala yang tersenyum indah.


'Ting-tong'


Rafan bangun dan mengucek matanya. Dilihatnya jam dinding yang menggantung di ruang tengah. Ternyata jam menunjukkan pukul 11 malam. Sejak perceraiannya dengan Nirmala, Raran memecat semua pelayan di rumahnya. Maka dari itu sekarang ia sendiri yang harus membuka pintu.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" Kemudian ia teringat akan sesuatu. "Oh ya, aku ada janji dengan nyonya Raisa. Mungkin dia yang datang."


'Ceklek'


"Selamat malam, Rafan."


Rafan membuka pintu lebih lebar. "Selamat malam juga, Nyonya Besar. Silahkan masuk."


Raisa melangkahkan kaki ke dalam rumah Rafan yang cukup besar. Betapa terkejutnya ia begitu melihat kondisi ruang tamu. Tidak ada satupun sofa yang tertata dengan benar. Semuanya terbalik dan berserakan di sana-sini.


"Rafan, apa yang terjadi dengan rumahmu ini?" tanya Raisa sambil mengedarkan pandangannya.


Rafan tersenyum masam. "Biasalah." Rafan menghampiri satu sofa lalu memperbaiki posisinya. "Silahkan duduk."


Rafan mengangkat satu sofa lagi dan memperbaiki posisinya lalu duduk berhadapan dengan Raisa. "Tidak ada yang bisa saya lakukan lagi, Nyonya. Semuanya sudah terjadi, saya hanya bisa menyesali."


Raisa meletakkan tasnya di atas sofa. "Kau tahu tujuanku sengaja datang ke mari?" tanya Raisa.


Rafan menggeleng. "Tidak, Nyonya."


"Aku baru pulang dari arisan bersama teman-temanku. Aku sengaja tidak pulang lebih dulu karena aku ingin menemuimu. Langsung ke intinya saja. Jika kau ingin bersama Nirmala lagi, aku akan membantumu."


Rafan mengangkat kedua alisnya. Bagaimana mungkin mertuanya Nirmala ini berkata demikian.


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku mengatakan hal ini. Baiklah aku akan memberitahumu. Alasan pertama adalah aku tidak ingin memiliki menantu janda. Alasan kedua, aku tidak ingin posisiku sebagai nyonya besar terancam. Sekarang Nirmala tengah mengandung walaupun anak itu bukan anak kandung Vano."


Rafan mendengarkan dengan seksama.


"Dalam aturan keluarga Ravaldi. Tuan muda akan diangkat menjadi tuan besar jika sudah memiliki anak. Dan otomatis istri tuan muda tersebut pun akan menjadi nyonya besar. Sedangkan nyonya besar sebelumnya akan menjadi nyonya biasa. Karena aku ini hanya seorang ibu tiri bagi Vano, jika aku jadi nyonya saja, maka aku hanya akan mendapatkan harta yang sedikit, dan perintahku akan menjadi nomor dua setelah perintah nyonya besar. Aku tidak ingin hal itu terjadi."

__ADS_1


Rafan terdiam. "Jika begitu, apa yang harus saya lakukan. Mendapatkan Nirmala lagi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan," ucap Rafan sambil memijat kepalanya. Sebenarnya ia tidak ada niatan merebut Nirmala dari Vano.


Raisa tersenyum sinis. "Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja ada caranya. Pertama, kau harus menculik Nirmala dan membawanya jauh dari kehidupan Vano. Jika sudah seperti itu, kau tinggal memikirkan cara mendekati Nirmala dan merebut hatinya saja. Selesai."


Rafan menghela nafas panjang. Sungguh Raisa ini sangat aneh. Apakah wanita itu pikir menculik Nirmala dari rumah yang penjagaannya sangat ketat itu mudah dilakukan? Tentu saja tidak.


"Tapi, Nyonya. Itu sulit dilakukan."


Raisa mengeluarkan sebuah kertas. "Tidak ada yang sulit. Aku memiliki beberapa orang yang setia terhadapku selama bertahun-tahun. Di dalam keluarga Ravaldi, aku memiliki empat penjaga yang berpihak padaku."


Rafan menerima kertas yang Raisa sodorkan padanya. Ternyata kertas tersebut merupakan list daftar nama dan nomor teleponnya.


"Aku memiliki dua pelayan yang setia kepadaku. Tanpa sepengetahuan Vano, aku memilih juru komputer yang merupakan hacker, dan aku juga memiliki penjaga dan beberapa orang pembunuh bayaran terpercaya."


Mendengar pembunuhan bayaran, Rafan benar-benar terkejut. Ia baru tahu bahwa Raisa tidak bisa dianggap main-main. Ternyata di balik wajahnya yang tua dan keibuan, wanita ini sangat busuk dan kejam. Ia tidak habis pikir mengapa tuan besar Yuda Ravaldi bisa menjadikan wanita seperti ini sebagai istri.


Rafan setuju. Padahal dibalik itu ia memiliki niat yang berbeda dengan niat yang dimiliki oleh Raisa. Kemudian mereka langsung menyusun rencana. Setelah sepakat dengan rencana mereka, Raisa pamit pulang.


"Oh ya, aku memiliki bodyguard wanita yang sangat pemberani dan setia, aku akan mengirimkannya untuk membantumu. Tapi untuk yang satu ini kau harus membayarnya. Walaupun dia cadangan bodyguardku, akan tetapi ia lebih setia pada orang yang membayar pekerjaannya langsung."


Rafan mengangguk. "Baiklah, saya tunggu. Terima kasih, Nyonya Besar."


Rafan menarik nafas dan mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya ketika selesai bercerita.


"Dan ini adalah list namanya. Semoga bisa membantu mencari pengkhianat di rumahmu."


Vano menerima kertas tersebut.


"Tuan Rafan! Apa yang Anda lakukan? Anda berkhianat!" Wanita itu berteriak keras. Ia paling benci dengan pengkhianatan.


Vano menatap gadis mungil itu. "Pengawal, tangkap gadis itu. Aku ingin memberikan dia pelajaran karena sudah membuat tangan kananku mati rasa sementara."


Gadis itu membulatkan matanya kemudian mengubah sorot matanya menjadi lebih tajam. "Silahkan jika kalian bisa." Kemudian ia tersenyum sinis.


Hai-hai-hai, tenang aja ya, kalau jadi nanti malam sely up lagi, tapi gak janji ya. Kalau sempet nanti up lagi😊

__ADS_1


__ADS_2