
Di ruang tengah, Vano berdiri di depan semua pelayan dan penjaga. Seperti biasanya, di belakangnya ada Farhan yang setia berdiri menemani. Malam itu tidak seperti malam biasanya. Di samping Vano ada setumpuk kotak hadiah.
Semua pelayan dan penjaga tidak bisa menebak ada apa dan untuk apa semua kotak hadiah yang menumpuk seperti gunung. Walaupun sangat penasaran, mereka sama sekali tidak berani untuk bertanya sebelum diperintahkan untuk berbicara.
"Aku memiliki pengumuman penting. Seharusnya aku mengumumkan hal ini bersama dengan nyonya besar. Akan tetapi nyonya besar membutuhkan waktu istirahat, sehingga aku tidak mengizinkan dirinya turun bersama ku."
Mendengar ucapan Vano, para pelayan dan penjaga mengira bahwa nyonya besar mereka sedang sakit.
"Tanpa membuang banyak waktu, aku ingin menyampaikan bahwa nyonya besar Nirmala tengah mengandung calon tuan kecil ataupun nyonya kecil," lanjut Vano.
Semua pelayan ingin mengangkat kepala mereka untuk tersenyum bahagia, namun mereka tahu itu tidak akan pernah bisa. Mereka hanya bisa menunduk dan tersenyum bahagia sendiri.
"Karena kalian telah setia pada ku dan juga nyonya besar, telah menjalankan perintahku dengan baik, menjaga nyonya besar hingga akhirnya nyonya besar mengandung, maka dari itu aku pikir kalian berhak mendapatkan hadiah. Di dalam kotak tersebut ada uang tunai dan juga hadiah lainnya."
Vano menoleh sedikit pada Farhan. Sebagai sekretarisnya, Farhan tentu tahu apa yang Vano perintahkan tanpa harus tuan besarnya berkata.
"Setiap kotak hadiah sudah diberi nama. Setelah ini silahkan ambil kotak hadiah sesuai nama kalian masing-masing," ucap Farhan tegas.
"Baik, Tuan," ucap seluruh pelayan dan penjaga secara secara bersamaan.
Vano berbalik dan berjalan menuju lantai atas. "Pak Farhan, panggilkan kepala pelayan serta sopir pribadiku ke ruangan pertemuan."
Farhan mengangguk. "Baik, Tuan Besar."
Beberapa menit kemudian, Vano sedang duduk santai di sofa panjang. Di belakangnya ada Farhan yang berdiri dengan setia. Sedangkan di depannya ada kepala pelayan yang sudah berusia 46 tahun. Sejak duduk berhadapan dengan tuan besarnya, kepala pelayan tersebut belum berani mengucapkan satu patah katapun.
Vano duduk bersilang kaki lalu menarik nafas. "Apakah masih lama?" tanyanya pada Farhan.
"Lima menit lagi dia akan datang, Tuan Besar. Perjalanan dari rumahnya menuju rumah ini membutuhkan waktu 15 menit."
Vano diam tanpa berkata-kata lagi. Karena hari ini ia sedang dalam kondisi hati yang bagus, maka ia tidak akan merusaknya dengan marah-marah.
'Tok-tok-tok'
"Sepertinya itu dia," ucap Farhan.
"Persilakan dia masuk," perintah Vano.
"Baik, Tuan Besar."
Dengan langkah lebar, Farhan menghampiri pintu lalu membukanya. "Cepat masuk, tuan besar Vano sudah menunggu sejak tadi."
Tanpa berbicara sepatah kata pun, sopir pribadi tersebut mengangguk dan berjalan melewati Farhan.
__ADS_1
Setelah berdiri di hadapan tuan besarnya, sopir pribadi menundukkan kepala. "Maaf atas keterlambatan saya, Tuan Besar."
Vano menurunkan kaki kanannya dari kaki kiri kemudian duduk tegak. "Duduklah, aku sedang tidak ingin mempermasalahkan keterlambatan mu."
Tanpa banyak berbicara, sopir pribadi itu mengangguk kemudian duduk dengan jarak yang cukup jauh dari kepala pelayan.
Hening menyelimuti ruangan. Tidak ada yang berani berbicara sebelum tuan besar mereka berbicara. Tak lama kemudian Vano pun membuka suara.
"Kepala pelayan, apakah kau masih ingat dengan percakapan tiga hari yang lalu?" tanya Vano.
Padahal Vano sama sekali tidak mengintimidasi, akan tetapi ketegasannya yang begitu besar membuat semua ucapannya seakan tengah menekan musuh.
Kepala pelayan itu mengangguk. "Saya masih ingat, Tuan Besar."
Vano melirik pada Farhan, dan Farhan langsung paham dengan lirikan tersebut.
Farhan berjalan menuju laci meja yang ada di sudut ruangan. Farhan membuka laci tersebut kemudian mengambil selembar kertas. Setelah itu ia kembali pada Vano.
Vano mengambil kertas yang sekretarisnya berikan, kemudian menyodorkannya pada kepala pelayan. "Aku bukan orang yang mudah melupakan janji, sekalipun itu pada pekerja di rumah ini."
Kepala pelayan tidak langsung menerima kertas yang disodorkan oleh Vano. Matanya membesar ketika tahu maksud dari Vano. Bibirnya bergetar dan tubuhnya berkeringat dingin.
"Tu-Tu-Tuan Besar, sa-saya tidak bersungguh-sungguh waktu itu. Dan ... tebakkan saya bukanlah sebuah mantra agar nyonya besar hamil. Ja-jadi untuk apa uang sebanyak itu. Saya tidak ingin merugikan Anda, Tuan Besar."
"Kau memang sangat setia dan baik. Aku menjadi semakin yakin memberikan uang ini padamu. Ambilah, aku tidak akan bisa tenang jika tidak bisa menepati ucapanku sendiri."
Farhan menatap kepala pelayan tersebut. Kebetulan sekali kepala pelayan tersebut juga melirik pada Farhan. Pria itu memberikan isyarat pada kepala pelayan agar menerima cek tersebut. Jika tidak, mungkin kepala pelayan itu bisa merusak suasana hati tuan besar.
Kepala pelayan tersebut menunduk. "Terima kasih, Tuan Besar. Saya akan menerima uang ini."
Kepala pelayan tersebut mengambil selembar cek dengan rengkuh yang sangat sopan.
"Oh ya, satu lagi. Aku sudah memikirkan hal ini. Usiamu sudah hampir setengah abad, apakah kau ingin berhenti bekerja? Karena kau adalah kepala pelayan yang paling setia, aku akan memberikan uang pensiun setiap bulannya."
Mendengar ucapan tuan besar, kepala pelayan tersebut hampir saja mengangkat kepalanya akan tetapi ia kembali menunduk.
"Tapi--"
"Sudah waktunya kau beristirahat," potong Vano.
Kepala pelayan tersebut menunduk semakin dalam. "Maaf Tuan Besar, walaupun saya sudah tua, akan tetapi saya tetap ingin mengabdi pada keluarga besar Ravaldi. Nyonya besar sebelumnya, tuan besar sebelumnya, dan juga Anda sudah sangat berjasa. Izinkan saya bekerja di sini sampai saya benar-benar sudah tua."
Hening kembali hadir ketika Vano berpikir cukup lama.
__ADS_1
"Bagaimana pendapatmu, Pak?" tanya Vano pada Farhan.
"Menurut saya tidak ada salahnya jika kepala pelayan masih sanggup untuk bekerja. Mencari pekerja yang setia dan dapat dipercaya seperti dia sangatlah sulit. Kita akan kesulitan mencari penggantinya nanti," jawab Farhan.
Vano mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Kau masih bisa bekerja di rumah ini."
Kepala pelayan itu tersenyum senang. "Terima kasih, Tuan besar. Terima kasih banyak."
"Kau boleh keluar sekarang. Aku masih ada urusan dengan sopir pribadiku," ucap Vano dengan tegas seperti biasanya.
"Baik, Tuan Besar."
Kepala pelayan mundur beberapa langkah, setelah sudah dekat dengan pintu keluar, barulah ia berbalik dan benar-benar keluar dari ruang pertemuan yang sangat jarang ada pelayan yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah pintu ditutup dari luar, Vano beralih fokus pada sopir pribadi yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia memandangi sopirnya dengan lekat.
"Kakak iparmu sudah mengandung. Apakah kau siap jika aku memberitahu dia tentang kebenaran ini?" tanya Vano pada sopir pribadinya.
Sopir pribadi yang sedari tadi menunduk kini mengangkat kepalanya. "Aku rasa masih belum waktunya," jawab sopir pribadi dengan singkat.
Farhan mengangkat alisnya. "Mengapa?" tanya Farhan.
"Apakah perlu aku mengatakan alasannya?" tanya sopir pribadi dengan nada yang mampu membuat orang kesal.
Vano menyadarkan badannya pada sofa. "Katakan!" perintah Vano dengan santai namun tegas.
"Aku masih ada satu urusan," jawab sang sopir dengan singkat.
"Urusan ap--"
"Baiklah jika itu maumu," potong Vano ketika Farhan akan berbicara. "Tapi ingat satu hal, selama identitasmu belum diketahui oleh orang, kau tetap harus berlaku seperti biasanya. Hanya di rumahmu dan di ruangan ini kau boleh memanggilku kakak."
Sopir pribadi itu berdiri. "Aku akan selalu berhati-hati sejak dulu. Sampai-sampai aku terbiasa memanggil mu tuan."
Sang sopir berbalik dan akan pergi. "Jika tidak ada hal yang ingin disampaikan lagi, aku akan pergi."
"Ada," ucap Vano.
Sang sopir menghentikan langkahnya kemudian menghadap Vano.
"Bantu pak Farhan mencarikan pengawal pribadi untuk kakak iparmu," lanjut Vano.
Sopir pribadi itu tersenyum di balik topinya. "Baiklah. Itu perkara yang mudah. Akan tetapi aku ingin meminta uang tunai 500 juta."
__ADS_1
Vano menatap tajam pada sopir pribadi yang merupakan adiknya.