Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 30 (S2)


__ADS_3

Semua orang menyambut di depan pintu. Nirmala dan Ara yang berdiri paling depan. Apa yang mereka sambut? Tentu saja kedatangan tuan besar Ravaldi, Govano Ravaldi. Tiga hari Vano tidak pulang ke rumah karena sibuk mengurus kasus pembunuhan yang terjadi di kantornya.


Pada hari pembunuhan, Reno juga dipanggil oleh Vano. Dua pria itu sangat sibuk dalam tiga hari, bahkan untuk menelepon ke rumah saja mereka tidak sempat. Dan baru tadi malam Farhan menelepon Nirmala dan mengatakan pagi ini mereka akan pulang.


Sebagai seorang istri yang merindukan suaminya, Nirmala menyiapkan penyambutan suami seperti menyambut seorang presiden. Dimulai dari hidangan makanan, dekorasi rumah, dan pelayanan pelayan, semuanya diatur sedemikian rumah.


Dua security membuka gerbang selebar-lebarnya. Tak lama kemudian terlihat dua mobil hitam yang sama-sama mewah memasuki pekarangan rumah dan disusul mobil putih. Kemudian dua mobil hitam berhenti di depan teras, sedangkan mobil putih parkir jauh di tempat parkir.


Nirmala yang mengetahui salah satu mobil hitam itu adalah mobil suaminya langsung tersenyum lebar. Ia menghampiri mobil tersebut ketika dua pekerja membukakan pintu belakang mobil. Seorang pria yang gagah dan tampan turun.


"Sayang." Nirmala langsung memeluk suaminya dengan erat.


Vano yang mendapat sambutan dari istrinya langsung membalas pelukan itu. "Kau sangat merindukan ku ya?" Vano tersenyum. Tidak terlihat wajah lelah setelah ia bertemu dengan istrinya.


Farhan turun dari mobil. Ia tersenyum kecil melihat tuan besarnya. "Padahal di kantor dan di kantor polisi, tuan besar terlihat lelah dan banyak masalah. Tapi setelah melihat nyonya besar, wajah itu langsung berubah cerah. Itulah kekuatan cinta."


Nirmala melepaskan pelukannya, ia menoleh ke arah mobil hitam. "Itu mobil siapa?" tanya Nirmala.


Vano mengikuti arah pandang Nirmala. "Kau akan segera lihat."


Benar saja, orang yang ada di dalam mobil membuka pintu bagian pengemudi. Seorang pria yang tampan keluar. Pakaiannya sangat rapi dengan setelah jas yang sangat mahal. Pria itu tersenyum lebar pada Nirmala.


"Kakak ipar." Pria itu langsung berjalan menghampiri Nirmala.


Seorang gadis yang berdiri tegap di teras memperhatikan pria itu. "Siapa dia? Dia tampan dan terlihat kaya, tapi dia tidak terlihat seperti kakak beradik yang dingin itu. Dia terlihat sangat periang."


Ara bertanya-tanya dalam hati. Ia memang tidak tahu siapa yang berjabat tangan dengan Nirmala. Yang ia tahu orang tersebut memanggil Nirmala dengan sebutan kakak ipar. Tidak mungkin pria itu adalah adik Vano, karena menurut yang ia tahu Vano tidak memiliki adik selain Reno.


Mengingat Reno, tiba-tiba Ara ingin melihat pria itu. Bagaimana kondisinya setelah tiga hari sangat sibuk. Ia khawatir pria itu akan sakit lagi mengingat terakhir kali Reno bekerja dalam kondisi tubuh yang baru saja sembuh dari demam.


"Ini siapa?" Pria yang belum Ara ketahui namanya ternyata sudah berdiri di depan Ara bersama dengan Nirmala dan Vano juga Farhan.


"Dia adalah pengawal pribadiku. Namanya Ara," jawab Nirmala sambil tersenyum pada Ara.


Ara menunduk memberi hormat.

__ADS_1


"Cantik juga manis, dan terlihat tegas juga," ucap pria itu sambil memberikan senyuman manis.


Vano menepuk bahu pria itu. "Cepat masuk."


Nirmala dan Ara berjalan di belakang tiga pria itu. Dengan begitu Ara memiliki kesempatan untuk bertanya.


"Nyonya Besar, siapa dia?" tanya Ara yang sedari tadi sudah sangat penasaran.


"Dia adalah Rareno Ravaldi, adik iparku. Maksudku adik sepupu ipar," jawab Nirmala.


Ara mengerutkan keningnya. "Reno?" Ara bingung karena namanya sama dengan Reno.


"Dia adalah satu-satunya anggota keluarga yang langsung menerima keberadaanku sebagai istri tuan besar Vano. Oh ya, dan kakak sepupu iparku juga. Reno yang ini memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan Reno adik kandung tuan besar," jawab Nirmala.


Ara hanya mengangguk saja. Ia ingat Nirmala pernah bercerita tentang awal pernikahannya. Saat Vano masih sangat dingin dan Raisa sangat tidak menyukainya, ada adik ipar dan kakak ipar yang menyambutnya dengan hangat.


Sebelum pintu utama ditutup, Ara menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, ia ingin melihat Reno. Tapi sepertinya Reno belum keluar juga dari dalam mobil.


"Apakah dia akan langsung pulang ke rumahnya?"


* * * *


Nirmala mengerutkan kening. "Pengacara? Apakah kau baru saja selesai menangani kasus pembunuhan di kantor Vano?" tanya Nirmala.


Reno melirik ke arah Vano, dan dilihatnya Vano mengangguk. Ia kembali melihat ke arah Nirmala.


"Kak Vano dituduh melakukan pembunuhan berencana. Karena pada saat pembunuhan itu terjadi, semua sistem keamanan mati. Tidak ada bukti sama sekali, hanya jasad, pisau tak bersidik jari, serta kertas tulisan yang menjadi bukti bahwa itu pembunuhan," jawab Reno.


Ara berdiri agak jauh dari Nirmala. Ia ikut mendengarkan cerita Reno sepupunya Vano.


"Jadi pembunuhnya tidak diketahui sampai sekarang?" tanya Nirmala.


"Polisi tidak tahu dan menutup kasus ini karena terlalu mustahil untuk menemukan pembunuhnya. Tapi kami tahu." Kali ini Vano yang menjawab.


Nirmala dan Ara memasang fokus tingkat tinggi. "Siapa?" tanya Nirmala dengan antusias karena sangat penasaran.

__ADS_1


"Rahasia," jawab Vano santai.


Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang datang. Ara menoleh ke sumber suara. Ternyata orang yang datang adalah Reno adik kandung Vano. Reno berjalan melewati ruang tengah, ia menuju kamar lama Vano.


Ara terkejut melihat jalan Reno yang terpincang-pincang. Reno juga berjalan sambil memegang perutnya. Ara yang memperhatikan Reno juga tahu bahwa di beberapa bagian wajah pria itu ada luka dan memar.


Entah ada dorongan dari mana, kaki Ara langsung melangkah mengikuti Reno dari belakang.


'Ceklek'


Reno yang baru saja duduk ditepi ranjang menoleh ke arah pintu. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.


Ara masuk dan menutup pintu lalu berjalan ke arah Reno. Tanpa banyak bicara dan tanpa meminta izin pada Reno, ia melepas topi yang Reno kenakan.


"Ada apa denganmu?" Ara terkejut melihat wajah Reno yang babak belur.


Reno diam tidak menjawab.


Mata Ara beralih ke kaki Reno. Ternyata kaki pria itu diperban. Dan sekarang mata Ara beralih pada bagian tubuh yang selalu dipegang oleh Reno.


Tanpa ragu, Ara menyingkap kemeja depan Reno. Reno yang mendapat perlakuan seperti itu ingin menghindar, namun seluruh tubuhnya sangat sakit.


"Kau terluka parah." Ara berbicara dengan nada terkejut bercampur khawatir. Tangannya menyentuh luka memar di perut Reno. Luka itu jelas-jelas luka cambukan.


"Ssh ...." Reno meringis dan menepis tangan Ara. "Sakit."


Ara langsung mengangkat tangannya dari kulit Reno. "A-a-apakah sesakit itu?" tanya Ara.


Jika Reno sudah meringis dan tidak ingin dipegang, itu artinya benar-benar sakit.


"Apakah kau pikir ini terasa geli?" tanya Reno setelah berhasil menahan rasa sakitnya.


Ara melihat ke arah nakas. Ia berjalan ke sana, membuka laci, mengambil kotak P3K, lalu duduk di samping Reno. Reno hanya memperhatikan Ara saja.


"Pasti akan terasa sangat sakit, namun percayalah, ini akan membuat lukamu segera membaik," ucap Ara ketika sudah menetaskan alkohol pada kapas untuk membersikan luka.

__ADS_1


Saat Ara membersikan luka di perut dan punggungnya, Reno benar-benar merasa sangat sakit, akan tetapi ia berusaha menahan ekspresi dan sebisa mungkin tidak merintih kesakitan. Ia juga tahu bahwa gadis yang mengobatinya ini berusaha lembut agar tidak sakit.


"Dia begitu perhatian padaku. Apakah aku pantas mendapatkan perlakuan baik seperti ini?" Reno melupakan rasa sakitnya saat ia memandangi wajah cantik Ara.


__ADS_2