
"Apa kabar, Nirma?" Rafan membuka percakapan.
Nirmala mengangguk. "Aku ba ... ik." Nirmala kesulitan untuk menyelesaikan kalimatnya karena tenggorokannya tercekat akibat menahan tangis.
Rafan berdiri, bendungan air matanya juga hampir rubuh. Ia mendekati sofa di depannya lalu duduk di sana. Ia memegang bahu Nirmala lalu membawa mantan istrinya ke dalam pelukan.
"Maafkan aku."
Dari beberapa bulan yang lalu, hanya kata maaf yang mampu Rafan ucapkan. Ia sudah membuat Nirmala menderita hanya karena hutangnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, uang 50 milyar sudah ia gunakan, mana mungkin bisa ia kembalikan dengan cepat.
Nirmala memeluk Rafan dengan sangat erat. "Aku baik-baik saja di sini. Vano memperlakukanku dengan baik. Tapi hatiku tidak baik-baik saja. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu. Hisk."
Nirmala menangis sesegukan di dalam pelukan pria yang ia cintai. Akhirnya ia bisa memeluk kembali tubuh pria yang pernah ia miliki sebelumnya.
"Aku janji padamu, secepatnya aku akan melunasi hutangku. Kita akan bersama lagi, aku janji." Rafan mencium pucuk kepala Nirmala dengan penuh perasaan.
Nirmala mengangguk, walaupun sakit, tapi ia percaya Rafan akan membawanya pulang dan hidup bahagia selamanya. "Jangan kecewakan aku, Raf," pinta Nirmala.
Rafan mengangguk. "Ya."
Sedangkan di ruangan yang penuh dengan berkas yang tertata rapi di rak, Vano menghela nafas berat. Dari layar komputer ia bisa melihat dan mendengarkan apa yang terjadi di ruang tamu. Dengan jari telunjuknya ia menekan salah satu tombol dan layar komputer pun langsung menghitam.
Vano menyandarkan punggungnya ke kursi, menengadah dan menatap langit-langit. Hanya ada dirinya di ruang kerja itu. Matanya menerawang jauh, seperti ada beban berat yang ia lihat di sana. Dengan sekali gerakan ia berdiri, bersamaan dengan itu ia menyapukan tangannya di atas meja kerja hingga buku-buku dan vas bunga jatuh ke lantai.
"Akh!" Teriakkan itu seperti cara untuk membuang semua masalah yang ia pikirkan.
Beberapa menit berlalu, Vano menuruni anak tangga dengan santai. Baru setengah jalan, ia melihat Nirmala datang untuk menaiki anak tangga.
"Rafan mana?" tanya Vano dengan nada seperti biasanya.
"Sudah pulang," jawab Nirmala kemudian melewati Vano yang masih berhenti di tengah-tengah tangga.
Vano diam sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya. Rencana ia akan ke belakang rumah untuk mendatangi kediaman Farhan.
* * * *
__ADS_1
Sudah pukul 10.30 malam, tapi Nirmala belum bisa memejamkan mata sedetikpun. Wajah Rafan kembali teringat di kepalanya. Pelukan hangat pria yang ia cintai masih terasa sampai kini. Kini ia jadi merindukan pelukan Rafan yang dulu selalu memeluknya.
Sesekali ia melihat ke arah pintu yang tertutup rapat. "Ke mana Vano? Sejak tadi sore belum kembali."
Baru saja menanyakan keberadaan suaminya, pintu kamar dibuka dari luar. Vano masuk dengan ekspresi seperti biasanya, datar dan dingin. Di tangan kanannya membawa selembar kertas putih.
"Belum tidur?" tanya Vano.
Tatapan Vano sangat sulit diartikan. Apakah itu tatapan peduli, atau tatapan tidak acuh, semuanya sulit dibedakan karena Vano memang tidak pernah menunjukkan perubahan ekspresi.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Nirmala jujur.
Vano berjalan mendekat ke ranjang. Ia meletakan kertas yang ia bawa tepat di samping Nirmala. Vano berbalik badan, tidak menatap Nirmala. "Aku bukan pemisah dua manusia yang saling mencintai. Pergilah, kembalilah padanya."
Nirmala terkejut mendengar ucapan Vano. Dengan tangan gemetar ia mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Govano Ravaldi
Pihak pertama : Govano Ravaldi.
*Pihak pertama telah menyatakan bahwa hutang 50 milyar rupiah atas nama Rafan Gultara telah dianggap lunas. Maka dari itu jaminan yang telah diberikan pikah kedua terhadap pihak pertama akan dikembalikan.
Pihak pertama maupun pihak kedua berjanji tidak akan menuntut perjanjian tertulis yang dahulu ke pengadilan*.
Nirmala menatap kertas tersebut dan Vano secara bergantian. "Apa maksud dari semua ini?" tanya Nirmala.
Vano berbalik pada Nirmala. "Apakah tulisan di kertas tersebut buram? Aku telah menganggap hutang Rafan Gultara lunas. Kau bisa kembali padanya, dan Rafan tidak akan kekurangan uang lagi dan tidak akan menjadikan dirimu sebagai jaminan lagi."
"Jadi, selama ini bukan kau yang menginginkanku menjadi jaminan?" tanya Nirmala yang baru tahu kebenarannya.
Vano mengangkat sebelah garis bibirnya. "Untuk apa aku menginginkan istri orang? Rafan adalah temanku, aku hanya membantu. Dan untuk apa aku menahanmu di sini jika setiap harinya kau akan menangis?"
"Ternyata Vano orang yang sangat baik. Aku telah salah menilainya dengan berpikir dia ingin merebut istri orang lain."
Vano berbalik. "Besok aku akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
"Vano." Vano berbalik ketika mendengar Nirmala memanggilnya. Tanpa ia duga, ia mendapatkan pelukan mendadak dari Nirmala.
"Terima kasih, Vano." Nirmala menangis bahagia.
Tangan Vano tidak bergerak, hanya lurus ke bawah tanpa ingin membalas pelukan dari Nirmala. "Berhenti seperti ini. Apakah kau ingin aku berubah pikiran?"
Refleks Nirmala melepaskan Vano laku menunduk. "Maaf."
"Pergilah beristirahat." Vano kembali berbalik dan keluar kamar.
Pukul 01.20 pagi, Vano kembali ke kamarnya. Dilihat dari wajahnya, sepertinya Vano sangat kelelahan. Tapi tentu saja bukan lelah fisik, melainkan lelah pikiran. Vano baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya yang ia bawa ke rumah.
Mata Vano melihat ke arah tempat tidur. Di sana terbaring Nirmala tanpa selimut. Selangkah demi selangkah ia mendekati tempat tidur itu dan akhirnya bisa melihat wajah Nirmala dengan jelas.
Walaupun besok ia akan mengantarkan Nirmala kembali pada Rafan, namun sampai detik ini ia belum resmi menceraikan Nirmala. Hanya ucapan 'kembalilah padanya' yang secara tidak langsung ingin menjatuhkan talak.
Vano duduk di sisi tempat tidur, memandang wajah cantik Nirmala yang sedang tertidur dengan damai.
"Untuk pertama dan terakhir kalinya, aku ingin merasakan memiliki istri dalam pelukan."
Vano menaikan kedua kakinya ke atas tempat tidur. Dengan perlahan ia berbaring di samping Nirmala. Tangan kanannya terulur untuk memeluk pinggang Nirmala.
Ada senyuman yang sangat tipis di sudut bibir Vano. "Selamat malam." Kemudian ia memejamkan mata dan mulai terlelap.
Matahari mulai menyingsing, dua insan yang saling berpelukan, salah satunya membuka mata dengan perlahan.
Semalam Nirmala bermimpi dipeluk oleh Rafan sehingga ia tidur nyenyak sekali. Namum saat ia membuka mata dengan sempurna, ya benar saja ia sedang dipeluk, tapi bukan oleh Rafan, melainkan ....
"Vano?"
Nirmala ingin langsung bangkit, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat wajah Vano yang terlihat sangat damai dalam mimpi paginya.
Bulu mata yang lebat dan panjang terlihat jelas ketika pria itu memejamkan mata. Saat terlelap seperti ini, Vano yang dingin sepertinya sedang pergi keluar bumi, dan meninggalkan Vano yang memiliki wajah tampan dan hangat.
"Apa aku bisa meninggalkan nya begitu saja setelah dia begitu berjasa untuk Rafan?"
__ADS_1