
Vano menatap gadis mungil itu. "Pengawal, tangkap gadis itu. Aku ingin memberikan dia pelajaran karena sudah membuat tangan kananku mati rasa sementara."
Gadis itu membulatkan matanya kemudian mengubah sorot matanya menjadi lebih tajam. "Silahkan jika kalian bisa." Kemudian ia tersenyum sinis.
"Sombong sekali. Maju." Ketua bodyguard memerintahkan dua bodyguard saja untuk menangkap gadis bertubuh mungil itu.
Hal tak terduga terjadi dan sukses membuat Vano juga terkejut bukan main. Bagaikan sedang melihat komik fantasi tentang reinkarnasi putri kerajaan yang memiliki kekuatan super tewas dan akhirnya masuk ke tubuh wanita modern.
"Tidak mungkin." Farhan membelalakkan matanya ketika dua bodyguard terpental jauh hanya dengan satu tendangan saja.
Jika dilihat dari sorot matanya, gadis mungil dan terlihat polos diluar ini sebenarnya sangat berbahaya. Farhan mengamati mata gadis itu yang selalu waspada. Mungkin jangkauan kewaspadaannya bisa mencapai 1 km. Pantas saja Raisa mengandalkan gadis mungil ini.
"Maju sepuluh," perintah ketua bodyguard lagi.
Sesuai dengan yang diperintahkan, sepuluh bodyguard maju untuk menangkap gadis itu. Kali ini bodyguard terlihat marah besar karena gadis itu sangat sombong dengan kemampuan tendangannya.
Kali ini barulah terjadi pertempuran yang sangat seru. Gadis itu cukup tertelan oleh sepuluh bodyguard berbadan tinggi dan tegap. Akan tetapi tetap saja sulit bagi bodyguard itu untuk menangkap sang gadis karena ia sangat lincah dan penuh tenaga.
"Vano, suruh mereka berhenti."
Nirmala menarik-narik lengan kemeja Vano untuk mengambil perhatian suaminya yang sedari tadi fokus melihat pertarungan.
Vano menoleh pada Nirmala kemudian menggeleng. "Tidak, kali ini mereka tidak bisa berbuat sesuka hati mereka."
"Tapi Vano, mereka sungguh tidak mencelakai aku." Nirmala menggenggam tangan Vano meminta suaminya untuk berhenti.
Vano tidak menjawab, ia hanya memperhatikan wajah istrinya. Kemudian ....
"Berhenti!"
Suara Vano mampu mengalahkan suara keributan yang terjadi akibat pertarungan antara si gadis dengan para bodyguard. Si gadis itu menghentikan pukulannya lalu berdiri tegak. Kini semua mata mengarah pada Vano, kecuali para bodyguard yang tahu peraturan tidak boleh menatap wajah tuan secara langsung.
"Karena istriku meminta untuk mengakhiri ini, maka berhentilah kalian." Vano beralih pada Rafan. "Dan kau, Rafan. Kali ini aku melepaskanmu, tapi tidak untuk lain waktu."
Kini giliran Vano menatap gadis itu. "Kau, aku tetap akan membawamu untuk diinterogasi mengenai pengabdianmu pada Raisa." Vano menarik tangan Nirmala. "Ayo kita pergi."
Rafan menghela nafas panjang. Ternyata Nirmala benar-benar sudah membangun keluarga baru dengan Vano. Buktinya saja saat melihat Vano, wanita itu terlihat sangat lega dan bahagia. "Mungkin ini adalah yang terbaik untukmu. Semuanya sudah direncanakan oleh Tuhan, kau bukan jodohku."
Vano dan Nirmala sudah masuk ke dalam mobil, dan lainnya masih akan bersiap-siap. Namun terjadi keributan lagi. Sang sopir pribadi memejamkan mata karena sudah lelah menghadapi keributan. Semalaman tidak tidur membuat moodnya benar-benar buruk.
"Tuan Muda, saya akan membereskan keributan itu."
__ADS_1
Vano mengangguk. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh sopirnya, yang jelas sekarang ia sudah lega melihat Nirmala duduk di sampingnya tanpa ada yang terluka sedikitpun.
'Buk!'
'Buk!'
'Buk!'
"Kalian pikir aku akan ikut dengan kalian begitu saja? Kalian tidak bisa membawaku hidup-hidup."
Gadis itu sungguh keras kepala. Ia benar-benar tidak ingin ikut dengan Vano. Bahkan sepuluh bodyguard sudah terkapar di lantai akibat perlawanannya yang baru saja berlangsung.
Farhan menunjuk ketua bodyguard untuk turun tengan sendiri. "Kali ini gadis mungil ini tidak akan bisa mengalahkan ketua bodyguard."
Belum sempat maju, seseorang menepuk bahu ketua bodyguard. Saat menoleh, ternyata orang tersebut adalah sopir pribadi. "Apa yang kau lakukan di sini? Cepat bawa tuan muda dan nyonya muda pulang. Jika kau lambat, tuan muda akan murka."
"Diam saja," ucap sopir tersebut.
Farhan juga sebenarnya bingung apa yang akan dilakukan oleh sopir pribadi itu. Seharusnya pria itu sudah membawa tuan muda dan nyonya muda pulang.
Tanpa banyak bicara, sopir pribadi masuk ke ruang tamu. Ia berdiri beberapa meter dari gadis yang disekelilingnya terdapat pada bodyguard yang terjatuh di lantai.
"Kau, siapa kau? Badanmu lebih kecil dari pada bodyguard ini. Apakah kau masih punya nyali?"
"Ikuti kami, atau kau tidak akan bisa berjalan untuk satu minggu."
Farhan mengangkat kedua alisnya. Ucapan sopir pribadi itu sedikit aneh. Sayangnya ia tidak bisa memastikan bagaimana ekspresi yang dikeluarkan oleh sopir pribadi itu karena wajahnya terhalang topi.
"Aku tidak pernah takut pada siapapun, termasuk kau!" Gadis itu terlihat kesal dengan sikap dingin dan gaya arogan yang sopir pribadi itu tunjukkan.
"Baiklah." Sopir pribadi itu menggerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar gadis itu maju.
Gadis tersebut memasang kuda-kuda yang sangat kokoh. Sungguh siapa yang akan menyangka gadis mungil itu memiliki tenaga ekstra yang luar biasa. Padahal otot lengannya pun tidak terlihat.
Gadis itu mengarahkan tinju tepat pada wajah sopir pribadi. Dan sopir pribadi itu bukannya mundur untuk menghindari, tapi malah maju selangkah, memiringkan badannya sedikit, mengulurkan tangan ke belakang gadis itu.
'Tuk-tuk'
'Tuk-tuk'
Tangan kanan menotok bagian punggung, dan tangan kiri menotok bagian depan. Bersamaan dengan itu sang gadis langsung terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
"Hei! Apa yang kau lakukan padaku?!"
Sopir pribadi itu tidak menjawab, ia berbalik dan langsung pergi meninggalkan gadis itu. Saat melewati Farhan, ia berkata, "Tinggal bawa saja." Setelah itu melanjutkan langkahnya.
Farhan terperangah, ia tidak percaya dengan kemampuan sang sopir pribadi itu.
Sang sopir masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Tangannya sudah bersiap di depan kemudi. "Maaf lama menunggu."
"Apakah sudah selesai?" tanya Nirmala.
Sopir pribadi itu mengangguk. "Sudah, Nyonya Muda."
"Baiklah, jalan," perintah Vano.
Sesuai dengan yang diperintahkan, sang sopir menyalakan mesin mobil dan langsung meninggalkan vila mewah tersebut.
Sepanjang perjalanan tangan Vano tidak pernah melepas tangan Nirmala sedikitpun. Karena tangan Vano sangat hangat, telapak tangan Nirmala sampai berkeringat. Awalnya Nirmala diam saja, akan tetapi rasanya menjadi sangat tidak nyaman, ia mulai merasa pegal.
"Vano, bisakah kau melepaskan tanganku sebentar? Aku merasa pegal di pergelangan tangan."
Vano menoleh pada tangannya. "Oh? Oh ya, maaf. Aku terlalu takut kehilangan dirimu lagi."
Nirmala tersenyum. "Aku sudah ada di sini, kau tidak perlu khawatir lagi."
Vano melepaskan tangannya, akan tetapi tidak sepenuhnya, ia malah mengangkat tangan itu ke udara. Ia memeriksa tangan tersebut lalu menciumnya. Setelah selesai, ia beralih pada bahu Nirmala dan menghirup di sana. Tentu saja hal itu membuat Nirmala kaget.
"Vano, apa yang kau lakukan?" tanya Nirmala sambil mendorong Vano. Sungguh ia malu pada sang sopir yang sedari diam seperti patung.
"Kau dipeluk Rafan?" tanya Vano.
Nirmala memalingkan wajahnya. "Pria ini, mengapa dia bisa tahu?" Nirmala berdeham pelan. "Ya, memangnya mengapa? Hanya sekedar pelukan perpisahan, tidak lebih."
Sudut mata Vano langsung berubah dingin. "Baiklah, untuk sekarang aku maafkan. Lain kali selain aku, aku tidak ingin satu pria pun memelukmu. Paham?"
'Ciit.'
Sopir pribadi itu mengerem mendadak. Tentu saja Vano yang moodnya sedang tidak bagus menjadi kesal.
"Ada apa?" tanya Vano dengan nada kesal.
"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya terkejut akan sesuatu, maafkan saya." Sopir itu langsung menginjak pedal gas lagi. "Apa benar tuan muda yang dingin bisa menjadi budak cinta? Ah, jangan sampai aku seperti itu."
__ADS_1
Mohon maaf sebelumnya. Waktu itu Sely gak jadi up 2 episode, dan kemarin Sely gak up juga. Ada sesuatu yang mendadak terjadi jadi Sely gak bisa up dan nulis novel. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Kak🙏.