
Di depan kamar Nirmala, Reno berdiri dengan keraguan. Haruskah ia masuk ke dalam kamar atau berbicara dari luar kamar saja. Rasanya sangat enggan memantau Nirmala secara langsung. Akhirnya ia memutuskan untuk menjaga Nirmala dari kejauhan saja.
Baru saja melangkah satu langkah, pintu kamar di buka dari dalam.
"Kau? Sedang apa kau di sini?" Ternyata Ara yang keluar dari dalam kamar.
Tanpa menoleh pada Ara, Reno terus saja melangkah. "Bukan urusanmu," jawabnya singkat dan dingin.
Ara berjalan cepat-cepat untuk menyamakan posisi jalan mereka. "Kau ingin menguping pembicaraanku dengan nyonya besar ya?" Ara menyipitkan matanya, berpura-pura mencurigai Reno.
Merasa pertanyaan Ara tidak berguna, Reno tidak berniat untuk menjawabnya. Ia meneruskan langkahnya yang sedang menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai dasar, Ara langsung berjalan menuju meja dapur. Dan yang ternyata Reno juga berjalan ke arah yang sama.
"Kau ingin mengikuti ku?" Ara menunjuk Reno dengan jari telunjuknya.
Reno terus berjalan. "Aku ingin mengambil air minum."
Ara menoleh pada Reno. "Kau bohong. Jika kau mau, kau bisa meminta pelayan mengambilkan. Kau ini adalah adi--"
"Berani berbicara lagi, dalam satu detik lidahmu sudah tidak berada di tempat seharusnya." Reno mengancam dengan sangat tajam.
Ara langsung terdiam. Ia memilih untuk mengambil jus yang sudah dibuat oleh pelayan untuk Nirmala.
Saat gelas jus sudah berada di tangan, hal tak terduga terjadi. Saat ia membalikkan badan, Reno juga berbalik badan setelah selesai minum segelas air putih. Mereka bertabrakan dan semua isi gelas tumpah mengenai kemeja Reno.
Ara terkejut. "Aw!" Ia melongo karena merasa bersalah. "Ma-maaf, aku tidak sengaja."
Berbeda dengan Ara yang mengekspresikan keterkejutan nya, Reno hanya diam tak bersuara dan tidak terlihat terkejut. Namun tatapan membunuhnya mampu membuat Ara takut.
"A-a-aku sungguh tidak sengaja. Kau juga tidak bisa menyalahkan aku seorang, kau juga salah," ucap Ara.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Reno berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan langkah kaki lebar.
Dua orang pelayan muda datang menghampiri Ara untuk melihat tumpahan jus di lantai. "Kau tidak apa-apa?" tanya Lia yang paling cantik.
Ara mengangguk, tapi tidak terlihat ramah. "Aku tidak apa-apa. Cepat bersihkan tumpahan ini. Aku akan membuatkan jus baru dengan tanganku sendiri." Setelah itu Ara kembali ke meja dapur.
__ADS_1
"Kau lihat, sepertinya pengawal pribadi nyonya besar memiliki hubungan tersembunyi dengan sopir cool itu. Walaupun bukan hubungan kekasih, namun aku merasakan ada kemungkinan hubungan mereka akan segera dekat," bisik Winda.
Lia menggeram pelan. "Mana mungkin itu bisa terjadi. Kita yang sudah satu tahun bekerja di sini saja tidak pernah dilirik. Bagaimana mungkin wanita kasar seperti dia bisa mencuri perhatian sopir cool. Jika itu benar, aku tidak akan tinggal diam."
Winda mengangguk setuju.
'Tok-tok-tok'
"Nyonya Besar, saya Ara. Bolehkah saya masuk kembali?" tanya Ara.
"Masuk saja," jawab Nirmala dari dalam kamar.
Ara membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. Ada jus jeruk segar di atas nampan yang ia bawa. Ia berjalan menuju meja kaca, kemudian meletakkan jus di sana.
"Silahkan diminum, Nyonya Besar."
Nirmala tersenyum kemudian mengangguk. "Terima kasih."
Baru saja Ara akan duduk, Nirmala sudah meminta tolong lagi.
"Maafkan aku Ara, bisa kah kau meletakkan bingkai foto ini di kamar lama tuan besar Vano?" Nirmala menyodorkan sebuah foto berbingkai. Foto tersebut menampilkan foto pernikahan Nirmala dan Vano dulu.
Sesampainya di ruang tengah, Ara bertanya pada pelayan yang lewat. Ia bertanya letak kamar lama Vano. Pelayan tersebut menunjukkan sebuah pintu berwarna coklat yang terletak di bawah tangga.
"Pintunya tidak dikunci karena beberapa menit yang lalu baru dibersihkan pelayan."
Ara berjalan ke arah kamar yang pelayan itu tunjukkan. Dengan langkah santai ia masuk ke dalam kamar. Segera ia meletakkan bingkai foto kecil di atas meja nakas.
Baru saja akan pergi, ia mendengar suara pintu dibuka dari arah kamar mandi. Sebagai gadis yang lincah dan waspada, segera ia berlari ke arah belakang pintu kamar mandi. Ia bersembunyi di sana untuk sementara waktu sebelum ia membekuk penyusup yang masuk ke kamar lama tuan besarnya.
Begitu seseorang keluar, tanpa pikir panjang dan tidak peduli siapa, Ara langsung membekuk orang tersebut. Ia tekut tangan orang itu kebelakang lalu ditekan kuat.
"Jangan bergerak!" Ara mengancam dengan nada yang cukup membuat orang takut. Tapi hal ini tidak berlaku pada orang yang Ara kira penyusup.
Dengan tubuh yang dibungkukkan oleh Ara, pria itu berbicara dingin. "50 juta."
Mendengar nominal uang, Ara tahu yang dimaksud adalah jumlah hutang. Segera ia melepaskan pria itu setelah tahu bahwa pria itu adalah Reno. Sedangkan Reno masih membelakangi Ara.
__ADS_1
Tak berselang lama, mata Ara membulat, ia baru sadar bahwa sedari tadi ia memegang tubuh Reno yang hanya memakai celana saja. Ya, Reno keluar dari dalam kamar mandi dengan tidak memakai kemeja karena kemejanya kotor terkena jus.
Walaupun ia terkejut dan malu melihat punggung mulus Reno, ia lebih terkejut lagi dengan Reno yang tidak memakai topi. Ide untuk melihat wajah Reno pun terlintas begitu kuat di otaknya. Ia sudah sangat penasaran, dan sekarang adalah kesempatan bagus.
Ara memegang bahu Reno dan berusaha membalikkan badan pria itu.
"25 juta, jadi hutangmu 75 juta," ucap Reno semakin dingin. Ia tahu niat Ara, maka dari itu ia semakin waspada.
Ara pikir membalikkan badan Reno adalah hal mudah, tapi pada kenyataannya itu sangat sulit. Walaupun ia sudah mengeluarkan tenaga untuk membalikkan badan Reno, tapi bahu Reno masih tetap pada posisinya.
"Mengapa jadi mahal?" tanya Ara untuk memancing kelengahan Reno.
"Menyentuh kulitku langsung, menjadi 5 kali lipat," jawab Reno dingin dan tegas.
Namun sepertinya Ara sudah tidak peduli lagi dengan jumlah hutang. Toh ia sudah menjadi pengawal pribadi Nyonya Besar Nirmala.
"Jangan coba macam-macam. Jika seseorang sudah melihat wajahku, maka mata orang itu harus menjadi tidak bisa melihat lagi." Reno mengancam dengan sangat mengerikan.
Ara malah tersenyum dan semakin mengeluarkan tenaga. "Coba saja jika kau berani."
Saat sedang mempertahankan posisinya, Reno mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamar. Jika didengar dari suara langkah tersebut, sepertinya itu langkah kaki pelayan. Sebelum langkah kaki tersebut sampai di ambang pintu, Reno membalikkan badan dengan cepat.
Sekarang posisinya sudah berhadapan dengan Ara. Ia tidak memiliki pilihan lain. Lebih baik Ara yang melihat wajahnya dari pada pelayan itu.
"Ah! Maaf, saya tidak bermaksud lancang."
Pelayan itu langsung pergi begitu melihat punggung Reno. Sepertinya pelayan itu tidak melihat keberadaan Ara karena tubuh Ara yang mungil terhalangi tubuh Reno.
Ara tidak mempedulikan ucapan sang pelayan. Sekarang yang ia pedulikan adalah penglihatan matanya. Logikanya berhenti berjalan. Di dalam hati ia terus bertanya apakah penglihatannya ini nyata atau hanya ilusi.
Wajah pria yang sangat tampan terpampang jelas di depan mata. Ia belum pernah melihat wajah pria setampan ini. Menurutnya wajah Reno terlalu sempurna. Mata, alis, hidung, bibir, tulang pipi, serta rahang, semuanya berpadu sempurna menjadi porsi ketampanan yang luar biasa. Belum lagi ditambah kulit yang putih dan jakun yang menambah kesan seksi.
"Ka-kau Reno? Tampan sekali ...." Bahkan mulut Ara sampai diluar kendali.
Reno menatap langsung pada mata Ara yang masih terkagum-kagum. Dengan ditambah tatapan dari mata yang begitu menarik dan memukau, Ara menjadi seperti terhipnotis. Hampir saja ia mencium Reno.
"Kalian?"
__ADS_1
Ara menghentikan gerakannya, sedangkan Reno masih terdiam. Ia tidak berbalik karena tidak ingin orang di ambang pintu melihat wajahnya.
Oh ya, Sely mau berterima kasih banyak kepada kakak-kakak yang sudah mau memberikan like, komen, vote, dan hadiah poinnya. Dan Sely juga mau berterima kasih pada kakak yang sudah memberikan tips koin untuk Sely😘. Uuuhhh, seneng banget deh. love you semua kakak-kakakku