Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 27


__ADS_3

Pukul 01.20 pagi, Nirmala mulai sadarkan diri. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat. Seluruh badannya terasa sakit, dan kepalanya pusing. Saat matanya terbuka sempurna, Nirmala melihat ke sekitar.


Ia menoleh ke kanan, di sana ia melihat kepala seseorang yang bersandar pada ranjang rumah sakit. Nirmala tidak dapat melihat wajahnya, ia hanya bisa melihat rambut dan lehernya saja.


"Siapa orang ini?"


Jika diingat-ingat, ia sangat mengenali kemeja putih yang dikenakan oleh orang yang tidur bersandar pada ranjang. Setelah ingat, wajahnya berubah ketakutan. Ia menarik tangannya dan berusaha bangun.


Merasakan ada gerakan, orang tersebut bangun dan mengangkat kepalanya. "Kau sudah sadar?"


Nirmala tidak menjawab, ia bangun dan menjauhkan diri dari Vano.


Melihat tatapan ketakutan, Vano jadi semakin merasa bersalah. Mungkin kali ini ia benar-benar harus mengalah pada cinta. Ia tidak bisa melihat Nirmala menderita sedikitpun.


"Maafkan aku." Vano duduk dengan tegak. Ia meraih tangan Nirmala walaupun wanita itu sedikit memberontak. "Jangan takut, aku tidak akan melukaimu lagi. Aku tidak akan menyakiti dirimu lagi." Vano mengusap punggung tangan Nirmala dengan lembut.


Nirmala masih terlihat ketakutan, ia tidak menjawab apapun.


Vano berdiri, ia memegang bahu Nirmala hingga wanita itu terkejut dan semakin ketakutan. Walaupun begitu, Vano tetap menyentuh bahu Nirmala. Ia berusaha membaringkan istrinya lagi.


"Jangan takut, aku mohon. Aku tidak akan menyakiti dirimu lagi, aku berjanji. Sekarang kau harus banyak istirahat." Kali ini Vano memberikan tatapan teduh dan hangat. Ia ingin menyampaikan ketulusan hati lewat matanya.


Survey membuktikan bahwa orang yang ketakutan sulit percaya dengan kata-kata, mereka cenderung mencari pembuktian dari tatapan mata. Sebenarnya mata tidak akan pernah bisa berbohong karena mata menyampaikan isi hati yang sejujurnya.


Melihat tatapan Vano, akhirnya Nirmala mau berbaring lagi walaupun masih merasa ketakutan.


"Tenanglah, aku tidak akan berbuat macam-macam." Lagi-lagi Vano menenangkan Nirmala.


Karena Nirmala diam saja dan masih terlihat takut, akhirnya Vano memutuskan untuk terus berbicara guna mendekatkan diri lagi pada Nirmala. Ia tersenyum kembali menggenggam kedua tangan Nirmala.


"Dokter bilang kau terlalu banyak pikiran. Mulai sekarang, jangan pernah memikirkan hal tidak berguna lagi. Kau harus sehat. Sehat untuk mu dan juga anak kita."

__ADS_1


Mendengar ucapan Vano hati Nirmala bergetar. Ia mulai sadar bahwa yang duduk di sampingnya adalah Govano Ravaldi, pria kutub es yang sulit disentuh. Dengan begitu ketakutannya berangsur hilang, kini malah berganti rasa heran.


"Dan mulai detik ini jangan pernah bertanya apakah aku akan menceraikan mu dan mengembalikan dirimu pada mantan suami yang tidak bertanggung jawab itu. Aku tidak akan pernah melepasmu. Mulai sekarang fokuslah pada masa depan dan kebahagiaanmu dan kelahiran anak kita."


Perlahan Nirmala mulai bisa berpikir. "Apakah Vano kerasukan jin alkohol? Bukankah tadi malam ia sangat kasar dan hampir memperko** diriku? Lalu apa ini? Aku sama sekali tidak mengenali Vano yang sekarang."


Vano tersenyum lagi. "Apa yang kau pikirkan?"


Nirmala menggeleng. "Kau bukan Vano."


Vano menaikkan satu alisnya. "Aku memang bukan Vano, aku adalah tuan muda Govano Ravaldi."


Itulah keajaiban cinta. Bahkan Vano sampai lupa dimana jati dirinya yang dulu. Pribadi yang dingin, tajam, tidak pernah tersenyum, dan sama sekali tidak lembut, kini mulai berubah. Hal itu tentu saja sulit dipercaya oleh Nirmala.


"Sudahlah, jangan banyak memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik sekarang kau tidur lagi. Besok kita akan pulang ke rumah."


Saat pasangan suami-istri istri mengobrol di dalam ruang rawat VIP, di luar pintu ada Farhan dan delapan bodyguard. Mereka berjaga dengan sangat ketat, akan tetapi mereka sama sekali tidak berani menguping. Mungkin mereka akan berjaga sepanjang malam tanpa tidur sedikit pun.


* * * *


Sikap Vano tadi pagi sangat manis, ya walaupun untuk ukuran orang lain belum ada manis-manisnya, tapi untuk ukuran seorang tuan muda yang dingin, tentu saja sangat manis. Tadi pagi Vano membantu Nirmala turun dari ranjang dengan sangat hati-hati dan lembut.


Hal itu bukan membuat Nirmala tersanjung. Ia malah berprasangka bahwa Vano tengah merencanakan hal buruk terhadapnya. Dan ia juga bingung, saat bersamanya Vano bisa tersenyum, akan tetapi begitu keluar dari ruang rawat, wajah Vano dingin seperti biasanya.


"Apakah kau akan melamun sampai malam?"


Teguran Vano menyadarkan Nirmala dari lamunan. Ternyata mereka sudah sampai di depan rumah. Dua pria sudah membukakan pintu untuk dirinya.


"Oh? Iya, aku akan turun."


Begitu turun, Vano menghampiri dirinya dan kembali menggandeng tangannya.

__ADS_1


"Kau harus jalan dengan hati-hati. Jangan sampai jatuh."


Bukan hanya Nirmala saja yang terkejut dengan perhatian Vano, semua pelayan yang menyambut dan dua petugas pembuka pintu pun terhenyak kaget. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Vano berbicara dengan Nirmala di depan umum.


Sang sopir hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum miring. Ia sudah mulai mencium bau-bau asmara. Mungkin di dalam hatinya bertanya-tanya. Akan kah tuannya menjadi tuan muda dingin yang berubah menjadi bucin akut? Tuan muda dingin yang posesif lebay? Ah tidak, ia rasa itu tidak akan terjadi.


Sepanjang berjalan, Vano tidak melepaskan tangan Nirmala sedetik pun. Bahkan di tengah rumah ada Raisa pun ia tidak peduli. Hal itu membuat Raisa terkejut. Ia merasa akan ada hal yang membahayakan posisinya.


Raisa meletakkan majalah di atas meja. "Ada apa dengan Vano? Seharusnya sekarang ia marah besar pada wanita itu karena semalaman tidur di kamar sopir. Lalu sekarang apa? Ah, ada yang tidak beres."


Vano menutup pintu dan baru melepaskan tangan Nirmala. Setelah Vano melepaskan tangannya, Nirmala langsung berjalan menuju ranjang dan duduk di sana.


"Beristirahatlah."


Vano berjalan menuju lemari. Ia akan mandi terlebih dahulu. Sudah dua hari ia tidak mandi, badannya sudah terasa sangat lengket.


Setelah Vano masuk ke dalam kamar mandi, Nirmala baru bisa bebas untuk berbaring. Mau bagaimana pun juga, sikap liar Vano malam itu masih menjadi bayangan menakutkan sampai sekarang. "Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa dia langsung berubah?"


Karena masih kelelahan, dengan mudahnya ia memejamkan mata dan tertidur lagi. Dan saat membuka mata lagi, yang pertama ia lihat adalah seorang pria tampan tang duduk di sofa sembari memangku laptop. Pria itu tampak sangat fokus pada layar laptop.


Nirmala bangun dan duduk. Menyadari Nirmala sudah bangun, Vano mengangkat wajah dan menatap istrinya. Ini adalah kejadian sangat langka. Biasanya apapun yang terjadi, Vano tidak akan pernah mau menatapnya dengan sengaja.


"Sudah bangun?"


Dan lagi-lagi mengejutkan, Vano menyapa lebih dulu.


Nirmala tersenyum. "Sudah. Pukul berapa sekarang?" tanya Nirmala sambil mengucek matanya.


Vano mengangkat tangan kiri untuk melihat jam tangan. "Sekarang pukul 01.20 siang. Apakah kau lapar?"


Nirmala mengangguk. "Ya."

__ADS_1


"Baiklah, kau tunggu di sini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Vano meletakkan laptop di atas meja kemudian langsung keluar kamar.


Nirmala terperangah, mulutnya sampai terbuka lebar. "Aku rasa dia benar-benar kerasukan."


__ADS_2