Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 49 (S2)


__ADS_3

"Dan tidak semudah itu membunuh anak dan menantuku, Paul." Seseorang menodongkan pistol di kepala Paul.


Reno menatap kosong ke arah belakang Paul. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria yang sangat ia rindukan kini berdiri dengan gagahnya sambil menodongkan pistol ke arah musuh sejatinya.


"Ayah ...." Suaranya seakan tercekat di tenggorokan.


Yuda Ravaldi tersenyum pada anaknya.


"Pak Tio, bawa wanita itu kemari," perintah Yuda.


Sain dan Paul dibuat tak percaya dengan situasi ini. Mereka tidak percaya bahwa Yuda Ravaldi masih hidup dan tiba-tiba muncul di saat-saat seperti ini. Semuanya seolah-olah sudah diskenariokan.


"Angkat tangan." Rombongan polisi masuk ke dalam dan menodongkan pistol ke arah semua anak buah Sain.


Bersamaan dengan itu, pak Tua datang bersama dua petugas rumah sakit jiwa. Dua petugas itu mendorong seorang wanita yang duduk di kursi roda. Melihat siapa yang dibawa oleh pak Tua, mata Sain dan Paul sama-sama terbelalak kaget.


"Raisa."


"Ibu."


Paul dan Sain diambil alih oleh polisi. Dua orang itu diborgol lalu diperintahkan bertekuk lutut di lantai.


Yuda berjalan ke depan, ke arah Reno yang sudah babak belur. Begitu berhadapan dengan putranya, ia langsung memeluk putra bungsunya itu. "Ternyata kau sudah besar, Reno." Yuda malah menangis saat memeluk putranya.


Reno membalas pelukan ayahnya. "Aku merindukan Ayah. Selama ini aku tidak menemui Ayah karena aku tidak sanggup melihat kondisi Ayah."

__ADS_1


Yuda melepaskan pelukannya lalu memutar arah. Ia melihat Ara yang masih pucat. "Kau gadis pemberani, kemarilah sayang, aku ingin memeluk menantuku." Yuda merentangkan tangannya untuk menyambut menantunya.


Ara yang merindukan sosok ayah menjadi sangat senang. Ia berlari kecil untuk memeluk ayah mertuanya.


"Terima kasih sudah mau menjadi menantu di kelurga Ravaldi," ucap Yuda.


Ara mengangguk. "Harusnya aku yang berterima kasih, Ayah. Keluarga Ravaldi mau menerima ku sebagai menantu."


Setelah merasa cukup, Yuda melepaskan pelukannya pada Ara. Sekarang ia fokus mengurus hama dalam keluarga Ravaldi. Dengan langkah santai nan tegas, ia mendekati kursi roda Raisa.


"Masih baik hati keluarga kami tidak melenyapkan dia, setelah apa yang telah dia lakukan dulu. Dulu dia membuatku lumpuh secara perlahan, dan terakhir memberikan aku racun agar aku mati. Namun bersyukur aku bisa selamat dari kematian dan bersembunyi di rumah sakit jiwa. Tapi sekarang aku sudah sembuh dari gilaku, dan aku harus membasmi kalian," ucap Yuda sambil menatap dua pria yang sudah mengusik keluarganya.


Paul menggeram kesal, namun apa daya, tidak ada yang bisa ia lakukan.


Yuda tersenyum tenang. "Tidak akan aku beritahu, yang jelas dia akan tetap aman. Keluarga kami tidak mungkin melukai seseorang yang sudah gila, tidak seperti kalian."


Tidak ingin berlama-lama, para polisi langsung membawa Sain, Paul serta anak buahnya ke kantor polisi. Sedangkan Raisa yang gila dikembalikan ke rumah sakit jiwa. Sedangkan Reno, Ara, Yuda, dan pak Tua masih berada di sana. Mereka harus menangani luka Ara dan Reno terlebih dahulu.


Reno memandang Ara yang sedang diobati oleh pak Tua. Ingin rasanya ia menerkam istrinya karena sudah berani menipunya. Tadi jantungnya seakan akan keluar dari dadanya. Bagaimana tidak, ia pikir ia benar-benar telah kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Bahkan seorang Reno yang tidak pernah menangis pun menangisi istrinya yang sebenarnya tidak mati.


"Apa yang kau lihat?" Ara melirik Reno lewat ujung matanya.


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran karena kau sudah berani menipuku," jawab Reno.


Yuda tersenyum lebar, kemudian duduk disamping putranya. "Jangan seperti itu, bersyukurlah karena istrimu tidak mati sungguhan."

__ADS_1


Reno menoleh pada ayahnya. "Mengapa Ayah bisa datang ke mari? Kapan Ayah sehat?"


Yuda melirik ke arah pak Tua, kemudian menceritakan semuanya. "Sebenarnya Ayah sudah mulai pulih sejak dua tahun yang lalu. Namun adik dokter Tio, yaitu dokter Darta merahasiakan ini karena antek-antek Raisa masih berkeliaran. Setelah sembuh total, ayah dibawa pergi ke Australia oleh pak Tio untuk mengambil alih perusahaan Liona. Setelah berhasil, ayah diam-diam memperlancar aksi kalian dalam menghancurkan perusahaan-perusahaan Paul. Sampai pada akhirnya satu minggu yang lalu ayah kembali ke Indonesia. Ayah ikut mengawasi pergerakan kalian, dan syukurnya ayah bersama polisi datang tepat waktu. Ya walaupun boleh dikatakan terlambat."


"Jadi saat terakhir kali kak Nirmala dan kak Vano datang ke rumah sakit jiwa, sebenarnya ayah sudah sehat?" tanya Reno.


Yuda mengangguk. "Tapi ayah tidak melihatmu, Nak. Padahal saat itu ayah sangat berharap bisa melihat putra bungsu ayah yang tidak bisa ayah ikuti masa kecilnya." Yuda menunduk. "Maafkan ayah yang tidak bisa menemani masa kecilmu dan malah menjerumuskan kalian dalam masalah hasil dari kesalahan ayah. Seandainya ayah tidak menikahi Raisa, setia pada ibu kalian, tidak menyakiti perasaan ibu kalian, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Pasti kita masih menjadi keluarga yang utuh sampai detik ini."


Ara selesai diobati. Ia melihat ayah mertuanya bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia pun mengusap pundak ayah mertuanya, melewati punggung Reno.


"Ayah, jangan salahkan diri Ayah. Semua ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Ini adalah yang terbaik untuk kita semua," ucap Ara menenangkan. "Sekarang kita harus bersyukur karena sudah dikumpulkan kembali walaupun yang sudah pergi tidak bisa kembali lagi."


Reno menoleh pada istrinya. "Aku salut padamu, Ara. Padahal kisah hidupmu tidak jauh berbeda dengan yang aku alami. Bahkan ayahmu dibunuh tepat di depan matamu dan juga ibumu. Ibumu terkena gangguan jiwa dan akhirnya kau hidup sebatang kara. Tidak ada saudara yang mau menerimamu karena sebelumnya hubungan ayah dan ibumu sudah mereka tentang. Kau hidup miskin dan berusaha untuk bertahan hidup. Kau bekerja keras demi membiayai ibumu yang ada di rumah sakit jiwa. Tapi walaupun demikian, aku tidak pernah melihat kau terpuruk, tidak pernah terlihat marah dengan nasibmu. Kau berkepribadian normal, tidak seperti aku. Kau memang wanita yang sangat hebat. Aku bangga dan beruntung memiliki istri seperti mu."


Ara tersenyum mendengar ucapan panjang lebar dari suaminya. Yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Ia sudah ikhlas dengan nasibnya. Yang sudah terjadi, terjadilah. Tidak ada gunanya berputar-putar di bayangan masa lalu. Biarkan diri kita menatap masa depan yang cerah.


"Aku bisa seperti ini, karena aku memiliki masa depan yang cerah, yaitu bersamamu," balas Ara.


Yuda dan pak Tua saling menatap. Mereka tersenyum bersamaan. Itulah cinta masa muda, cinta yang masih harum bersemi. Mereka sebagai orang yang sudah tua tidak boleh mengganggunya.


"Baiklah, kita teruskan nanti. Sekarang kita harus menghubungi kakakmu, setelah itu kita ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, dokter Tio tidak memiliki cukup alat untuk merawat Reno. Aku lihat luka Reno sangat parah," ucap Yuda lalu berdiri.


Mereka keluar dari gedung itu menuju rumah sakit. Ara yang akan menghubungi Vano dan Nirmala melalui ponsel yang diberikan oleh Yuda.


Karena tinggal namatin aja, Sely up deh satu episode lagi. Episode endingnya 😊

__ADS_1


__ADS_2