
"Vano, aku--"
"Sudah cukup, Nyonya Besar! Cukup sudah Anda melenyapkan ibuku, orang yang paling aku sayang. Tidak dengan kali ini. Dulu aku masih kecil, hanya bisa menerima kenyataan bahwa ibuku bunuh diri, tapi sekarang aku bukan anak kecil lagi! Mati lah kau bedeb*h!"
Vano mengeluarkan pistol dari saku celana belakang. Mocong pistol tersebut sudah mengarah tepat ke kepala Raisa yang sudah mati ketakutan.
Farhan dan sopir pribadi membulatkan mata. Tepat sebelum Vano menarik pelatuk, sopir pribadi lebih dulu mencekal tangan Vano.
'Dor!'
'Trang!'
Lampu gantung pecah karena terkena peluru. Mengetahui sang sopir pribadi sudah lancang mengganggu nya, Vano menonjok sopir itu hingga sang sopir tersungkur ke lantai. Kali ini moncong pistol sudah menempel pada dada sang sopir.
Farhan berteriak. "Tuan Muda! Jangan! Sadarlah!"
Sang sopir pribadi tidak melawan, menghindar, ataupun meminta ampun untuk diselamatkan nyawanya. Wajah sopir itu masih tenang. Semua orang tidak bisa melihat jelas wajah sang sopir yang tertutup oleh topi, akan tetapi mereka tahu bahwa sopir itu menatap lurus pada Vano.
"Silahkan, Tuan Muda," ucap sang sopir dengan suara yang paling tenang.
Vano diam tak bergerak. Jari telunjuknya menjauh dari pelatuk, tak lama kemudian pistol tersebut jatuh ke lantai. Vano berdiri tegak dan menarik nafas.
Farhan merasa sangat lega, saking leganya ia sampai mengelus dada. Jika sempat Vano menembak sopir pribadi itu, entah hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Raisa." Vano berbalik pada Raisa. Ia tidak lagi menyebut ibunya itu sebagai nyonya besar.
"Aku akan membebaskan nyawamu, asalkan kau memberitahuku di mana Nirmala saat ini."
Raisa tidak lagi berdiri, kakinya sudah benar-benar lemas. Air matanya jatuh, wajahnya pucat. Kejadian tadi sangat tidak ia duga. Jika tidak ada sopir pribadi itu, mungkin sekarang ia sudah mati.
"Maafkan, aku Vano. Maafkan aku." Raisa merangkak dan bersujud di kaki Vano. "Tolong maafkan aku."
Vano menarik kakinya dengan kasar sehingga wajah Raisa mencium lantai. "Asal kau tau Raisa, alasanku selama bertahun-tahun membiarkan kau tetap hidup adalah statusmu sebagai ibuku. Mau bagaimanapun kau tetap ibuku walaupun aku tidak pernah sudi menjadikan kau sebagai ibuku."
Vano merubah tatapannya menjadi sangat tajam. "Akan tetapi, setelah kejadian ini, aku tahu bahwa kau memang tidak pantas dikasihani. Lagi-lagi kau ingin menyingkirkan orang yang aku sayang."
Raisa menggeleng cepat. "Tidak Vano, kali ini aku tidak ingin membunuh Nirmala, aku hanya memberikannya pada Rafan. Aku sama sekali tidak menyakiti Nirmala."
Vano mengepalkan tangan ketika mendengar nama Rafan di sebutkan. Vano berjongkok lalu mengangkat dagu Raisa dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Kau ingat 17 tahun yang lalu?"
Raisa diam sejenak, kemudian ia membulatkan matanya. "Tidak Vano, tolong jangan lakukan itu padaku. Tolong kasihani aku, Vano. Aku mohooon, ampuni aku." Raisa kembali bersujud di kaki Vano.
Lagi-lagi Vano menarik kakinya. "Aku bukan Tuhan yang bisa mengampuni segala dosamu. Kau tidak pantas untuk dikasihani."
"Bodyguard!"
Mendengar suara lantang tuan muda mereka memanggil, semua bodyguard bangun dan berdiri tegak walaupun perut mereka masih sakit.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah."
Perintah Vano mutlak tanpa siapa pun bisa membantah. Termasuk Farhan yang hanya diam sambil melihat bagaimana para bodyguard menyeret Raisa ke pintu belakang.
"Tidak! Aku mohon jangan! Vano, ampunilah aku! Vano tolong kasihani aku ... Vano!" Raisa terus berteriak memohon ampun.
Teriakan itu perlahan hilang seiring diseretnya Raisa ke belakang rumah menuju ruang bawah tanah.
Setelah suasana menjadi tenang, Farhan maju selangkah untuk lebih dekat pada Vano yang matanya masih dingin dan tajam. "Tuan Muda, apakah ini tidak keterlaluan?" tanya Farhan.
"Tidak, ini adalah keadilan untuk ibuku. Apakah dulu dia pernah mengasihani ibuku saat dia mengurung ibuku selama seminggu di sana? Wanita ibl*s itu memang pantas mendapatkannya."
Vano melangkah menghampiri sofa dan duduk di sana. "Aku tidak mengizinkan para pelayan mengantarkan makanan setiap waktu ke ruang bawah tanah. Beri dia makanan dua hari sekali, dan itu pun nasi putih dan satu gelas air putih saja. Dan setiap pelayan yang memberi makan harus dikawal oleh penjaga."
Vano menarik nafas dalam. Sebenarnya ia ingin segera mencari Nirmala, akan tetapi ia tahu hal itu tidak akan mudah. Walaupun Nirmala dibawa oleh Rafan, namun ia tidak bisa mencarinya ke kediaman Rafan. Pria itu tidak bodoh, tidak mungkin ia membawa Nirmala ke rumahnya karena tuan muda Vano pasti akan mencarinya.
"Kau," Vano menunjuk sopir pribadi yang hampir ia habisi nyawanya.
Walaupun tadi hampir mati di tangan Vano, sopir pribadi itu tetap patuh dan membungkuk. "Saya, Tuan Muda."
"Lacak dengan cepat keberadaan Rafan dari data terakhir dia pergi."
Sopir pribadi itu mengangguk. "Baik, Tuan Muda."
* * * *
"Lepaskan aku, Rafan!"
Suara Nirmala menggelegar di kamar mewah itu. Tangan dan kaki diikat pada ranjang, Nirmala sama sekali tidak dapat memberontak selain mulutnya yang terus berteriak.
__ADS_1
Di depannya berdiri seorang wanita berpostur mungil. Walaupun terlihat mungil, jangan pernah disepelekan, tenaganya sangat kuat. Ia lah yang telah membekuk Nirmala saat tadi malam mencoba kabur.
Ia berdiri sambil melihat tangan di depan dada. "Ini salah Anda sendiri, Nyonya. Jika Anda tidak mencoba kabur, mungkin saya tidak akan mengikat Anda seperti ini. Tunggulah sampai tuan Rafan kembali."
Nirmala menatap tajam pada wanita muda yang masih bau kencur. "Hei bocah cilik, jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga orang. Lepaskan aku, ini sama sekali tidak ada urusannya dengan kamu."
Gadis itu tersenyum. "Saya memang tidak ada hubungannya dengan rumah tangga Anda dan tuan Rafan, akan tetapi saya memiliki hubungan dengan uang saya. Saya telah dibayar mahal oleh tuan Rafan, maka dari itu saya harus bekerja dengan baik."
Nirmala tidak berbicara lagi, percuma berbicara dengan gadis yang keras kepala tidak ingin melepaskan ikatannya sebelum Rafan kembali. Ia menangis, sejak semalam ia berharap Vano datang dan membawanya pulang.
'Ceklek'
Gadis yang menjaganya itu berbalik lalu menunduk untuk memberi hormat pada orang yang baru saja datang. Orang tersebut tidak lain adalah Rafan.
Rafan tersenyum lebar saat melihat Nirmala. Ia menghampiri ranjang lalu duduk di samping Nirmala. Tanyanya terulur untuk menghapus air bening yang terus jatuh ke pipi putih mantan istrinya itu.
"Jangan menangis."
Rafan tersenyum, tapi tidak dapat disembunyikan bahwa hatinya sangat sakit. Wanita yang dicintainya dan pernah mencintainya itu malah menangis saat bertemu dengan nya.
"Jauhkan tanganmu," sergah Nirmala sambil menangis. "Aku istri Vano, kau tidak berhak menyentuhku sembarangan."
Rafan tersenyum lagi, kemudian menoleh pada gadis yang sejak tadi malam tidak tidur demi menjaga Nirmala. "Kua boleh pergi."
Gadis itu membungkuk. "Terima kasih, Tuan." Kemudian pergi meninggalkan kamar.
Rafan kembali fokus pada Nirmala. "Apakah kau tidak merindukan aku?" tanya Rafan lembut.
Nirmala membuang muka. "Jangan bermimpi."
Rafan memandang wajah cantik mantan istrinya dengan penuh kelembutan. Tak terasa air mata telah meloloskan diri dari matanya. "Kau cantik ...." ucap Rafan lirih dan serak karena menahan tangis.
Nirmala tidak berbicara dan tidak mau menatap Rafan.
Rafan tersenyum walaupun air mata terus mengalir dari matanya. Ia mengulurkan tangan ke arah punggung Nirmala. Ia melepaskan tali yang mengikat tangan Nirmala.
Begitu tangannya bebas, Nirmala langsung menampar Rafan dengan sangat keras hingga tangannya meninggalkan bekas merah di pipi pria itu. Walaupun sudah ditampar begitu keras, Rafan sama sekali tidak bereaksi. Ia malah melepaskan ikatan di kaki Nirmala, seolah-olah tamparan Nirmala tidak ada rasanya.
"Maafkan aku." Rafan menatap Nirmala dengan matanya yang penuh genangan air. Bibirnya tersenyum manis, akan tetapi hati dan matanya menangis.
__ADS_1
"Jika kau sudah mencintai Vano, maka berbahagialah bersamanya. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi."
Mendengar ucapan Rafan, Nirmala menoleh cepat dan menatap Rafan dengan tatapan bingung.