Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 18 (S2)


__ADS_3

"Tidak semudah itu," ucap Vano sambil masih berdiri di tempatnya.


Nirmala menatap suaminya. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya. Apakah suaminya tidak setuju adiknya bersama Ara? Atau ada maksud yang lain?


"Reno tidak sesimpel yang kita pikirkan. Hidup dia itu rumit seperti labirin. Walaupun Ara memiliki ketegasan dan cenderung galak, tapi sebenarnya dia gadis yang masih polos. Aku rasa itu akan kurang baik jika mempengaruhi hidup Ara."


Vano duduk di samping Nirmala. "Dan kedua, Reno itu terlalu pintar. Tidak mudah untuk kalian melancarkan suatu aksi. Dia adalah orang komputer yang paling aku andalkan. Kegiatan seisi rumah ini bisa dia ketahui jika dia mau."


Vano menyilangkan kakinya. "Ketiga, dulu aku pernah mengajarkan dia untuk membenci 'cinta', dan sampai sekarang mungkin dia masih membencinya, bahkan ku dengar-dengar, dia juga membenci wanita."


Vano mengalungkan tangannya pada bahu Nirmala. "Keempat, dia lebih dingin dari pada aku. Dia hidup dan dibesarkan oleh dokter Tio. Dan baru-baru ini aku tahu bahwa dokter Tio adalah orang berdarah dingin, kejam, dan tidak berbelas kasih pada orang asing. Kemungkinan besar, Reno juga tidak jauh dari sifat itu. Maka dari itu, menaklukkan hati Reno adalah sesuatu yang sedikit tidak mungkin."


Nirmala diam sejenak. Ia sedang memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Tidak ada yang tidak mungkin." Ia tersenyum lebar.


Sedangkan di tempat lain.


"Aku tidak makan daging sapi." Ara menggeleng saat Reno menyerahkan sebuah piring untuk nya.


Reno menarik nafas panjang. Ruangan yang sepi membuat suara tarikan nafas Reno terdengar sangat jelas. Dengan begitu Ara tahu bahwa pria yang sedang berdiri di depannya ini sedang menahan emosi.


"Lalu?" tanya Reno setelah berulang kali menarik nafas. Nada pertanyaan sangat dingin.


"Ambilkan aku sayur. Terserah sayur apa saja, yang penting tidak daging sapi," ucap Ara.


Tanpa banyak bicara, Reno meletakkan piring di atas nakas. Ia langsung pergi keluar kamar, mungkin untuk mengambilkan makanan baru.


Ara tersenyum senang. "Sepertinya tuan besar Vano sudah dipengaruhi oleh nyonya besar Nirmala. Hahaha, baguslah. Aku puas karena bisa memerintah Reno." Ara tertawa sendiri. Ia tidak ingin berbicara kuat-kuat. Jika sampai terdengar oleh Reno, bisa-bisa semuanya akan berantakan.


Tak lama kemudian masuk Lia membawakan makanan di piring yang cukup besar. Jika dilihat dari ekspresinya, seperti Lia tengah kesal.


'Brak!' Piring diletakkan dengan kasar di atas meja nakas.

__ADS_1


Lia menatap tajam pada Ara yang dibalas tajam oleh Ara lagi. "Jika kau memiliki hubungan dengan sopir pribadi tuan Vano, aku sarankan agar kau cepat-cepat menjauh sebelum kau menyesal. Mengerti?" Lia mengancam dengan tajam.


Ara tersenyum miring. Tidak lupa ia memutar bola mata untuk menunjukkan bahwa ia sangat jengah melihat dan mendengar ucapan Lia.


"Heh, asal kau tahu. Aku sama sekali tidak takut pada ancamanmu. Seharusnya kau yang berhati-hati padaku. Aku bisa merobek mulutmu dan juga mencopot bola matamu yang terus melotot padaku." Ara mengancam lebih tajam dari pada Lia.


Lia sempat menelan ludah dengan susah payah. Namun sebagai wanita yang keras kepala, ia tetap pada keinginannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya.


"Terserah padamu. Tapi harus kau ingat, aku Lia, tidak akan membiarkan siapapun menghalangi langkahku." Setelah itu Lia pergi dengan langkah angkuh.


"Cih, dari mana tuan Vano menemukan pelayan seperti wanita ini? Di solokan? Pembuangan sampah? Atau di septic tank? Dia bekerja di sini dengan segudang rencana licik." Ara menggeleng-geleng sendiri.


(Ngomong-ngomong, kemana perginya Reno? Tadi mau ganti lauk makannya Ara. Tapi kok menghilang?)


Keran shower diputar, air berhenti mengalir. Handuk yang menggantung di dinding kamar mandi langsung disambar. Reno mengelap rambut basahnya terlebih dahulu baru kemudian melilitkan handuk di pinggangnya.


Reno keluar dari kamar mandi dengan langkah santai namun tetap tegas. Segera ia berpakaian dengan pakaian yang baru tadi diberikan oleh Vano untuknya. Vano memberikan kemeja biru dongker dengan celana hitam. Reno mentap kemeja tersebut sebelum benar-benar memakainya.


Selesai memakai pakaian, Reno menyambar topinya. Berbeda dengan hari-hari lainnya, hari ini ia memakai topi berwarna putih. Ya tentu saja Vano juga yang memberikan topi tersebut karena Reno memang tidak membawa pakaian ganti sama sekali.


Ia berjalan menuju meja rias. Pantulan cermin memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan. Perpaduan yang semuanya sempurna. Disentuhnya wajah itu dengan pelan.


"Apa yang aneh dengan wajah ini?" Reno berbicara sendiri. "Mengapa saat melihat wajahku, sepertinya Ara akan menciumku?" tanya Reno pada dirinya sendiri saat mengingat kejadian hari itu.


Ia mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang sangat tampan. Namun ia tidak mengerti mengapa wajahnya bisa menghipnotis seorang wanita. Sejak kecil ia memang tidak pernah melepas topinya. Dan saat mengenyam pendidikan, ia memilih homeschooling, jadi ia tidak pernah bertemu dengan orang lain.


Reno mengenakan topi putih tersebut. Setelah yakin wajahnya benar-benar tertutup topi, barulah ia pergi meninggalkan kamar.


Baru membuka pintu kamar, ia dikejutkan oleh kehadiran Lia. Reno diam saja. Dengan diamnya ia, ia ingin agar Lia mengerti bahwa ia sedang bertanya 'untuk apa datang kemari?'. Tapi sepertinya pelayan itu tidak mengerti sama sekali.


"Ada apa?" Akhirnya Reno terpaksa bertanya.

__ADS_1


Lia tersenyum manis. "Aku diperintahkan oleh tuan besar Vano membersikan kamar ini. Malam ini kau harus menginap di rumah ini," jawab Lia dengan suara yang dilembut-lembutkan.


Reno menghela nafas kasar. Ia tidak mengerti mengapa kakaknya itu memaksa agar ia menginap di rumah keluarga Ravaldi. Seumur hidupnya, ia tidak pernah bermalam di rumah ini.


Tanpa berbicara, Reno meninggalkan Lia di depan pintu. Terserah saja kamar itu mau diapakan, ia sama sekali tidak peduli. Sekarang tujuannya adalah melihat Ara terlebih dahulu. Jika tidak, ia pasti akan mendapatkan teguran dari Vano karena dianggap tidak peduli dan tidak bertanggung jawab.


'Cklek'


Mata Ara bergulir ke arah pintu. Dilihatnya Reno sedang menutup pintu. Pria itu berbalik ke arahnya. Seperti biasanya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut pria itu. Ia hanya melihat ke arah nya. Karena Reno tidak berbicara, ia juga ingin mencoba untuk menjadi dingin juga. Ia kembalikan fokusnya pada piring dan sendok.


Cukup lama hening, akhirnya suara Reno yang lebih dulu memecahkan keheningan.


"Mengapa masih belum makan?"


Ara tidak melihat ke arah orang yang bertanya. Ia hanya melihat ke arah tangannya yang diperban dan makanan secara bergantian.


"Aku tidak bisa makan. Aku kesulitan memegang sendok ini."


Reno melipat tangan di depan dada. "Lalu tangan siapa yang tadi pagi mendarat dengan kencang di pipiku?" Reno menyindir tamparan Ara yang sangat kuat.


"Ekhm." Ara berdeham terlebih dahulu, memberikan waktu untuk otaknya memikirkan alasan yang tepat. "I-itu karena aku sangat marah. Dan setelah aku menampar mu, tanganku menjadi dua kali lebih sakit," ucap Ara setelah menemukan alasan yang dirasa masuk akal.


Reno berjalan mendekati Ara. Ia memperhatikan telapak tangan Ara yang diperban. Ia juga memperhatikan pergelangan tangan Ara.


"Yes! Pasti dia akan menyuapiku. Ternyata dia bisa perhatian juga." Ara sudah bersorak riang dalam hati.


Tiba-tiba saja Reno menggenggam pergelangan tangan Ara dengan erat. Tentu saja hal itu mengejutkan sekaligus menyakitkan untuk Ara.


"Aw! Sialan! Apa yang kau lakukan, Bedeb*h!! Sakit!" Sakit sakitnya, tak sadar Ara mengeluarkan setetes air mata.


"Bajing*n! Lepaskan aku!" Ara berteriak dengan marah.

__ADS_1


__ADS_2