
Tubuh Ara yang ringan dilempar ke atas tempat tidur dengan kasar. Reno berkacak pinggang setelah membanting Ara. Matanya tajam dan dingin. Sebuah aura yang tidak Ara kenali keluar dari Reno. Ia masih gemetar, namun sebisa mungkin tidak ia tunjukkan.
"Bisa kah kau tidak melemparku seperti ini? Aku juga bisa membanting mu," ucap Ara dengan nada yang dibuat sok berani.
"Kau memang jago bela diri, tapi kemampuanku jauh di atas mu, Ara." Reno menatap tajam lagi. "Apa maksudmu mengatakan hal seperti tadi?"
Ara melihat ke atas, tangannya ia lipat, dan dagunya mengerut. Ia bertingkah seolah-olah sedang berpikir keras. "Bukankah tadi kau yang memintaku mengatakan bahwa kita memang sudah melakukan malam pertama? Kau yang memerintah ku keramas pagi-pagi untuk mengelabui mereka."
Melihat tingkah Ara yang terlihat tidak serius, Reno semakin geram. Tangannya mencengkram rahang Ara sekuat tenaga. Ara meringis kesakitan.
"Beraninya kau membuat aku malu dan terkesan konyol." Reno menggeram kesal.
Tangan Ara berusaha melepaskan cengkraman Reno, tapi itu sulit untuk dilakukan. "A-a-aku hanya bercanda. Lepassh kan, ini sangat sakit."
Reno tersenyum sinis. "Bercanda kau bilang? Itu cara bercandamu?" Reno mencampakkan wajah Ara dengan kasar hingga Ara kembali jatuh ke kasurnya. "Biar aku tunjukkan bagaimana cara bercandaku."
Reno menarik kemejanya ke samping kiri dan kanan hingga seluruh kancingnya copot dan berjatuhan di lantai. Melihat Reno melepas pakaian, Ara sangat ketakutan. Ingin kabur namun tidak bisa. Yang bisa ia lakukan hanya mundur menjauh.
"Reno, jangan macam-macam." Ara mundur.
Reno naik ke tempat tidur dan mendekati Ara.
"Menjauh dari ku!" Ara berteriak karena rasa takutnya.
Reno tidak menggubris.
"Reeeeennnnnooo! Brengs*k kau!"
* * * *
Di kamar yang berantakan, Reno duduk di lantai dan bersandar pada sofa. Satu kakinya ia tekuk dan yang lainnya ia biarkan lurus. Satu tangannya bertumpu pada lutut, dan tangan lainnya ia letakkan di sofa. Pandangannya kosong seperti tidak memikirkan apapun.
Sedangkan dari dalam kamar mandi terdengar suara tangisan yang tersedu-sedu. Sungguh Reno membenci tangisan wanita. Kakaknya pernah berkata bahwa dulu ibu mereka selalu menangis setiap hari, bahkan hampir setiap jam. Maka dari itu ia sangat benci akan suara tangisan wanita.
__ADS_1
Setelah beberapa lama diam seperti itu, matanya beralih pada bercak noda berwarna merah di seprai yang putih bersih. Ia tahu bahwa wanita memiliki selaput dara itu sekali seumur hidup. Lalu ini apa? Ia tidak mengerti sama sekali.
Ia kembali teringat bagaimana tadi Ara menancapkan kuku di punggungnya karena begitu kesakitan. Luka cakaran di punggungnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit Ara. Ada setitik rasa bersalah dan menyesal. Ia menyesal karena sudah begitu kasar pada Ara.
Walaupun masih lunglai, ia memaksakan diri untuk bangun. Ia berjalan keluar kamar, membiarkan suara tangis Ara menghiasi kamar mandi dan kamarnya.
"Reno, mengapa baru keluar? Kami baru saja selesai makan siang," tanya Nirmala yang sedang membereskan bekas makan Vano.
Vano melihat adiknya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Adiknya terlihat sangat kusut dan wajahnya suram. "Ada apa denganmu? Kau tidak menyakiti Ara, bukan?" tanya Vano hati-hati karena ia mengenali aura yang sedang menguasai Reno.
Hanna baru selesai minum air putih. Ia melihat Reno juga. "Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya bukan Reno yang menyakiti Ara, tapi Ara yang menyakiti Reno." Sebenarnya Hanna hanya ingin mencairkan suasana.
"Wanita hanya memiliki selaput dara sekali seumur hidup, bukan?" tanya Reno pada siapapun yang mau menjawab.
Semua orang mengangguk.
Vano mengerutkan keningnya. "Memangnya ada apa?"
Reno tidak menanggapi pertanyaan Vano. Sekarang hanya satu tujuannya, yaitu mencari Afid. "Di mana Afid?"
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang baru saja menguping dan diam-diam kabur secepat kilat.
Tanpa menjawab, Reno berjalan cepat menuju halaman belakang. Baru saja sampai di dapur, Reno bertemu dengan pelayan kebersihan halaman. "Kau melihat Afid?" tanya nya.
Pelayan tersebut menunduk karena sekarang ia tahu bahwa Reno adalah tuan muda. "Maafkan saya, Tuan Muda. Tadi tuan Afid pergi secara diam-diam setelah akan masuk ke dalam rumah."
Reno mengumpat dalam hati. Ingin rasanya ia mencekik pelayan dihadapannya karena tidak menghentikan Afid, namun ia sadar bahwa pelayan itu tidak bersalah. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Nirmala, Vano dan Hanna merasa aneh dengan sikap Reno. Karena tidak ingin ambil pusing, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke taman belakang.
'Ceklek'
Reno masuk ke dalam kamar. Melihat Ara sedang menyisir rambut, Reno menutup pintu dengan pelan, kemudian berjalan menuju Ara.
__ADS_1
Melihat siapa yang datang, Ara memalingkan wajahnya.
"Maaf."
Ini adalah kali pertama Reno mengucapkan kata maaf dengan tulus. Ia berdiri di belakang Ara yang masih duduk di bangku rias. Ia menatap wajah Ara dari pantulan cermin.
"Aku tidak tahu bahwa kau masih--"
"Lupakan dan pergilah." Ara berbicara tanpa melihat ke arah Reno.
Reno diam sejenak, kemudian berbicara lagi. "Kita telah dijebak oleh Afid. Saat kau dikamar mandi, aku memeriksa rekaman CCTV di ruangan tengah melalui ponselku. Aku melihat Afid masuk ke kamar ini pada tengah malam. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi yang jelas kita sudah dijebak olehnya."
"Dijebak atau tidak, semuanya sudah sama saja sekarang." Ara masih belum memaafkan Reno.
Reno tidak pandai meminta maaf, tapi ia masih memiliki insting dan naluri. Ia mengikuti apa yang diarahkan oleh kata hatinya.
Reno berpindah posisi jadi menghadap Ara. Dilihatnya Ara meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras.
"Begitu parah kah aku menyakitimu hingga kau terus menangis dan tidak mau memaafkan aku?" tanya Reno.
Ara menatap Reno. "Kau ini bodoh atau apa? Setelah yang kau lakukan tadi kau pikir kau tidak menyakitiku? Kau melukai fisik dan psikisku! Aku tidak memiliki keluarga. Aku sempat berpikir bahwa dengan kau menjadi suamiku, kau bisa berubah dan bisa menjadi sandaran hidupku. Tapi aku salah, setelah menikah aku baru tahu bahwa kau ini bringas dan tak terkendali seperti hewan liar. Hatimu dingin dan keras seperti batu. Sekarang aku malah takut untuk dekat denganmu."
Reno diam tak menjawab. Ada ketukan di hatinya. Entah itu malaikat yang diutus untuk membuka hatinya atau yang lainnya, yang jelas Reno mulai mengerti perasaan Ara.
Ia berjongkok di hadapan Ara, menatap mata istrinya dengan dalam. "Maafkan aku." Sekali lagi Reno mengucapkannya dengan tulus.
Sambil setengah berdiri, ia meraih kedua pipi Ara lalu mencium bibir istrinya. Ia mengecup kening istrinya, kemudian mengecup setiap butiran air mata yang sedang menuruni pipi putih Ara.
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya, aku tidak akan menyakiti fisik dan psikis mu lagi. Aku akan melindungimu seperti aku melindungi kakakku, bahkan lebih dari itu. Apakah kau percaya padaku?"
Ara menatap Reno. Jantungnya berpacu dengan cepat. Sedih dan amarahnya sudah pergi entah kemana. Sekarang ia ingin tersenyum, namun ia tahan. "Jika kau tidak menepati janjimu?"
"Laporkan aku pada kakakku. Dia yang akan menghukumku seperti terakhir kali," ucap Reno.
__ADS_1
Ara tersenyum kecil. "Baiklah."
Karena hari ini hari Minggu, Sely mau up 2 episode nih. Tunggu Episode 40 ya. Love yuo😘