Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 38


__ADS_3

'Ciit.' Sopir pribadi itu mengerem mendadak. Tentu saja Vano yang moodnya sedang tidak bagus menjadi kesal.


"Ada apa?" tanya Vano dengan nada kesal.


"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya terkejut akan sesuatu, maafkan saya." Sopir itu langsung menginjak pedal gas lagi. "Apa benar tuan muda yang dingin bisa menjadi budak cinta? Ah, jangan sampai aku seperti itu."


Vano menatap tajam pada sang sopir dari kaca spion. "Apa peraturan pekerjaanmu?" tanya Vano dingin.


Nirmala menoleh pada Vano, sepertinya ia telah membuat pria itu marah sehingga sikap dinginnya muncul lagi.


"Walau mendengar, saya harus tuli. Jika mengetahui informasi penting, saya harus melindungi informasi tersebut melebihi melindungi nyawa saya sendiri. Saya tidak boleh takut pada siapapun kecuali Anda. Dan terakhir saya harus ada di setiap Anda membutuhkan saya."


Vano tersenyum sinis. "Bagus jika kau masih ingat. Lalu jangan lakukan lagi."


Sopir itu mengangguk. "Baik Tuan Muda."


Nirmala menoleh pada Vano. "Vano, apakah itu tidak terlalu kejam? Dia bisa mendengar, mengapa harus menjadi tuli? Dia harus mempertaruhkan nyawanya demi sebuah informasi saja?"


Vano menghela nafas panjang. Istrinya ini benar-benar tidak tahu apa arti pengabdian. Lagi pula ia sudah memberikan gaji yang sangat tinggi pada semua pekerjaannya. Khususnya untuk sopir pribadi ini, tidak hanya gaji tinggi, akan tetapi jaminan keamanan juga. Dan sopir pribadi ini adalah pekerja yang diperlakukan paling istimewa.


"Tidak usah berbicara jika kau tidak tahu apa-apa. Toh dia tidak keberatan sama sekali."


Nirmala membuang wajah sambil cemberut. Jika sedang dalam suasana hati yang tidak baik, Vano selalu seperti ini. Dingin dan menyebalkan.


Mobil hitam berhenti di depan rumah besar. Dua pekerja pembuka pintu langsung menghampiri. Sedangkan di depan teras sudah banyak pelayan dan delapan bodyguard yang menunggu.


"Selamat datang kembali, Nyonya Muda."


Semua orang menyambutnya dengan hormat sambil membungkukkan badan. Nirmala hanya mampu tersenyum walaupun dihatinya merasa kurang nyaman karena diperlakukan terlalu agung.


"Jangan berlebihan, aku hanya pergi satu malam, bukan satu tahun." Nirmala mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum kaku.


Semua orang belum juga menegakkan badan. Hal ini membuat Nirmala sangat bingung. Ia menoleh pada suaminya untuk mendapatkan jawaban.


Tanpa harus ditanya dengan kata-kata, Vano sudah paham arti tatapan Nirmala. "Mereka tidak akan berdiri tegak jika kau belum memerintahkan mereka untuk mengakhiri penghormatan mereka."


Nirmala terperangah. Ia merasa sedang berada di zaman kerajaan dan sekarang ia adalah putri raja. Mana mungkin ada aturan seperti itu. "Itu berarti, jika aku tidak memerintahkan mereka bangkit sampai besok, mereka akan terus membungkuk seharian? Ah ini keterlaluan."


Nirmala menarik nafas. "Terima kasih, kalian boleh tegak kembali."


Para pelayan dan para bodyguard langsung berdiri tegak. Mereka memberikan jalan untuk Nirmala dan Vano masuk ke dalam rumah besar.


Vano mempersiapkan Nirmala duduk di sofa ruang tengah. Semuanya kembali bersih dan rapi karena para pelayan sudah membereskan semuanya dengan cepat. Nirmala sampai tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi di rumah itu.

__ADS_1


"Ambilkan air minum," perintah Vano pada pelayan mana saja yang mau mengambilkan air.


Beberapa detik kemudian pelayan membawakan air minum untuk Nirmala. Vano mengambil gelas tersebut dan membantu Nirmala untuk minum. "Minumlah terlebih dahulu."


Vano meletakkan gelasnya di atas meja setelah Nirmala selesai minum. Ia memperhatikan wajah istrinya yang terlihat tidak menunjukkan trauma sama sekali. Itu artinya Rafan benar-benar tidak melakukan apa pun padanya.


"Vano, terima kasih karena sudah datang." Nirmala memberikan senyum pada suaminya.


Vano membalas senyuman. Melihat Vano tersenyum, semua pelayan menunduk sangat dalam. Sungguh sebenarnya mereka ingin mengangkat kepala dan melihat senyum manis dari tuan muda mereka, namun sayang, merek tidak bisa.


"Sudah menjadi kewajibanku." Vano menyadarkan badannya. "Apakah Rafan benar-benar akan menyerahkan kau padaku sepenuhnya?" tanyanya.


Nirmala mengangguk. "Ya, dia mengatakan itu padaku. Dia akan segera berangkat ke luar negeri. Aku percaya pada ucapannya. Dia sudah menceritakan semuanya, jadi aku rasa tidak perlu ragu lagi."


Vano mengangguk. "Baguslah jika memang begitu."


Baru saja duduk santai, ramai terdengar suara langkah kaki. Ternyata langkah tersebut berasal dari Farhan, sopir pribadi, ketua bodyguard, dan dua bodyguard yang menggotong gadis mungil tadi. Vano dan Nirmala terlihat heran melihat gadis itu digotong oleh dua bodyguard.


"Selamat siang, Tuan Muda, Nyonya Muda. Saya sudah membawa gadis ini," ucap ketua bodyguard.


Vano mengangguk. "Letakkan dia di lantai." Vano menunjuk lantai di dekat kakinya.


Dua bodyguard yang membawa gadis itu langsung meletakkan gadis tersebut di hadapan kaki Vano. Anehnya, gadis tersebut tidak menunjukkan wajah takut, melainkan wajah sangar yang tajam.


Gadis itu tersenyum sinis. "Walaupun badanku tertunduk di depanmu, akan tetapi aku tidak benar-benar tunduk pada pria seperti dirimu."


"Hei! Tutup mulutmu! Panggil Tuan Muda." Kepala bodyguard terlihat sangat kesal hingga langsung menyergah gadis itu.


Vano mengangkat tangan tanda tidak ada yang boleh berbicara selain dirinya. "Kau sangat pemberani. Tapi ada apa ini? Bukankah kau tadi bisa menendang dua pengawalku dengan mudah? Sekarang ada apa ini?" Vano memberikan tatapan menghina.


Nirmala memegang tangan Vano. "Vano, tolong lepaskan dia. Dia gadis yang baik."


Vano melirik pada Nirmala. Hening cukup lama karena Vano hanya menatap istrinya dengan tatapan yang dingin, tapi tak lama kemudian tatapan itu berubah hangat. Ia memberikan senyum pada Nirmala lalu kembali menatap tajam pada gadis yang masih saja angkuh.


"Baiklah, karena nyonya muda Nirmala meminta aku melepaskanmu, maka aku akan melepaskan dirimu."


Vano kembali menatap Nirmala kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga istrinya. "Tapi ada syaratnya," bisik Vano.


Pipi Nirmala langsung bersemu merah. Bisikan dengan nada sensual tentu saja ia tahu apa yang akan menjadi syarat suaminya itu. Akan tetapi dia juga seorang wanita, ia tidak akan tega melihat gadis mungil ini dihukum oleh Vano. Akhirnya ia pun mengangguk.


"Aku tidak butuh rasa belas kasih. Jika kau ingin menghukumku, maka hukumlah. Aku tidak takut sama sekali."


Mendengar ucapan gadis itu, sebenarnya Vano sangat kesal. Jika bukan karena Nirmala, mungkin ia sudah memenggal kepala gadis itu. Tapi untuk kali ini ia benar-benar akan bersabar demi Nirmala dan demi persyaratannya.

__ADS_1


"Ini karena permintaan Nirmala. Seharusnya kau bersyukur karena aku masih memberikan belas kasihan pada nyawamu." Vano duduk tegak. "Silahkan berdiri dan pergi."


Hening. Gadis itu sama sekali tidak bergerak, ia hanya menatap tajam pada Vano.


"Mengapa belum pergi? Apakah kau benar-benar menginginkan hukuman?"


Gadis itu menoleh pada sang sopir pribadi. "Kau pikir aku bisa pergi jika kaki dan tanganku tidak bisa digerakkan?" Gadis itu menatap sang sopir dengan tajam, tapi ia berbicara dalam Vano.


Vano mengikuti arah pandangan gadis itu. "Kau? Kau melumpuhkan gadis ini?"


Sopir pribadi itu menunduk. "Maaf Tuan Muda, saya hanya melakukan apa yang saya pikir bisa menyelesaikan masalah."


Vano menghela nafas. "Lepaskan dia."


Perintah Vano adalah mutlak dan harus dipatuhi. Padahal semua bodyguard sangat senang jika gadis itu tidak bisa bergerak, namun perintah Vano harus dipatuhi.


"Baik, Tuan Muda."


Sopir itu menghampiri sang gadis. Dengan empat kali totokan, gadis itu sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya.


'Plak!'


Tamparan keras mendarat di pipi putih sang sopir hingga wajah yang selalu tertutup itu berpaling ke sebelah kanan. Tamparan tersebut berasal dari sang gadis yang baru bisa bergerak lagi.


"Kau?"


Sang sopir mengepalkan tangan dengan kuat. Jika bukan karena sedang berada di hadapan Vano, sudah pasti ia akan menghajar gadis yang sudah berani menamparnya.


Tanpa banyak bicara, gadis itu berdiri dan langsung berjalan keluar rumah walaupun kakinya masih lemas.


Setelah gadis itu pergi, Farhan melirik ke arah Vano. Dilihatnya Vano juga sedang menatapnya. Dari tatapan Vano, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Sembunyi-sembunyi ia mengetik sesuatu di ponselnya lalu mengirim pesan tersebut kepada seseorang.


Vano berdeham karena suasana rumah benar-benar hening tanpa suara. "Ekhem, aku memiliki pengumuman."


Semua orang mendengarkan dengan patuh.


"Mulai sekarang aku mengangkat diriku sebagai tuan besar, dan mengangkat Nirmala sebagai nyonya besar. Dan kelak, anak yang sedang Nirmala kandung sekarang akan menjadi tuan muda. Apakah kalian mengerti?"


Semua orang mengangguk lalu mengangguk.


"Hormat kami Tuan Besar, dan Nyonya Besar," ucap mereka semua dengan serentak.


Nirmala terkejut dengan ini. "Vano, lalu bagaimana dengan ibu Raisa?"

__ADS_1


Vano tersenyum. "Mari kita lihat dia."


__ADS_2