Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 1 (S2)


__ADS_3

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas apotek.


Seorang pria bertopi yang separuh wajahnya tidak terlihat menyodorkan selembar kertas HVS pada wanita itu. Petugas apotek tersebut menerima dengan sopan kemudian membaca isi kertas tersebut. Setelah membaca beberapa detik, terlihat wanita itu cukup terkejut.


"Maaf Pak, apakah tidak cukup satu saja? Karena semua cara kerjanya sama kok, Pak. Seratus persen tidak mungkin keliru."


Pria itu diam tanpa bicara. Sepertinya ia sedang menatap tajam pada wanita petugas apotek tersebut.


Wanita itu menelan ludah, kemudian memaksakan senyuman ramah walaupun tubuhnya gemetar takut.


"Ba-baiklah."


Hanya butuh waktu satu menit, penjaga apotek itu memberikan satu plastik penuh berisi alat tes kehamilan. Berbagai macam jenis dan bentuk semua ada di sana. Satu jenis tidak cukup satu saja, akan tetapi masing-masing tiga.


Tanpa banyak bicara, pria itu membayar semuanya. Setelah selesai membayar ia segera berlalu meninggalkan apotek.


Mobil hitam mewah memasuki halaman rumah besar dan di susul oleh dua mobil hitam lainnya. Dua mobil hitam apa lagi jika bukan mobil hitam milik para bodyguard keluarga besar Ravaldi.


Mobil hitam mewah berhenti di depan teras. Dua orang akan membuka pintu bagian pengemudi, akan tetapi orang yang ada di dalam lebih dulu membuka pintu. Sopir pribadi tidak biasa dibukakan pintu sehingga ia selalu membuka pintu sendiri.


"Tuan Vano sudah menunggu mu sejak tadi. Sepertinya ia sudah tidak sabaran."


Tanpa menanggapi dua orang yang bertugas membuka pintu mobil, sopir pribadi langsung berjalan meninggalkan mereka. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju pintu utama yang mana di sana ada dua pelayan yang sedang menyapu.


"Selamat pagi menjelang ...."


Sopir pribadi terus berjalan tanpa mempedulikan sapaan dua pelayan baru yang menggantikan Ria dan Nisa, dua pelayan yang berkhianat.


"Ternyata benar kata kepala pelayan, sopir pribadi tuan Vano sulit sekali untuk diajak bicara," kata saah satu di antara mereka.


"Kau benar. Ingin sekali rasanya aku menjadi orang yang bisa membuatnya bertekuk lutut di depan ku. Akan tetapi, aku rasa itu adalah hal yang mustahil."


Sopir pribadi sudah sampai di depan pintu kamar Vano. Ia mengetuk pintu kamar terlebih dahulu walaupun ia sudah tahu Vano pasti akan memperbolehkannya langsung masuk.


'Tok-tok-tok'

__ADS_1


Hanya berselang satu detik, pintu kamar terbuka sendiri tanpa Vano bukakan pintunya. Sang sopir pribadi langsung masuk.


Di dalam kamar sudah ada Vano dan Nirmala yang sedang duduk di sofa. Sang sopir pribadi menundukkan badannya untuk memberi hormat.


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Besar, Nyonya Besar."


"Tidak usah banyak bicara, cepat bawa kemari." Vano terlihat sudah sangat tidak sabar sehingga sapaan dari sopirnya saja ia anggap tidak penting.


Nirmala memegang bahu kanan Vano. "Sabar Sayang, tidak perlu terburu-buru."


Sopir tersebut meletakkan kantung yang ia bawa di atas meja kaca.


"Tidak ada orang yang memata-matai, kan?" tanya Vano.


Sopir pribadi itu mengangguk. "Tidak ada, Tuan Besar. Mana mungkin ada orang yang berani memata-matai jika Anda sudah mengutus delapan bodyguard untuk mengawal tes peck ini."


Walaupun terdengar biasa saja, akan tetapi Vano tahu bahwa sopir pribadi itu sedikit kesal karena diberi perintah untuk membelikan barang yang biasanya dibeli oleh wanita atau pasangan suami-istri. Apalagi selama perjalanan ia dikawal oleh delapan bodyguard utama.


Meskipun tahu sopirnya kesal, Vano sama sekali tidak ingin ambil pusing. Yang terpenting adalah mengecek apakah Nirmala sedang mengandung atau hanya sekedar masuk angin.


Sopir pribadi itu mengangguk dan membungkuk sopan. "Saya undur diri."


Setelah keluar dari kamar tuan besar dan nyonya besarnya, sang sopir menarik nafas panjang kemudian menggelengkan kepala. Satu tahun terakhir ini tuan besarnya sudah banyak berubah.


Jika biasanya Vano sedikit berbicara, sekarang Vano sedikit lebih cerewet. Ya bukan berarti cerewet bergosip, akan tetapi cerewet dalam memerintah pekerjanya. Terutama jika hal itu berhubungan dengan Nirmala. Semua orang dituntut untuk sempurna melayani Nirmala, jika tidak, siap-siaplah untuk kehilangan kepala.


"Cinta? Benarkah semua ini karena cinta? Cih, dulu tuan sangat membenci yang namanya cinta. Sehingga dia pun mengajarkan aku untuk membenci cinta."


Sang sopir memperbaiki posisi topinya kemudian berjalan menjauh dari pintu kamar. "Akan tetapi itu bukan urusanku. Yang terpenting aku tidak akan seperti tuan besar Vano."


Setengah jam kemudian, di dalam kamar tuan besar dan nyonya besar, Vano tengah memeriksa tes peck satu persatu. Sedangkan di tepi ranjang ada Nirmala yang sedang tersenyum-senyum sendiri melihat suaminya menatap semua benda tersebut dengan mata yang membulat lebar.


"Nirmala, apakah semua ini benar?" Vano bertanya, akan tetapi matanya tetap terpaku pada alat tes kehamilan yang sudah dipakai semuanya.


Nirmala mengangguk. "Hm," jawabnya.

__ADS_1


"Semuanya menunjukkan positif?" Vano masih perlu memastikan bahwa semuanya memang benar.


"Iya Vano, aku positif hamil."


Tanpa Nirmala sangka Vano menghamburkan semuanya kemudian matanya membulat. "Apa-apaan ini?!" Vano menggebrak meja.


Nirmala terkejut dengan reaksi suaminya. Ia pikir Vano akan senang, akan tetapi ia telah salah. Bahkan Vano terlihat sangat marah.


"Va-vano, apa maksudmu?" Nirmala berbicara dengan terbata-bata.


Vano mencengkram rambutnya sendiri dan berjalan mondar-mandir di depan sofa. "Bagaimana ini mungkin. Aku harus memberikan uang 1 milyar pada kepala pelayan."


Nirmala mengerutkan kening karena tidak mengerti.


"Tiga hari yang lalu kepala pelayan mengatakan padaku tentang kecurigaan bahwa kau sedang mengandung. Akan tetapi, pada saat itu aku tidak percaya. Dan dia memberitahu aku untuk membeli alat tes kehamilan. Dia mengatakan jika dia benar, aku harus memberikan dia hadiah."


Nirmala melipat tangan di depan dada, ia mulai mengerti sekarang. "Lalu?"


Vano duduk kembali di sofa. "Aku berkata pada nya, jika dia benar, maka aku akan memberikan dia hadiah uang tunai 1 milyar. Namun jika dia salah, maka gajinya akan dipotong setiap bulan sampai satu tahun karena sudah memberikan aku harapan. Dan aku tidak menyangka ternyata dia benar. Sekarang aku harus memberikan dia uang 1 Milyar."


Beberapa detik hening, terdengar suara tawa Nirmala. "Hahahahahahahaha."


Vano melirik istrinya yang tengah tertawa dengan renyah.


"Ini adalah salahmu. Seharusnya kau percaya saja. Wanita lebih tahu tentang masalah kehamilan dari pada dirimu. Hahahaha, kau harus menempati janjimu, suamiku."


Awalnya Vano hanya bisa melongo melihat istrinya tertawa, akan tetapi beberapa saat kemudian ia juga ikut tertawa. Ia menghampiri istrinya kemudian memeluk istrinya dengan bahagia.


"Tidak apa-apa, aku tidak merasa rugi. Aku sangat bahagia sekarang. Jikapun aku harus mengeluarkan uang 100 milyar demi mengetahui bahwa kau sedang mengandung, aku tidak keberatan sama sekali," ucap Vano.


Nirmala tersenyum dalam pelukan Vano. "Benarkah? Jika aku ingin membuktikannya sekarang bagaimana?"


Vano langsung melepaskan pelukan mereka. "A-a-apa? Ti-tidak, itu hanya sebuah kata kiasan. Tidak mungkin aku mengeluarkan uang sebanyak itu, Sayang. Itu sama saja menghabiskan harta kekayaanku. Jika aku jatuh miskin, maka aku takut tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kau dan anak kita."


Nirmala tertawa ringan. "Aku tahu itu. Kau sangat mencintaiku dan sangat peduli padaku."

__ADS_1


__ADS_2