
Hari sudah sore, dari pagi hingga sore, Ara belum terbangun juga. Dan Reno juga tidak banyak bergerak. Pada awalnya ia tidak ingin gerakkannya membuat Ara terbangun, akan tetapi lama-kelamaan ia kesal karena gadis itu tidak menunjukan tanda-tanda akan bangun.
"Gadis ini tidur atau mati? Tidurnya lama sekali."
Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Ara. Ia yakin saat bangun nanti Ara akan lapar karena sudah berjam-jam tidak makan.
"Hei, bangun." Reno menggoyangkan bahu Ara. "Hei, bangun. Kau sudah tidur berjam-jam."
Reno mengulangi lagi dan lagi, dan akhirnya Ara mulai bergerak.
"Aaah, siapa yang menggangu tidur nyenyakku." Ara mengangkat kepalanya. "Eh, kau sudah sadar?"
Reno menghela nafas berat kemudian kembali memasang wajah dingin. "Harusnya aku yang bertanya, kau tidur atau mati suri? Sekarang sudah sore."
Mendengar kata 'Sore' Ara langsung melihat ke jendela. Benar saja, matahari yang tadi pagi belum terik, kini sudah tidak terlihat lagi. Mungkin sudah berpindah ke sebelah Barat. Ia kembali ke Reno.
"Mengapa kau tidak membangunkan aku?" Ara merapikan rambut kemudian duduk tegak. "Kau harus minum obat."
Ara bergegas pergi keluar kamar. Reno yang ditinggal di kamar itu hanya diam saja. Rasanya sangat malas untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Nafasnya panas, matanya juga terasa panas, serta kepalanya sangat pusing.
Beberapa menit kemudian Ara kembali masuk dengan satu nampan berisi buah dan bubur. Ara langsung duduk di tepi ranjang dan meletakkan semuanya di atas nakas.
"Buah dulu atau bubur?" tanya Ara.
Reno melirik ke arah buah. "Buah saja. Aku tidak suka bubur."
Tidak banyak bicara, Ara segera mengupas kulit apel. Sebagian orang mungkin tidak mengupas kulitnya, namun Ara terbiasa mengupas kulitnya terlebih dahulu karena menurutnya akan sangat tidak nyaman saat ditelan.
"Kau memiliki tangan, maka makanlah sendiri." Ara memberikan buah yang sudah dikupas kulitnya.
Reno menerima buah itu dan mulai memakannya. Setelah makan buah, Ara memintanya langsung minum obat. Reno tidak memiliki pilihan lain selain menurut. Ia sedang sakit, tentu saja ia butuh obat.
__ADS_1
Selesai makan buah dan minum obat, Ara memerintah Reno untuk berbaring. Lagi-lagi Reno menurut. Tentu saja kali ini karena Reno ingat bahwa gadis yang memerintah nya memiliki video sebagai ancaman.
"Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku keluar dulu." Ara menyelimuti Reno lalu pergi keluar.
Reno menatap punggung Ara. "Seandainya dia tidak menyebalkan, tentu saja dia adalah gadis yang baik. Sayangnya dia tidak akan pernah berhenti memancing emosiku."
* * * *
Dua hari telah berlalu, kondisi Reno sudah membaik, dan ia akan memulai aktivitasnya hari ini. Sebelum berangkat mengantar Vano ke kantor, ia kembali ke kamar lama Vano terlebih dahulu. Ternyata kamar itu sudah rapih seperti semula. Barang-barang yang hancur sudah diganti dengan yang baru.
Ia melangkah ke nakas lalu membuka lacinya. Ia mengambil sesuatu yang beberapa hari ini ia lupakan. Ia tersenyum saat melihat botol kecil itu.
"Aku melupakan mu, cairan biru. Sekarang aku akan melawan nya jika dia berani memerintah ku dan membuat rencana aneh lagi." Setelah itu ia segera keluar.
Cuaca pagi ini sangat cerah, mungkin musim kemarau akan tiba. Sambil menunggu tuannya yang masih sarapan, Reno memanaskan mesin mobil terlebih dahulu. Begitu pula dengan bodyguard yang biasanya mengawal Vano.
Begitu selesai memanaskan mesin mobil, selesai juga Vano sarapan. Sekarang Vano tengah pamit mesra dengan istrinya di teras rumah. Dan dibelakang Nirmala ada Ara yang sedang menunduk.
Entah mengapa mata Reno tidak dapat beralih begitu saja saat melihat wajah cantik Ara. Sudah dua hari ini ia belum melihat pergerakan Ara dan Nirmala. Sehingga sekarang ia harus mulai berhati-hati. Bisa jadi dua wanita itu menyimpan rencana mereka dengan sangat baik.
Suara Farhan sukses mengagetkan Reno yang ternyata sedang memandangi Ara dari kejauhan sehingga tidak sadar bahwa tuannya sudah masuk ke dalam mobil.
Reno tidak menjawab, ia hanya berdeham untuk menutupi rasa malunya. Sedangkan di belakangnya Vano hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil.
"Cepat jalan," perintah Farhan.
Mobil hitam mewah sudah parkir di tempat parkir bawah tanah. Begitu mobil berhenti, Vano dan Farhan langsung turun. Sedangkan Reno menunggu tuannya turun sebelum kembali pulang ke rumah keluarga Ravaldi.
Vano dan Farhan langsung masuk ke dalam gedung kantor, dan Reno masih di sana karena sedang memperbaiki posisi topinya.
Tak sengaja mata Reno menangkap mobil yang tidak asing untuknya dan baru saja parkir dibelakang mobil milik Vano. Begitu melihat orang yang turun dari dalam mobil, Reno mengepalkan tangan dengan kuat. Apalagi setelah melihat orang yang mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Reno mematikan earpiece yang terpasang di telinganya. "Kurang aj*r. Dia pikir dia bisa melancarkan aksinya dengan mudah?"
Sebelum turun, Reno mengambil jaket hitam, earpiece warna putih, masker hitam, memakai sarung tangan, lalu menukar topi yang ia kenakan. Ia juga mengambil secarik kertas dan juga pena. Dengan sangat cepat ia menulis sesuatu lalu dimasukkan ke kantung jaketnya.
Reno turun dari mobil setelah memakai semua yang ia ambil dari mobilnya, kemudian mengunci pintu mobil.
"Matikan seluruh kamera CCTV di kantor Raval Jaya," perintah Reno dengan nada yang sangat dingin dan tajam. Sebuah aura yang tidak bisa diartikan mulai keluar dari diri Reno.
Sambil mengikuti orang itu dari belakang, Reno mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya.
Orang yang berjalan paling belakang membuka tasnya. Sambil berjalan, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, ia menempelkan benda kecil yang berkedip-kedip di dinding lorong.
Saat itu juga Reno mengeluarkan sesuatu benda berwarna hitam dari balik jaketnya. Ia menempelkan benda tersebut pada bom kecil yang baru saja dipasang oleh orang tak dikenal itu. Bom yang berkedip itu langsung berhenti bekerja. Dan sekali ditancap oleh pisau, bom itu sudah rusak.
Reno melakukan hal itu dengan sangat cepat sambil terus berjalan mengikuti orang yang terus menempelkan bom di sana-sini. Hal tersebut terus terjadi berulang kali, sampai pada akhirnya Reno sudah berjalan tepat di belakang orang itu.
Reno menepuk bahu pria itu. Begitu pria itu menoleh, ia melayangkan tangan kanan di udara lalu mengayunkan ke leher pria tersebut.
'Sret'
Pada waktu yang sama, pria itu langsung tumbang ke lantai. Orang yang berjalan di depan langsung berbalik setelah mendengar seseorang jatuh.
Matanya membulat saat melihat orangnya tewas dengan darah yang masih mengalir dari lehernya. Ditambah lagi ia melihat sosok pembunuh itu masih berdiri tegak dan menatapnya.
"Si-siapa ka--"
Pria berpakaian serba hitam itu melempar sebuah kertas ke arah wajahnya. Bersamaan dengan itu, lampu di lorong kantor mati total.
Beberapa menit kemudian lampu kembali menyala. Segera ia membaca isi kertas.
'Selanjutnya adalah kau, Sain.'
__ADS_1
Sain meremas kertas itu. "Sialan! Pembunuh berdarah dingin itu masih hidup ternyata. Aku harus melaporkan ini pada ayah."
Hayo-hayo yang nunggu keseruan antara Reno dan Ara, nantikan segera ya👍