
"Ni-Nirmala, penampilan seperti apa ini?" Vano menatap Nirmala dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia masih terkejut sehingga butuh beberapa saat untuk mengatur nafas.
Tidak menghiraukan keterkejutan Vano, Nirmala malah mengepakkan tangannya seolah sedang terbang. "Bagus, kan?"
Vano melongo. Apa yang barusan istrinya katakan? Bagus? Dengan penampilan seperti kuntilanak bisa dibilang bagus? Rambut panjang terurai bebas, bedak putih tebal, mata diberi lingkaran hitam, dan menggunakan baju gamis kelalawar warna putih polos, sekarang istrinya terlihat seperti kuntilanak.
"Nirmala, apakah kau tau? Jantungku hampir copot melihat dirimu berpenampilan seperti kunti. Bagaimana bisa kau bilang ini bagus? Aku tidak habis pikir, untuk apa berpenampilan seperti ini dan dapat ide dari mana?"
Vano berjalan menuju sofa lalu duduk di sana sambil bertumpang kaki. Ia memijat pangkal hidungnya.
Nirmala tersenyum, ia berjalan ke nakas dan mengambil ponselnya. Ia berjalan menghampiri Vano dan menunjukkan layar ponsel pada suaminya itu.
"Lihat. Ini ide dari ibu hamil yang ini."
Vano melirik layar ponsel sekilas. Sebenarnya ia tidak peduli dengan foto yang Nirmala tunjukkan. Jika orang tersebut ada di depan matanya, mungkin ia akan memberitahu untuk tidak berpenampilan aneh. Karena orang itu, Nirmala jadi ikut berpenampilan aneh.
"Nirmala, aku sungguh tidak mengerti mengapa kau mau berpenampilan menyeramkan. Ini sudah hampir malam. Apakah kau ingin mengundang kuntilanak sungguhan?"
Nirmala menoleh ke samping kanan dan kiri. Tiba-tiba saja ia merasa takut. Ia takut ada kuntilanak sungguhan yang mengikuti dirinya karena berpikir ia sebagai temannya.
"Vano."
Tiba-tiba saja Nirmala melompat ke atas pangkuan Vano dan memeluk suaminya itu. Tentu saja Vano terkejut karena posisinya belum siap. Vano memegangi punggung Nirmala.
"Ada apa?" Vano mengerutkan keningnya.
"Aku takut, jika ada kuntilanak sungguhan bagaimana?" Nirmala memeluk Vano sambil membenamkan wajahnya di bahu suaminya.
Vano baru mengerti, ternyata ucapannya tadi berhasil menakut-nakuti istrinya. Tentu saja hal ini akan ia jadikan kesempatan. "Jangan takut. Maka dari itu segeralah bersihkan wajahmu dan ganti pakaianmu."
Bukannya mengikuti perintah Vano, Nirmala malah mempererat pelukannya dan semakin menyembunyikan wajahnya.
"Tidak mau. Aku takut di kamar mandi ada kunti sungguhan."
Vano mengangkat alisnya. Sebegitu takutnya kah istrinya? Ia mengusap punggung Nirmala dengan lembut. "Baiklah, akan aku temani."
__ADS_1
Setelah mendengar akan ditemani, barulah Nirmala mengendurkan pelukannya dan turun dari pangkuan Vano. Begitu Nirmala turun dari pangkuannya, Vano meringis karena kaki kiri yang tertidih kaki kanan ditindih lagi oleh badan Nirmala. Ia merasakan sakit sementara.
"Maaf, apakah aku menyakiti dirimu?" tanya Nirmala.
Vano menggeleng. "Tidak." Ia menghilangkan wajah meringisnya. Ia tidak ingin terlihat lemah. "Ayo."
Di kamar mandi, Vano bukan hanya menemani Nirmala mencuci wajah, akan tetapi ia juga membantu Nirmala membersihkan wajahnya. Sambil membantu Nirmala, ia tidak henti-hentinya tersenyum.
Ia merasa lucu dengan tingkah aneh istrinya itu. "Lain kali jangan melakukan hal konyol lagi."
Nirmala mengangguk, ia masih takut.
Setelah selesai mencuci wajah, mereka kembali lagi ke kamar. Tangan Nirmala tidak mau melepaskan tangan Vano sedetikpun. Sesampainya di depan ruang ganti, Vano melirik pada Nirmala.
"Kau ingin aku temani sampai ke dalam?"
Nirmala mengangguk. Karena takut, ia tidak fokus.
Vano mengangkat sebelah alisnya. "Serius? Kau ingin aku menemani dirimu berganti pakaian?" tanya Vano memastikan. Jujur saja ia tidak keberatan sama sekali, justru ia sangat senang.
Mendengar ucapan Vano yang kedua kalinya, Nirmala baru sadar bahwa ia harus mengganti baju sendiri. Ia pun menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku berani sendiri."
'trling'trling'
Vano merogoh saku celananya. "Ada apa? ... Aku akan turun."
Setelah itu Vano menutup sambungan telepon. Selesai memasukkan ponselnya ke saku celana, Vano mengetuk pintu ruang ganti.
"Nirmala, aku akan turun menemui tamu. Apakah kau akan baik-baik saja jika aku tinggal?"
"Hmmm? Mungkin tidak apa-apa. Lagi pula masih belum terlalu gelap," jawab Nirmala dari dalam ruang ganti.
* * * *
Sudah pukul 08.00 malam, tapi Vano belum kembali ke kamar. Sepertinya ia mendapatkan tamu yang membawa urusan penting. Nirmala sebenarnya sudah lapar, namun rasa tidak ingin bertemu dengan Raisa membuat ia enggan untuk turun ke bawah.
__ADS_1
Walaupun Raisa sendiri jarang sekali makan di bawah, akan tetapi ibu mertuanya itu sering kali jalan-jalan keliling rumah. Jika bukan karena Raisa memiliki mulut yang pedas, tentu saja Nirmala akan sangat menyayangi ibu mertuanya itu.
"Aku sudah sangat lapar, tapi Vano belum kembali juga. Apakah aku makan duluan saja? Apakah dia tidak akan marah?"
Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya ia memutuskan untuk memanggil pelayan dan memintanya membawa makanan ke kamar.
Nirmala menekan tombol hitam di dekat nakas.
"Pelayan, tolong bawakan makan malam ke dalam kamar." Setelah itu Nirmala melepaskan tombolnya.
Nirmala menunggu cukup lama, perutnya sudah menabuh gendang keroncong. "Mengapa lama sekali?"
Tiba-tiba lampu mati, Nirmala takut dan terkejut bukan main. Bukan hanya takut kegelapan saja, akan tetapi ia ingat dengan kuntilanak sungguhan yang dibahas tadi sore. Ia ingin berteriak memanggil Vano, akan tetapi ia ingat Vano masih ada tamu penting.
Nirmala berdiri, berusaha mencari ponselnya di atas nakas. Beruntung ada cahaya rembulan yang masuk lewat celah gorden. Dengan bantuan cahaya tersebut Nirmala berhasil melihat ponselnya. Segera ia menyalakan lampu ponsel.
'Tok-tok-tok'
Nirmala menunggu orang tersebut berbicara. Jika itu pelayan, sudah pasti akan berbicara meminta izin untuk masuk. Akan tetapi orang yang mengetuk diam saja, itu artinya orang tersebut adalah Vano.
"Vano? Apakah itu kau?" tanya Nirmala.
"Hmm."
Nirmala merasa tenang, akhirnya Vano kembali ke kamar. Karena Vani tidak langsung membuka pintu, ia berinisiatif untuk membukakan pintu.
'Ceklek'
Ternyata di lantai dasar lampu menyala terang, hanya lantai dua saja yang padam lampu. Arah mata Nirmala tidak sempat melihat orang yang berdiri di depannya, matanya lebih tertarik pada seorang pelayan yang tergeletak di lantai. Dengan nampan yang sepertinya sengaja diletakkan di lantai dengan hati-hati.
Belum sempat matanya melihat pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu lebih dulu membekap mulutnya dan membawanya masuk ke kamar. Pria itu menutup pintu dan membawa Nirmala terpojok ke dinding.
Ponsel Nirmala jatuh ke lantai dan pecah. Lampu mati sehingga ia tidak bisa melihat wajah pria itu sama sekali. Yang ia tahu pria itu memakai jaket dan penutup kepala.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Berselang satu detik setelah mendengar pria itu berbicara, Nirmala merasakan seperti tergigit semut kemudian merasakan sebuah cairan masuk melewati kulit yang sakit itu.
Hanya beberapa detik saja pandangannya kabur, badannya lemas, setelah itu ia tidak sadarkan diri.