Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 13 (S2)


__ADS_3

'Ceklek'


Ara yang mendengar pintu terbuka langsung melihat ke arah pintu. Setelah melihat siapa yang datang, ia langsung membuang muka jauh-jauh. Jika bisa, mungkin ia akan memutar kepalanya 180 derajat demi tidak melihat wajah yang terhalang topi itu.


Tanpa berbicara, Reno berjalan mendekati Ara yang duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur. Sepertinya ia sedang memperhatikan luka-luka yang sudah dibalut oleh perban.


"Hmm, tapi memang terlihat parah." Reno hanya berbicara dalam hati.


Masih tidak mengeluarkan suara, Reno hanya diam sambil menatap luka-luka Ara.


Ara menjadi salah tingkah karena ditatap lama oleh Reno. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat ke arah pria itu dan memasang wajah jutek.


"Apa maumu? Mau meminta maaf?" Ara melipat tangan. "Tidak akan. Kau sudah keterlaluan."


Suara helaan nafas Reno terdengar jelas di dalam kamar yang hening. Setelah beberapa detik diam, akhirnya dia berbicara. "Kau terlalu percaya diri." Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi.


"Dasar Reno pria tidak bertanggung jawab!" Teriak Ara kesal.


Reno menghentikan langkahnya. Ia langsung berbalik dan menatap tajam pada Ara. Ia tidak ingin semua orang tahu namanya, terutama para pelayan di rumah ini. Kemudian ia berjalan kembali ke arah Ara.


"Sekali lagi aku dengar kau meneriakkan namaku, maka aku akan merobek mulutmu itu," ucap Reno dingin, tajam, dan tegas.


Bukan Ara namanya jika mudah untuk diancam. Ia sama sekali tidak takut pada ancaman apapun, termasuk ancaman pria yang ada di depannya ini.


Dengan nada menantang, Ara berbicara sambil menyipitkan matanya. "Aku tidak pernah takut akan ancamanmu, RENO." Ia menekankan nama Reno.


Reno menarik nafas dalam dan panjang. Ia pikir tidak ada gunanya berbicara dengan Ara, hanya membuang-buang waktu saja. Setelah itu ia benar-benar pergi dari kamar tamu.


Ara menarik nafas kasar lalu melemparkan bantal ke lantai. Entah mengapa melihat ketidak pedulian Reno, ia merasa kesal sekali.


"Aku rasa misiku dan misi nyonya Nirmala tidak akan berhasil. Pria batu itu benar-benar menyebalkan. Tidak hanya kepalanya yang keras seperti batu, tapi hatinya juga."


Ara tidak henti-hentinya menggerutu sendiri. Sampai tidak sadar ada seseorang yang sudah berdiri di depan pintu.


'Prok-prok-prok'


Seseorang bertepuk tangan, Ara langsung melihat ke sumber suara.

__ADS_1


"Ternyata ada seorang pengawal murahan yang baru saja dijenguk oleh sopir pribadi tuan Vano." Lia tersenyum mengejek.


Wanita itu berjalan ke arah Ara, sedangkan Ara hanya diam tanpa menanggapi. Ia memasang wajah cuek seolah-olah tidak ada orang di sana.


"Dari cara dia bicara, sepertinya dia punya obsesi pada si Reno itu. Hah ... wanita seperti ini pasti akan melakukan cara licik murahan untuk memastikan si Reno jadi miliknya. Sudah tertebak." Ara berdecih dalam hati.


Lia berdiri di samping Ara, matanya tak henti-hentinya menatap mata Ara dengan tajam. "Katakan apa hubunganmu dengan sopir pribadi tuan besar Vano?" tanya Lia yang mendesak meminta jawaban.


Ara balik menatap tajam pada Lia. "Tidak ada urusannya denganmu, pelayan murahan."


Lia menggerakkan giginya karena sangat kesal. Baru kali ini ada orang yang berani berbicara seperti itu padanya. "Kau!--"


"Mengapa kau marah? Bukankah itu benar? Gajimu hanya 3 juta perbulan. Sedangkan aku, gaji sebulanku bisa mencapai 10 juta," ucap Ara memotong ucapan Lia.


Ara sebenarnya gadis yang ramah dan tidak kasar. Namun karena ditempa bertahun-tahun di tempat jasa bodyguard, lama-kelamaan ia menjadi gadis kuat, tegar, galak, dan cukup menakutkan. Yah ... sepertinya Lia salah mencari lawan dan ia belum menyadari itu.


"Heh! Jangan mentang-mentang kau ini pengawal pribadi nyonya besar Nirmala, lalu kau merasa terhormat. Aku, Lia Adiya, akan memastikan bahwa statusmu lebih rendah dari kotoran manusia di solokan." Lia mulai naik darah.


Ara malah tersenyum sinis. "Setahu ku tidak ada kotoran manusia di solokan. Jangan-jangan kau yang buang air besar di sana."


"Kau ingin mati?"


Suara berat, dingin, dan tajam terdengar dari belakang. Ternyata orang yang menahan tangannya adalah sopir pribadi Vano. Sungguh Lia terkejut dan merasa takut. Walaupun ia tidak bisa melihat wajah pria jangkung itu dengan jelas, namun ia sudah bisa merasakan aura tatapan tajam nan siap membunuh.


"Ka-kau?" Bibir Lia bergetar karena takut.


Berbeda dengan Lia yang terkejut dan ketakutan, Ara malah terkejut dan merasa terkesan. Ternyata Reno membelanya dan mungkin tidak ingin ia tersakiti. Sungguh hati Ara senang bukan main.


Kembali fokus pada Reno dan Lia.


Reno menghempaskan tangan Lia secara kasar. "Pergi dari sini, dan jangan mengganggu Ara lagi," ucap Reno tegas dan dingin.


Lia takut bukan main. Ia merasa takut melebihi rasa takutnya kala berhadapan dengan Vano. Walaupun ia tahu Vano dingin, tegas, dan mungkin bisa kejam, namun ia tahu Vano tidak akan sembarangan membunuh pelayanannya. Berbeda dengan sopirnya yang satu ini. Ia tidak tahu bagaimana sifatnya karena sopir Vano sangat tertutup.


"Ba-baik." Lia langsung terburu-buru keluar dari kamar tamu itu.


"Apakah ini alasan mengapa tuan Vano melarang keras semua pekerjaannya mengusik ketenangan sopir pribadinya?" Lia bergidik ngeri. "Sungguh menakutkan. Tapi, ini sungguh membuat aku ingin mendapatkan pria dingin ini. Sama seperti nyonya besar yang katanya bisa meluluhkan hati dingin tuan Vano."

__ADS_1


Sejak kepergian Lia, Ara tersenyum sendiri. Sedangkan Reno masih diam sambil menatap tajam pada Ara.


"Gila." Akhirnya Reno berbicara, akan tetapi hanya untuk mengeluarkan kata umpatan.


Ara melirik ke arah Reno. "Kau bilang gila pada siapa?" tanya Ara yang masih senang karena Reno membelanya. Ia pikir sekarang yang dibilang gila oleh Reno adalah Lia.


"Kau," jawab Reno singkat.


Ara menunjuk wajahnya sendiri. "Aku?" tanyanya bingung. "Mengapa kau mengatakan aku ini gila. Kau sudah membelaku, tapi sekarang malah mengatakan aku ini gila. Sebenarnya kau atau aku yang gila?" tanya Ara. Ia tidak terima dikatai gila.


Reno memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia tidak berniat menanggapi topik yang dibicarakan oleh Ara.


"Mengapa kau tidak melawan saat akan ditampar oleh pelayan tadi?" tanya Reno.


Ara tersenyum sinis lalu menatap semua luka yang masih diperban. "Seseorang sudah membuat aku terluka lalu tidak mau bertanggung jawab ataupun meminta maaf. Sebab dia, mungkin beberapa hari ini aku tidak dapat melawan wanita gila itu jika dia kembali menindas ku lagi." Ara berbicara dengan nada penuh sindiran.


"Seberapa parah lukamu?" tanya Reno.


Dalam hati Ara menjerit senang. "Akhirnya dia peduli juga. Ya walaupun nada bicaranya tidak menunjukkan bahwa dia peduli."


"Seperti yang kau lihat. Pergelangan tangan dan kakiku terkilir. Telapak tangan, siku, dan lutut luka," jawab Ara sambil menunduk, pura-pura sedih.


Sama seperti Vano, Reno bisa tahu orang yang berbohong ataupun yang berpura-pura. Tanpa berbicara, Reno duduk di tepi ranjang, tepatnya di samping Ara. Tanpa persetujuan dari Ara, Reno menarik pergelangan tangan gadis itu untuk melihat seberapa parah lukanya.


"5 juta," ucap Ara.


Gerakkan Reno yang baru mengangkat tangan Ara langsung berhenti. Ia menatap Ara dari balik topinya.


Merasa ditatap, Ara ingin tertawa. Sepertinya ia harus melakukan hal yang sama dengan Reno. Yakni memasang tarif setiap kali Reno menyentuhnya.


"Berarti hutangku 70 juta lagi," lanjut Ara.


"Kalau begitu, berapa tarif harga jika meniduri mu?" tanya Reno masih dengan tatapan dan nada bicara yang sepertinya biasanya, dingin dan menyebalkan.


Ara membulatkan matanya, dan ....


Hayooo ... dan apa ya kira-kira?

__ADS_1


__ADS_2