Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 23 (S2)


__ADS_3

"Apa rencana selanjutnya?" Suara Nirmala terdengar di telinga.


"Saya rasa kita harus membuat Reno mematuhi apapun yang saya katakan." Kini suara Ara yang terdengar.


"Bagaimana caranya?" tanya Nirmala.


Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang sedang berbaring santai sambil bertumpang kaki. Orang itu tidak henti-hentinya tersenyum saat mendengar percakapan dua wanita yang ada di kamar tuannya.


"Saya akan memasang kamera ponsel di tempat yang tersembunyi di kamarnya. Nanti Anda panggil dia, lalu Anda perintahkan menginap di sini. Apapun alasannya, yang terpenting dia menginap di sini. Saat tidur, tentu saja dia tidak memakai topi. Kamera ponsel saya akan merekam wajahnya dengan jelas. Dengan begitu, jika saya memiliki rekaman wajah aslinya, kita bisa mengancamnya dengan mudah."


Orang yang setia mendengarkan rencana itu kembali tersenyum.


"Ah ... kau memang jenius, Ara." Nirmala memuji Ara.


Di kamar lama Vano, Reno menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jenius dari mananya? Dia tidak ada pintar-pintarnya sama sekali."


Merasa sudah cukup mendengarkannya, Reno memutusakan sambungan earpiece dengan penyadap di kamar Nirmala. Ia menarik nafas panjang dan dalam. Lelah rasanya terus berurusan dengan dua wanita itu.


"Aku sudah salah memilih pengawal pribadi nyonya besar."


Reno menyesal telah membawa Ara ke dalam keluarga Ravaldi. Andai saja ia tidak membawa gadis itu, mungkin hidupnya masih santai dan identitasnya masih aman. Namun karena gadis itu, sekarang identitasnya mulai terancam. Meminta bantuan pada Vano pun percuma, pasti kakaknya itu akan memilih mendukung istrinya.


"Kita lihat saja, apakah rencanamu itu akan berhasil setelah aku mengetahuinya lebih dulu?" Reno memilih untuk menyegarkan pikiran dengan mandi.


* * * *


Sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh Ara. Ketika Reno menjemput Vano di kantor, gadis itu meletakkan kamera ponsel di balik lampu nakas. Ia sudah memastikan bahwa kamera bisa menjangkau seluruh kamar dengan baik.


Dan sesuai dengan keinginan Ara, Nirmala meminta bantuan Vano untuk melancarkan aksi ini. Vano pun setuju tanpa keberatan sama sekali. Saat di perjalanan pulang kantor, Vano meminta Reno untuk menginap, dengan alasan ada urusan yang harus di sampaikan.


Reno setuju saja, lagi pula mana mungkin ia bisa menolak. Tapi dalam hatinya. "Hmh, benar dugaanku, tuan Vano juga akan ikut serta dalam menjebak ku. Baiklah, kali ini akan aku ikuti permainan gadis itu, tapi tidak akan aku biarkan berhasil."


Malam hari pun tiba, sekitar pukul 10.25 malam, Reno masuk ke dalam kamar setelah membicarakan hal yang cukup penting dengan Vano di ruang pertemuan. Ia menarik nafas ketika ingat Ara pasti sudah memasang kamera di kamar itu.


Ia tidak tahu di mana Ara meletakkan kameranya. Tidak mungkin juga ia memperhatikan ke sekeliling, yang ada Ara akan curiga bahwa ia sudah mengetahui rencana gadis itu. Akhirnya ia memilih untuk mandi terlebih dahulu.


Di lain tempat, Ara sedang berhadapan dengan laptop. Ia berbaring di kasurnya dengan posisi tengkurap. Malam ini ia sendiri yang harus mengawasi Reno lewat ponsel yang sudah ia hubungkan ke laptop.

__ADS_1


Ia tersenyum saat melihat Reno masuk ke dalam kamar. Pria itu langsung mengambil handuk dan juga pakaian ganti lalu pergi ke kamar mandi. Sekarang Ara tinggal menunggu Reno selesai mandi dan keluar tanpa topi. Atau ia harus menunggu lagi sampai Reno tidur.


Beberapa menit kemudian, Reno keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu sudah memakai pakaian lengkap tanpa menggunakan topi. Wajah tampannya terlihat jelas saat Reno berjalan ke arah tempat tidur.


Pada awalnya Ara sempat terpesona, namun ia kembali fokus pada rencananya. Dilihatnya Reno mematikan lampu utama lalu menyalakan lampu nakas. Pada detik-detik itu Ara benar-benar khawatir jika Reno melihat ponselnya. Dan beberapa detik kemudian ia bernafas lega karena Reno sudah berbaring di tempat tidur. Pria itu berbaring membelakangi kamera.


Tanpa Ara ketahui, Reno tersenyum miring. "Ternyata di sana dia meletakkan kameranya."


Setengah jam kemudian.


'Ckelek.'


Reno memejamkan matanya seolah-olah ia sudah tertidur. Ia mendengar langkah kaki yang sangat samar, nyaris tidak terdengar. Ia sangat yakin orang itu adalah Ara yang akan mengambil ponselnya kembali.


Walaupun terpejam, ia tahu bahwa sekarang Ara sedang melambaikan tangan di depan wajahnya. Untuk apa lagi jika bukan untuk memastikan dirinya sudah benar-benar tertidur.


"Gadis ini harus diberi pelajaran. Jika dibiarkan, dia pasti akan semakin berani." Reno masih memejamkan mata. Ia sendiri sudah memiliki rencana tersendiri untuk menggagalkan rencana Ara.


Beberapa saat kemudian, Ara sudah berhasil mengambil ponselnya. Kembali ia mengendap-ngendap untuk keluar dari kamar lama Vano. Berhasil menjauh dari ranjang, kini Ara tinggal memutar gagang pintu.


'Cklek-cklek-cklek'


'Deg'


Tiba-tiba kamar menjadi gelap gulita. Ara sudah mengambil waspada tingkat tinggi.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Hmm?" Bersamaan dengan suara dingin itu, ia merasakan ada benda yang sangat tipis dan dingin menempel di lehernya. Ia sangat kenal rasa benda itu. Pisau sudah siap memutuskan urat lehernya.


"Re-re-reno, ini hanyalah hal sepele. Tidak mungkin kan kau membunuh orang hanya karena hal sepele seperti ini?" Ara berbicara dengan ragu. Ia khawatir Reno benar-benar akan membunuhnya.


Ia sudah diceritakan oleh Nirmala tentang kehidupan Reno. Sekarang ia ingat ucapan tentang Reno yang berdarah dingin dan mungkin kejam.


"Jangan pernah main-main dengan ku." Suara dingin Reno kali ini benar-benar dingin dan menikam tajam.


"A-a-aku ...."


Ara tidak bisa meneruskan kata-katanya ketika merasakan pisau mulai bergerak halus dipermukaan kulitnya.

__ADS_1


"I-i-ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ara sedang mencari celah kelengahan Reno. Jika Reno lengah sedikit saja, ia pasti akan memanfaatkan situasi itu.


Dan ....


'Bhug!'


Ara memukul diafragma Reno dengan sikunya. Ia pikir hal itu akan berhasil membuat Reno yang ada di belakangnya mundur. Tapi ternyata dia salah, Reno menarik tangan kanan Ara. Merasa akan dikunci di dinding, Ara mendorong Reno dengan kuat. Reno memang berhasil didorong, akan tetapi dengan membawa Ara bersamanya.


Ara merasa Reno membalikkan posisi. Langkah mundur Ara tertahan oleh sesuatu. Ara yang tidak bisa menyeimbangkan diri akhirnya jatuh. Tapi ia bersyukur karena jatuh di tempat yang sangat empuk. Belum sempat bernafas, ia merasa ditindih oleh Reno.


'Ting'


Lampu nakas menyala. Ara mendapati dirinya sedang berada di atas ranjang dan dalam kuncian Reno. Wajah pria itu terlihat sangat marah. Tangan kiri Reno mengunci tangan Ara, sedangkan tangan kiri digunakan untuk memegang pisau.


"Serahkan ponsel itu," perintah Reno dengan tatapan membunuh.


Ara mencuri lirik ke arah nakas. "Ah, ternyata sama seperti sistem di kamar nyonya besar."


Ara kembali fokus pada Reno. "Jika aku tidak mau?" tanya Ara pura-pura memiliki mental baja, padahal kakinya sudah lemas saat melihat Reno dengan tatapan tajam serta pisau di tangan. Ia memang jago dalam bela diri, namun jika sudah dikunci seperti ini, mana mungkin ia bisa berkutik lagi.


"Aku akan membunuh mu," jawab Reno.


Ara menaikkan sebelah alisnya, seolah sedang bercanda. "Jika aku mati, kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari ku."


Reno tersenyum miring. "Memangnya apa yang kau punya? Kau tidak memiliki apa pu--"


'Cup'


Mata Reno membulat sempurna. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang, dan otaknya tidak bisa berpikir. Ia seperti patung yang tampan sedang terkejut.


"Itu yang aku miliki," ucap Ara sambil tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Setelah dirasa Reno benar-benar tidak berkutik, Ara segera mendorong Reno dari atasnya. Ia menggapai tombol hitam di atas nakas. Setelah itu ia bangkit dan berlari dengan cepat keluar dari kamar Reno.


Sedangkan orang yang baru saja didorong masih terbengong-bengong. Ia terbaring sambil menatap kepergian Ara. Kemudian tangannya terangkat ke wajah. Ia menyentuh bibirnya sendiri sambil mencerna peristiwa yang baru saja terjadi.


"Ara, kau ...."

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya nanti sore, oke?👍


__ADS_2