
Vano membulatkan matanya. "Anak Raisa?"
"Ya. Sudah bertahun-tahun aku mengulik informasi tentang Raisa, baik informasi biasa, maupun informasi rahasia. Sebelum menikah dengan ayah kita, Raisa sudah memiliki suami dan satu anak, yaitu Paul dan anaknya bernama Sain. Raisa meninggalkan Sain ketika Sain berusia 5 tahun. Paul rela Raisa menikah dengan ayah kita dengan syarat setiap bulan Raisa harus mengirimkan uang untuk perkembangan perusahaannya," jelas Reno.
Vano mengangkat tangan. "Tunggu-tunggu. Apakah lepasnya perusahaan Liona dari tangan keluarga Ravaldi ada sangkut pautnya dengan ini?" tanya Vano.
Reno mengangguk. "Betul. Raisa lah yang diam-diam memindahkan saham Liona ke perusahaan Paul." Reno melanjutkan penjelasannya. "Saat ibu kita meninggal dan ayah kita gila, dia pikir akan mudah untuk menguasai seluruh kekayaan keluarga Ravaldi, namun dia salah besar. Pak Farhan mengamankan semua aset kekayaan kita dengan baik. Ditambah lagi saat SMA pun kau sudah matang untuk memegang perusahaan. Hal itu menyebabkan dia harus tetap menjadi nyonya besar Ravaldi lebih lama. Akan tetapi, siapa sangka, kau bisa menyingkirkan dia pada akhirnya."
Vano menyandarkan punggungnya. Menghadapi hal seperti ini ia sudah sangat muak, akan tetapi ia harus menghadapinya. "Lalu sekarang bagaimana?"
Reno tersenyum kecil. "Kau tenang saja, Kak. Aku bisa mengatasinya asalkan kau mengizinkan ku melakukan apa yang akan aku lakukan."
Vano melirik pada adiknya dengan tatapan bingung. "Apa?"
"Izinkan aku menghabisi mereka satu persatu," ucap Reno. "Mereka sudah sangat jahat, Kak. Mereka sudah banyak melakukan kejahatan kriminal. Mereka bisnis narkoba, wanita, dan perjudian. Tidak sedikit pula mereka membunuh rekan kerjanya. Bahkan waktu itu saja dia berencana membunuhmu jikalau aku tidak menghentikan mereka."
Vano terlihat sedang berpikir keras. Tak lama kemudian ia mengangguk. "Baiklah, tapi sebisa mungkin jangan sampai mereka hilang nyawa."
Setelah itu mereka pun menyusun rencana sebaik mungkin.
* * * *
"Kau terlihat sangat senang setelah mengunjungi rumah kakak." Reno melirik ke samping, ke arah istrinya yang tengah duduk di kursi samping pengemudi.
Mobil sport hitam tengah melaju kencang di jalan yang cukup sepi. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah mereka.
"Tentu saja aku sangat senang. Di rumah kita aku tidak memiliki teman berbicara. Ya sekarang kau memang tidak dingin lagi padaku, namun tetap saja kau tidak pandai berbicara layaknya wanita."
Reno kembali fokus ke depan.
Tak butuh waktu lama, mobil sport memasuki halaman rumah. Pintu garasi terbuka sendiri dan Reno tinggal memasukkan mobilnya ke dalam sana.
Ara melepas sabuk pengaman. "Aku turun duluan."
Reno mengangguk saja dan hanya memperhatikan istrinya yang turun dari mobil dengan secepat kilat.
Selesai memasang keamanan di dalam garasi, Reno menutup garasi. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya yang pertama.
"Ara?"
Saat sudah berada di dalam rumah, ia mencari keberadaan istrinya di ruang tamu. Tempat yang paling disukai dari rumahnya adalah ruang tamu. Sebab itulah ia mencari keberadaan istrinya di sana.
__ADS_1
"Ke mana dia? Cepat sekali jalannya."
Reno berjalan ke lantai dua. Ia akan mencari istrinya di kamar.
'Ceklek'
"Ara?" Reno mengernyitkan dahi ketika masih tidak menemukan istrinya. "Dia pergi ke mana?"
Reno berniat mencari Ara ke kamar mandinya. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba lampu mati. Walaupun lantai dua sudah berada di permukaan tanah, namun karena hari sudah gelap, tentu saja kamarnya menjadi gelap gulita jika lampu tidak dinyalakan.
Bukannya takut, Reno malah tersenyum. "Ara, aku tidak takut sama sekali. Aku tahu itu kau."
Masih sunyi tak ada suara.
"Ara, aku tidak takut, akan tetapi aku tidak bisa melangkah ke mana pun karena gelap. Cepat nyalakan lampunya." Reno berbicara sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Baiklah jika itu mau mu, aku akan menyalakan lampu ponsel saja."
Saat Reno akan merogoh saku celana, telapak tangan halus menutupi kedua belah matanya dari belakang. Bersamaan dengan itu lampu di kamar menyala, akan tetapi Reno belum bisa melihat karena matanya tertutup.
"Happy birthday, Reno Sayang!!" Ara mengucapkan selamat ulang tahun untuk Reno dengan sangat semangat.
Ara menyingkirkan tangannya dan membiarkan Reno membuka mata perlahan.
Saat membuka mata, Reno takjub begitu melihat kamarnya. Seingatnya tadi saat masuk tidak ada yang spesial dari kamarnya, tapi mengapa sekarang ada banyak kelopak mawar dan balon berbentuk love yang bertebaran di lantai. Walaupun sederhana, namun ia sungguh tersanjung. Ia berbalik badan untuk melihat istrinya.
"Terima kasih." Ia meraih kening istrinya lalu mengecupnya. "Kau tahu dari mana tentang hari ulang tahunku?"
"Dari KTP mu," jawab Ara sambil tersenyum.
Reno mengedarkan pandangannya ke seluruh lantai kamar. "Dan kau yang mempersiapkan ini semua?" tanya Reno lagi.
Ara mengangguk cepat, sungguh mungil dan menggemaskan. "He'eh. Saat lampu aku matikan, aku menabur kelopak mawar ini dan menyebarkan semua balon ini."
"Lalu dari mana kau mendapatkan ini semua?" tanya Reno lagi. Sungguh ia sangat penasaran.
"Dari kak Nirmala. Aku meminta bantuannya untuk membelikan semua ini. Tadi pagi pelayanannya membelikannya, lalu sebelum pulang, diam-diam aku memasukkannya ke dalam tasku."
Reno memperhatikan balon yang berserakan. Dengan durasi yang begitu singkat, ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara istrinya meniup semua balon itu.
"Oh ya, jangan banyak bertanya. Kau belum meniup lilin. Sebentar ya, aku ambilkan dulu. Kau tunggu di sini."
__ADS_1
Ara pergi sebentar ke luar kamar. Dan tak butuh waktu lama ia sudah kembali dengan kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun Reno ... Selamat ulang tahun." Ara melantunkan lagu ulang tahun menggunakan bahasa Indonesia.
Reno tersenyum lebar dan menatap cinta pada istrinya. Bersamaan dengan selesainya lagu ulang tahun, ia pun meniup lilin dengan satu kali tiupan.
Ara tertawa senang. Walaupun hanya dirinya sendiri yang merayakan, namun suara kehebohan Ara sukses menghangatkan acara ulang tahun itu. "Yeeeeeyyy!" Ingin rasanya ia bertepuk tangan, namun kedua tangannya memegang nampan kue.
Reno memegang bahu Ara dan menuntunnya untuk duduk di atas sofa kamar. "Mari kita potong kue nya."
Reno memotong kue dengan senyum yang terus mengembang. Satu potongan pertama ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri, tapi hanya separuh.
Melihat Reno memasukkan potongan bolu ke dalam mulutnya sendiri, Ara langsung cemberut. "Kau tidak memberikan potongan kue pertama untuk ku? Apakah aku tidak spesial?" Ara merajuk.
Reno menarik kepala Ara ke arahnya. Ia mengarahkan separuh dari potongan bolu yang belum masuk ke dalam mulutnya ke mulut Ara.
Tahu maksud dari Reno, Ara pun membuka mulutnya dan memakan kue yang disuapi oleh Reno. Saat mengunyah kue ulang tahun, pipi Ara benar-benar merona, ia tidak menyangka suaminya akan begitu romantis, menyuapinya langsung dari mulut ke mulut.
"Kau belajar hal romantis dari mana?" tanya Ara dengan pipi yang masih merona.
Reno tersenyum. "Hanya mengikuti naluri," jawabnya singkat. "Apakah kau punya hadiah?" tanya Reno.
Ara mengangguk. "Punya."
"Apa itu?" tanya Reno yang mulai penasaran.
Ara berjalan keluar kamar. Tak lama kemudian ia kembali lagi. Di tangannya ada sebuah kotak. Ia duduk di samping Reno, lalu membuka kotaknya.
"Ini dia." Ara mengangkat dan menunjukkan hadiahnya.
Mata Reno langsung membulat, ia tidak percaya dengan apa yang sedang dipegang oleh istrinya. Bagaimana tidak, Ara tengah menunjukkan dress tidur yang lebih pantas disebut saringan tahu yang dihias.
Reno menatap istrinya. "Bukankah kau sedang datang bulan?"
Ara tersenyum lebar, lebih tepatnya menyeringai. "Aku sengaja berbohong, hehehe."
Reno gemas sekali dengan tingkah Ara. Ia pun mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Lihat saja ya, kau sudah membuatku puasa selama tiga hari ini."
Ara tertawa sambil menepis tangan suaminya. "Aku berbohong demi mempersiapkan hadiah ulang tahun untukmu."
Reno menatap istrinya dengan tatapan penuh sayang. "Hmm, aku tahu itu. Terima kasih, Ara."
__ADS_1