
'Tap-tap-tap'
Vano menoleh ke sumber suara. Ternyata orang tang berlari adalah seorang kepala pelayan. Pelayan tersebut langsung bersimpuh di kaki Vano.
"Ampun Tuan Muda." Terlihat wajah pelayan tersebut pucat pasi.
Ketakutan dan kekhawatiran yang kepala pelayan itu tunjukkan mengundang perhatian Vano. Ia menjadi sangat penasaran. "Ada apa?" tanyanya.
"Tuan Muda, a-ada yang tidak beres. Pelayan yang mengantar makanan pingsan di depan pintu kamar tuan dan nyonya muda. Da-dan nyonya muda tidak ada di kamarnya."
"Apa!" Vano berdiri dengan wajah terkejut.
Tidak mempedulikan tamunya, Vano langsung berlari ke kamar atas dengan cepat. Sesampainya di lantai dua, ia melihat kondisinya gelap. Sepertinya ada yang sengaja memutus kabel listrik di lantai dua. Vano menyalakan lampu ponselnya.
Ponsel Nirmala pecah di lantai, jendela besar terbuka, dan di pagar balkon ada tali panjang menjuntai sampai ke bawah.
"Sialan!" Vano meninju dinding dengan sangat kuat. Pelayan yang mengikutinya langsung mundur karena ketakutan.
"Panggil seluruh penjaga dan bodyguardku! Panggil juga Farhan dan nyonya besar! Cepat!"
Pelayan tersebut sangat gemetar. "Ba-baik, Tuan Muda."
Vano menatap tajam pada tali yang ia duga sang penculik membawa Nirmala turun dengan tali itu. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga memutih ujung buku jarinya. "Rafan." Rahangnya mengeras.
* * * *
'Buk!'
'Buk!'
'Buk!'
Semua penjaga dan bodyguard terkapar di lantai. Tidak ada satupun yang bersih dari darah di wajah mereka. Walaupun demikian mereka tidak berani melawan ataupun mampu melawan. Kesetiaan mereka dan rasa ikhlas mengabdi membuat mereka menerima apapun yang dilakukan tuan muda terhadap mereka.
"Dasar tidak berguna!" Suara Vano mengisi seluruh sudut ruangan.
Farhan menunduk di belakang Vano, sedangkan nyonya besar gemetar melihat Vano mengamuk seperti sekarang.
"Bagaimana bisa ada penyusup yang masuk! Seharusnya kalian jadi b*nci saja. Melakukan penjagaan di mana-mana tapi tidak berguna sama sekali!"
Walaupun sudah dimaki-maki, semuanya hanya menunduk. Mereka tahu ini adalah kesalahan fatal mereka. Tapi mereka memang sudah melakukan penjagaan dengan sangat ketat selama 24 jam secara bergantian. Mereka juga tidak tahu dengan cara apa sang penculik itu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sialan! Tidak ada gunanya berbicara dengan orang bodoh seperti kalian." Vano mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena emosi.
Ia berbalik pada Farhan. "Bagaimana dengan cctv?" tanya Vano.
Walaupun ia sedang menunduk, akan tetapi Farhan tahu bahwa Vano sedang berbicara padanya. "Semua sistem komputer cctv tidak ada yang berfungsi, Tuan Muda. Termasuk yang menghadap ke jalan besar."
Vano menghempaskan diri ke sofa. Kepalanya susah sangat penuh dan terasa hampir pecah karena emosi. Sebenarnya ia tidak peduli dengan bagaimana cara penyusup itu bisa masuk, hanya saja ia perlu tahu agar bisa memastikan cara apa yang akan mereka gunakan untuk menemukan Nirmala dengan segera.
Hening, tidak ada yang berbicara sama sekali. Bahkan semua orang memastikan bahwa nafas mereka tidak akan terdengar oleh tuan muda mereka, termasuk Raisa.
"Pak Farhan."
Farhan maju selangkah dan membungkuk. "Saya, Tuan Muda."
"Panggil sopir pribadiku."
Farhan mengangguk, ia menjauh sedikit lalu menghubungi sang sopir pribadi melalui panggilan telepon. "Tuan Muda memanggil mu ke rumah besar. Ada masalah serius."
Setelah Farhan memutuskan panggilan telepon, ruang tengah itu kembali sepi. Semuanya menunduk tanpa berani bergerak dari tempatnya.
"Jika sampai ada orang dalam yang membantu penyusup itu, aku tidak akan segan-segan menghabisi nya. Walaupun dia berposisi tinggi sekalipun." Ucapan Vano mengarah tajam pada Raisa.
Kepala pelayan maju satu langkah dan membungkuk kemudian menunduk dalam. Tangannya gemetar dan keringat dingin bercucuran dari keningnya. "Saya, Tuan Muda."
"Apakah pelayan yang mengantarkan makanan untuk Nirmala sudah sadarkan diri?" tanya Vano.
Pelayan tersebut mengangguk. "Sudah, Tuan Muda. Tapi, dia mengalami trauma. Dia takut menemui Anda. Dia hanya menyampaikan bahwa ia dibius oleh sapu tangan, dia tidak sempat melihat orang tersebut."
Vano memperhatikan kepala pelayan tersebut.
"Vano, apakah kau melihat dia sangat gemetaran. Aku rasa dia ada hubungannya dengan semua ini," ucap Raisa yang sedang menunjuk kepala pelayan.
Kepala pelayan tersebut langsung menangis. Ia bertekuk lutut dan memohon pada Vano. "Ampun Tuan Muda, saya tidak melakukan apapun. Yang dituduhkan oleh nyonya besar tidak benar."
Raisa melipat tangan di depan dada. Sepertinya Vano sedang mempertimbangkan ucapannya tadi, maka dari itu sekarang Vano masih diam sambil memperhatikan gerak-gerik kepala pelayan tersebut.
"Tidak usah berpura-pura. Kau gemetaran dan sampai menangis ketakutan, hal itu sudah cukup membuktikan bahwa kau ber--"
"Jangan berbicara sembarangan, Nyonya Besar. Saya lebih percaya pada kepala pelayan ini dari pada Anda. Dia sudah mengabdi pada keluarga Ravaldi sebelum Anda menginjakkan kaki di rumah ini. Dia menangis karena takut dituduh. Ingat Nyonya Besar, saya selalu tahu mana yang berbohong dengan mana yang jujur."
Raisa langsung terdiam. Lagi-lagi ucapan Vano selalu bisa membuatnya bisu dan tak berkutik.
__ADS_1
"Tuan Muda, sopir sudah datang." Farhan memberitahu kan ke datangan sang sopir yang masih berjalan di ruang tamu.
Setelah sosok sopir misterius muncul di ruang tamu, Vano duduk tegak lalu berdiri. Sang sopir pribadi menghentikan langkahnya karena di lantai banyak bodyguard dan penjaga rumah yang sedang uring-uringan kesakitan.
Seperti biasanya, wajah dan ekspresi sopir itu tidak terlihat karena tertutup oleh topi yang digunakan. Menyadari tuan muda sedang menatapnya, ia langsung membungkuk memberi hormat.
"Selamat malam, Tuan Muda."
Vano berbalik dan berjalan menuju anak tangga. "Ikuti aku."
Sopir pribadi itu mengangguk dan berjalan mengikuti tuannya. Walaupun ia sebatas sopir pribadi, akan tetapi wibawa dan karismanya sangat kuat. Bahkan sikap dinginnya mampu menyaingi tuan muda Vano.
"Pak Farhan, kira-kira apa yang akan dibahas pribadi oleh Vano dengan sopir itu?"
Farhan menoleh pada Raisa lalu tersenyum. "Saya tidak tahu, Nyonya Besar."
Satu jam menunggu kembalinya tuan muda Vano dan sopir pribadi ke lantai bawah, akhirnya kedua pria yang ditunggu turun juga. Akan tetapi ada ekspresi yang berubah dari wajah Vano.
Pria itu terlihat lebih tajam dan dingin. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Sepertinya amarah yang tadi sedikit menurut kini tiga kali lipat meninggi lagi. Sedangkan sopir pribadi dengan patuh mengikuti langkah kaki Vano dengan satu buah laptop di tangannya.
Sesampainya di lantai dasar, Vano langsung duduk di sofa. Sedangkan yang lain tetap berdiri.
"Nyonya Besar." Suara itu rendah namun mematikan.
Raisa langsung pucat pasi. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia sudah ketakutan setengah mati mendengar nada suara Vano yang siap memenggal lehernya.
"Jujur atau saya yang bertindak."
Raisa gemetar, sepertinya seluruh darah hilang dari tubuhnya. "A-a-apa maksudmu, Vano?"
Vano meraih vas bunga di atas meja.
Raisa membelalakkan matanya, termasuk semua orang.
'Prang' Vas bunga tersebut melewati wajahnya dengan jarak satu centimeter saja dan mendarat di lantai. Raisa mematung tak dapat bergerak. Bahkan bibirnya gemetar.
"Lain kali vas itu akan tepat mengenai wajahmu, wahai wanita busuk." Vano yang sedari tadi tidak menatap Raisa, kini menatap wanita itu dengan sorot mata membunuh.
* * * *
Maaf ya gantung lagi. Gak apa-apa ya digantung-gantung dulu. Maaf juga Sely upnya baru bisa satu episode perhari🙏. Masih ada banyak novel yang sely urus. Mohon pengertiannya ya kak, yang penting cerita ini terus up sampai tamat😊. Semoga kakak suka dan memaklumi sely yang masih banyak kekurangan ini. Semoga hari-hari kakak menyenangkan.😘
__ADS_1