Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 7 (S2)


__ADS_3

Vano berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Nirmala, ia diperintah oleh Vano untuk kembali ke kamar. Sesampainya di ruang tamu, ia melihat Reno masih berdiri di samping sofa.


"Duduklah," ucap Vano mempersilahkan.


Sikap tegasnya sudah kembali. Seperti biasanya, mereka berdua tetap pada profesionalisme. Tidak ada obrolan dan gerak-gerik yang menunjukkan bahwa mereka sebenarnya kakak-beradik kandung.


"Langsung saja, aku tidak memiliki banyak waktu," ucap Vano lagi.


Setelah duduk, Reno langsung menunduk lagi. "Saya telah menemukan orang untuk menjadi pengawal pribadi nyonya besar Nirmala."


Vano menyandarkan punggungnya dengan santai. Tadinya ia ingin buru-buru menyelesaikan percakapan dengan adiknya yang dingin dan dinilai membosankan. Akan tetapi setelah mengetahui topik yang dibahas ada sangkut pautnya dengan Nirmala, ia pun memutuskan untuk memperpanjang obrolan ini.


"Baiklah, kerjamu cepat juga. Siapa orangnya?" tanya Vano.


"Akan saya panggilkan untuk Anda, Tuan Besar."


Reno berdiri lalu berjalan menuju teras rumah. Tak butuh waktu terlalu lama, ia sudah kembali dengan seorang gadis cantik. Tidak seperti para pelayan maupun pekerja Vano lainnya, gadis itu tidak menundukkan kepalanya sama sekali.


"Gadis ini, apakah dia cari mati?" Dalam hati Vano sungguh kesal dan ingin menusuk matanya dengan paku panas. Akan tetapi gadis ini adalah gadis yang diinginkan Vano menjadi anak buahnya pada satu tahun yang lalu.


"Selamat pagi, Tuan Besar Vano." Barulah gadis itu memberi salam dengan rengkuhan sopan dan hormat. Akan tetapi, tidak dengan ekspresi wajahnya.


"Siapa namamu?" Seperti biasanya, Vano tidak akan pernah menjawab sapaan orang lain.


"Nama saya Nara Shakira. Panggil saja saya Ara," jawab Ara.


Vano mengangguk. Entah mengerti dari mana, Reno seolah-olah dapat menangkap sinyal memerintahkan duduk dari mata Vano. Ia pun duduk di sofa lalu disusul oleh Ara.


"Aku harap kau bisa bekerja dengan baik di sini. Dan yang paling terpenting adalah kesetiaanmu pada keluarga Ravaldi, terutama pada nyonya besar Nirmala." Sambil mengucapkan itu, Vano menumpangkan kaki kanan ke atas kaki kiri.


Ara mengangguk. "Pasti."


Namun dalam hati. "Hmh, jika bukan karena aku memiliki hutang pada pria satu ini, mana mungkin aku mau bekerja pada orang yang pernah mengancam ku dengan cara menculik ibuku."


Vano memperhatikan gerak-gerik mata Ara. Sepertinya ia sudah bisa menebak pikiran Ara saat ini.


"Aku percaya padamu, dan aku percaya pada kemampuanmu. Selamat bergabung."


Vano menyandarkan punggungnya pada sofa kemudian memanggil pelayan. "Pelayan."

__ADS_1


Entah munculnya dari mana, seorang pelayan sudah berjalan menghampiri. "Saya, Tuan." Pelayan tersebut menunduk dalam.


"Antar dia ke kamar nyonya besar."


Mendengar perintah tuan besarnya, pelayan itu terkejut sampai-sampai hampir mengangkat kepalanya. Begitu pula dengan Reno. Baru kali ini ada orang lain yang baru bekerja di keluarga Ravaldi dan sudah diperbolehkan masuk ke dalam kamar Nirmala dab Vano.


"Mengapa masih diam?" Pertanyaan Vano sangat menusuk tajam karena tidak suka perintahnya tidak dilaksanakan dengan segera.


"Ba-baik, Tuan Besar." Pelayan itu langsung menghadap pada Ara. "Mari saya antarkan."


Setelah Ara dan pelayan pergi, Reno langsung bertanya pada Vano.


"Maaf Tuan Besar, apakah tidak terlalu berbahaya membiarkan pekerja baru masuk ke dalam kamar Anda dan nyonya besar Nirmala?"


Vano menghela nafas. "Aku percaya padanya. Walaupun dia terlihat tidak menyukai ku, namun aku dapat menemukan nilai kesetiaan dalam dirinya."


Vano berdiri lalu merapikan kemeja bagian bawahnya. "Ikut aku."


"Baik, Tuan Besar." Seperti biasanya, Reno sangat patuh.


Di lain tempat, tepatnya di kamar Nirmala dan Vano, Ara baru saja masuk. Nirmala terkejut bukan main dengan kehadiran gadis yang pernah membantu Rafan menculiknya. Ia pikir kali ini pun akan sama dengan satu tahun yang lalu.


"Mau apa kau?"


Ara sudah dapat menebak bahwa Nirmala pasti salah paham, ia pun memasang wajah ramah. "Maaf Nyonya Besar, saya ke sini tidak bermaksud jahat. Sekarang saya adalah pengawal pribadi Anda yang dipilih oleh tuan besar Vano."


Mendengar pengawal pribadi, Nirmala baru bisa tenang. Ia pun menghela nafas lega. "Aku pikir kau adalah suruhan Rafan."


Nirmala berjalan menuju sofa kamar. "Mari duduk."


Karena sekarang Nirmala adalah nyonyanya, tentu saja Ara harus menuruti perintah serta mengindahkan ajakan dari wanita yang sedang mengandung itu.


"Siapa namamu?" tanya Nirmala.


Ara menundukkan kepala. "Nama saya adalah Nara Shakira. Panggil saja saya Ara."


Nirmala tersenyum lembut. "Nama yang cantik. Sama seperti orangnya."


Ara tidak tahan untuk tersenyum. Ini pertama kalinya ia dipuji oleh wanita. Biasanya para wanita hanya akan mengejeknya karena iri, mungkin.

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya. Tapi Anda terlalu memuji," ucap Ara menjadi malu.


Nirmala tertawa ringan. "Baiklah, aku rasa kau malu jika dipuji. Lihatlah wajahmu langsung merona."


Melihat Nirmala tertawa ringan dan ramah. Ara menjadi yakin bahwa latar belakang Nirmala sangat polos dan sederhana. Tidak seperti dua pria yang mungkin sekarang sedang mengobrol berdua. Dua-duanya dingin dan sepertinya memiliki latar belakang kehidupan yang rumit.


"Nyonya, seharusnya Anda tidak memiliki suami seperti tuan Vano. Dia bukan pria yang sederhana." Ara berbicara sendiri di dalam hati. Menurutnya Nirmala terlalu baik dan suci untuk menjadi istri Vano.


"Oh ya, berapa usiamu?" tanya Nirmala.


"Sekarang saya berusia 19 tahun," jawab Ara.


Nirmala mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah? Aku pikir kau masih berusia 15 atau 16 tahunan. Kau sangat imut dan cantik."


Ara hanya tersenyum. Ia masih canggung pada Nirmala. Padahal pada saat dulu ia menculik Nirmala, ia sangat tegas dan terlihat galak. Namun sekarang ia malah merasa sedikit melembut.


"Apakah kau tidak meneruskan sekolah?" tanya Nirmala lagi.


Ara menggeleng. "Saya hanya sekolah sebatas SMP. Pada saat itu ayah saya meninggal dibunuh oleh rentenir. Setelah itu ibu saya terkena gangguan jiwa. Jadi saya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya saya memilih untuk mencari nafkah demi pengobatan ibu saya."


Mendengar cerita Ara, Nirmala merasa sangat iba. Tidak sedikit anak yang orang tuanya memiliki ekonomi tinggi, akan tetapi si anak malah malas sekolah dan memiliki memperbanyak gaya demi memamerkan harta orang tua.


Nirmala mengusap pundak Ara. "Aku kagum padamu. Kau adalah anak yang tegar."


"Lalu bagaimana ceritanya kau bisa menjadi anak buah ibu Raisa?" tanya Nirmala yang penasaran dengan jalan hidup gadis cantik ini.


"Saat saya sedang mencari pekerjaan, saya bertemu dengan seseorang. Melihat saya sangat kacau, dia mengajak saya untuk beristirahat di tempat kerjanya. Ternyata dia adalah ketua jasa bodyguard. Akhirnya saya tertarik untuk ikut latihan dan menghasilkan uang dari pekerjaan itu."


Ara menceritakan semuanya dengan singkat.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya sampailah mereka membahas tentang tempat tinggal.


"Bagaimana jika kau tinggal di rumah ini? Aku akan meminta tuan Vano memberikan kamar untukmu."


Ara mengangkat kepalanya. "Maaf Nyonya Besar, saya rasa saya kurang pantas. Lebih baik saya pulang pergi saja."


Nirmala tersenyum lebar. "Ah, berarti kau memilih dijemput oleh sopir pribadi setiap hari."


Ara membulatkan matanya semakin lebar. "Jang-jangan Nyonya Besar! Saya tidak ingin bertemu dengan si sopir menyebalkan itu setiap hari."

__ADS_1


"Menyebalkan?"


Ara dan Nirmala menoleh ke arah pintu yang tadi lupa Ara tutup kembali.


__ADS_2