
Mendengar Nirmala yang berteriak minta tolong, kakinya refleks berlari masuk ke ruang ganti.
"Vano!" Nirmala berlari ke belakang Vano dan bersembunyi di sana. Tantangan memegang pinggang Vano dengan erat.
Vano kebingungan, Nirmala sangat ketakutan, tapi tidak ada apapun yang ia lihat di sana. "Ada apa?" tanya Vano berusaha melihat Nirmala di belakangnya.
"Kecoa," jawab Nirmala.
Vano segera mencari serangga imut yang tidak ganas sama sekali namun hampir ditakuti oleh seluruh wanita. Vano menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat kecoa yang sama sekali tidak galak.
"Aku akan menyingkirkannya. Kau tetaplah di sini." Vano berkata dengan ringan.
Vano mengambil sepatu kantornya, namun saat akan memukul serangga itu, serangga tersebut malah berlari ke arah Nirmala.
"Aaaaa!"
Nirmala berlari ke arah Vano dan meloncat pada suaminya. Untung saja dengan sigap Vano menyangga tubuh Nirmala, jika tidak, mungkin mereka berdua akan terjerembab ke lantai. Setelah beberapa saat dalam posisi Vano menggendong Nirmala, kecoa itu pun keluar dari ruang ganti.
Vano dan Nirmala sama-sama mengalihkan pandangan dari kecoa itu menuju pasangannya. Mata mereka saling bertemu. Beberapa saat kemudian Vano baru sadar bahwa Nirmala masih memakai handuk.
"Dia sudah pergi, bisakah kau lepaskan pelukanmu pada leherku?" tanya Vano.
Nirmala tersadar lalu melepaskan tangannya. Tapi ada suatu hal yang menyebabkan dirinya tidak bisa turun dari Vano.
"Vano, bisakah kau menurunkanku?"
Vano melihat ke arah tangannya yang tengah membopong badan Nirmala. Karena terkejut, Vano melepaskan Nirmala begitu saja hingga istrinya langsung jatuh ke bawah.
"Aw!" Nirmala terpekik sakit.
"Nirmala." Vano berjongkok untuk memeriksa Nirmala. "Maaf."
"Oh tidak, handuknya akan lepas." Vano segera mengalihkan pandangannya. Melihat jasnya menggatung di hanger, segera Vano meraih jas kantornya. Tanpa banyak bicara ia memasangkan jasnya guna menutupi bagian bahu kebawah Nirmala.
"Ya ampun, untung dia memakaikan aku jas, jika tidak ...." Nirmala tidak tahu akan seperti apa malunya jika itu terjadi.
"Apa kakimu sakit?" tanya Vano.
__ADS_1
Nirmala mengangguk. "Pergelangan kakiku sakit sekali."
Vano menarik nafas berat, mungkin ini adalah hal yang paling berat untuk ia lakukan. "Mari aku bantu kau kembali ke kamar."
Mati-matian ia menjaga pandangannya saat menggendong Nirmala kembali ke kamar. Dan ia berhasil melewati masa sulit itu. Segera ia menyelimuti Nirmala setelah Nirmala sudah ia dudukkan di tempat tidur.
"Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu berpakaian."
Belum sempat ia menekankan tombol yang ada di samping meja nakas, Nirmala sudah menghentikannya.
"Jangan."
Vano menatap Nirmala dengan sorot mata yang bertanya 'kenapa'.
"Para pelayan itu pasti akan berpikir macam-macam jika aku dalam kondisi seperti ini," kata Nirmala sambil menunduk malu.
"Memangnya kenapa? Jika pun kenyataan, apa masalahnya? Kau adalah istriku, dan memang seharusnya seperti itu, bukan?" Dengan santai Vano melanjutkan memanggil pelayan.
"Datanglah ke mari." Cukup mengatakan demikian, tidak perlu berpanjang lebar.
"Mengapa dia ringan sekali saat mengucapkannya? Membuat aku malu saja." Nirmala tak kuasa menahan rona pipinya.
"Aku akan keluar, terima saja apa yang pelayan itu lakukan. Mereka juga akan memijat kakimu." Vano langsung melangkah pergi dan tidak lupa menutup pintu.
Baru saja menyandarkan kepalanya di sofa ruang tengah, suara pelayan berlari menuruni anak tangga sangat mengganggu telinganya. Vano membuka mata dan menegakkan badannya kembali. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan pelayan itu berlari.
Begitu pelayan itu sudah berada di hadapan Vano, pelayan tersebut langsung menunduk. "Maaf mengganggu, Tuan Muda."
"Katakan," perintah Vano yang tidak suka basa basi.
"Nyonya Muda muntah-muntah, Tuan."
Tatapan Vano berubah tajam. Dengan tidak mendengar Vano dan tidak melihat Vano bergerak, pelayan itu tahu tuan mudanya pasti sedang menatapnya tajam walaupun ia sama sekali tidak mengangkat kepala.
"Makanan apa yang kalian berikan pada nyonya muda?" tanya Vano menajam.
"Ampun, Tuan Muda. Kami memberikan makanan yang sama dengan apa yang Tuan Muda makan tadi pagi," jawab pelayan itu dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Apa dia belum makan siang?" tanya Vano.
Pelayan itu menggeleng. "Belum, Tuan Muda."
Vano berdiri. "Dasar tidak becus." Hanya kata itu yang Vano keluarkan sebelum ia pergi naik ke lantai atas.
Pelayan itu masih menunduk, tapi dalam hati ia sedikit heran. "Baru kali ini aku melihat tuan muda peduli pada seseorang. Kata nyonya besar, nyonya muda hanya sebagai jaminan saja, tapi mengapa tuan muda peduli sekali?"
Vano membuka pintu dan langsung menghampiri Nirmala yang terduduk lemas di sofa kamar. Wajahnya pucat dan terlihat sangat lemas. Tanpa persetujuan Nirmala, Vano langsung mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangan di kening istrinya.
"Tidak demam." Vano berdiri dan berjalan menuju nakas. "Kita ke rumah sakit."
Vano menekan satu tombol. "Siapkan sopirku untuk berangkat ke rumah sakit sekarang juga."
"Vano, aku tidak ap--"
"Diam dan menurutlah."
Nirmala langsung diam. Entah ada apa dengan mulut Vano. Jika pria itu sudah berbicara, tidak ada satupun yang berani membantah, termasuk dirinya.
Vano melepaskan jasnya. Ia baru menyadari bahwa sepulang dari kantor ia sama sekali belum melepas jas dan sepatunya. Setelah hanya menyisakan kemeja saja, Vano menggulungkan lengan kemejanya sampai ke siku, begitulah penampilan standarnya.
Penampilan standar? Tidak, Nirmala merasa Vano tetap fashionable dengan gaya sesimpel apapun. Wajah tampannya sangat memukau, dan ekspresi dingin dan datarnya ada ciri khas sekaligus karisma yang tidak akan pernah lepas dari wajahnya.
Ponsel di saku celana Vano berdering. Vano segera mengangkat teleponnya. "Bagus, aku akan segera turun."
Panggilan telepon itu berasal dari sang sopir pribadi. Segera Vano memerintahkan pelayan untuk membantu Nirmala berjalan ke lantai bawah.
Sesampainya di halaman depan, Farhan sudah menunggu Vano serta Nirmala. Tadi ia sedang beristirahat di rumahnya yang terletak di belakang rumah besar Vano. Saat sedang santai seperti itu, pelayan di rumah utama mengabari bahwa Nirmala akan dibawa ke rumah sakit. Tentu saja ia terkejut, sebelumnya Nirmala terlihat baik-baik saja.
Dua pria berbaju hitam membukakan pintu mobil untuk Nirmala dan juga Vano. Setelah tuan dan nyonyanya duduk di dalam mobil, barulah mereka menutup pintu kembali. Mobil Vano langsung meninggalkan pekarangan rumah.
"Kalian jaga rumah dengan baik. Aku dan bodyguard akan mengawal tuan muda."
Itu adalah perintah Farhan yang harus dipatuhi ketika Vano tidak ada di rumah. Selain pada Vano, para pekerja di rumah itu juga sangat takut dan patuh pada Farhan.
Saat tiga mobil meninggalkan pekarangan rumah, dari balkon lantai tiga, Raisa bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
"Mereka mau ke mana? Apakah Nirmala jadi dikembalikan pada suaminya?" Raisa tersenyum senang saat memikirkan kemungkinan tersebut.