Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 48 (S2)


__ADS_3

Ara menelan ludah dengan susah payah. Jangan sampai Sain mengetahui bahwa ia sudah melepas beberapa lilitan tali pada tangannya.


Tak lama kemudian Sain tertawa terbahak-bahak. "Lihatlah, kau hanya bisa diam tanpa bisa melawanku. Tidak seperti terakhir kali kita bertemu," ucap Sain dengan sombongnya.


Ara merasa lega, ternyata ia tidak ketahuan.


Orang tangan kanan Sain mengeluarkan pistol dari saku celana. "Tuan Muda, kita sudah siap. Dia akan segera masuk ke dalam ruangan ini."


Sain kembali duduk santai. "Ara, kau pikir suamimu itu hebat hanya karena bisa masuk kemari? Tidak sayang, aku sengaja memudahkannya masuk ke sini karena aku ingin meringkusnya. Saat dia masuk, seluruh penjaga yang bersembunyi akan masuk ke sini dan menghajar suamimu habis-habisan hingga dia tewas mengenaskan."


Sain berdiri dari tempatnya. "Tapi sebelum itu, dia harus melihat istri tercintanya bercinta dengan ku."


Ara mengepalkan tangannya dengan kuat. "Dasar kau pria bajing*n! Pria paling brengs*k di dunia! Lepaskan aku!" Ara berteriak kuat.


Anak buah Sain mengangkat pistol tepat ke arah pintu. Entah apa maksudnya, yang jelas ia sedang bersiap-siap. Dan Sain tersenyum penuh kemenangan.


"Sebentar lagi kita akan melihat pertunjukan yang menyenangkan, Sayang."


'Brak!' Pintu didobrak dari luar.


"Ara?" Belum sempat Reno menyadari situasi, suara letusan senjata api terdengar menggema di ruangan itu.


'Duar!'


"Reno!!"


Ara meloncat ke arah Reno dan tubuhnya pun ambruk ke belakang bersamaan dengan tubuh suaminya. Reno membulatkan mata saat melihat darah yang berasal dari Ara. Istrinya mengorbankan jiwa dan raga untuk dirinya.


"Ara!" Reno mendorong lembut bahu istrinya agar istrinya bergeser dari atas tubuhnya. "Ara, kau baik-baik saja?" Reno sudah penuh kekhawatiran dan kepanikan.


Sain bertepuk tangan sambil tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa mendapatkan Reno walaupun belum bisa melenyapkan nyawa Reno tadi. Dan walaupun ia terkejut dengan ikatan Ara yang lepas, namun ia tetap puas dengan semua yang ia lihat. "Drama cinta yang luar biasa. Sang wanita berkorban untuk suaminya."


Bersamaan dengan itu, puluhan pria berbadan tegap dan sangar masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Reno tidak mempedulikan sekitar, yang ia pedulikan hanyalah istrinya. "Ara, bertahanlah, jangan tinggalkan aku." Reno tak sadar air mata telah jatuh menyusuri pipinya.


Ara membuka matanya. Ia tersenyum saat melihat suaminya baik-baik saja. Tangannya terangkat untuk mengusap wajah Reno yang penuh luka dan memar. Ia tahu suaminya juga sudah luka dibagian perut dan lengan. "Aku mencintaimu, Reno. Walaupun ragaku tidak ada di sampingmu, tapi aku akan selalu ada dihatimu." Ara menunjuk dada Reno, air mata mengalir disudut matanya.


Reno menggeleng. "Tidak Ara, kau harus tetap bersamaku. Kau harus ada di sisiku sampai kita tua. Kita akan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa. Tolong Ara, jangan tinggalkan aku. Bertahanlah, kita akan keluar dari sini dalam kondisi hidup dan baik-baik saja."


Ara tersenyum lemah, darahnya terus mengalir keluar hingga wajahnya mulai memucat. "Akuhh .. tidakh bisa bertahan lagi hhh. Pesanku, tetaplah hidup. Hiduplah bahagia dengan penuh senyuman. Dan, habisi mereka semu-a ...."


Tangan Ara jatuh lemah ke lantai, bersamaan dengan itu kepalanya jatuh ke kanan, ke dada Reno.


"Tidak, Ara! Tidak!" Reno memeluk istrinya dengan erat, berharap hal itu akan menghalangi malaikat maut mencabut nyawa istrinya. Reno menangis terisak. Rasanya sakit sekali, hatinya tercabik-cabik. Ia tidak siap kehilangan wanita yang ia cintai.


'Prok-prok-prok' Sain bertepuk tangan. Sudah puas ia melihat drama siaran langsung di hadapannya.


"Bagaimana? Masih mau meneruskan acara menangisnya?" tanya Sain dengan nada mengejek.


Seketika tangis Reno langsung berhenti. Matanya melirik Sain dengan sangat tajam. Aura pembunuh kembali datang, dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Rasa kehilangan atas Ara membuat darahnya bergejolak, rasa pri kemanusiaannya menghilang, tidak ada keraguan lagi dalam hatinya untuk melenyapkan puluhan nyawa orang yang ada di dalam ruangan itu.


Sain melihat ke seluruh pria bertubuh tinggi tegap dengan otot-otot yang sangat menonjol. Lalu ia menatap ke arah pria tampan berkulit putih yang sedang memakai pakaian serba hitam, yaitu Reno. "Aku akan memberikan kesempatan padamu untuk melawan semua bodyguardku, tapi tanpa pisau dan pistol."


Sain memerintahkan pada semua anak buahnya untuk meletakkan pistol dan juga pisau.


Reno membuka sarung tangannya, membuang pistolnya, serta membuang peluru cadangan. Walaupun sudah pasti ia akan dikeroyok puluhan pria berbadan tegap, tapi ia tidak takut sama sekali.


Sain duduk di sofa, bersiap untuk menyaksikan hiburan selanjutnya. "Silahkan."


Reno melempar topinya pada wajah salah satu anak buah Sain yang maju. Ia melangkah dengan cepat lalu melayangkan tendangan yang sangat kuat. Tangannya sangat lincah dalam menangkis dan juga memukul lawan. Badannya juga ahli dalam menghindari pukulan lawan-lawannya.


Pertarungan sengit pun berlangsung cukup lama. Reno berhasil melumpuhkan 20 anak buah Sain. Anak buah yang berhasil dikalahkan oleh Reno rata-rata mengalami patah tulang yang parah. Namun bagaimanapun juga satu orang tidaklah sebanding dengan 50 orang. Apalagi kini 30 orang yang tersisa mulai mengeroyok Reno secara bersamaan.


Reno kewalahan, tenaganya berkurang banyak. Satu pukulan mendarat di perutnya, satu lagi di pipinya, dan satu lagi di kepala belakangnya. Pukulan di belakang kepala berhasil membuat dirinya pusing dan jatuh tersungkur.


Anak buah Sain tidak membuang-buang waktu, mereka langsung memukuli seluruh tubuh Reno secara bergantian. Melihat Reno dihajar habis-habisan, Sain tertawa puas. Ia tidak akan menghentikan anak buahnya sampai Reno benar-benar tewas dipukuli.

__ADS_1


'Bugh! Bugh! Bugh!'


Reno menahan rasa sakit, kepalanya sudah benar-benar pusing, dan tenaganya sudah benar-benar habis.


"Hahahaha, Reno kematianmu akan segera datang. Dan kehancuran kakakmu juga akan segera datang." Sain tertawa puas.


Reno hampir hilang kesadaran, namun ia masih bisa tersenyum saat mengingat jika ia mati, ia bisa bersama dengan Ara lagi.


'Bugh-bugh-bugh!'


'klek'


"Berhenti atau tuan kalian akan mati!"


Muncung pistol sudah menodong tepat di kepala Sain. Ujung moncongnya melekat di kulit kepala Sain.


Semua anak buah Sain berhenti memukuli Reno. Mereka terkejut melihat tuan mereka sudah berada di ambang kematian.


Reno membuka matanya dan melihat ke arah belakang Sain. Ia tidak mempercayai apa yang ia lihat. Namun dibandingkan rasa tidak percaya, rasa senang dan bahagia lebih mendominasi. "Ara?"


Ara sedang menodong Sain. Ia tersenyum pada Reno. "Aku masih hidup sayang. Peluru itu hanya mengenai pinggiran ketiakku saja."


Jantung Sain berdegup tak karuan. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, ia khawatir jika bergerak, maka peluru akan menembus kepalanya dan menghancurkan otaknya.


Dengan susah payah Reno bangun. Tangannya memegangi perut karena perutnya sangat sakit. "Terima kasih. Ternyata kau sangat pintar, Ara. Jika kau tidak pura-pura mati, mungkin kita tidak bisa meringkus si Brengs*k in--"


Kata-kata Reno terputus, matanya membulat lebar.


Kepala Ara terdorong sedikit, sepertinya ada benda yang menempel di kepala belakangnya.


"Tidak semudah itu meringkus anakku." Paul menodong Ara dari belakang.


"Dan tidak semudah itu membunuh anak dan menantuku, Paul." Seseorang menodongkan pistol di kepala Paul.

__ADS_1


__ADS_2