
"Selamat sore Tuan Muda."
Semua pelayan yang ada di tuang tengah menyambut Vano sambil membungkukkan badan ketika Vano melewati mereka. Mereka tidak mengharapkan Vano membalas sapaan mereka karena hal itu MUSTAHIL.
Di belakang Vano sendiri Farhan selalu setia mengikutinya. Dengan anggukan kepalanya, semua pelayan mengerti bahwa mereka sudah boleh meneruskan pekerjaan mereka masing-masing.
Saat sudah berada di lantai dua, Vano melihat ada dua penjaga yang menjaga pintu kamarnya.
Vano berhenti di depan pintu tanpa berbicara. Dengan begitu Farhan tahu tiba saatnya ia bertanya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Farhan.
Kedua penjaga itu langsung menunduk. "Maafkan kami Tuan Farhan, Tuan Muda. Kami hanya diperintahkan nyonya besar untuk tidak membiarkan nyonya muda keluar dari kamar," jawab salah satu penjaga.
"Mengap--"
"Di mana nyonya besar?" tanya Vano memotong Farhan yang akan bertanya.
"Nyonya besar sedang pergi ke luar bersama dua bodyguard, Tuan. Sampai sekarang beliau belum kembali," jawab penjaga tersebut.
Vano menoleh ke arah Farhan. Vano mengangguk tanda Farhan sudah diperbolehkan pergi. Farhan membungkuk sebelum meninggalkan Vano di depan pintu kamar.
"Mulai sekarang, jangan pernah mengurung nyonya muda," ucap Vano dingin.
"Baik, Tuan." Penjaga tersebut masih menunduk.
"Pergi."
Dua penjaga tadi langsung pergi sesuai perintah Vano. Mereka tidak peduli lagi dengan perintah nyonya besar mereka. Di rumah besar keluarga Ravaldi, perintah tuan muda lah yang paling utama.
Pintu kamar dibuka, membuat penghuni di dalamnya membuka mata dari tidurnya. Melihat Vano sudah pulang, Nirmala langsung bangkit dan duduk.
"Sudah pulang?"
Nirmala bertanya karena tidak ingin terus canggung pada suaminya. Sejak pernikahan, mereka belum berbicara berdua sama sekali.
Vano berjalan ke arah cermin besar, lalu melepaskan dasi sambil menatap pantulan dirinya dari cermin. "Apa yang nyonya besar lakukan padamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Nirmala, Vano malah balik bertanya.
Nirmala menelan ludah. "Apa yang harus aku katakan pada Vano. Jika aku menceritakan tentang kejadian tadi, apa yang akan dilakukan nya? Apa akan marah pada ibunya? Atau marah padaku?"
__ADS_1
"Ti-tidak ada."
"Bohong," sambar Vano.
Tangan Nirmala mulai gemetar, ternyata Vano sangat-sangat dingin dan mengerikan. Walaupun suaminya itu tidak menunjukkan wajah yang sangar, tapi hanya dengan wajah datarnya saja sudah mampu membuat kaki lawan gemetar.
"A-a-aku tidak berbohong."
Kini Vano berbalik menghadap ke arahnya. Ini adalah kali pertama Vano menatap Nirmala. Melihat tatapan itu Nirmala langsung menurunkan bola matanya.
"Jangan buat aku marah padamu." Walaupun kalimat sederhana, namun nada ancaman yang dingin mendorong Nirmala untuk berkata jujur.
"Baiklah, aku akan jujur. Tadi pagi aku turun untuk berkeliling rumah. Namun saat baru sampai di anak tangga, ternyata di ruang tengah ibu sedang menerima tamu." Nirmala menelan salivanya sebelum meneruskan ceritanya.
"Melihatku turun, ibu langsung memerintahku untuk membuatkan minuman. Aku menuruti perintah ibu. Dan pada saat aku akan meletakkan minuman di atas meja, ada kaki yang menghalangi langkah kakiku hingga aku tersandung. Minuman yang kubawa akhirnya tumpah dan mengenai baju tamunya. Tamu itu marah dan langsung pergi. Setelah tamu itu pergi, Ibu marah besar padaku. Ia langsung mengurungku di kamar sampai kau pulang."
Vano hanya diam tanpa ekspresi. Setelah Nirmala selesai menceritakan semuanya, terdengar Vano menghela nafas berat. "Kau tidak makan?" tanya Vano.
Nirmala menggeleng.
"Bodoh." Hanya makian itu yang terlontar dari mulut Vano.
Nirmala tidak tahu apakah kata bodoh itu diucapkan untuk mengatakan kebodohannya karena menumpahkan minuman atau kebodohan karena tidak makan. "Pria ini, entah bagaimana cara aku membuatnya bicara lebih jelas."
"Bawa makanan ke mari." Setelah itu ia melepaskan tombol tersebut.
Nirmala melihat Vano akan memasuki kamar mandi. "Tunggu," ucapannya memberanikan diri. Ia teringat akan sesuatu.
Vano berbalik tanpa bertanya 'apa?' atau 'ada apa?'
Dengan ragu-ragu dan malu, Nirmala bertanya, "Dari mana kau tahu ukuran ... pakaian dalamku."
Setelah itu Nirmala menunduk. Ia tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajahnya sekarang.
Diam sejenak. "Apa harus aku katakan bahwa aku mengukurnya dengan tanganku sendiri pada malam itu?"
Mendengar jawaban Vano, Nirmala langsung mengangkat wajah. Saat matanya membulat sempurna, Vano sudah menutup pintu kamar mandi.
"Apa-apaan dia ini? Dia mengatakan mengukurnya sendiri? Tidak, itu pasti tidak mungkin."
__ADS_1
Nirmala menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup mata, tidak ingin imajinasi aneh berkeliaran di kepalanya.
'Tok-tok-tok'
"Nyonya Muda, Tian Muda, bolehkah saya masuk?" tanya seorang pelayan.
"Masuk," perintah Nirmala.
Sesuai yang diperintahkan oleh Vano, seorang pelayan datang dengan membawakan nampan berisi makanan.
"Ingin diletakkan di mana makanan ini, Nyonya Muda?" tanya pelayan tersebut.
"Di sana saja." Nirmala menunjuk meja kaca di depan sofa kamar.
Pelayan itu menuruti arahan Nirmala dengan patuh. Ia masih berdiri di sana tanpa berbicara apapun, menunggu perintah pergi dari Nirmala.
Menyadari pelayan di sini sangat patuh, Nirmala langsung mempersilahkan pelayan tersebut pergi. "Silahkan pergi."
"Baik, Nyonya."
Karena perutnya sudah sangat lapar, Nirmala langsung di sofa untuk makan. Bagaimana tidak lapar, sejak tadi pagi ia belum sarapan sama sekali. Sembari makan, ia merenungi kehidupannya yang sekarang.
"Betapa mewahnya menjadi istri seorang tuan muda Vano. Tapi sayang, aku belum bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Ditambah lagi Vano yang sangat dingin. Apakah hatinya terbuat dari balok es kutub Utara? Atau kutub selatan?"
"Bukalah hadiah yang kuberikan."
Suara Vano yang tiba-tiba terdengar dari belakang sukses membuat Nirmala terkejut. Menoleh ke belakang, yang ia lihat hanya punggung polos Vano yang mulai hilang dari pandangan ketika pria itu masuk ke dalam ruang ganti baju.
"Seperti hantu." Nirmala melihat ke arah nakas. Memang sejak tadi pagi, ia tidak membuka nampan yang ditutup kain merah tersebut. Kini ia menjadi penasaran, apa isi di balik kain merah tersebut.
Baru beberapa suap nasi yang masuk ke dalam mulutnya, ia ingin menunda makannya demi menuntaskan rasa penasaran akan hadiah yang diberikan oleh Vano. Namun baru saja kakinya berdiri, suara berat itu terdengar lagi.
"Habiskan." Vano sudah selesai berpakaian, tapi rambutnya masih belum dikeringkan.
Nirmala kembali duduk, ia tahu bahwa perintah Vano sama sekali tidak bisa dibantah. Selagi Vano berbaik hati padanya, lebih baik ia tidak usah membangunkan harimau tidur. Nirmala kembali mengambil piringnya dan kembali makan.
Sambil makan, sesekali kedua bola mata Nirmala melirik ke arah Vano, memperhatikan pria itu dari pantulan cermin rias. Pria itu sedang mengeringkan rambut dengan handuk, tidak menggunakan hair dryer yang tersedia. Gerakan tangan yang mengacak rambutnya seakan mampu menyihir Nirmala untuk terus menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Sangat tampan," hanya kata itu yang bisa Nirmala ucapan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Jika sudah puas memandangi diriku, lanjutkan kunyahanmu." Vano berbicara, tapi tetap tidak berbalik.
Nirmala tersadar, buru-buru ia mengalihkan pandangan dari Vano. Malu bukan main karena ketahuan sedang memandangi Vano tanpa berkedip.