Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 20


__ADS_3

Hari Sabtu telah tiba, itu berarti besok adalah resepsi pernikahan Nirmala dan Vano. Di kamar Vano ada tiga pelayan yang sedang memasukkan beberapa pakaian Vano dan Nirmala ke dalam koper. Sedangkan sang nyonya muda diminta untuk duduk saja.


Nirmala duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya. Sebentar lagi harapan Rafan untuk memiliki kembali anak dan istrinya akan hilang. Sebentar lagi publik akan tahu bahwa dirinya adalah istri dari tuan muda Vano, hal itu akan membuat sulit Rafan untuk mengambilnya kembali.


"Nyonya Muda, kami sudah selesai."


Nirmala mengangkat kepala kemudian tersenyum. "Terima kasih." Nirmala berdiri. "Kalian boleh pergi."


Setelah mendapatkan perintah untuk pergi, ketiga pelayan itu baru berani keluar dari kamar Nirmala dengan memundurkan diri.


Sepeninggalan pelayan, Nirmala hanya melamun saja. Walaupun ia sudah menetapkan keputusan, akan tetapi masih ada rasa ragu. Apakah ia sudah mengambil keputusan yang tepat? Apakah ia tidak akan menyesal? Apakah ia tidak akan merindukan Rafan lagi? Akankah dia bisa selamanya bersama Vano?


Nirmala menggeleng sambil memejamkan mata. "Tidak, aku tidak bisa ragu seperti ini. Aku harus yakin dengan keputusanku sendiri. Walaupun aku masih mencintai Rafan, tapi aku tidak bisa bersama pria yang sudah menjadikan aku jaminan."


Sekarang ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia akan berangkat ke gedung pernikahan setelah Vano pulang dari kantor. Karena merasa bosan dengan suasana kamar, ia memutuskan untuk tidur siang saja.


Samar-samar Nirmala mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Walaupun masih mengantuk, ia harus membuka mata karena ia tahu orang itu adalah Vano. Setelah kesadarannya terkumpul, Nirmala bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.


Suara air berhenti, tak lama kemudian keluarlah Vano dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang.


"Sudah pulang?" tanya Nirmala hanya untuk sekedar basa-basi.


"Hm," jawab Vano singkat.


Ya, setelah terakhir kali mencium Nirmala, Vano jadi kembali dingin. Pria itu juga menjadi lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja. Ia hanya akan kembali ke kamar jika sudah akan tidur. Jika ditanya, pria itu juga hanya menjawab singkat.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Nirmala.


Sebelum masuk ke ruang ganti baju, Vano menjawab, "Segera bersiaplah."


* * * *


Vano membuka pintu mobil. "Setelah ini kau boleh beristirahat di ruangan yang telah aku sediakan." Vano berbicara pada sopirnya.

__ADS_1


Seperti penampilan biasanya, sang sopir itu memakai kemeja hitam dan topi hitam yang menyamarkan wajahnya. "Baik, Tuan Muda."


Nirmala juga keluar dari mobil. Ia tidak perlu memikirkan barang bawaannya karena koper, tas dan lain-lain sudah dibawakan oleh para pelayan menggunakan mobil lain.


Langkah kaki Vano lebih lebar, hal ini membuat Nirmala harus melangkah lebih cepat. Ingin ia berkata 'Vano, tunggu aku'. Tapi ia pikir itu akan membuat dirinya terlihat manja. Ja juga yakin Vano tidak akan menunggu nya.


Sesampainya di lantai tiga, Vano membuka pintu kamar yang berhadapan dengan pintu besar berwarna putih. Setelah masuk, Vano membiarkan Nirmala menyusul masuk.


"Beristirahatlah, besok kita tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai."


Vano langsung duduk di sofa. Dengan santai ia membuka dua kancing kemeja bagian atas.


Nirmala duduk di tepi ranjang. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Ia mengagumi kamar yang akan ia tempati beberapa hari.


"Kau tidak mendengar?" tanya Vano.


Nirmala menoleh ke arah Vano. Apa yang suaminya maksud? Apakah Vano memintanya langsung menuruti ucapannya? Sekarang masih pukul 07.08 malam, bagaimana bisa ia langsung tidur.


"Aku belum mengantuk," jawab Nirmala.


* * * *


Pukul 05.00 pagi, Nirmala sudah selesai mandi. Di dalam kamarnya sudah ada dua perias yang bersiap untuk merias wajahnya. Setelah selesai memakai gaun pengantin, kini giliran wajah dan rambut yang akan ditata dan rias.


Satu setengah jam kemudian, Nirmala sudah cantik seperti bidadari dengan riasan yang sekarang. Para perias sangat puas dengan hasil karya mereka dan juga merasa bersyukur karena wajah Nirmala sudah cantik alami sehingga mereka tidak bersusah payah membuat wajah cantik.


"Sudah selesai, Nyonya Muda."


Nirmala hanya mengangguk. Entah mengapa dengan melihat bayangan dirinya di cermin, ia merasa jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti baru pertama kalinya melakukan pernikahan. Rasa gugupnya sama. Untuk tentang rasa bahagia, untuk sekarang belum ada.


"Apakah kalian bisa pergi sebentar? Aku butuh waktu untuk sendiri," pinta Nirmala.


Kedua perias itu mengangguk. "Baik, Nyonya Muda. Akan tetapi, lima belas menit sebelum Anda turun, kami harus masuk untuk memastikan riasan wajah dan rambut Anda masih rapi."

__ADS_1


Nirmala tersenyum. "Terima kasih."


Kedua perias itu undur diri dan membungkuk.


Setelah para perias pergi, Nirmala menarik nafas panjang.


"Rafan, maafkan aku. Aku memutuskan untuk tidak kembali padamu. Aku lebih memilih bersama Vano, pria yang lebih menghargai aku sebagai wanita walaupun dia tidak mencintaiku."


Di lain tempat. Di lantai dua, Farhan sedang berdiri berhadapan dengan delapan bodyguard. Ia memberikan arahan untuk berkeliling di dalam aula pernikahan sebelum Vano dan Nirmala turun.


Seperti biasanya, jika ada sesuatu mereka akan berkomunikasi lewat earpiece yang terpasang di telinga mereka.


"Apa kalian paham?" tanya Farhan dengan tegas.


"Paham, Tuan," jawab para bodyguard.


Tepat pada pukul 08.45 pagi, Farhan mulai mengajak para bodyguard turun ke bawah. Mereka memiliki waktu kurang lebih lima belas menit untuk memeriksa ke amanan aula. Farhan berjalan lebih dulu dan diikuti oleh delapan pria berbadan tegap itu.


Sesuai dengan yang sudah diatur sebelumnya, sesampainya di lantai dasar, delapan bodyguard langsung menyebar dan mulai mengaktifkan earpiece yang terpasang di telinga mereka. Sedangkan Farhan langsung berjalan ke arah kursi pelaminan untuk memeriksa keamanan di sekitar tempat itu.


Ruangan di dalam gedung pernikahan itu sendiri sangat mewah dan megah. Lampu gantung besar tergantung di mana-mana, dan hanya ada satu lampu gantung raksasa yang menghiasi tengah-tengah ruangan itu. Di setiap pilar dalam ada lilin dan bunga-bunga asli yang masih sangat sehat.


Dari pintu masuk hingga ke kursi pelaminan terbentang karpet merah yang bertabur bunga mawar. Di samping kanan dan kiri singgah sana pengantin ada dua kolam, yang mana kolam kecil itu diisi bunga teratai dan ada tiga angsa hidup dimasing-masing kolam.


Setelah selesai memeriksa kursi pelaminan, kini Farhan menyapukan pandangannya ke arah semua tamu undangan. Ternyata ruangan itu sudah sangat ramai.


Sampai pada akhirnya mata Farhan berfokus pada kedua pasangan yang sedang duduk di kursi yang berada dekat pintu. Jika dipertahankan, sepertinya Farhan tidak begitu asing dengan wajah sang pria.


"Mengapa dia mirip dengan Vendi Alfiansyah? Apakah dia adalah anaknya?"


Ya, dulu ia cukup mengenal baik seorang pengusaha muda bernama Vendi Alfiansyah, dan pastinya sekarang pria itu sudah tidak muda lagi.


Vendi Alfiansyah adalah teman sekaligus rekan bisnis dari perusahaan Zio Gruop sebelum Zio Group tumbuh menjadi perusahaan besar. Dan waktu itu Vendi memiliki putra yang masih kecil. Mungkin pria yang sekarang mengahdiri pesta itu adalah anak dan Vendi.

__ADS_1


Karena penasaran, Farhan berjalan mendekat untuk menyapa nya.


__ADS_2