
Sore itu Nirmala sangat sedih karena Ara akan dibawa oleh Reno ke rumah pribadinya. Sudah dua bulan sejak mereka berkenalan dan dekat, baru kali ini ia merasakan kehilangan Ara. Walaupun sedih, Ara menenangkan Nirmala. Ia berkata bahwa mereka bisa berjumpa kapanpun mereka mau karena bukanlah ia pergi mati.
Reno menunggu di dalam mobil dengan perasaan kesal. Sudah hampir setengah jam Ara dan Nirmala melakukan salam perpisahan. Karena sudah kehilangan kesabaran, ia pun sengaja membunyikan klakson panjang.
"Aku pergi dulu, Kak. Jaga diri baik-baik. Aku akan sering mengunjungi Kakak." Ara melambaikan tangan sambil berlari kecil ke arah mobil.
Nirmala memeluk Vano sambil mengeluarkan air mata. Sebenarnya ia tidak rela kehilangan teman di rumah ini, namun apa boleh buat, Ara sudah berumah tangga.
Vano mengusap kepala istrinya. "Sayang, jangan bersedih seperti ini. Nanti bayi kita ikut sedih."
Mengingat bayi, Nirmala langsung menghapus air matanya. "Oh iya. Maafkan ibu ya, Nak."
Mobil sport hitam melaju meninggalkan halaman rumah keluarga besar Ravaldi. Para pelayan melihat kepergian mereka dengan rasa patah hati. Tapi apa boleh buat, Ara dan Reno memang terlihat pasangan yang cocok.
* * * *
'Kling'
"Selamat datang, di rumah Anda." Pintu kulkas tersebut bergeser dengan sendirinya.
Ara menutup mulut dengan telapak tangannya. "Woooaaahh, ini sangat canggih." Ara terperangah tak percaya sekaligus kagum.
Reno tidak mempedulikan Ara, ia berjalan masuk, berharap istrinya akan mengikuti. Tapi sampai ia berada di ujung tangga paling bawah, ia tidak mendengar langkah kaki istrinya. Ia menoleh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan di sana? Cepat masuk."
Ara yang tengah memandangi dan mengagumi kemewahan dan kecanggihan rumah Reno pun tersadar. Ia segera masuk dengan cara berlari kecil menuruni anak tangga. Ia merasa sangat senang karena rumah mewah ini telah menjadi rumahnya juga.
"Kau tinggal sen ... di ... ri ...." Ara menoleh ke belakang karena pintu tertutup sendiri. Tadinya ia pikir ada hantu, namun ia kembali ingat ucapan Reno bahwa rumah ini dilengkapi dengan sistem canggih.
"Kau tinggal di sini sendiri? Aku tidak melihat pelayan satu pun. Lalu bagaimana cara kau membersikan rumah sebesar ini?" lanjut Ara meneruskan pertanyaannya tadi.
__ADS_1
Belum sempat Reno menjawab, dari arah kanan terdengar suara pintu terbuka. Ara dan Reno menoleh secara bersamaan.
"Kau sudah pulang, Tuan Muda?" Pak Tua alias dokter Tio melangkah menghampiri.
Ara menatap pak Tua dengan tatapan bingung.
Pak Tua mengulurkan tangan. "Selamat datang, Nyonya Muda."
Dengan ragu Ara menjabat uluran tangan itu. "Terima kasih."
Ia kembali mengingat ucapan pak Tua berwajah rusak ini. Waktu itu pak Tua ini terlihat sangar dan ia pikir pria Tua itu tidak menyukainya. Akan tetapi berbeda dengan sekarang, pak Tua terlihat Wellcome saja.
"Tuan Muda, aku sudah membereskan kamar yang akan kau tempati. Silahkan beristirahat."
Reno mengangguk saja kemudian berlalu ke arah tangga, meninggalkan istrinya begitu saja.
Ada rasa kesal, namun Ara menahannya. Tak ingin menambah kekesalan dengan melihat Reno, ia pun memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu saja.
Pak Tua masih setia berdiri di sana sambil melihat gerak-gerik Ara. Kemudian ia berbicara. "Semoga kau bisa memahami sifat tuan muda. Kau harus banyak memaklumi dan bersabar. Aku yakin lambat laun dia akan berubah seperti tuan besar Vano sekarang."
"Hei, mengapa masih di sana?"
Ara mendongak sedikit, melihat Reno berdiri di lantai dua.
"Cepat kemari." Kemudian Reno menghilang terhalang tembok.
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti suaminya. Lagi pula ia bosan berada di ruang tamu tanpa ada teman bicara.
Sesampainya di lantai dua, ia mencari-cari sosok suaminya. Terakhir ia melihat ada pintu bercat putih dan berukuran besar. Pintu tersebut merupakan satu-satunya pintu yang ada di lantai dua itu. Dengan sangat yakin Ara berpikir suaminya ada di dalam sana.
Belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Karena sang pintu telah menyambut nya dengan baik, maka ia langsung masuk saja.
__ADS_1
"Kau sedang apa?" tanya Ara ketika melihat suaminya sedang membuka dua koper.
"Pilihlah pakaian yang kau sukai, lalu susun di ruang walking closet." Reno membiarkan dua koper itu terbuka.
Karena penasaran dengan baju-baju yang diperuntukkan untuknya, Ara menghampiri suaminya dan ikut melihat isi koper. "Kau serius?" tanya Ara.
Reno tidak menjawab. Bagi nya pertanyaan Ara terlalu konyol, tentu saja ia serius. Ia tahu bahwa Ada tidak memiliki banyak pakaian, sebab itu sebelum hari pernikahan ia meminta Afid untuk membelikan beberapa pakaian untuk Ara. Ia yakin Afid tahu selera wanita karena sepupunya itu seorang playboy sejati, jadi pastilah memahami wanita dan mengetahui kesukaan wanita pada umumnya.
Reno merasa lelah. Ia memutuskan untuk berbaring di tempat tidur. Ia memejamkan mata akan tetapi tidak benar-benar tidur.
"Reno! Apakah kau yakin aku akan memakai pakaian ini?" Ara berbicara dengan nada tinggi.
Reno masih memejamkan mata. "Hm. Menurut mu? Aku tidak bercanda."
Sedang santai-santai nya, tiba-tiba ia merasakan beberapa kain terjun ke wajahnya dengan kuat. Ia pun langsung membuka mata dan duduk. Tak lupa ia memasang tatapan tajam pada Ara yang sudah berani melempar pakaian yang telah ia belikan.
"Kau tidak tahu sopan-santun dan tidak tahu berterima kasih. Aku telah membelikan ini semua untuk memenuhi kebutuhan sandangmu. Tapi apa ini? Kau tidak menghargainya sama sekali." Reno terlihat menahan amarah dengan susah payah. Ia sudah berjanji tidak akan menyakiti fisik dan batin istrinya.
"Kau yang membelinya?!" Ara semakin terlihat marah. Ia berkacak pinggang.
"Tentu saja!" Reno juga tidak kalah tinggi nada suaranya.
"Coba kau lihat apa yang kau belikan untuk ku! Apakah itu pantas untuk aku pakai?" Ara menunjuk beberapa pakaian yang ia lemparkan pada Reno tadi.
Reno menunduk untuk melihat beberapa tumpuk pakaian yang ada di perutnya. Ia mengangkat satu kemudian membentangkannya.
Seketika Reno sulit menelan ludahnya. Matanya tidak percaya dengan bentuk benda yang ada di tangannya. Yang ia pegang bukan pakaian, melainkan pakaian dalam yang ditutupi kain transparan. Oh tidak, bukan ditutupi, tapi dihiasi agar terlihat lebih menggoda.
Tak cukup memeriksa satu, ia mengangkat yang lainnya. Dan yang kedua adalah dress ketat yang sangat pendek. Jika Ara pakai, sudah pasti tidak akan cukup untuk menutupi paha dan bagian atasnya dengan benar.
Reno turun dari tempat tidur. Dengan cepat ia memeriksa pakaian yang ada di dalam koper. Semakin lama semakin cepat dan ia lempar ke sembarang arah. Setelah selesai, ia mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
"Afffiiiiddd ...!" Ia menggeram kesal.
Aduh, gimana nasib si Afid nanti kalau sempat Reno nemuin dia?😰 Afid, kamu kabur aja deh yang jauh😰