Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 35 (S2)


__ADS_3

Reno menarik nafas panjang, sedangkan Ara sudah mulai menangis. Mungkin gadis itu berpikir bahwa ia sudah kehilangan segalanya. Ia sudah tidak memiliki keluarga, satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah ibunya, tapi ibunya mengalami gangguan jiwa. Hanya kehormatan sebagai gadis perawan lah yang ia miliki, tapi sekarang sudah direnggut oleh Reno, pria yang tidak ia cintai.


"Apakah sekarang kau mengakui?" tanya Vano yang sudah duduk di sofa.


Nirmala yang duduk di samping suaminya mulai ikut berbicara. "Bercak darah itu adalah bukti nyata, kau tidak bisa mengekak lagi."


Reno menunduk, sudah tidak ada gunanya membela diri. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas sekarang situasi membuktikan bahwa ia sudah meniduri Ara.


"Ya, saya akan akui," jawab Reno.


Vano menatap tajam pada adiknya. "Tidak hanya harus mengakui, tapi kau juga harus bertanggung jawab." Vano menatap Ara dan Reno secara bergantian. "Kau harus menikahi Ara."


Kali ini Reno menatap mata kakaknya. Matanya membulat sempurna, ia terlihat sangat terkejut. "Apa? Menikahi dia?" Reno menunjuk Ara yang duduk di sampingnya.


Vano mengangguk. "Dia telah kehilangan kehormatan. Semua orang akan mengecap dia sebagai wanita murahan karena masih gadis tapi sudah tidak perawan. Sulit baginya meneruskan kehidupan normal, pria pun akan berpikir berulangkali ketika akan melamarnya."


Tidak ada pilihan lain, Reno tidak bisa menolak. Ia memang tidak tahu apa-apa tentang wanita, akan tetapi ia tahu bahwa mahkota wanita adalah segalanya bagi kaum wanita. Ini adalah keputusan yang sangat nekad, ia akan menikahi seorang wanita, yang mana ia sangat membenci wanita. Ya selain ibunya dan kakak iparnya.


"Baiklah."


Mendengar jawaban Reno, Ara menatap Reno dengan matanya yang penuh air mata. Reno menoleh ke arah Ara. Ia mengangguk tanda Ara juga harus menyetujui hal ini. Akhirnya keduanya orang itu terpaksa menyetujui pernikahan mereka.


* * * *


"Letakkan semuanya di sana!" Sejak pagi Nirmala sangat semangat mempersiapkan acara pernikahan Ara dan Reno.


Semua pelayan dibuat sibuk ke sana kemari, sedangkan para penjaga disibukkan dalam hal memperketat penjagaan. Sedangkan tuan besar mereka sibuk memperingati istrinya agar tidak kelelahan.

__ADS_1


Vano mengikuti ke manapun Nirmala melangkah. Sambil mengikuti, ia terus berbicara agar Nirmala berhenti berjalan ke sana kemari, ia tidak ingin istrinya kelelahan. Akan tetapi Nirmala tidak menggubris, ia tetap ikut mengatur dekorasi.


Seisi rumah keluarga Ravaldi sibuk karena baru kali ini ada pesta besar yang diadakan di rumah mewah itu. Semua sistem keamanan diaktifkan. Sejak dua minggu yang lalu, penjagaan diperkuat sepuluh kali lipat. Apalagi setelah identitas Reno dibuka, Vano jadi lebih waspada.


Saat yang lain sibuk, ada satu pria yang berdiam diri di suatu tempat. Ia berdiri sendiri di tengah-tengah kamar yang belum pernah diinjak oleh siapapun, termasuk para pelayan. Kamar itu sangat dijaga oleh Vano, tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke dalam kamar itu. Jangankan pelayanan, saat Raisa masih tinggal di kamar itu pun, ia tidak bisa masuk bahkan mengintip ke dalam.


Walaupun jarang dibersihkan, kamar itu tetap terlihat rapi dan bersih. Dan kamar itu merupakan kamar terbesar dan termewah di rumah keluarga Ravaldi. Kamar yang didominasi dengan warna putih dan emas itu penuh dengan kenangan dan bisa membuat kerinduan dua pria dingin membabi buta.


Reno berjalan menghampiri tempat tidur. Tangan putihnya mengusap seprai warna putih dengan lembut. "Disini kah dulu Ibu tidur?"


Mata menawan yang biasanya dipenuhi ketajaman dan kedinginan kini menunjukkan kerapuhan. Mata itu memerah lalu disusul air mata. "Walaupun aku tidak pernah melihat Ibu, tapi aku merindukanmu, Ibu. Aku selalu berkhayal Ibu memelukku, menciumku, mengusap kepalaku dengan lembut."


Air mata Reno menetes. "Aku tahu itu mustahil." Kemudian ia mengusap air matanya. Ia menatap bantal yang putih bersih. "Walaupun aku tidak bisa merasakan kasih sayangmu, aku meminta restu dan do'amu."


Reno menatap keluar jendela besar. "Aku akan menikahi seorang gadis. Aku tidak yakin apakah aku mencintainya atau tidak, tapi aku harus menikahinya karena aku harus bertanggung jawab. Doakan aku agar aku bisa berubah menjadi pria yang baik untuknya."


"Cinta itu anugrah, Reno sayang."


Reno mengangkat wajahnya saat mendengar suara lembut yang menyejukkan hati. Matanya terpaku pada cermin rias yang memantulkan wajah cantik seorang wanita. Wanita cantik itu tersenyum padanya.


"I-ibu?" Reno tidak mempercayai matanya, namun ia telah terpaku pada sosok itu.


"Kau telah jatuh cinta, Sayang," ucap wanita itu.


Reno menggeleng. "Tidak, aku tidak akan pernah jatuh cinta. Cinta bisa melemahkan seseorang, cinta membuat seseorang hancur. Ibu meninggalkan ku karena cinta. Itulah yang dikatakan oleh kakak."


"Tidak Sayangku, Reno. Kakakmu telah salah paham. Cinta itu kebahagiaan. Yang menghancurkan hidup adalah nafsu. Yang menghancurkan hidup adalah ego. Cinta selalu datang bersamaan dengan nafsu dan ego. Maka dari itu, untuk bahagia, kau harus menjaga cinta dari nafsu dan ego. Kau harus bisa mengendalikan nafsu dan egomu."

__ADS_1


"Dan sekarang kakakmu sudah menemukan arti sebuah hidup dari perasaan cinta. Kau juga harus mendapatkannya," ucap wanita itu sambil tersenyum. "Lupakan masa lalu. Hiduplah dengan bahagia. Dan bahagiakan orang yang kau cintai."


Setelah mendengar kalimat itu, tiba-tiba Reno merasa kepalanya berat dan pusing, pandangannya kabur. Bersamaan dengan itu, bayangan wanita di cermin itu pudar. Sebisa mungkin Reno memperhatikan kesadarannya, akan tetapi itu sia-sia. Tubuhnya jatuh ke tempat tidur dan ia tidak bisa menahan mata untuk tetap terbuka.


"Reno. Reno bangun. Kau harus siap-siap karena ijab kabul setengah jam lagi akan dimulai."


Mendengar suara kakaknya memanggil, Reno membuka mata perlahan. Dan benar saja, kakaknya sudah berpenampilan rapih dan kini sedang berdiri membangunkan dirinya.


"Sejak semalam aku mencarimu ke mana-mana. Semua orang heboh mencari, rupanya semalaman kau tidur di sini," lanjut Vano lagi.


Reno bangkit lalu duduk. Ia melihat ke sekitat. Tempat ia berada sekarang sama seperti tadi, dan tinggi matahari juga masih sama, tapi mengapa kakaknya mengatakan ia sudah semalaman menghilang.


"Ini hari apa?" tanya Reno.


Vano melipat tangan di depan dada. "Sekarang hari Senin, dan sekarang hari pernikahanmu."


Reno menaikkan sebelah alisnya. "Perasaan aku ke sini pada hari Minggu, mengapa baru tidur sebentar sudah hari Senin saja? Apakah aku pingsan semalaman?"


Teringat lagi bayangan ibunya di cermin, dan terngiang kembali ucapan ibunya. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Entahlah itu arwah Ibu, atau hanya ilusiku, atau jin korin Ibu, aku berterima kasih karena telah menemuiku."


Melihat adiknya senyum-senyum sendiri, Vano berpikir Reno mengingat hari pernikahannya dan merasa bahagia.


Vano menepuk bahu Reno. "Cepat mandi dan siap-siap. Ara akan segera sampai di sini dan ijab kabul akan dimulai."


Reno tidak menjawab dengan kata-kata, berjalan keluar kamar adalah bukti ia mengikuti perintah kakaknya.


Saat keluar dari kamar, Reno memegang jantungnya. "Mengapa jantungku jadi berdegup kencang seperti ini? Dan tanganku juga dingin. Apakah ini yang namanya gugup? Apakah aku gugup di hari pernikahanku dengan Ara?"

__ADS_1


Mengingat Ara, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "Ara akan menjadi istriku?" gumamnya dalam hati.


__ADS_2